2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Les Fest Ngembak Geni, Harinya Orang-Orang Desa Les

Jaswanto by Jaswanto
March 13, 2024
in Khas
Les Fest Ngembak Geni, Harinya Orang-Orang Desa Les

Suasana di Les Fest Ngembak Geni di Desa Les | Foto: Jaswanto

SETELAH umat Hindu selesai menjalankan ibadah Nyepi, hujan mengguyur Buleleng sendari pagi. Saat itu pula, umat Islam sedang menunaikan ibadah sahur puasa Ramadan yang pertama tahun ini. Seperti tanda baik, pagi itu Buleleng begitu sejuk, tak panas dan gerah seperti biasanya. Namun, menjelang siang, ternyata hujan tak kunjung reda, termasuk hujan di Desa Les, Kecamatan Tejakula, di timur Buleleng sana. Padahal, hari itu, Les sedang punya gawe.

Di bibir Pantai Penyumbahan Desa Les, panggung ukuran medium teronggok dingin dengan pengeras suara yang memekakkan telinga—pengeras suara itu menyemburkan musik-musik ala diskotek. Menjelang senja, di tengah hujan lebat, orang-orang tetap saja berbondong-bondong ke sana. Mereka, sebagian besar penduduk Les, menyerbu pantai tersebut dengan bekal uang yang tak sedikit. Orang tua, remaja, anak-anak, laki-laki-perempuan, dengan pakaian terbaiknya, mengular di sepanjang pantai, seperti semut berbaris menuju gula yang manis.

Sebenarnya, sebelum Kuningan, pihak panitia sudah mendirikan panggung acara. Tapi karena hujan angin, panggung dibongkar kembali. Jadilah pagi setelah Nyepi, panggung baru didirikan lagi. Oleh sebab itu, menjelang pergantian hari, panggung baru bisa digunakan. Namun, tidak dengan tenda-tenda para penjaja makanan, mainan, dan pakaian—dan lapak judi, tentu saja. Para pemilik, si pedagang-pedang itu, membiarkannya begitu saja. Meski hujan, mereka tetap membuka barang dagangan.

Orang-orang sedang bergerombol di Les Fest Ngembak Geni 2024 di bibir Pantai Penyumbahan Desa Les | Foto: Jaswanto

Ombak bergulung-gulung menciumi bibir pantai. Perahu-perahu nelayan timbul-tenggelam. Sedang hujan masih saja tak kunjung reda. Dan orang-orang tetap saja berdatangan. Di sanalah, di Pantai Penyumbahan, Desa Les sedang menyelenggarakan program tahunan “Les Fest Ngembak Geni”. “Ini tahun kedua,” kata Ketut Kartika Yani, Ketua Panitia Les Fest, Selasa (12/3/2024) sore.

Ketut Kartika menjadi orang yang paling sibuk sore itu. Ia mondar-mandir ke sana-ke mari, memastikan rekan-rekan panitianya sudah bekerja sesuai rencana atau belum. Kadang ia terlihat tegang, namun tak jarang juga tersenyum dan tertawa lega, meski beberapa kali juga merasa kesal sendiri. “Cuacanya begini. Satu agenda terpaksa kami batalkan,” ujarnya penuh penyesalan. “Harusnya ada penampilan Baleganjur. Tapi karena hujan, kami batalkan,” katanya lagi, mengulang penyesalan yang sama.

Dalam susunan acara yang sudah direncanakan dan disepakati, pukul lima sore harusnya acara sudah dimulai. Itu jadwal anak-anak Desa Les menampilkan kebolehan mereka dalam memainkan gamelan Baleganjur. Tapi apa mau dikata, hujan sepertinya tidak mengizinkan hal itu terjadi. Maka terpaksalah pihak penyelenggara—Pemerintah Desa Les dan Karang Taruna Bhuana Lestari—membatalkannya, dan baru memulai acara setelah azan Magrib berkumandang.

“Tapi, meski begitu, antusiasme masyarakat sungguh luar biasa. Bisa dilihat sendiri, meski hujan, mereka tetap ke sini,” Kartika, yang juga sekaligus Ketua Karang Taruna Desa Les, mencoba menghibur diri. Tapi benar, sebagaimana telah disebutkan di awal, orang-orang memang tampak begitu padat—bahkan beberapa bule, orang asing itu, ikut nimbrung di sana. Jumlah mereka semakin bertambah menjelang dua gadis muda sedang bersiap menarikan Pendet. Sebentar saja panggung itu sudah menjelma menjadi cuilan donat yang dikeroyok ratusan rangrang.

Seorang gadis sedang menarikan Pendet di panggung Les Fest Ngembak Geni 2024 | Foto: Jaswanto

Les Fest Ngembak Geni tahun ini, kata Kartika, mencetak kupon (tiket masuk lokasi) sebanyak lima ribu lembar. Tiket seharga sepuluh ribu perak itu nanti akan diundi untuk memenangkan hadiah menarik yang telah disediakan panitia. Selain itu, dari hasil penjualan tiket ini pula panitia menggalang dana. “Selain dapat bantuan dari desa, kami juga menyebarkan proposal dan menjual tiket ini,” tutur Kartika. “Kami mempersiapkan ini sudah sejak Januari yang lalu,” katanya lagi.

