23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rimba

Jaswanto by Jaswanto
February 2, 2018
in Cerpen

Lukisan Kabul Ketut Suasana

 

Cerpen: Jaswanto

AKU tak pernah ragu dengan kekayaan Indonesia. 17.000 pulau dan hampir 110 juta Hektar hutan tropis, dari Aceh hingga Papua. Semua memberi kehidupan bagi kita. Hutan yang dilindungi dengan aturan hukum, idealnya tidak akan tersentuh oleh tangan manusia. Hukum yang mengatur bermanfaat besar bagi hutan di Indonesia. Tapi kenyataannya, hukum tidak selamanya menjadi sebuah aturan paksa yang harus dipatuhi. Masih banyak oknum-oknum individualis yang kebal akan hukum.

Sudah 24 tahun aku dilahirkan, dan aku masih bertanya apa arti semua ini bagi mereka yang terlahir di dalamnya? Orang Rimba.

Jauh di pedalaman hutan tropis yang masih terjaga akan kealamiannya. Terdapat sebuah kelompok orang rimba. Dari alam mereka hidup, dari alam mereka belajar, dan dari alam pula mereka tahu mana yang dianggap benar dan mana yang dianggap salah. Mereka tak mengenal apa itu membaca dan apa itu menulis. Mereka tidak tahu apa itu perdagangan dan apa itu bercocok tanam. Mereka hanya tahu berburu dan berperang antar kelompok.

Hingga sampai cerita ini aku tulis.

***

Mereka sudah beberapa kali berpindah. Karena perluasan zonasi taman nasional dan pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit. Aku bertemu bocah bernama Rimba. Yang memperlihatkanku sepucuk surat yang tidak dapat dibacanya. Tak seorang pun di kelompok itu dapat membaca. Gulungan kertas itu berisi perjanjian pengambilan kayu di wilayah adat mereka. Dan mereka setuju dengan memberikan cap jempol di atas surat yang tidak dapat mereka baca. Dengan bayaran beberapa makanan pokok. Rimba membawa gulungan surat itu ke mana-mana. Seolah ingin menunjukkan kepadaku betapa ia ingin membaca dan menolak transaksi penipuan orang rimba ini.

Sungai-sungai membelah hutan tropis itu. Sesungguhnya hutan itu dikepung oleh perkebunan kelapa sawit. Perkebunan milik orang-orang yang hanya mempentingkan diri mereka sendiri.

Aku masih ingat dengan perkataan Rimba.

“Guru, kenapa orang-orang itu selalu menebang pohon kami? Sekali tebang, pohon besar roboh. Beda dengan kami. Kami menebang pohon sebesar itu saja membutuhkan berhari-hari baru roboh.” ucap Rimba sambil menunjuk sebuah pohon sedang di sebelah kami.

Aku hanya diam dan tak tahu harus menjawab apa waktu itu. Aku hanya tersenyum dan kemudian Rimba melanjutkan,

“Kalau nanti saya sudah pintar. Sudah bisa baca dan tulis. Maka saya akan melarang mereka untuk menebang pohon di wilayah kami.”

Hanya itu yang dapat aku lakukan. Ya, mengajar mereka agar dapat membaca dan menulis. Dengan sekuat tenaga aku mengajarkan anak-anak rimba itu membaca dan menulis. Kadang aku ingin tertawa, karena mereka begitu cerdas dari apa yang aku kira. Hanya beberapa minggu mereka sudah hafal abjad. Dan hanya beberapa bulan, mereka dapat menghitung, membaca dan menulis.

Waktu terus berlalu. Gerjaji mesin mengaung tanpa ampun. Melibas pohon-pohon yang pasrah. Orang rimba terus berpindah tempat karena pohon-pohon sudah ditebangi. Mereka pindah ke hutan yang pohonnya masih lebat. Mereka juga kesusahan dalam berburu. Kalau biasanya semasa pohon masih lebat, mereka dengan mudah mendapatkan babi hutan, rusa atau hewan buruan lainnya. Namun, kini mereka membutuhkan dua sampai tiga hari hanya untuk mendapatkan seekor babi hutan. Bahkan, tak jarang mereka juga pulang dengan tangan hampa.

Proses belajar mengajar berjalan dengan baik. Dan anak-anak rimba itu juga cepat mengerti. Kemudian kepala kelompok orang rimba itu meninggal karena malaria. Miris, mereka menganggap kalau kematian pemimpin itu dikarenakan kutukan. Kutukan karena anak-anak mereka sudah bisa membaca dan menulis.

“Lebih baik Pak Guru pergi saja dari sini. Anak-anak kami tidak butuh membaca dan menulis. Ilmu yang Pak Guru ajarkan menyebabkan kematian pemimpin kami. Dan kami juga mendapatkan kutukan.”

