23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi I Nyoman Wirata | Sketsa Penyair Samar Gantang

I Nyoman Wirata by I Nyoman Wirata
September 1, 2024
in Puisi
Puisi-puisi I Nyoman Wirata | Sketsa Penyair Samar Gantang

SKETSA PENYAIR SAMARGANTANG

biarlah keedanan sejenak
menjadi seekor srigala
meraung
di punggung panggung

Mengunyah bait demi bait
saat membaca sajak
sajak sajak mu

raungmu ruang
seperti
mengundang agar ada
yang datang
dan
bikin ngeri
jika yang datang
yang tak terbayang
berwujud helikopter
sepeda jengki
tanpa pengendara berjalan
di atas trotoar
atau
gentayangan
mewujud kapal capung

Kunyah saja itu bait
dengan nafas pranayama
tak perlu jubah
karena bukan berkotbah
raungmu
sudah cukup memanjangkan
lengan sajak
menjangkau kantung hati
mengeluarkan riuhnya
menukar dengan sepi
Kunyah terus itu bait
yang panjang
agar raung jadi riung lebah
menemu saripati
bunga hidup

Sungguh mati
sebatang pohon pepaya
bila
dipasang di panggung
atau
sebatang umbulumbul
terasa
malam akan jadi
malam opera Calonarang

terbayang tubuh seksi
Manggali
perempuan berambut oranye
kering tak tersentuh shampo

walau
tak tersenyum
giginya nampak

tak telanjang
nafsu lumat di tubuhnya

Ngerehgeh

mirip srigala
birahi di bulan ke 9
di penanggalan kuno
karena
aroma tanah
saat gerimis petang
dengan kaki tunggal
berdiri
memutar
jagat raya panggung
menjadi durga

bali jani 2024

SKETSA BADUT

Di balik topeng karet
aku
tak bisa menebak
Adakah kau
yang kulihat
di kantor pemerintah
Atau di jalanan
sebagai pemulung
membawa lumbung

lelakikah
atau perempuan
atau dua duanya

Takut juga,
jangan jangan
kau ledakkan nanti
hati dan
mati

Jika kesedihan
belum kau bunuh
itu tanda
kau masih
manusia

Di panggung jalanan
anak anak bersorak
berteriak
lucumu bisa bikin
gembira dan takut

takut
bila kehidupan
menjadikan badut
di labirin hidup
dan
bila ada mengatakan
kita senasib:
tentu!
bisa selalu
membuat orang tertawa
hati teriris

tak bisa terus
mewarnai celaka
dengan senyum

Suatu malam
di pesta kesenian
seorang teman
seniman panggung
memainkan monolog badut
berdiri di lingkaran
cahaya lampu sorot
menyoroti kebanalan
sekaligus
jadi wakil rakyat
banal

Tiba
tiba-tiba ingatan pada
badut kebudayaan
yang mengapung
di panggung
bagai kapukapu
tanaman air

Di gang labirin
kampung urban
seribu badut
mudah didapat

pincang jalannya
berat beban memikul tradisi
sekaligus modernisasi

Pagi hari
nalurinya adalah gembala
mengembala anjing
seperti gembala sapi
menyanyi;
oleo..leo..leo
menggiring hati
ke sebuah toserba lalu
dicekik harga harga

Malamnya
nalurinya jerangkong
sepanjang jalan bersiul
tak jemu jemu sambil
berangguk -angguk
mengetuk pintu
siapa tahu
ada yang senasib

Berharap
kesepian menyambutnya
di ruang tamu

24.08.2024

SKETSA HUJAN

Bila air mengalir
anak sungai namanya
Jika
menyasar tubuh
dan wajah
panah hujan namanya
lalu
panah asmara
menimpa tubuh tanah rebah
dan
hujan adalah berkah cinta
dari langit

apa langitmu pernah menitahkan hujan menimpa tanah
jika cinta
kemudian bernanah

Hujan
adalah pembangkit birahi
bagi anjing
karena membau aroma tanah
sesudah hujan

Bagi tanah
hujan adalah
cinta yang ramah
lalu
hamil tanah lalu
benih tumbuh
serta tajuk rencana

Namun
gerimis adalah
hujan yang setengah hati
memberi
Jika lebat
cinta mengundang prahara

Di balik jendela kaca
di malam.minggu
seorang menghujat hujan
sebab hujan
menjelma panah
jantungnya tertusuk
dan
berdarah

Hujan yang petualang
jalang
pelahir anak haram
bernama kesepian

Hujan penyihir
dengan bahasa mengalir
merayu gersang
dengan air katakata
bersajak
di atap-atap rumah
memainkan tambur
berkhotbah:

air di pelimbahan
sama sama lahir dari
cinta langit yang suci

Ah, hujan
Pikiran kami adalah air
tergenang

24.08.2024

SKETSA PENDEKAR PEDANG
PEMBUNUH NAGA

Dalam komik silat
luka paling duka
saat menyadari diri
petualang
tak punya tujuan

serangan kesepian
sulit dihindari
dengan ilmu
meringankan tubuh
dan
yang sudah terkubur
oleh pedang
bangkit
di ruang tamu
seperti migrasi
dari negeri yang jauh
telanjang
dengan belati terhunus
berkarat

sehingga merasa
perlu kembali
belajar bersiasat
menghadapi serangan
dengan hati kosong

Tahun tahun
dengan
pedang kesombongan
terluka juga
oleh serangan
tangan kosong

Ingin bisa bertahan
dengan rasa menyerah
karena lelah
dan
hati
patah
sebab
selalu saja ada
musuh dalam selimut
bernama kenangan
mengancam
dengan senjata rahasia
namun
tetap ada rasa ingin
selalu
membuka pintu hati
agar engselnya tak berkarat
Dengan jurus tulus
mengutus hati yang puisi
sebab
peristiwa
mengandung sabda
dan
semesta
adalah universitas terbuka
mengajarkan
bagaimana cinta
menjadi sejati puisi
bukan sebatas katakata
dan
juga mengajarkan
agar pintar tak hanya
bersilat lidah
menghadapi kekosongan

Apa dengan pedang
pembunuh naga bisa
mengalahkan
naga kutukan imajinasi
yang bangkit
dari laut kesepian

24.08.2024

  • BACA puisi-puisi lainnya
Puisi-puisi Alit S.Rini | Mantra Disko dari Pub Dekat Kuburan
Puisi Raudal Tanjung Banua | Nyanyian Panjang Talang Sungai Parit
Puisi-puisi GM Sukawidana | Di Atas Meja Pelukis Made Budhiana
Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tabuhan 4/4 Luh: Narasi Perlawanan dari Dua Naskah tentang Perempuan

Next Post

Ketika WNA Pemelajar BIPA Beradu Pantun Berbahasa Indonesia

I Nyoman Wirata

I Nyoman Wirata

Lahir dan tinggal di Denpasar.Begiat di seni lukis dan nulis puisi serta telah menerbitkan 2 buah buku kumpulan puisi.

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post
Ketika WNA Pemelajar BIPA Beradu Pantun Berbahasa Indonesia

Ketika WNA Pemelajar BIPA Beradu Pantun Berbahasa Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co