2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Les Fest Ngembak Geni, Harinya Orang-Orang Desa Les

Jaswanto by Jaswanto
March 13, 2024
in Khas
Les Fest Ngembak Geni, Harinya Orang-Orang Desa Les

Suasana di Les Fest Ngembak Geni di Desa Les | Foto: Jaswanto

SETELAH umat Hindu selesai menjalankan ibadah Nyepi, hujan mengguyur Buleleng sendari pagi. Saat itu pula, umat Islam sedang menunaikan ibadah sahur puasa Ramadan yang pertama tahun ini. Seperti tanda baik, pagi itu Buleleng begitu sejuk, tak panas dan gerah seperti biasanya. Namun, menjelang siang, ternyata hujan tak kunjung reda, termasuk hujan di Desa Les, Kecamatan Tejakula, di timur Buleleng sana. Padahal, hari itu, Les sedang punya gawe.

Di bibir Pantai Penyumbahan Desa Les, panggung ukuran medium teronggok dingin dengan pengeras suara yang memekakkan telinga—pengeras suara itu menyemburkan musik-musik ala diskotek. Menjelang senja, di tengah hujan lebat, orang-orang tetap saja berbondong-bondong ke sana. Mereka, sebagian besar penduduk Les, menyerbu pantai tersebut dengan bekal uang yang tak sedikit. Orang tua, remaja, anak-anak, laki-laki-perempuan, dengan pakaian terbaiknya, mengular di sepanjang pantai, seperti semut berbaris menuju gula yang manis.

Sebenarnya, sebelum Kuningan, pihak panitia sudah mendirikan panggung acara. Tapi karena hujan angin, panggung dibongkar kembali. Jadilah pagi setelah Nyepi, panggung baru didirikan lagi. Oleh sebab itu, menjelang pergantian hari, panggung baru bisa digunakan. Namun, tidak dengan tenda-tenda para penjaja makanan, mainan, dan pakaian—dan lapak judi, tentu saja. Para pemilik, si pedagang-pedang itu, membiarkannya begitu saja. Meski hujan, mereka tetap membuka barang dagangan.

Orang-orang sedang bergerombol di Les Fest Ngembak Geni 2024 di bibir Pantai Penyumbahan Desa Les | Foto: Jaswanto

Ombak bergulung-gulung menciumi bibir pantai. Perahu-perahu nelayan timbul-tenggelam. Sedang hujan masih saja tak kunjung reda. Dan orang-orang tetap saja berdatangan. Di sanalah, di Pantai Penyumbahan, Desa Les sedang menyelenggarakan program tahunan “Les Fest Ngembak Geni”. “Ini tahun kedua,” kata Ketut Kartika Yani, Ketua Panitia Les Fest, Selasa (12/3/2024) sore.

Ketut Kartika menjadi orang yang paling sibuk sore itu. Ia mondar-mandir ke sana-ke mari, memastikan rekan-rekan panitianya sudah bekerja sesuai rencana atau belum. Kadang ia terlihat tegang, namun tak jarang juga tersenyum dan tertawa lega, meski beberapa kali juga merasa kesal sendiri. “Cuacanya begini. Satu agenda terpaksa kami batalkan,” ujarnya penuh penyesalan. “Harusnya ada penampilan Baleganjur. Tapi karena hujan, kami batalkan,” katanya lagi, mengulang penyesalan yang sama.

Dalam susunan acara yang sudah direncanakan dan disepakati, pukul lima sore harusnya acara sudah dimulai. Itu jadwal anak-anak Desa Les menampilkan kebolehan mereka dalam memainkan gamelan Baleganjur. Tapi apa mau dikata, hujan sepertinya tidak mengizinkan hal itu terjadi. Maka terpaksalah pihak penyelenggara—Pemerintah Desa Les dan Karang Taruna Bhuana Lestari—membatalkannya, dan baru memulai acara setelah azan Magrib berkumandang.

“Tapi, meski begitu, antusiasme masyarakat sungguh luar biasa. Bisa dilihat sendiri, meski hujan, mereka tetap ke sini,” Kartika, yang juga sekaligus Ketua Karang Taruna Desa Les, mencoba menghibur diri. Tapi benar, sebagaimana telah disebutkan di awal, orang-orang memang tampak begitu padat—bahkan beberapa bule, orang asing itu, ikut nimbrung di sana. Jumlah mereka semakin bertambah menjelang dua gadis muda sedang bersiap menarikan Pendet. Sebentar saja panggung itu sudah menjelma menjadi cuilan donat yang dikeroyok ratusan rangrang.

Seorang gadis sedang menarikan Pendet di panggung Les Fest Ngembak Geni 2024 | Foto: Jaswanto

Les Fest Ngembak Geni tahun ini, kata Kartika, mencetak kupon (tiket masuk lokasi) sebanyak lima ribu lembar. Tiket seharga sepuluh ribu perak itu nanti akan diundi untuk memenangkan hadiah menarik yang telah disediakan panitia. Selain itu, dari hasil penjualan tiket ini pula panitia menggalang dana. “Selain dapat bantuan dari desa, kami juga menyebarkan proposal dan menjual tiket ini,” tutur Kartika. “Kami mempersiapkan ini sudah sejak Januari yang lalu,” katanya lagi.

Asal-Usul Les Fest

Dan semua ini berawal dari sebuah tradisi yang sudah lama dilakukan orang-orang Desa Les—sudah sejak dulu sekitar tahun ’70-an. Sehari setelah Nyepi, pada saat Ngembak Geni, orang-orang Les memiliki kebiasaan berbondong-bondong mengunjungi Pantai Penyumbahan. Di tengah orang-orang berkerumun itu, awalnya satu-dua pedagang mencoba peruntungan.

