MENJELANG sore, para warga tampak mulai memadati sisi jalan untuk menyaksikan tradisi mepeed. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa terlihat antusias menanti kedatangan iring-iringan peed hari itu. Beberapa pedagang asongan juga tampak mondar-mandir ke sana-ke mari menjajakan dagangannya.
Tepat pukul 4 sore, sayup-sayup suara gamelan mulai terdengar dari arah timur patung garuda menuju ke arah utara jalan raya Guwang. Beberapa orang menyerukan, “Sampun rauh, sampun rauh.” Begitulah mereka hendak memberitahu kedatangan iringan peed tersebut kepada yang lain.
Iring-iringan peed pun mulai berjalan melewati LPD Desa Guwang, yaitu tempat di mana para warga ramai menonton. Mereka berjalan bersama-sama dalam barisan yang rapi dan teratur, semua peserta peed tampak mengenakan pakaian adat Bali yang apik nan menawan.
Peed kali ini cukup panjang, tiga sekaa gong terlihat mengiringi peed tersebut, mulai dari barisan awal, tengah, hingga akhir. Payasan (riasan—red) peserta peed juga bervariasi, ada yang mengenakan payas agung, ada pula payas modifikasi. Tradisi mepeed ini juga diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa—yang terlihat antusias mengikuti tradisi tersebut.

Tradisi Mepeed di Desa Guwang | Foto: Dede
Ketika itu, panas matahari sangat terik, banyak peserta peed yang berjalan sampai bercucuran keringat, tetapi ada pula beberapa peserta yang mengantisipasi dengan membawa kipas elektrik kecil digenggamannya.
Kendati demikian, itu tak lantas menyurutkan semangat peserta peed untuk menjalankan tradisi turun-temurun tersebut. Mereka menempuh jarak sekitar 1,5 kilometer, diawali dari Pura Dalem Guwang menuju Pura Cengcengan (terletak sebelum pasar seni Guwang).
Desa Guwang merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali. Desa Guwang sendiri memiliki 7 banjar adat dan dinas. Jadi, setiap ada upacara pujawali di Pura Kahyangan Tiga, setiap banjar akan bergantian untuk ngamong (mengelola) upacara pujawali tersebut, termasuk tradisi mepeed ini. Dan untuk Mepeed kali ini merupakan giliran warga Banjar Buluh
Tradisi Mepeed di Desa Guwang biasanya dilakukan saat ada upacara pujawali di Pura Kahyangan Tiga, seperti saat hari raya Kuningan atau piodalan pura. Mepeed kali ini merupakan serangkaian dari upacara Pujawali di Pura Dalem Desa Guwang, yang dilaksanakan pada hari penyimpenan piodalan, tepatnya 8 Oktober 2024 lalu.
Jalur mepeed ini, jika dilaksanakan dari Pura Dalem Guwang, akan berjalan lurus ke arah barat kemudian belok kanan di patung Garuda menuju Pura Cengcengan. Begitu juga jika dilaksanakan di Pura Desa Guwang, jalurnya pun sama karena lokasi Pura Dalem dan Pura Desa berada di satu arah yang sama.

Tradisi Mepeed di Desa Guwang | Foto: Dede
Mepeed atau peed merupakan tradisi unik yang dapat ditemukan di beberapa desa di Bali. Terkadang, walaupun di setiap daerah namanya sama, namun prosesi dan pakaiannya bisa saja berbeda.
Cokorda Rai, S.H. selaku Bendesa Adat Guwang mengungkapkan, “Tradisi ini sudah diadakan lebih dari ratusan tahun silam. Dulu tidak ada kostum seperti ini, seiring perkembangan zaman, payas atau kostum peed pun mulai beragam dan bervariasi.”
Ia juga mengatakan, “Mepeed di Guwang merupakan bagian dari prosesi nuur tirta atau menyucikan sumber air. Kalau ini tidak kami lakukan, rasanya ada hal yang kurang ketika mengadakan pujawali.”
“Kami berkomitmen bersama-sama untuk mempertahankan adat dan budaya. Di samping itu, ini juga menjadi daya tarik pariwisata dunia, karena bali secara umum terkenal dengan adat, seni, dan budaya. Ini merupakan tradisi turun-temurun yang kami laksanakan, sehingga ini perlu kami pertahankan,” sambungnya.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto





























