14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tradisi “Madunungan” di Pura Jati, Batur, dan Upaya Berulang-ulang Merawat Ingatan

Ni Luh Meisa Wulandari by Ni Luh Meisa Wulandari
July 23, 2024
in Khas
Tradisi “Madunungan” di Pura Jati, Batur, dan Upaya Berulang-ulang Merawat Ingatan

Suasana "madunungan" sekira tahun 2006 di Pura Jati | Foto: Doc. Meisa Wulandari

PAGI itu, jalanan yang lengang mulai nampak macet dipecah kebisingan derap langkah. Iringan ribuan pasang kaki berjalan menuju Pura Jati, di pinggiran Danau Batur, Kintamni, Bangli. Pemilik-pemilik kaki itu, dengan tekad bulat, dalam riang bersama-sama, seakan-akan sedang bergerak untuk menemukan daerah baru.

Ya, mereka, para pemilik kaki-kaki yang kuat itu bergerak menuju Pura Jati.

Pura Jati merupakan Pura Pasanakan Bhatara Sakti Batur juga merupakan Parahyangan Ida Bhatara Sakti Bujangga Luwih yang dipercaya sebagai nabe atau pendeta Bhatari Sakti Dewi Danu, dan mungkin ini juga alasan mengapa ada larangan mengonsumsi daging babi di areal Pura Jati, seperti yang pernah saya dengar.

Pura Jati terletak di tepi danau Batur, menjadi situs penting untuk menjaga kesucian air. Itulah sebabnya tirta Pura Jati dianggap sebagai tirta utama di antara 11 tirta yang ada di kawasan kaldera Batur. Dalam upacara, tirta ini ditempatkan pada wadah yang berbeda, juga tidak boleh dicampur dengan tirta lain.

Uniknya lagi ketika umat melakukan persembahyangan di Pura Jati hanya cukup nunas tirta Pura Jati (tirta kangin) saja, inilah letak perbedaan dan keistimewaan tirta Pura Jati yang dianggap sebagai tirta pamarisuda.

Kawasan Pura Jati  tidak terlalu padat penduduk. Di sekitarnya memang ada jalan raya, namun kawasan itu lebih layak disebut kawasan hutan. Tetapi, ketika di Pura itu dilaksanakan Pujawali, kawasan itu menjadi begitu ramai. Bangunan-bangunan di sekitar Pura yang sebelumnya kosong, saat itu tiba-tiba menjadi cuckup sesak.

Masyarakat Batur, yang tinggal di kawasan bagian atas, atau di mana pun mereka berada, akan datang ke Pura itu. Bukan sekadar sembahyang. Namun mereka melakukan semacam ritual menginap di kasawan Pura itu selama sekitar 4 hari, atau selama digelarnya rangkaian Pujawali. Ritual itu disebut Medunungan.

Saat pujawali, kawasan Pura dipenuhi kendaraan yang lalu lalang, pedagang juga mulai menjajakan dagangannya, entah itu makanan, minuman, pakaian hingga berbagai macam permainan. Dan tidak lupa, juga ada pentas seni yang tak akan luput dari perhatian.

Yang lebih unik lagi adalah tradisi berjal;an kaki. Sebelum masuk pada rangkaian upacara, Pralingga Ida Bhatara diusung dengan berjalan kaki sejauh 10 km dengan waktu tempuh kurang lebih selama dua jam. Lalu puncak Pujawali diperingati pada Pananggal ke-13 sasih Kasa, tepatnya dua hari sebelum purnama tiba.

Saya, sebagai warga Batur, juga ikut larut dalam ritual yang selalu membuat hati saya tergetar. Pada tahun 2024, ini Pujawali di Pura Jati, diadakan pada Selasa-Jumat, 16-19 Juli. Itu baru beberapa hari yang lalu. Dan saya berada di kawasan Pura itu juga, ikut ritual medunungan, selama pujawali berlangsung.

Saya selalu merasa tergetar ketiak berada di kawasan Pura itu. Meski saya melakukan itu setiap tahun, sejak saya kanak-kanak.

***

Selama pujawali berlangsung masyarakat Batur akan tinggal di dalam tenda atau kini pada bangunan semi permanen kami menyebutnya madunungan. Tidak luas tapi cukup untuk tempat berkumpul. Dunungan merupakan tempat tinggal sementara atau tenda yang digunakan oleh masyarakat Batur selama pelaksanaan Pujawali di Pura Jati yang berlangsung kurang lebih selama tiga sampai empat hari.

Suasana “madunungan” sekira tahun 2006 di Pura Jati | Foto: Doc. Meisa Wulandari

Berbagai keperluan akan disiapkan, jauh-jauh hari sebelum Pujawali berlangsung. Baik itu bersih-bersih, mencabut rerumputan liar yang mulai meninggi, mendirikan tenda atau bahkan hanya sekedar memasang atap dengan terpal pada dunungan.

