24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hal-Hal yang Membuat Desa Les Layak Menyandang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024

Jaswanto by Jaswanto
August 31, 2024
in Khas
Hal-Hal yang Membuat Desa Les Layak Menyandang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024

Menparekraf Sandiaga Uno melihat-lihat dan sesekali membeli produk UMKM yang dipamerkan di sekitar Balai Masyarakat Desa Les | Foto: tatkala.co/Jaswanto

JAUH sebelum mendapat kunjungan dari Mentri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, pada Sabtu, 31 Agustus 2024, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Les sudah menyampaikan kabar gembira itu. “Desa Les masuk 50 besar desa wisata terbaik,” ucapnya dengan menyunggingkan senyum tipis di bibirnya.

Nyoman Nadiana, Ketua Pokdarwis Les itu, merupakan salah satu—jika bukan satu-satunya—orang yang menggebu-gebu saat membahas pariwisata di desa yang teronggok di sisi timur Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, itu. Ia seorang pejalan, pemandu, dan pedagang, sebagaimana ia menjuluki dirinya sendiri. Don Rare, panggilan akrabnya, belakangan juga menulis esai di tatkala.co tentang potensi-potensi Desa Les dan kisah-kisah pedagang kecil di sepanjang jalan di pelosok-pelosok Bali yang ia temui.

“Tahun ini Desa Les bersaing dengan 6.016 desa di ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia. Dan kita sudah sampai sejauh ini,” ujarnya, seperti biasa, dengan penuh kebanggan.

Pagi itu Don berdiri di atas panggung Balai Masyarakat Desa Les bersama Kepala Desa Les Gede Adi Wistara, mempresentasikan tanah kelahirannya di depan Menparekraf Sandiaga Uno, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak I Gusti Ayu Bintang Darmawati, dan Kepala Badan Pengembangan dan Informasi Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Kementerian Desa dan PDTT Ivanovich Agusta dalam acara kunjungan dan peluncuran buku pedoman “Desa Wisata Ramah Perempuan”, Sabtu (31/8/2024) pagi.

Nyoman Nadiana (Don Rare), Ketua Pokdarwis Desa Les, saat presentasi | Foto: tatkala/Jaswanto

Dasar pedagang, presentasi di depan mentri Don seperti ngomong dengan investor “gila” yang berpotensi besar untuk menggelontorkan dana ke Desa Les secara cuma-cuma. Atau seperti pedagang balon ketengan yang mengiming-imingi seorang bocah bahwa balonnya adalah yang terbaik dari semua balon di dunia ini. Itu memang keahliannya. Dan presentasinya pagi itu memang cukup meyakinkan.

“Desa Les memiliki banyak potensi, dari mulai daratan sampai lautan. Kami memiliki garis pantai yang panjang. Dan tanah subur untuk perkebunan. Pemandangan alam di Desa Les tak perlu diragukan. Di bawah laut, di perbukitan, semua bisa dikelola. Belum lagi seni dan budayanya,” ujar Don, tentu telah melewati perbaikan struktur bahasa di sana-sini.

Sementara Don Rare mempertaruhkan Desa Les lewat presentasinya, di sekitar Balai Masyarakat Desa Les pagi itu, orang-orang riuh rendah, antusias, menyambut kunjungan Menparekraf Sandiaga Uno.

Sebagaimana yang kerap ditemui di daerah-daerah lain di Indonesia setiap kali ada kunjungan pejabat sekelas mentri atau presiden, anak-anak SD dikerahkan di pinggir-pinggir jalan dengan bendera plastik di tangan. Sudah dapat ditebak, saat rombongan mentri melintas, bendera-bendera itu dikibas-kibaskan ke kanan dan ke kiri.

Di bawah terik yang menyengat, masyarakat Les berdesak-desakan, berteriak, menyapa, melambaikan tangan dan Sandiaga membalasnya dengan, katakanlah, simbol cinta orang Korea Selatan—sepertinya ia ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa dirinya masih cukup gaul di usianya yang sekarang.

Seperti karnaval Agustusan, arak-arakan Sandiaga pagi itu menjadi sorotan. Kamera gawai tak boleh berhenti menyala sedetik pun. Ucapan selamat datang tak putus-putus, sambung-menyambung dari ujung jalan sampai lokasi pertemuan. Orang-orang seperti tak rela ketinggalan momen langka tesebut.

