6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak-anak dan Media: Antara Manfaat, Bahaya, dan Pembentukan Identitas

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
October 8, 2024
in Esai
Anak-anak dan Media: Antara Manfaat, Bahaya, dan Pembentukan Identitas

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dari Canva

ANAK-ANAK kita kini telah menjadi konsumen media yang loyal dan rakus. Mereka mengakses berbagai konten dari aplikasi bioskop online,  channel televisi online, berbagai platform media sosial , TikTok, YouTube, hingga game online.  Jika kita tidak aware, yang nampak demikian memang hanyalah sebagai hiburan yang sederhana.

Namun tidaklah demikian karena ini adalah suatu ekosistem kompleks, di mana otak, perasaan, dan identitas mereka kemudian perlahan terbentuk secara diam-diam, di luar pengawasan kita.  Setiap hari, mereka terpapar konten yang memengaruhi pola pikir, emosi, dan cara pandang mereka terhadap lingkungan sekitar mereka dari lingkup kecil keluarga, tetangga, sekolah, hingga dunia.

Janganlah sampai kita kemudian tertipu oleh kesenangan yang anak-anak ini rasakan saat bermain gadget, karena media tidak hanya sekadar alat hiburan, tetapi seperti kata Marshall McLuhan dalam bukunya  “Understanding Media:The Extensions of Man”, media juga agen yang membentuk masa depan generasi ini tanpa kita sadari (McLuhan, 1964). Bagaimana teori yang sudah lama ini masih relevan hingga sekarang? Mari kita tilik pelan-pelan.

Frekuensi dan Durasi Konsumsi Media

Kita kembali ke Marshall McLuhan yang pernah mengatakan bahwa “the medium is the message”. Artinya dalam konteks ini, media yang anak-anak konsumsi bukan hanya alat untuk menyampaikan konten, tetapi juga akan mengubah cara mereka berpikir, menyelami, dan memahami dunia. Jika dalam sehari mereka beberapa kali membuka Instagram atau TikTok, hal ini bukan semata hanya soal durasi, tetapi bagaimana kemudian media ini lalu bisa membentuk dan mengatur pola pikir mereka.

Anak-anak yang terlalu sering terpaku pada media sosial cenderung kehilangan kemampuan untuk fokus dan berpikir kritis. Ada suatu kebiasaan dalam konsumsi gadget yaitu berpindah dari satu konten ke konten lain dalam hitungan detik  seperti doomscrolling, doom surfing atau ada juga yang menyebut sebagai content grazing, hal ini menciptakan budaya instan yang bisa berbahaya bagi perkembangan kognitif dan afektif anak dalam jangka panjang. Konsumsi konten media yang macam ini membuat mereka terbiasa dengan interaksi cepat dan serba tanggap, tapi sayangnya, dangkal.

Penelitian menunjukkan bahwa hal ini bisa memengaruhi kemampuan berpikir secara mendalam.

Menurut laporan Common Sense Media (2022), rata-rata anak-anak menghabiskan 7,5 jam per hari di depan layar gadget. Sekali lagi mengingatkan, ini bukan hanya soal kehilangan waktu untuk bermain atau belajar, tetapi juga menyoal bagaimana media secara perlahan menggantikan cara mereka berinteraksi dengan dunia nyata. Coba kita amati, mereka lebih banyak mendapatkan informasi dari layar yang mereka pegang, ketimbang mendapatkan pengalaman langsung, dan inilah yang kemudian membentuk pola pikir mereka, membentuk cara mereka memahami lingkungan di sekitar mereka (Carr, 2010).

Pengaruh Konten

Di satu sisi, konten media memang diakui  bisa memberikan manfaat edukatif yang signifikan. Video tutorial, dokumenter tentang alam, hingga berbagai aplikasi edukasi yang dapat menstimulasi perkembangan intelektual anak. Sesuai dengan teori Jean Piaget tentang perkembangan kognitif, anak-anak membutuhkan konten yang selaras dengan tahap perkembangan mereka, agar mentalnya dapat berkembang secara  optimal.

 Harapannya demikian, tapi realitasnya, banyak dari mereka justru terpapar konten yang jauh dari itu—kekerasan, seksualisasi dini, dan promosi gaya hidup adiktif menjadi bom waktu bagi perkembangan moral dan emosional anak. Konten-konten ini bukan hanya tidak sesuai, tapi juga bisa menghambat perkembangan kognitif yang seharusnya terjadi secara bertahap, seperti dijelaskan oleh Piaget. Misalnya, paparan kekerasan di video game atau film sering kali membuat anak lebih agresif dan tumpul terhadap kekerasan nyata (Anderson & Bushman, 2001). Tidak hanya kekerasan, seksualitas dini dan sensualitas juga kerap disisipkan dalam game dan film.

Penuh Persahabatan Virtual namun Kesepian di Dunia Nyata

Media sosial telah mengubah cara anak-anak jaman sekarang berinteraksi dengan teman sebaya dan keluarga mereka. Lewat platform seperti Instagram, TikTok, atau WhatsApp, mereka dapat berkomunikasi secara instan, intens, dan terus-menerus.

Namun, apakah ini membuat interaksi sosial mereka lebih kaya dan bermakna? Atau justru semakin dangkal dan hampa? Menurut teori perkembangan kognitif Lev Vygotsky, interaksi sosial adalah komponen kunci dalam perkembangan mental anak (Vygotsky, 1978).

