26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Hairunnisa Br. Sagala by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
in Esai
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Hairunnisa Br. Sagala

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau justru ikut memperpanjang lukanya?

ADA sesuatu yang berubah dalam cara kita menyaksikan kehidupan orang lain. Dahulu, sebuah konflik mungkin hanya menjadi percakapan di lingkungan terbatas. Sebuah kesalahan dapat diselesaikan oleh pihak-pihak yang terlibat. Sebuah kesedihan mungkin cukup dibagikan kepada orang-orang terdekat. Kini, semua itu dapat berubah menjadi tontonan dalam hitungan menit.

Sebuah video diunggah. Potongan peristiwa menyebar. Komentar berdatangan. Orang-orang yang tidak mengenal siapa pun yang terlibat mulai memberikan penilaian. Ada yang membela, ada yang menyalahkan, dan tidak sedikit yang ikut menyebarkan tanpa mengetahui keseluruhan cerita. Dalam waktu singkat, kehidupan seseorang dapat menjadi konsumsi ribuan, bahkan jutaan pasang mata.

Kita menyebutnya viral. Namun, di balik angka penayangan, tanda suka, dan ramainya perbincangan, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian: manusia yang kehidupannya sedang dipertontonkan.

Ketika penderitaan menjadi tontonan, popularitas sebuah peristiwa tidak selalu berarti tumbuhnya kepedulian. Bisa jadi, kita hanya sedang menyaksikan hilangnya empati di tengah ramainya perhatian.

Ketika Penderitaan Menjadi Konsumsi Publik

Media sosial telah membuka ruang yang luas bagi masyarakat untuk menyampaikan pengalaman, memperjuangkan keadilan, dan mengungkap persoalan yang sebelumnya tidak mendapat perhatian. Tidak sedikit kasus ketidakadilan yang memperoleh penanganan setelah suara masyarakat bergema di ruang digital. Karena itu, viralitas tidak selalu buruk. Perhatian publik dapat menjadi kekuatan untuk membela korban, mengawasi kekuasaan, dan mendorong perubahan.

Namun, persoalan muncul ketika perhatian terhadap sebuah peristiwa bergeser menjadi kesenangan menyaksikan kehidupan orang lain yang sedang berada dalam kesulitan.

Konflik pribadi disebarkan demi menarik perhatian. Kesalahan seseorang diputar berulang kali. Tangisan direkam, pertengkaran dipertontonkan, dan komentar yang merendahkan justru menambah keramaian. Dalam situasi tertentu, penderitaan seseorang seolah kehilangan makna kemanusiaannya dan berubah menjadi bahan konsumsi digital.

Fenomena perundungan terhadap seorang pedagang yang sedang melakukan siaran langsung di media sosial, yang mendapat perhatian publik pada Juni 2026, memperlihatkan bagaimana ruang digital dapat berubah menjadi tempat penghinaan massal. Kasus tersebut juga menjadi pengingat bahwa komentar yang dilakukan beramai-ramai tetap dapat melukai seseorang secara nyata.

Peristiwa semacam ini semestinya membuat kita berhenti sejenak. Mengapa sesuatu yang seharusnya mengundang keprihatinan justru dapat berubah menjadi hiburan? Mengapa kita begitu mudah ikut menilai kehidupan seseorang yang bahkan tidak kita kenal?

Mungkin karena dalam budaya viral, perhatian telah menjadi sesuatu yang diperebutkan. Sesuatu yang mengejutkan, memancing kemarahan, atau mengundang rasa ingin tahu lebih mudah menarik perhatian daripada cerita yang membutuhkan waktu untuk dipahami. Akibatnya, kita berisiko lebih tertarik pada sensasi sebuah peristiwa daripada memahami manusia yang mengalaminya.

Kita ingin mengetahui apa yang terjadi, siapa yang salah, dan bagaimana kelanjutannya. Namun, kita jarang berhenti untuk bertanya apakah penyebaran cerita itu membantu orang yang sedang menghadapi persoalan atau justru membuatnya semakin terluka. Di titik inilah viralitas perlu dibedakan dari kepedulian. Sebuah peristiwa dapat disaksikan banyak orang tanpa benar-benar dipahami oleh siapa pun.