Potensi Desa Les

Sebagaimana disampaikan Don dalam presentasinya, Desa Wisata Les memiliki beberapa daya tarik yang mungkin tidak dimiliki desa wisata lainnya di mana pun. Desatinasi wisata itu tersebar di daratan dan lautan (nyegara gunung). Sepertinya Tuhan memang menghadiahkan hal tersebut khusus untuk Desa Les.

Gede Adi Wistara, Kepala Desa Les, saat presentasi | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Desa Wisata Les merupakan wilayah nyegara gunung (laut dan gunung). Jadi, sudah barang tentu memiliki alam perbukitan dan pantai yang bagus. Terumbu karang dan air terjun merupakan unggulan daya tarik wisata kami,” ujar Don percaya diri.

Di daratan, Les punya satu air terjun, Yeh Mampeh, namanya, yang memiliki tinggi kurang lebih 20 meteran. Lalu jalur tracking Bukit Yangudi, tempat melukat di Yeh Anakan, yang airnya mengalir langsung dari mata air alami.

Pohon-pohon lontar yang tumbuh subur di punggung-punggung dan lereng-lereng bukit menjadikan Les sebagai desa dengan produksi gula, tuak, dan arak yang menjanjikan. Pula wisata kuliner yang kaya varian, sebut saja salah duanya, jukut blook dan mengguh yang terkenal itu. Di Les juga tersedia aneka olahan dari ikan laut yang terkenal lewat Warung Bali Mula, yang telah berhasil menarik para pelancong dari berbagai kalangan yang datang dari dalam dan luar negeri.

Juga jangan lupakan kekayaan warisan budaya, tradisi, dan keseniannya. Les cukup percaya diri akan hal ini. Seniman wayang, perak dan emas, anyaman, dan ukiran cukup diunggulkan di desa ini. Mereka, para seniman itu, seperti lahir begitu saja tanpa melalui proses pendidikan formal yang jelimet. Dan lihatlah, karya mereka tak kalah bagus dengan karya-karya seniman dari Ubud dan sekitarnya.

“Desa ini merupakan desa tua, sudah ada seblum Abad ke-X. Di sini terdapat peninggalan arca-arca yang konon katanya berbahan asli dari lingkungan sekitar (Desa Les). Saat ini arca tersebut masih tersimpan baik di Pura Puseh yang berada di Banjar Dinas Panjingan, Desa Les,” terang Don.

Menparekraf Sandiaga Uno, Menteri PPPA I Gusti Ayu Bintang Darmawati, dan Kepala Badan Pengembangan dan Informasi Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Kementerian Desa dan PDTT Ivanovich Agusta | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Terkait panaggulangan sampah, Les sedang berusaha mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos dan sampah anorganik didaur-ulang menjadi biji-biji plastik yang bisa diproses kembali. Dan itu, di Les juga terdapat peternakan madu kele—madu murni yang dihasilkan lebah jenis propolis trigona—oleh warga sekitar.

Sementara itu, Perbekel Desa Les Gede Adi Wistara, sebagaimana Don, mengungkapkan bahwa desa ini juga memiliki pantai sepanjang lebih dari tiga kilometer dengan spot menyelam yang tak terbayangkan sebelumnya. Don dengan bahasa manca menyebutnya Corral Reff Transplantation—untuk mengatakan salah satu inovasi Desa Les di bidang kelautan.

Tak hanya alam bawah laut, Les juga terkenal sebagai desa dengan produksi garam tradisional terbaik di Bali Utara. Namanya Garam Palungan, yang sudah diproduksi sejak zaman Belanda dan kini telah dikenal sampai pasar internasional.

Dan memancing ikan tuna bersama warga setempat adalah destinasi yang lain. Oh, hampir lupa. Di Les, tepatnya di Pantai Penyumbahan, “Les Fest Ngembak Geni”—festival rakyat Les seusai Nyepi—ditetapkan sebagai program tahunan. Les, sekali lagi, seolah punya segalanya.

Seperti sudah mempersiapkan diri untuk menjadi desa wisata, Les juga mulai mengembangan usaha penginapan. Sudah terdapat beberapa home stay yang terstandar di sini. Rasanya percuma kalau hanya dikunjungi sepintas-lalu. Maka penginapan bagi daerah wisata adalah sebuah keharusan. Dan fasilitas-fasilitas lain yang mendukung ekosistem tersebut juga sudah lama dipikirkan, direncanakan, dan pelan-pelan mulai dijalankan.