Kalau dilihat memang banyak sekali perubahan yang telah terjadi. Saya teringat pada masa kanak dulu. Misalnya pada sekitar tahun 2006. Saat itu orang tua, kakek dan keluarga lainnya sangat sibuk mempersiapkan dunungan ini. Mulai dari mencari bambu kemudian dibawanya bambu ini ke Pura Jati disusun sedemikian rupa dengan desain yang berbeda-beda setiap tahunnya seakan menambah kesan artistik dan selalu menawarkan suasana yang tak biasa.

Dinding biasanya dibuat menggunakan berbagai macam bahan seperti karung, spanduk, ataupun terpal. Bahkan seperti penuturan nenek, di tahun 1970-an mereka menggunakan karung sagu yang dijahit dengan tangan terampil mereka. Menancapkan beberapa batang  bambu sembari memanfaatkan batu-batu rejeng yang tersusun alami,  hanya untuk melindungi diri dari  terik matahari,  sungguh kenangan manis dan harmonis dengan alam dan lingkungan.

Bayangkan saja  bagaimana tidur beralaskan tanah dan bebatuan, beratapkan langit saat malam menjelang berteman sinar bulan yang hampir penuh.

Bercakap-cakap hangat hingga tengah malam ditemani nyala api pada sumbu berbahan bakar minyak tanah. Ya penerangan sederhana dan beryukur pernah merasakannya.  Namanya lampu damar atau petromaks bentuknya unik, cahayanya cukup terang dan hangat bisa menyala dengan bantuan spiritus dan minyak tanah, dinyalakan dengan bantuan korek api.

Adapun cara meletakan lampu damar adalah dengan cara menggantung maupun ditaruh begitu saja  di atas tanah sembari duduk melingkar, sesekali harus di pompa agar tetap menyala. Pijarnya melahap malam dan menyisakan jelaga pada dinding kaca.

Potret lampu pompa yang juga disebut lampu damar | Foto: Meisa Wulandari

Ada satu ingatan masa kecil yang begitu melekat. Dan nenek juga bercerita pada saat beliau masih muda, karena kendaraan sangat minim, perjalanan mereka lakukan dengan berjalan kaki dari Kalanganyar; Batur sekarang hingga Pura Jati, beberapa memanfaatkan boat dan beberapa lainnya melewati rerumputan yang masih tinggi dan sangat rimbun. Karena jalan raya baru sampai di daerah Kedisan saja sedangkan sisanya jalan setapak penuh bebatuan.

Berbekal peralatan seadanya yang dibalut dengan kain, yang dikenal dengan istilah membawa “gendolan”. Akan tetapi kelengkapan sarana upacara tetap menjadi prioritas utama, Banten yang dibawa cukup banyak biasanya didalamnya dilengkapi tipat untuk bekal selama tiga hari, tidak hanya untuk puncak Pujawali di Pura Jati tetapi juga untuk sembahyang atau matur piuning di sekeliling lingkungan pura; ngancar begitu kami menyebutnya. Sungguh belum bisa membayangkan bagaimana cara membawa semua itu.

Bagi kami momen pujawali di Pura Jati merupakan momen untuk berkumpul dengan saudara dan keluarga. Sedikit bernostalgia, seperti biasa di pagi  hari menjelang hari H saya pergi ke Rejeng Anyar, kebetulan ada sanak saudara disana. Beramai-ramai dengan berjalan kaki, sesampainya disana  selalu disuguhkan sup kepala ikan mujair dengan daun gereng-gerengan khas danau Batur, garingnya ikan nyalian goreng juga nasi hangat semakin menambah nafsu makan.

Sepiring nasi tidaklah cukup, ada segelas teh rasa air danau yang terasa unik dan jauh dari rasa khawatir saat meminumnya. Kami yang dulu tak mengenal adanya pencemaran danau Batur, kami dengan bebas menikmatinya dengan bebas menggunakannya.

Potret dapur di Rejeng Anyar  | Foto: Dok. Meisa Wulandari

Tak berlama-lama, sebelum tengah hari kami sudah harus kembali ke dunungan, dan mulai bersiap karena rangkaian upacara cukup panjang, mulai dari prosesi mepada atos dan juga salaran sebagai wujud rasa bakti dan juga membayar kaul yang telah diucapkan atas anugrah yang telah di dapatkan, seperti sembuh dari suatu penyakit, mendapatkan suatu pekerjaan, diterima di sebuah sekolah, dan sebagainya.

Atos yang dihaturkan berupa kambing hitam dan salaran berupa ayam dan bebek, juga ada beras, biji-bijian, kelapa yang digantung pada sebilah bambu yang dilengkapi tebu, dan juga dua ikat kayu bakar. Tidak hanya itu biasanya kami juga menghaturkan banten pejati maupun tebasan, jadi ini adalah salah satu sebab mengapa kami mendirikan dunungan.

