26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tanah Kawin | Cerpen Sonhaji Abdullah

Son Lomri by Son Lomri
November 23, 2024
in Cerpen
Tanah Kawin | Cerpen Sonhaji Abdullah

Ilustrasi tatkala.co

AKU tahu betul Busro yang rumahnya satu kilo meter dari rumahku itu adalah preman yang tidak banyak basa-basi. Kalau sepi, dan sedang berkonflik dengan dia, orang bisa hilang kepala. Dan, kalau sedang ramai, setidaknya hidung patah tulang kena tonjok.

Lebih-lebih meremas jari lawannya seperti meremas tete Nursinah yang sering diremasnya malam hari, diam-diam. Bedanya hanya birahi seks melemahkannya dan nafsu membunuh, menggilakannya. Yang jelas, ia selalu gila meremas.

Busro Edan! Begitulah orang-orang membencinya di belakang. “Tai!” cemooh yang lain sangat benci.

Sebab itulah barangkali, Eman, tetangga yang lima langkah dari rumahku, ingin naik haji untuk mengadukan perbuatan umatnya kepada Nabi melalui makomnya di Makkah Al-Madinah yang suci.

Saya tahu, naik haji bisa membangkitkan martabat, pula seseorang bisa dihormati, pula didengar apa saja yang berasal dari mulut, bahkan dari dubur sekalipun. Apalagi, Eman memang jarang didengar jika membicarakan tentang Busro, bahwa lelaki itu benar-benar breng-seks.

Tapi ia memiliki kelebihan lain, kalau berbicara dengan orang yang sedang marah-marah, bisa tidak jadi marah-marah orang itu. Hebat sekali Eman ini. Ilmu apa yang ia punya? Dimana ia bertapa? Orang-orang tak tahu. Akupun tak tahu.

Tak satupun orang bisa marah ke Eman. Tapi Busro menjadi musuhnya yang sangat dekat dengan Eman, ini soal tetangga, ya, aku tahu betul mereka cekcok dan Busro selalu bawa golok.

“Kiwari! Kiwari! Paeh Dia Kuaing! Bedul!” ancam Busro ke Eman sepuluh tahun yang lalu.

“Jawara! Jawara!” riuh orang berbisik.

Eman tak keluar rumah saat itu. Eman juga tak berbicara sekata atau tiga kalimat di balik jendela sambil mengintip misalnya. Tidak ada suara di rumah Eman. Kosong. Senyap. Setelah dijebol rumah itu melalui pintu, ternyata Eman kabur lewat pintu belakang tiga puluh menit yang lalu, bersama istrinya.

Kata orang-orang, Eman bertualang ke Mekah, pergi ke Arab Saudi bersama istrinya. Eman naik haji sambil bekerja jadi tukang sapu masjid Nabawi, sedang istrinya jadi buruh cuci di sana tapi tak lama, hanya enam bulan, dipulangkan oleh majikannya karena istrinya tak becus-becus berbahasa Arab. Dan istrinya mengisi rumah—balik ke kampung. Hidup sendiri. Mereka mandul, tak punya anak, walaupun sudah tiga puluh tahun menikah.

Sementara tiga tahun kemudian dari Mekah, Eman pulang. Menggondol banyak uang juga cerita-cerita pinggiran tentang bagaimana orang-orang Arab bergaul, sholat, bertengkar atau bercanda, hingga saling membantu satu sama lain. Yang ia praktikkan gayanya di kehidupan sehari-hari; kearab-araban, di rumahnya yang kecil di kampung.

Eman. Adalah buruh tani, juga sambil menjadi petani sebelum menjadi seorang haji. Tapi setelah tiga tahun kemudian itu, orang-orang mulai memanggilnya dengan gelar hasil menjual beberapa petak sawah ke seorang saudagar yang juga sama sepertinya, membenci Busro. Darah mati!

Eman, maksudku Haji Eman, telah berhenti bertani dan juga berhenti hidup susah, ia sekarang menjadi seorang Haji—yang mabrur dan sentosa, datang ke setiap pengajian dan juga tongkrongannya yang sebagian besar adalah teman-temannya dahulu. Sambil pakai peci putih—ia selalu mengajak mereka ibadah tepat waktu.

Semua diajaknya sholat berjamaah di masjid. Tapi, sesekali, ia juga membicarakan Busro, bagaimana kabar Busro sekarang?

“Sudah lama sakit. Kena santet!” kata yang lain.

“Astaghfirullah!” Kaget Haji Eman secara islami. “Sejak kapan?” lanjutnya bertanya dengan air muka khawatir.