Manusia Bukan Sekadar Konten

Di balik setiap video yang beredar, ada kehidupan yang tidak seluruhnya tertangkap oleh kamera. Ada latar belakang yang mungkin tidak diketahui, ada persoalan yang tidak terlihat, dan ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh orang yang menjadi pusat perhatian. Sebuah potongan video tidak selalu menceritakan keseluruhan peristiwa. Satu kesalahan tidak merangkum seluruh perjalanan hidup seseorang. Dan satu pernyataan tidak selalu cukup untuk menjelaskan semua alasan di balik sikap seseorang.

Sayangnya, ruang digital sering kali bergerak lebih cepat daripada proses memahami. Penilaian dapat menyebar sebelum fakta terverifikasi. Label dapat melekat sebelum seseorang memperoleh kesempatan menjelaskan. Bahkan, ketika sebuah persoalan telah selesai bagi penontonnya, dampaknya mungkin masih berlangsung dalam kehidupan orang yang menjadi objek pembicaraan. Bagi sebagian orang, sebuah video hanyalah tontonan beberapa menit sebelum mereka beralih ke konten berikutnya. Bagi orang yang ada di dalam video itu, pengalaman tersebut mungkin terus membekas dalam waktu yang jauh lebih panjang.

Bayangkan seseorang yang pernah melakukan kesalahan, telah mengakui kekeliruannya, dan sedang berusaha memperbaiki diri. Namun, rekaman tentang kesalahannya terus beredar, dibagikan kembali, dan dihadirkan dalam percakapan yang tidak pernah benar-benar berakhir. Apakah masyarakat sedang membantu proses perbaikan, atau justru membuat seseorang terus hidup dalam satu kesalahan yang sama?

Tentu, tidak semua peristiwa harus ditutup dari perhatian publik. Ketika ada dugaan kekerasan, penipuan, atau ketidakadilan, dokumentasi dan penyebaran informasi dapat membantu mengungkap fakta serta mendorong pertanggungjawaban. Akan tetapi, kepentingan publik tidak boleh dijadikan alasan untuk menyebarkan semua hal tanpa pertimbangan.

Kita perlu membedakan antara mengungkap persoalan dan mengeksploitasi penderitaan; antara mengawasi tindakan dan mempermalukan manusia; antara mencari keadilan dan menikmati penghukuman massal. Seseorang boleh dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya, tetapi martabatnya tidak seharusnya menjadi harga yang harus dibayar demi kepuasan publik.

Empati yang Kalah oleh Keinginan untuk Bereaksi

Empati bukan sekadar merasa iba ketika melihat orang lain bersedih. Empati adalah kesediaan untuk memahami bahwa pengalaman orang lain memiliki konteks, bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, dan bahwa respons kita dapat memperingan atau justru memperburuk keadaan. Di ruang digital, empati diuji ketika kita berhadapan dengan sesuatu yang memancing emosi.

Ketika sebuah video membuat kita marah, apakah kita berusaha memeriksa konteksnya sebelum ikut menyebarkan? Ketika seseorang menjadi sasaran hujatan, apakah kita ikut menambah komentar atau memilih tidak memperluas penghinaan? Ketika sebuah kisah menyentuh perasaan, apakah kita benar-benar membantu atau hanya menjadikan kesedihan orang lain sebagai bahan untuk menunjukkan kepedulian kita sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena niat baik tidak selalu menghasilkan dampak yang baik. Membagikan video dengan maksud memperingatkan orang lain, misalnya, tetap dapat memperluas paparan identitas atau penderitaan korban. Memberikan komentar yang dimaksudkan sebagai kritik pun dapat berubah menjadi penghinaan ketika disampaikan tanpa mempertimbangkan konteks dan martabat orang yang dikritik.

Empati tidak mengharuskan kita membenarkan semua tindakan. Empati juga tidak berarti kita harus diam ketika melihat ketidakadilan. Justru, empati membantu kita menentukan bagaimana bersikap secara tegas tanpa kehilangan rasa kemanusiaan. Kita dapat menuntut keadilan tanpa mengubah prosesnya menjadi tontonan.