Begitu kata mereka yang mengusirku dengan cara yang sangat sopan. Sekilas aku melihat Rimba. Anak itu memang yang paling pintar diantara anak-anak yang lain. Dan Rimba juga adalah calon pemimpin mereka yang baru.

Aku pergi dari kelompok itu. Ya, benar-benar meninggalkan mereka. Dan meninggalkan cita-citaku untuk bisa membuat meraka membaca dan menulis.

Embun dan kabut tipis menyelimuti sudut-sudut hutan tropis itu setiap pagi. Dingin dan basah. Hari ini aku akan pergi.

“Guru jangan pergi!”

“Anak-anak. Pak Guru harus pergi.”

Bocah itu tidak rela berpisah denganku, sampai ikut berjalan kaki menyusuri hutan yang lebat, demi memperpanjang waktu bersamaku.

“Saya masih ingin belajar dengan Pak Guru,” ujarnya di tengah perjalanan.

“Kamu bisa belajar sendiri, walau tanpa Pak Guru,” jawabku.

“Tapi tidak seperti belajar dengan Pak Guru.”

“Apa bedanya?”

Rimba tak segera menjawab. Ia menunduk, menikmati sepasang kakinya yang berayun melangkah. Ibu jari kiri dan kanannya bergantian timbul tenggelam ritmis, membuatnya seperti berada di dunia lain, mengambang, terutama pada jalanan menurun, ketika langkahnya semakin deras.

Rimba serasa melayang-layang di sisiku. Ia merasa bentang hutan yang dilaluinya hari itu jauh lebih elok dibanding kapanpun. Begitu juga dengan ricik sungai yang membelah hutan itu, yang serupa sabda Tuhan tentang jalan kebijaksanaan.

Hingga tiba di jalan raya.

“Pulanglah, Rimba,” kataku. Dadaku nyeri melihat sepasang mata bocah itu.

“Tidak. Pak Guru pergi dulu, baru saya pulang.”

“Tidak bisa. Pak Guru harus melepasmu pergi, bukan sebaliknya.”

“Pak Guru salah. Saya yang harus melepas Pak Guru pergi.”

“Kenapa? Kau takut terlihat menangis di depan Pak Guru? Kau kira menangis itu keliru?”

Rimba menatapku, seolah minta persetujuan bahwa bulir-bulir bening dari matanya tak pernah salah, sekalipun ia laki-laki.

“Menangislah, Rimba.”

Aku merasa rahangku nyaris pecah menahan duka lara. Rimba membiarkan air matanya mengalir menghangati kedua pipinya.

Aku ingin menjelaskan semuannya, bahwa pada saatnya nanti, Rimba akan diberi tanggung jawab besar sebagai kepala kelompok.

Aku merasa sebagian jiwaku mengurai, menjadi semacam partikel mahakecil yang bertaburan gemerlapan ketika aku harus melangkah ke dalam mobil. Sementara Rimba, denga sedu sedannya berlari menuju bentangan hutan, jalan ke surganya di tengah hutan tropis. Aku tak sanggup lagi membayangkan beban bocah itu.

***

Beberapa tahun kemudian. Aku bersama kawan-kawan peduli pendidikan kembali masuk ke dalam hutan belantara menemui Rimba. Namun sayang, kami kesulitan mencarinya karena memang mereka hidup dengan cara nomaden.

Kami terus mencari. Dan akhirnya kami mendengar sayup-sayup orang sedang melakukan sebuah transaksi. Dengan hati-hati kami mendekat.

“Kepala, kami ingin melakukan perjanjian dengan Kepala mengenai pembukaan lahan sawit di area hutan ini.”

“Tunggu dulu, biar saya baca dulu surat perjanjiannya dulu.”

Orang setengah baya itu terlihat memberikan selembar kertas kepada Kepala Kelompok.

“Saya tidak menyetujui perjanjian ini. Karena dalam surat ini tertulis ‘akan menebang pohon untuk membuka lahan perkebunan kelapa sawit’. Saya menyetujui kalau kalian menebang pohon tidak sampai perbatasan wilayah yang telah kami buat.”

Kami semua begitu terkagum-kagum dengan kepala kelompok yang cerdas itu. Ia bisa membaca dan menyikapi masalah dengan sangat bijak. Tapi, aku sudah sangat yakin kalau kepala kelompok orang rimba itu ialah Rimba. (T)

Catatan: Cerpen ini terispirasi dari film, Sokola Rimba

Tags: Cerpen
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

Hantu PKI, Awas Propaganda, dan Pengalihan Isu

Next Post

Kenapa Lontar Mesti Diselamatkan dari Erupsi Gunung Agung?

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post

Kenapa Lontar Mesti Diselamatkan dari Erupsi Gunung Agung?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co