23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sisi Gelap Demokrasi: Mengapa Kita Tidak Boleh Terlalu Percaya pada Demokrasi

Elpeni Fitrah by Elpeni Fitrah
September 3, 2024
in Esai
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

MINDSET saya tentang politik cuma satu: BUSUK! Sebab itu saya tak pernah terperangkap pada penghormatan secara berlebihan terhadap tokoh atau kelompok tertentu, apalagi partai politik.

Banyak orang merasa terpukul, jengkel, sebal, kesal, emosi, atau segala bahasa serupa untuk menyebut marah pada situasi politik nasional akhir-akhir ini. Saya tidak. Untunglah saya terselamatkan dari rupa-rupa perasaan yang mencekik mental itu.

Saya hanya sedih jika praktik politik kita lebih banyak mendakwahkan intoleransi dan menyebarluaskan kebencian. Tak heran, seiring dengan sedang berlangsungnya tahapan Pilkada di Indonesia, kita jadi akrab dengan banyak kata-kata ajaib, semacam: Mulyono and the gang, Raja Jawa, Kotak Kosong, dan bahkan Dinasti Politik. 

Apa mau dikata, demokrasi rupanya menyimpan begitu banyak sisi gelap. Dia selama ini sering dipuja sebagai sistem pemerintahan ideal, namun kadang kita lupa untuk bersikap kritis terhadapnya. Dan, inilah maksud disajikannya tulisan ini, mereflesikan sisi lain dari demokrasi yang sering kali luput dari perhatian. Semoga ini bisa menjadi bahan diskusi, lebih mendorong kita untuk berpikir kritis, dan tidak menerima demokrasi begitu saja sebagai sistem yang sempurna.  

Penting bagi kita untuk memahami sisi gelap demokrasi agar dapat memperkuat sistem ini dan mencegah penyalahgunaannya.

Peringatan dari Tokoh Klasik

Tokoh-tokoh klasik telah lama memperingatkan kita tentang bahaya demokrasi. Plato, dalam karyanya “Republik”, mengkritik demokrasi sebagai sistem yang rentan terhadap manipulasi oleh para demagog. Ia berpendapat bahwa masyarakat awam tidak selalu memiliki pengetahuan atau kebijaksanaan untuk membuat keputusan politik yang tepat.

Bukti historis menunjukkan bahwa kekhawatiran Plato tidak tak berdasar, seperti terlihat dalam kasus naiknya Hitler ke kekuasaan melalui proses demokratis di Jerman. Dengan demikian, kita perlu menyadari bahwa suara mayoritas tidak selalu menghasilkan keputusan terbaik untuk masyarakat.

Aristoteles juga menyoroti kelemahan demokrasi dalam konsepnya tentang “tirani mayoritas”. Ia berpendapat bahwa dalam sistem demokrasi, kepentingan mayoritas dapat menindas hak-hak minoritas. Alasannya, ketika suara terbanyak menjadi satu-satunya legitimasi kekuasaan, kelompok minoritas berisiko kehilangan suara dan perlindungan.

Kita dapat melihat contoh nyata dari fenomena ini dalam kasus diskriminasi terhadap minoritas etnis atau agama di berbagai negara demokratis. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memastikan bahwa demokrasi tidak hanya tentang aturan mayoritas, tetapi juga tentang perlindungan hak-hak minoritas.

Alexis de Tocqueville, dalam karyanya “De la démocratie en Amérique (Democracy in America)”, memperingatkan tentang bahaya konformitas dalam masyarakat demokratis. Dia berpendapat bahwa tekanan sosial dalam demokrasi dapat menciptakan “tirani opini publik” yang membatasi kebebasan individu dan keragaman pemikiran. Kita dapat melihat manifestasi dari peringatan ini dalam fenomena cancel culture dan polarisasi politik yang semakin tajam di era media sosial.

Akibatnya, ruang untuk dialog dan kompromi yang seharusnya menjadi inti dari proses demokratis justru semakin menyempit, mengancam fondasi demokrasi itu sendiri.

Kelemahan Demokrasi Modern

Populisme dan demagoguery merupakan ancaman serius bagi demokrasi modern. Para pemimpin populis sering mengeksploitasi ketakutan dan kemarahan publik untuk mendapatkan kekuasaan, sambil menawarkan solusi sederhana untuk masalah kompleks. Contoh nyata dari fenomena ini dapat dilihat dalam kasus Venezuela di bawah kepemimpinan Hugo Chavez.

Chavez naik ke kekuasaan melalui proses demokratis dengan janji-janji populis, namun pemerintahannya justru berujung pada erosi institusi demokratis dan krisis ekonomi berkepanjangan. Kasus ini menunjukkan bahwa demokrasi tanpa checks and balances yang kuat dapat dengan mudah dimanipulasi oleh pemimpin yang kharismatik namun otoriter.

