24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Renungan Natal: Membunuh Tuhan dengan Algoritma

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 21, 2024
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

SEJENAK lagi umat Kristiani akan merayakan Natal tahun 2024. Natal, dalam perayaan yang sejatinya penuh makna, mengundang kita untuk berhenti sejenak dan merenungkan ulang tujuan dari segala pencapaian ini.

Modernitas sering kali membawa manusia pada rasa cukup semu, seolah semua jawaban sudah ditemukan dalam genggaman teknologi. Namun, di tengah kegemerlapan ini, Natal menawarkan pesan yang sederhana tapi mendalam: kasih, kerendahan hati, dan kehadiran ilahi dalam bentuk yang paling manusiawi.

Dalam realita modern saat ini, manusia seolah tengah berdiri dengan bangga atas pencapaiannya. Sah-sah  saja memang. Teknologi yang meroket, globalisasi yang mampu meniadakan jarak, dan berbagai permasalahan kompleks dan ruwet bisa dipecahkan dengan logika dan sains. Kita, sebagai salah satu spesies penghuni planet bumi, tampaknya begitu perkasa. Tapi, tunggu dulu, di balik segala kesuksesan ini, bolehlah kita menghadirkan sebuah pertanyaan: Apakah kita masih membutuhkan Tuhan?

Mari kita coba untuk jujur dan legowo. Dunia modern tampaknya cenderung membuat kita berpikir bahwa Tuhan adalah sesuatu yang usang, warisan dari masa lalu yang penuh mitos. Kita sampai di era ketika robot dapat menjalankan tugas yang sebelumnya dianggap mustahil.

 Algoritma kecerdasan buatan kini mampu memprediksi dan menyusun pola kerja yang bahkan otak manusia kita tidak mampu lagi untuk memahami. Di zaman ini atau mungkin ke zaman depan, apakah kehadiran Tuhan masih relevan? Banyak dari kita, mungkin tidak secara terang-terangan menyangsikan keberadaan Tuhan, tetapi diam-diam mulai skeptis, mulai mempertanyakan, apakah Dia benar-benar dibutuhkan.

Lihat saja bagaimana rasionalitas sudah menjadi “agama” baru kita. Bukankah teknologi telah menjadi penyelamat kita yang modern? Kita tidak lagi berdoa untuk meminta hujan seperti nenek moyang dahulu, kini kita menciptakan teknologi penjernihan air dan rekayasa cuaca. Kita tidak lagi mengandalkan keajaiban untuk penyembuhan, obat-obatan dan terapi genetik telah hadir menjadi tangan-tangan “ilahiah” yang lebih nyata. Dalam dunia seperti ini, apa yang tersisa untuk Tuhan?

Namun, apakah benar kita telah menemukan “Tuhan baru” dalam rasionalitas dan teknologi? Atau, mungkinkah kita hanya teralihkan dari kenyataan yang lebih hakiki, bahwa meskipun dunia modern menawarkan solusi praktis dalam hidup, namun acap kali gagal menjawab pertanyaan eksistensial: Mengapa kita ada? Apa tujuan kita di dunia ini?

Banyak yang merasa yakin bahwa rasionalitas adalah satu-satunya cara untuk memahami dunia. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, rasionalitas kerap tak cukup. Ketika kita menghadapi penderitaan yang tak terjelaskan, kehilangan mendalam, atau kehampaan yang tak bisa ditutupi oleh harta atau pencapaian, ke mana kita berlari? Apakah kita yakin bahwa semua ini hanyalah kebetulan tanpa makna? Dunia modern mungkin menawarkan jawaban-jawaban praktis, tetapi pada akhirnya, bisakah ia benar-benar menggantikan Tuhan?

Pertanyaan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyerang atau merendahkan pencapaian modernitas. Sebaliknya, pertanyaan ini sifatnya retoris, sebuah undangan untuk refleksi: apakah kita telah begitu terpukau oleh gemerlap dunia modern sehingga melupakan sesuatu yang lebih besar, lebih transenden, dan lebih abadi? Tuhan mungkin terasa usang di tengah hiruk-pikuk teknologi, tetapi apakah benar kita telah menemukan pengganti yang layak untuk-Nya?