Namun, seiring zaman, para pedagang bertambah banyak, Ngembak Geni semakin meriah. Orang-orang tak sekadar ke pantai, tapi juga berbelanja. Layaknya hari raya Idulfitri, selain berias, mereka juga mengenakan pakaian terbaik—kalau bisa terbaru. Dan tak cukup sehari, perayaan ini digelar dua hari berturut-turut. Barangkali, mungkin karena hanya terjadi setahun sekali.

Selang panjang waktu berganti, seiring pergantian pemimpin Desa Les, pada tahun 2019, Pemerintah Les berinisiatif mengelola tradisi tersebut menjadi sebuah festival rakyat. Namun, karena Pandemi Covid-19 tiba-tiba meluluhlantakkan tatatan, program tersebut baru terealisasi tahun lalu, pada 2023. Jadilah Les Fest Ngembak Geni terselenggara.

Tetapi, Les Fest pertama kali tidak diselenggarakan di Pantai Penyumbahan, namun di tempat lain. Tapi karena masyarakat sudah terbiasa mengunjungi Pantai Penyumbahan, kasak-kusuk pun terjadi. Akibatnya, seperti terjadi dua kelompok keramaian yang terjadi bersamaan. Namun, atas dasar kebiasaan, pada tahun ini, dan mungkin tahun-tahun berikutnya, Pemerintah Desa Les memutuskan Pantai Penyumbahan sebagai tempat satu-satunya Les Fest diselenggarakan.

Pedagang sedang dikerumuni orang-orang di Les Fest Ngembak Geni 2024 | Foto: Jaswanto

Empat paragraf di atas adalah keterangan dari Perbekel Desa Les, Gede Adi Wistara, saat ditemui di vila miliknya di kawasan Pantai Kura-Kura Desa Les sebelum Les Fest Ngembak Geni dimulai, Selasa (12/3/2024) sore.

Saat itu, Kepala Desa muda itu sedang bersantai sambil menunggu tamu undangannya. Ia mengatakan, tradisi mengunjungi pantai saat Ngembak Geni adalah warisan tetua terdahulu. “Supaya lebih inovatif, saya mengemas tradisi ini menjadi lebih kekinian dan terencana. Desa kami kan juga punya kesenian. Nah, di festival inilah kami tampilkan beberapa,” tutur Pak Mekel.

Selain sebagai ajang apresiasi seni, Les Fest juga digunakan sebagai tempat pemetaan jenis-jenis kuliner yang dijajakan di sana, dari yang tradisional sampai yang modern—bahkan mungkin sampai yang post-modern sekali pun. “Ini sejalan dengan program yang digaungkan pemerintah di mana-mana, yakni peningkatan UMKM. Setiap setahun sekali, pedagang selalu memadati pantai tempat orang-orang berkumpul itu,” ujar Kepala Desa alumni Universitas Atmajaya, Yogyakarta, itu.

Kini, Ngembak Geni—meminjam kata Pak Mekel Les—“tak lagi monoton seperti dulu”; orang-orang tak hanya datang ke pantai sekadar duduk-duduk, ngobrol, atau belanja, tapi juga bisa menikmati musik dan pertunjukan seni dan budaya. Dalam konteks ini, secara tidak langsung, Les Fest juga bisa dikatakan sebagai ajang pendidikan dalam pengenalan kekayaan atau potensi Desa Les kepada generasi muda. Mereka menjadi tahu bahwa Desa Les memiliki kesenian dan kebudayaan ini-itu, dan kuliner, dan produk UMKM ini-itu juga.

Suasana keramaian di depan panggung Les Fest Ngembak Geni 2024 | Foto: Jaswanto

“Ini juga bertujuan untuk menghidupkan wisata desa dan mengenalkan produk-produk lokal Desa Les, seperti garam, minyak kelapa, arak, dll, ” ujar Pak Mekel. Sore makin basah. Hujan masih saja tumpah seperti wahana air di pekan raya. Dan laut terus saja bergemuruh. Tapi orang-orang masih berdatangan, malah bertambah semakin banyak. Mereka berduyun-duyun dari segala arah. Ada yang turun dari bukit-bukit yang jauh, ada pula yang berasal dari luar desa. Mereka berkerumun seperti laron di musim hujan.

Les Fest 2024, harinya orang-orang Les itu, mendatangkan pemusik yang sedang hits saat ini, Bagus Wirata dan Jun Bintang. Kedua pemusik yang terkenal di Bali itu, tampil bersama debur ombak, perahu nelayan, pasir dan batu, nyiur, dan ratusan penggemarnya. Ini adalah hari di mana uang hasil panen dibelanjakan, baju baru dikenakan, segala kudapan diperjual-belikan, mainan anak-anak dipamerkan, dan nasib diundi di papan judi.

Sungguh “pesta” rakyat yang meriah. Puluhan pedagang makanan, mainan, dan pakaian, laris terjual. Ekonomi berputar begitu cepat melalui transaksi bakso, mi ayam, sate, sosis, daster, celana dalam, permainan anak-anak, bola adil, dan masih banyak lagi. Ini memang benar-benar sebuah “pesta”. Dan sebagaimana pesta pada umumnya, ini memang harus dirayakan. Bukan begitu, Pak Mekel?[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

“Desa Les Ngembak Festival”,  Memaknai Ngembak Geni Nyepi  Secara Lebih Luas
Tradisi “Ngembak Geni ke Pasih” di Desa Les, Ajang Silahturahmi dan Silahturasa
Tags: balibulelengDesa LesHari Raya NyepiLes Fest Ngembak Geningembak geniNyepi 2024Tejakulatradisi nyepi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kisah Mualafnya Tujuh KK di Desa Kutuh Bangli

Next Post

Komunikasi dan Pandangan Dunia

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Komunikasi dan Pandangan Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co