Ketidakstabilan dan ketidakefisienan dalam pengambilan keputusan juga menjadi kelemahan sistem demokrasi. Proses konsensus yang panjang dan sering kali berlarut-larut dapat menghambat implementasi kebijakan yang diperlukan dengan cepat.

Kita dapat melihat contoh ini dalam kasus krisis ekonomi Yunani pada tahun 2009, di mana perdebatan politik yang berkepanjangan dan ketidakmampuan untuk mencapai konsensus memperlambat respons terhadap krisis, memperparah dampaknya terhadap masyarakat. Oleh karena itu, kita perlu menemukan keseimbangan antara partisipasi demokratis dan efisiensi dalam pengambilan keputusan.

Konteks Indonesia

Dalam konteks Indonesia, tantangan demokrasi terlihat semakin kompleks. Polarisasi politik yang tajam, terutama yang terlihat dalam Pemilu 2019 dan 2024, menunjukkan bahwa demokrasi kita masih rentan terhadap manipulasi elit dan sentimen primordial. Alasan di balik fenomena ini adalah masih lemahnya budaya politik dan pendidikan kewarganegaraan di masyarakat.

Kita dapat melihat buktinya dari maraknya politik identitas dan berita palsu yang sering kali mendominasi wacana publik. Akibatnya, kualitas demokrasi Indonesia terancam mengalami kemunduran jika tidak ada upaya serius untuk mengatasi tantangan-tantangan ini.

Dinasti politik merupakan fenomena yang sering muncul dalam sistem demokrasi, menunjukkan sisi gelap lain dari sistem ini. Dalam dinasti politik, kekuasaan cenderung terkonsentrasi pada satu keluarga atau kelompok kecil yang saling berhubungan, yang dapat bertahan selama beberapa generasi.

Alasan di balik munculnya dinasti politik adalah kombinasi dari nama besar keluarga, jaringan politik yang kuat, dan akses terhadap sumber daya kampanye yang besar. Kita dapat melihat contoh nyata dari fenomena ini di berbagai negara demokratis, termasuk Amerika Serikat dengan keluarga Kennedy dan Bush, Filipina dengan keluarga Marcos dan Aquino, serta di Indonesia sendiri dengan munculnya berbagai dinasti politik di tingkat pusat dan daerah.

Akibatnya, dinasti politik dapat mengancam prinsip meritokrasi dalam demokrasi, membatasi kesempatan bagi individu berbakat di luar lingkaran kekuasaan, dan berpotensi menciptakan oligarki yang bertentangan dengan semangat demokrasi itu sendiri.

Untuk memperkuat sistem demokrasi di Indonesia, kita perlu mengambil langkah-langkah konkret. Pertama, penguatan pendidikan politik dan literasi media bagi masyarakat harus menjadi prioritas. Alasannya, warga negara yang kritis dan well-informed adalah fondasi bagi demokrasi yang sehat. Kedua, penguatan institusi checks and balances, seperti peradilan yang independen dan pers yang bebas, sangat penting untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan.

Bukti dari negara-negara dengan demokrasi yang mapan menunjukkan bahwa institusi-institusi ini berperan krusial dalam menjaga keseimbangan kekuasaan. Dengan langkah-langkah ini, kita dapat berharap untuk membangun sistem demokrasi yang lebih tangguh dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Meskipun demokrasi tetap menjadi sistem pemerintahan yang paling menjanjikan, kita tidak boleh buta terhadap kelemahannya. Pemahaman kritis terhadap sisi gelap demokrasi justru akan membantu kita memperkuat dan menyempurnakan sistem ini. Bukti dari berbagai kasus di dunia dan pengalaman Indonesia sendiri menunjukkan bahwa demokrasi bukanlah sistem yang sempurna dan selalu membutuhkan perbaikan terus-menerus.

Oleh karena itu, tugas kita sebagai warga negara adalah untuk terus bersikap kritis, partisipatif, dan bertanggung jawab dalam proses demokrasi, sambil terus berupaya memperkuat institusi dan budaya demokrasi di negeri ini. [T]

Baca artikel lain dari penulis ELPENI FITRAH

Refleksi Kemerdekaan dan Warisan Diplomasi Indonesia untuk Dunia
Pesan untuk Pak Presiden Baru: Jangan Hanya Berusaha Mencegah Perang, Kita Harus Bersiap untuk Berperang
Pengunduran Biden dan Tantangan Berat Harris Menuju AS-1
‘Adat Dunia Balas Berbalas, Adat Hidup Tolong Menolong’ dalam konteks Geopolitik Kontemporer
Tags: demokrasiPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Singaraja Literary Festival, Sebuah Reuni dan Pertemuan yang Hangat — Catatan Volunteer

Next Post

Di Puncak Tegeh Kaman 

Elpeni Fitrah

Elpeni Fitrah

Ketua Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Di Puncak Tegeh Kaman 

Di Puncak Tegeh Kaman 

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co