Menyingkirkan Tuhan: Pilihan atau Keterpaksaan?

Dalam dunia yang semakin rasional, sulit bagi sebagian orang untuk menerima Tuhan tanpa bukti empiris. Lebih masuk akal untuk mengikuti teori tentang keberadaan Alien atau spiritualisme baru macam Starseed. Richard Dawkins, melalui bukunya The God Delusion, berargumen bahwa keimanan hanyalah hasil evolusi psikologis manusia, jadi keimanan adalah semacam ilusi kolektif.

Teknologi pun semakin menjadi “Tuhan baru,” yang mampu memberikan solusi instan atas kebutuhan kita dari makanan hingga relasi, semua ada dalam genggaman ponsel. Tanya ponsel, tunjuk di ponsel, klik di ponsel, dan semua jadi kenyataan.

Namun, apakah kemajuan ini benar-benar membawa kita pada kebahagiaan sejati? Banyak orang modern hidup tanpa Tuhan, tapi apakah mereka merasa lebih lengkap? Data menunjukkan hal sebaliknya. Krisis eksistensial dan kesehatan mental meningkat di berbagai belahan dunia, terutama di negara-negara maju yang dianggap telah “melampaui” kebutuhan akan agama.

Ketika Tuhan Tergeser, Apa yang Hilang?

Kehidupan tanpa Tuhan mungkin terasa bebas, bahkan memabukkan, seolah-olah manusia akhirnya menjadi penguasa penuh atas takdirnya sendiri. Namun, kebebasan ini sering kali membawa kehampaan yang tak terelakkan. Seorang Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis, dengan tajam menggambarkan absurditas kehidupan tanpa dimensi transendental: manusia menjadi seperti perahu tanpa arah, terombang-ambing di tengah samudera luas tanpa pelabuhan tujuan.

Kebebasan ini tidak membebaskan, melainkan justeru mengisolasi, sementara teknologi bergerak maju meninggalkan manusia terperangkap dalam kehampaan eksistensial, mencari makna di dunia yang tidak mampu untuk memberikan pemenuhannya.

Tanpa Tuhan, kita juga kehilangan fondasi moral yang kokoh. Dalam ketiadaan standar moral absolut, nilai-nilai etika menjadi cair dan bergeser. Apa yang dianggap benar hari ini bisa menjadi salah besok, tergantung pada siapa yang memegang kuasa dan narasi.

Ironisnya, kita hidup di zaman yang dipenuhi dengan teknologi canggih, kecerdasan buatan, media sosial, komunikasi instan, namun sering kali tidak tahu untuk apa semua itu digunakan. Media sosial, yang awalnya dirancang untuk menghubungkan manusia, kini justru memisahkan kita secara emosional, membuat kita lebih sibuk dengan citra daripada esensi.

Obsesi terhadap benda materi, prestasi, dan kenyamanan instan menjauhkan kita dari pertanyaan mendasar: Untuk apa semua ini? Ketika Tuhan tergeser, yang hilang bukan hanya makna dan moralitas, tetapi juga jiwa kita sendiri. Dunia modern mungkin menawarkan solusi untuk masalah teknis, tetapi ia sering kali gagal menjawab kebutuhan terdalam manusia akan makna, arah, dan keutuhan spiritual. Apa gunanya menggenggam dunia di tangan jika jiwa hampa dan hati kita tetap kosong?

Kenapa Tuhan Masih Relevan?

Mari kita berhenti sejenak dan berpikir jernih. Teknologi memang mampu menyembuhkan penyakit yang tubuh manusia derita, tetapi adakah teknologi yang mampu mengobati rasa hampa yang menggerogoti jiwa manusia?

 Sains dapat menjelaskan dengan detil bagaimana alam semesta berfungsi, tetapi adakah sains yang mampu menjawab pertanyaan yang jauh lebih mendalam: Mengapa alam semesta ini ada? Di tengah keterbatasan fatal ini, Tuhan menjadi relevan. Dalam kekosongan yang ditinggalkan oleh penjelasan-penjelasan rasional, Tuhan menawarkan jawaban yang tidak bisa diungkapkan dengan angka atau teori fisika.