 Namun, media sosial cenderung membatasi interaksi menjadi teks singkat, emoji, dan gambar, yang sering kali tidak dapat menggantikan kedalaman komunikasi tatap muka.

Sebuah penelitian oleh Twenge et al. (2018) menemukan bahwa peningkatan penggunaan media sosial pada anak-anak justru berkorelasi dengan peningkatan kesepian, depresi, dan kecemasan sosial. Hal ini tentu saja lalu menjadi serius.

 Dampak negatif lain dari media sosial adalah meningkatnya kasus cyberbullying. UNICEF mencatat, sepertiga anak muda di 32 negara melaporkan alami perundungan di dunia maya atau cyber bullying, yang bisa berdampak buruk pada kesehatan mental mereka. Interaksi sosial yang seharusnya memperkaya kehidupan anak-anak justru berubah menjadi arena yang penuh tekanan dan kecemasan.

Bahaya Tersembunyi Media Sosial

Tahap perkembangan identitas, seperti yang dijelaskan oleh Erik Erikson, adalah periode kritis dalam hidup anak-anak, terutama selama masa remaja (Erikson, 1968). Dikuatkan oleh Jane Kroger (2007), dalam bukunya “Identity Development: Adolescence Through Adulthood”, pada tahap ini, anak-anak mulai mencari tahu siapa mereka sebenarnya dan bagaimana mereka ingin dilihat oleh dunia. Media sosial saat ini, dengan berbagai tipe gaya influencer dan tren yang berubah-ubah, memainkan peran besar dalam pembentukan identitas ini.

Namun sayangnya pengaruh media sosial sering kali lebih merusak daripada membantu. Anak-anak dibanjiri dengan citra tubuh yang sempurna, gaya hidup mewah, dan tren yang tidak realistis, yang dapat menimbulkan rasa tidak puas terhadap diri mereka sendiri dan keluarga mereka.

Sebuah studi oleh Tiggemann & Slater (2014) menemukan bahwa remaja yang sering terpapar media sosial cenderung memiliki citra tubuh yang negatif dan lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental seperti anoreksia atau bulimia.

Bagaimana anak-anak dapat membangun identitas yang sehat di tengah banjir informasi ini? Salah satu kuncinya adalah membekali mereka dengan kesadaran kritis. Orang tua dan para pendidik perlu mengajarkan anak-anak untuk memandang media dengan skeptis, artinya memberikan suatu pemahaman, bahwa apa yang mereka lihat di media sosial tidak selalu mencerminkan kenyataan. Banyak yang merupakan suatu pseudeo reality, kenyataan semu. Erikson menekankan pentingnya pencarian identitas yang autentik, dan media sosial dapat menjadi alat untuk eksplorasi, selama digunakan dengan kesadaran penuh (Erikson, 1968). Tentu saja ini memerlukan peran pendampingan dan bimbingan orang tua.

Apakah Kita Memilih Kalah?

Di era di mana media telah menyusup ke dalam hampir setiap aspek kehidupan anak-anak, penting bagi kita sebagai orang dewasa untuk tidak melepaskan kendali begitu saja. Media bukan sekadar alat komunikasi namun ia adalah kekuatan yang membentuk cara berpikir, merasa, dan bertindak anak-anak kita.

Jika kita hanya diam dan tidak bertindak, pola konsumsi media anak-anak akan membentuk masa depan mereka dengan cara yang mungkin tidak pernah kita inginkan. Anda bisa bayangkan, setiap kali mereka menggulir layar ponsel, algoritma di balik platform-platform besar sedang mengukir pikiran mereka, menentukan apa yang harus mereka prioritaskan, bagaimana mereka merasa, bahkan siapa mereka, dan seharusnya menjadi apa. Semua ini bahkan sudah terjadi tanpa pengawasan kita, tanpa kita memahami, betapa kuatnya pengaruh media dalam hidup anak-anak kita ini.

Maka dari itu, penulis yakin ini saatnya kita bertindak, bukan dengan cara melarang, tetapi dengan cara mendampingi mereka untuk memahami dan menggunakan media secara bijak. Jangan biarkan mereka tersesat dalam suatu dunia yang mereka sendiri tidak paham, terjebak dalam ilusi kesempurnaan yang ditawarkan oleh influencer atau tren yang terus berganti, demi cuan dan popularitas. Kita harus mengambil alih kendali, waspada, jangan gadaikan masa depan mereka pada layar yang berpendar. Pertanyaan reflektif untuk kita semua: Apakah kita sudah kalah? [T]

ACA artikel lain dari penulis PETRUS IMAM PRAWOTO JATI

Merdeka Berbangsa, Merdeka Bermedia
Iklan Modern: Seni Menjual Mimpi atau Manipulasi Tersembunyi?
Candu Media Sosial dan Kesehatan Mental
Media Sosial dan Judi Online: Kombinasi Mematikan bagi Ketahanan Negara
Teknologi Komunikasi dan Perubahan Masyarakat
Transformasi Radio: Menolak Mati dalam Gelombang Digitalisasi
Tags: anak-anakInstagrammedia sosialtiktok
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berguru ke Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Next Post

Pentas Produksi Teater Gadhang: Gog dan Magog

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Pentas Produksi Teater Gadhang: Gog dan Magog

Pentas Produksi Teater Gadhang: Gog dan Magog

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co