Selain itu karena jatuh pada sasih Kasa (Srawana) yakni bulan pertama, yang diyakini sebagai bulan yang baik untuk mengawali suatu kegiatan belajar agar mudah dipahami, maka kami selalu memilih mengawali proses belajar itu di Pura Jati, baik itu belajar menyanyi, menari, tabuh dan yang lainnya. Begitulah cara kami sebagai masyarakat Batur meyakini dan melakoni sebuah tradisi yang telah kami warisi sejak lama.

Tradisi masih tetap terjaga dengan baik yang berubah hanyalah pembangunan yang lebih pejal. Tahun-tahun yang telah dilewati hanya menyisakan kenangan. Kini rasa khawatir mulai menjangkit, air danau tak lagi seperti dulu, bangunan-bangunan setengah jadi itu, kini mulai permanen, tembok-tembok kokoh berdiri, yang beratapkan terpal berganti menjadi seng.

Tak ada wajah penuh kerutan saat hujan turun karena air mulai membendung di atas terpal atau mendengar suara terpal yang diterbangkan angin. Lebih modern lagi karena tiap dunungan sudah lengkap berisi dapur dan kamar mandi. Sayangnya, di tengah standar rumit ini, tak ada banyak percakapan semua mulai sibuk dengan dirinya dengan gawainya.

Potret medunungan di Pura Jati saat ini | Foto : @Infobatur

Mungkin memang seharusnya kita mulai berbenah, tetapi jangan melupakan esensi dari semua yang telah kita lewati. Kini lampu-lampu sudah modern, aliran listrik sudah sampai di masing-masing dunungan, tidak lagi sulit mencari minyak tanah untuk menghidupkan lampu petromaks, tidak lagi takut kegelapan karena lampu bohlam siap menyala kapan saja. Tidak lagi tidur beralaskan tanah dan bebatuan yang tidak rata, karena banyak dari kita juga sudah membawa alas tidur  yang nyaman. Tidak lagi terbangun dan langsung  menatap langit biru akibat atap terpal sudah mulai dirapikan saat pujawali selesai.

Banyak dari kita yang mulai terburu, begitu Pujawali selesai satu persatu bergegas merapikan barang-barang lalu kembali ke rumah masing-masing layaknya seperti perlombaan, tapi itulah letak keseruannya. Tiga atau bahkan empat hari tak pernah terasa cukup bagi kami untuk menikmati suasana setahun sekali ini. Begitu pula Pralingga Ida Bhatara juga kembali di usung menuju Pura Batur dengan berjalan kaki melewati jalan menanjak penuh semangat.

Potret kaswan Pura Jati | Foto : Panca Sedana & Agus Megan

Keadaan bisa saja tak membiarkanmu mengobati rindu. Pada waktu yang terus melaju, kami tak semuda itu lagi. Kini panas tak hanya dicipta oleh matahari tetapi juga oleh mesin-mesin, dan dikepung pembangunan sana sini. Menyisakan sedikit pepohonan seperti eucalyptus, cempaka, dan mangga yang ada di sekitar dunungan selebihnya telah dikepung mesin pembabat pohon.

Mari kita coba tengok kembali material-material alami yang ada disekitar kita. Ketika digunakan sebagai  bangunan, bukankah terlihat sejuk dan harmonis? Setidaknya terasa lebih dekat dari apa yang selama ini kita bayangkan. Alih-alih terlupakan, sekali lagi kami hanya ingin merindukannya lebih awal. Ini ceritaku bagaimana dengan ceritamu?

Salam dari kabut tipis yang menyapa lembut. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis MEISA WULANDARI
  • BACA artikel lain tentang BATUR
Sinarata, Fragmentari Babad Batur, dan Cerita di Baliknya
Batur, Tradisi, Upacara Danu Kerti: Cerita Melasti ke Segara Watuklotok
Ubud dan Ragam Ceritanya, Mulai dari Wariga Hingga Usadha, Juga Perjumpaan Manis Kita
Pekik Semangat Krtaning Panarajon dari Perbukitan Cintamani Mmal
Tags: BaturDanau BaturKintamaniPura Jati Baturritualtradisi balitradisi medunungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pedagang Kaki Lima di Pinggiran Danau Beratan: Dianggap Mengganggu, Dikejar-kejar Petugas

Next Post

Mae Salong, Desa Thailand Rasa China

Ni Luh Meisa Wulandari

Ni Luh Meisa Wulandari

Lahir di Batur Tengah, 9 Mei 1998. Kini mahasiswa Jurusaan Kesehatan Gigi Poltekkes Denpasar

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Mae Salong, Desa Thailand Rasa China

Mae Salong, Desa Thailand Rasa China

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co