Kegigihan Masyarakat Desa Les

Sampai sejauh ini, tidak ada pihak mana pun yang layak dipuji dan diberi tepuk tangan kecuali masyarakat Desa Les. Pencapaian ini adalah usaha dan komitmen mereka sendiri, kegigihan mereka sendiri. Tak seharusnya—dan tak boleh, tentu saja—ada pihak lain yang berhak mengklaim, mengakui, pencapaian mereka—meskipun itu Pemerintah Buleleng sekalipun.

Kegigihan dan dedikasi Pemerintah Desa, BumDes Giri Segara/Pokdarwis, dan seluruh masyarakat Desa Les dalam mengembangkan pariwisata berkelanjutan tak perlu dipertanyakan lagi. Hal tersebut selaras dengan tema Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) tahun ini, yaitu “Desa Wisata Menuju Pariwisata Hijau Berkelas Dunia”.

Menparekraf Sandiaga Uno melihat-lihat dan sesekali membeli produk UMKM yang dipamerkan di sekitar Balai Masyarakat Desa Les | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Pemerintah desa dan adat berkomitmen untuk menjaga desa kami agar terhindar dari pembangunan yang merusak alam,” ujar Perbekel Desa Les, Gede Adi Wistara, seusai acara.

Pencapaian Desa Les dalam ADWI 2024 diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Bali dan Indonesia untuk terus mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Keindahan alam, budaya, dan keramahan masyarakat Desa Les menjadi modal penting untuk menjadikannya sebagai destinasi wisata kelas dunia.

Tak hanya itu, Desa Les juga memiliki modal pentahelix pariwisata yang cukup, di mana kolaborasi lima unsur pariwisata yang saling berkesinambungan dalam pembangunan pariwisata. Kelima unsur tersebut adalah pemerintah, akademisi, komunitas, pengusaha, dan rekanan media.

Konsep pentahelix merupakan konsep multi pihak yang berkomitmen untuk mencapai tujuan yang sama. Semakin besar peran aktor pentahelix dalam pembangunan pariwisata, semakin besar pula peluang Desa Les menjadi desa wisata yang maju dan berkembang.

Oleh sebab itu, Menteri Sandiaga Uno meminta kepada Desa Les agar segera menyiapkan dan melanjutkan konsep pariwisata berbasis pelestarian lingkungan yang lebih kuat. Hal Ini harus betul-betul dilakukan bersama komunitas masyarakat, budaya, lingkungan berkualitas, dan berkelanjutan.

Pelestarian lingkungan merupakan salah satu harga yang harus dibayar untuk menunjang keberlangsungan desa wisata pada zaman sekarang ini. Hal ini dapat menunjang potensi-potensi lainnya, seperti sumber daya alam, adat-istiadat-seni-budaya, UMKM, dan potensi lainnya.

“Saya mengucapkan apresiasi dan selamat kepada Desa Wisata Les yang telah menjadi bagian dari keluarga besar Anugerah Desa Wisata Indonesia,” kata Sandiaga, singkat dan padat.

Adi Wistara menyebutkan bahwa kunjungan tiga kementerian ke Desa Les memberikan dampak positif, terutama dalam mempromosikan Desa Wisata Les ke seluruh Indonesia. “Kita telah melihat dampak positif dari Desa Les yang masuk 50 besar desa wisata terbaik—bahkan sebelum acara seremonial. Dukungan dari pihak swasta, seperti CSR dan kerjasama dengan antar pihak sangat membantu dalam promosi desa wisata di Kabupaten Buleleng,” ucap Adi Wistara.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Les Fest Ngembak Geni, Harinya Orang-Orang Desa Les
Bu Yarsa, Sejak 50 Tahun Jual Laklak di Dajan Tugu Singa Desa Les
Jika Beruntung, Kita Bisa Temukan “Nasi Campur Bu Mangku”, Unik dan Melegenda di Desa Les
Luh Wisaeni, 20 Tahun Menjual Mengguh Khas Desa Les, Tejakula
Cuti Bersama? Cobalah Trekking Menyambut Fajar di Jalur Buu-Yangudi, Desa Les, Tejakula
Air Terjun Yeh Mempeh, Air Terbang di Desa Les
Tags: Anugerah Desa Wisata IndonesiaDesa LesSandiaga Uno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Bangbang” di Gumi Delod Ceking   

Next Post

Dialek Bahasa Bali dalam Seni Pertunjukan: Humor yang Memikat

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Dialek Bahasa Bali dalam Seni Pertunjukan: Humor yang Memikat

Dialek Bahasa Bali dalam Seni Pertunjukan: Humor yang Memikat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co