Paul Tillich, teolog terkemuka, menyebut Tuhan sebagai “dasar eksistensi” ,the Ground of Being. Ini bukan sekadar konsep abstrak; ini adalah kebutuhan yang terpendam dalam setiap diri kita. Meskipun kita tidak selalu menyadari keberadaannya, namun pada saat krisis, ketika rasionalitas kita gagal memberikan jawaban atau penjelasan, secara naluriah kita mencari sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri, sesuatu yang memberikan makna dan arah yang tak bisa digantikan oleh teknologi atau materialisme.

Yang menarik, meski kita hidup di dunia yang semakin sekuler, data menunjukkan pencarian spiritual justru semakin meningkat. Komunitas meditasi, kelas yoga, dan praktik mindfulness kini menjadi tren yang meluas. Semua ini menunjukkan bahwa manusia modern tetap membutuhkan dimensi transendental, meskipun mereka tidak selalu menyebutnya dengan kata “Tuhan”.

Mungkin sedikit malu menyebutNya, karena terasa usang dan primitif. Bukankah ini bukti bahwa walau dunia semakin materialistik, jiwa manusia tetap mendambakan keterhubungan dengan sesuatu yang lebih besar, lebih dalam, dan lebih bermakna?

Tantangan untuk Kita Semua

Kita hidup di zaman yang penuh dengan distraksi, tetapi mungkin inilah saatnya untuk berhenti, sejenak bertanya pada diri sendiri: Apakah saya benar-benar bahagia? Apakah hidup saya memiliki kedalaman makna? Tuhan tidak akan memaksa kita untuk mendekat. Tetapi jika kita mau membuka hati dan pikiran, kita mungkin tak akan tercekat. Kita akan menemukan bahwa kehadiran-Nya adalah jawaban atas kerinduan, yang selama ini kita abaikan.

 Era modern tidak menghapus kebutuhan akan Tuhan. Justru, modernitas semakin membuktikan bahwa kita memerlukan Tuhan lebih dari sebelumnya, bukan sebagai solusi instan atau budak bagi kita, seperti halnya teknologi, tetapi sebagai sumber makna dan tujuan yang sejati. Maka, di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang serba cepat ini, Natal menjadi momen untuk merenungkan kembali apa yang benar-benar penting. Bukan sekadar tentang perayaan yang mewah atau keberhasilan duniawi, tetapi tentang menemukan kedamaian sejati dalam kehadiran-Nya.

Natal mengundang kita untuk pulang, bukan hanya secara fisik pulang kampung atau ke gereja, tetapi secara hakiki adalah secara spiritual yaitu kembali kepada kasih yang melampaui logika dan pencapaian manusia. Akhirnya, jawaban ada di tangan kita. Tuhan tidak pernah jauh, Dia selalu dalam diri kita, tetapi apakah kita bersedia melangkah mendekat? Maukah kita kembali kepada-Nya? Kita siapkan jawabannya, karena sepertinya Tuhan tengah menunggu jawaban Anda. Kepada saudara yang merayakannya, selamat merayakan Natal! [T]

BACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Dunia Tanpa Ampun: Ketika Jejak Digital Menghakimi Anda
TikTok, Generasi Muda, dan Identitas Digital yang Terkonstruksi
Memaknai Foto sebagai Narasi Identitas, Sosial, dan Budaya
ASMR: Hiburan, Manipulasi, dan Refleksi atas Kehidupan Modern
Merandai Cakrawala Sinema: Membangun Karakter Generasi Milenial hingga Alpha
Tags: Hari NatalNatalrefleksirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pergi Tanpa Pesan | Cerpen I Wayan Dede Putra Wiguna

Next Post

Fenomena Bawa Mayat ke Setra dengan Mobil Terbuka di Nusa Penida

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Fenomena Bawa Mayat ke Setra dengan Mobil Terbuka di Nusa Penida

Fenomena Bawa Mayat ke Setra dengan Mobil Terbuka di Nusa Penida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co