“Sejak menjadi makelar tanah,” jawab yang lain.

Memang sih di Pantai Anyer itu, parkiran selalu dipegang Busro sejak lama. Busro yang pegang setiap setoran parkiran, sampai ke pedang kecil ibu-bapak yang sudah tua-tua itu, ia yang pegang. Upeti. Semua harus setor ke dia, kalau tidak, kepala atau perut bisa jadi samsak empuk. Darah bisa mengalir di mana saja kalau malam hari. Busro memang beringas.

Tapi karena memang ini sudah lain, rezim pemerintah juga sudah mencair, sudah musimnya parlente juga. Gaya hidup Busro berubah. Dari bengis, agak sedikit tidak, jadi necis.

Ia memilih cara hidup, mempelajari bagaimana caranya menipu orang tanpa harus keras. Mengawini anak orang tanpa harus mengancam ibu bapaknya. Selain ilmu pelet sudah dikuasainya sejak dulu, ia sekarang konsisten mempelajari ilmu menipu dari temannya yang sukses menjadi makelar tanah, hanya karena hasil dari terampilnya jualan hape rusak sejak remaja.

Tapi nyatanya, Busro tak pandai komunikasi dan tak mau berangkat dari nol—jualan hape rusak. Ia menggunakan caranya yang lama; marah-marah, dan mengawini anak orang—bahkan istri temannya sendiri.

Anaknya saja sudah 15 dari tujuh istri kawin cerai, setiap tikungan Jalan Raya Pos, Jalan Daendels itu (meminjam kalimat bagus dari Pram) itu ada anak istrinya yang masih ada. Memang sih, di sana ia selalu dibenci dengan lirikan tak biasa dari anak-anaknya.

“Abah tukang kawin! Busuk!” hina anaknya suatu kali.

Orang-orang geger. Busro melengos pergi.

Aku masih menonton anaknya meraung-raung waktu itu, gila, rumahnya dijual dan anak istrinya ditelantarkan begitu saja tanpa peduli. Cerai. Busro memilih pergi ke gunung, di sana, ia menikah lagi dengan perempuan anget-anget tai ayam.

Punya anak lagi. Yang ini, ia punya gunung tidak hanya kebun atau anak. Rupanya, ia bukan makelar tanah yang biasa orang-orang ketahui—saktinya sebagai seorang jagoan, ia mendapat tanah hanya karena hasil kawin saja. Menipu para gadis dan janda. Busro tak ubahnya hanya sebagai lelaki bajingan yang mudah bocor lubang pipisnya, dan modal berani bawa golok.

Tapi pertengkaran dengan Haji Eman, ini lebih serius lagi. Mereka selalu bertengkar hanya karena percintaan yang receh di masa lalu. Bahkan sampai sekarang, pun, Haji Eman menebar kebencian tentang dosa besar Busro kepada dirinya—yang diam-diam, mau mencium pacarnya, yang sekarang menjadi istrinya itu—di tempat dangdutan acara hajatan anak dari seorang Kepala Desa di jaman saat Soeharto masih jadi Presiden.

Dengan cerita-cerita kekalahan Busro bahwa ia bukanlah pria yang jantan sebenarnya. Bukan pria yang baik. Sampai sudah jadi Haji, pun, Eman masih meneror Busro dengan kebencian melalui cerita kepada teman-temannya. Tebar-tebar benci kepada semua orang.

“Setelah dari Mekah. Aku kirim doa, jarum kecil-kecil untuk Busro!”

Semua orang terperanjat dari duduknya di sebuah warung. “Haji Edan! Nyantet!” [T]

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Maling Pratima | Cerpen I Made Ariyana
Toleransi 2 Hari | Cerpen I Made Ariyana
Made Merta dan Kisahnya Menabung
Rumah Tusuk Sate | Cerpen Putri Santiadi
Cintaku dan Cinta Kawanku | Cerpen Kadek Susila Priangga
Untuk Mamah dan Nenek | Cerpen Alfiansyah Bayu Wardhana
Tumbal Politik | Cerpen I Made Sugianto
Hyang Ibu
Jerit Padi Luka Pesisir | Cerpen Gede Aries Pidrawan
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IGA Darma Putra dari Paris | Kepada Sunyi, Kabut, Hujan

Next Post

Dongeng | Si Jangkrik Kalung yang Terlalu Percaya Diri

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Dongeng | Si Jangkrik Kalung yang Terlalu Percaya Diri

Dongeng | Si Jangkrik Kalung yang Terlalu Percaya Diri

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co