Kita dapat mengkritik perilaku tanpa menyerang seluruh kehidupan seseorang. Kita dapat membantu korban tanpa menyebarkan kembali materi yang mempermalukannya. Dengan demikian, persoalannya bukan apakah kita boleh memberikan penilaian, melainkan apakah kita bersedia bertanggung jawab atas cara kita menilai dan dampak yang ditimbulkannya.

Jangan Sampai Kita Kehilangan Kemanusiaan Demi Perhatian

Kita tidak dapat menghentikan perkembangan teknologi, dan kita tidak perlu menolak media sosial hanya karena sebagian penggunanya menyalahgunakan ruang tersebut. Teknologi tetap dapat menjadi sarana solidaritas, pendidikan, dan perubahan sosial. Yang perlu kita pertanyakan adalah cara kita menggunakannya dan nilai yang kita tempatkan di balik setiap tindakan.

Apakah kita menggunakan perhatian publik untuk memperjuangkan kepentingan bersama, atau justru untuk memperpanjang penderitaan seseorang? Apakah kita menyebarkan informasi karena ingin membantu menyelesaikan masalah, atau karena tidak ingin ketinggalan perbincangan yang sedang ramai?

Pertanyaan itu mengajak kita bercermin, bukan sekadar menunjuk kesalahan orang lain. Sebab, budaya viral tidak hanya dibentuk oleh mereka yang mengunggah konten. Ia juga dibentuk oleh mereka yang menonton, menyukai, mengomentari, dan menyebarkannya. Setiap tindakan kecil ikut menentukan apakah ruang digital menjadi tempat tumbuhnya solidaritas atau arena ketika penderitaan manusia kehilangan maknanya.

Pada akhirnya, kita perlu mengingat bahwa manusia bukanlah konten yang selesai dinilai setelah sebuah video berakhir. Mereka memiliki kehidupan yang terus berjalan setelah layar kita tutup, memiliki perasaan yang tidak selalu terlihat, dan memiliki hak untuk diperlakukan dengan hormat, bahkan ketika mereka melakukan kesalahan. Barangkali, ukuran kedewasaan kita di era digital bukan terletak pada seberapa cepat kita mengetahui sebuah peristiwa, seberapa tajam komentar yang kita tulis, atau seberapa luas informasi yang mampu kita sebarkan.

Ukuran itu justru tampak ketika kita memiliki kesempatan untuk ikut menghakimi, tetapi memilih memeriksa fakta; ketika kita dapat menyebarkan penderitaan seseorang, tetapi memilih menjaga martabatnya; dan ketika kita mampu menarik perhatian publik, tetapi memilih melakukan sesuatu yang benar-benar bermanfaat.

Sebab, tidak semua yang viral membawa kebaikan, dan tidak semua kepedulian harus dipertontonkan. Jangan sampai kita begitu sibuk menyaksikan kehidupan orang lain, hingga lupa bahwa di balik setiap tontonan ada manusia yang harus menjalani hidupnya setelah semua orang selesai menonton.

Mungkin, di tengah dunia yang terus berlomba mencari perhatian, tindakan yang paling manusiawi bukanlah ikut membuat seseorang menjadi pusat perhatian, melainkan memastikan bahwa ia tidak kehilangan martabatnya hanya karena dunia sedang memandangnya. Di sanalah empati menemukan kembali maknanya: bukan sekadar perasaan yang muncul ketika melihat penderitaan, melainkan keputusan untuk tidak menambah luka ketika kita memiliki kesempatan untuk memilih.[T]

Penulis: Hairunnisa Br. Sagala
Editor: Adnyana Ole

Tags: empatikemanusiaan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

Next Post

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

Hairunnisa Br. Sagala

Hairunnisa Br. Sagala

Dosen Mata Kuliah Wajib Universitas, Pusat MKWK dan Pengembangan Karakter UPNVJ Jakarta

Related Posts

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails
Next Post
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co