Asal-Usul Les Fest

Dan semua ini berawal dari sebuah tradisi yang sudah lama dilakukan orang-orang Desa Les—sudah sejak dulu sekitar tahun ’70-an. Sehari setelah Nyepi, pada saat Ngembak Geni, orang-orang Les memiliki kebiasaan berbondong-bondong mengunjungi Pantai Penyumbahan. Di tengah orang-orang berkerumun itu, awalnya satu-dua pedagang mencoba peruntungan.

Namun, seiring zaman, para pedagang bertambah banyak, Ngembak Geni semakin meriah. Orang-orang tak sekadar ke pantai, tapi juga berbelanja. Layaknya hari raya Idulfitri, selain berias, mereka juga mengenakan pakaian terbaik—kalau bisa terbaru. Dan tak cukup sehari, perayaan ini digelar dua hari berturut-turut. Barangkali, mungkin karena hanya terjadi setahun sekali.

Selang panjang waktu berganti, seiring pergantian pemimpin Desa Les, pada tahun 2019, Pemerintah Les berinisiatif mengelola tradisi tersebut menjadi sebuah festival rakyat. Namun, karena Pandemi Covid-19 tiba-tiba meluluhlantakkan tatatan, program tersebut baru terealisasi tahun lalu, pada 2023. Jadilah Les Fest Ngembak Geni terselenggara.

Tetapi, Les Fest pertama kali tidak diselenggarakan di Pantai Penyumbahan, namun di tempat lain. Tapi karena masyarakat sudah terbiasa mengunjungi Pantai Penyumbahan, kasak-kusuk pun terjadi. Akibatnya, seperti terjadi dua kelompok keramaian yang terjadi bersamaan. Namun, atas dasar kebiasaan, pada tahun ini, dan mungkin tahun-tahun berikutnya, Pemerintah Desa Les memutuskan Pantai Penyumbahan sebagai tempat satu-satunya Les Fest diselenggarakan.

Pedagang sedang dikerumuni orang-orang di Les Fest Ngembak Geni 2024 | Foto: Jaswanto

Empat paragraf di atas adalah keterangan dari Perbekel Desa Les, Gede Adi Wistara, saat ditemui di vila miliknya di kawasan Pantai Kura-Kura Desa Les sebelum Les Fest Ngembak Geni dimulai, Selasa (12/3/2024) sore.

Saat itu, Kepala Desa muda itu sedang bersantai sambil menunggu tamu undangannya. Ia mengatakan, tradisi mengunjungi pantai saat Ngembak Geni adalah warisan tetua terdahulu. “Supaya lebih inovatif, saya mengemas tradisi ini menjadi lebih kekinian dan terencana. Desa kami kan juga punya kesenian. Nah, di festival inilah kami tampilkan beberapa,” tutur Pak Mekel.

Selain sebagai ajang apresiasi seni, Les Fest juga digunakan sebagai tempat pemetaan jenis-jenis kuliner yang dijajakan di sana, dari yang tradisional sampai yang modern—bahkan mungkin sampai yang post-modern sekali pun. “Ini sejalan dengan program yang digaungkan pemerintah di mana-mana, yakni peningkatan UMKM. Setiap setahun sekali, pedagang selalu memadati pantai tempat orang-orang berkumpul itu,” ujar Kepala Desa alumni Universitas Atmajaya, Yogyakarta, itu.

Kini, Ngembak Geni—meminjam kata Pak Mekel Les—“tak lagi monoton seperti dulu”; orang-orang tak hanya datang ke pantai sekadar duduk-duduk, ngobrol, atau belanja, tapi juga bisa menikmati musik dan pertunjukan seni dan budaya. Dalam konteks ini, secara tidak langsung, Les Fest juga bisa dikatakan sebagai ajang pendidikan dalam pengenalan kekayaan atau potensi Desa Les kepada generasi muda. Mereka menjadi tahu bahwa Desa Les memiliki kesenian dan kebudayaan ini-itu, dan kuliner, dan produk UMKM ini-itu juga.

Suasana keramaian di depan panggung Les Fest Ngembak Geni 2024 | Foto: Jaswanto

“Ini juga bertujuan untuk menghidupkan wisata desa dan mengenalkan produk-produk lokal Desa Les, seperti garam, minyak kelapa, arak, dll, ” ujar Pak Mekel. Sore makin basah. Hujan masih saja tumpah seperti wahana air di pekan raya. Dan laut terus saja bergemuruh. Tapi orang-orang masih berdatangan, malah bertambah semakin banyak. Mereka berduyun-duyun dari segala arah. Ada yang turun dari bukit-bukit yang jauh, ada pula yang berasal dari luar desa. Mereka berkerumun seperti laron di musim hujan.

Les Fest 2024, harinya orang-orang Les itu, mendatangkan pemusik yang sedang hits saat ini, Bagus Wirata dan Jun Bintang. Kedua pemusik yang terkenal di Bali itu, tampil bersama debur ombak, perahu nelayan, pasir dan batu, nyiur, dan ratusan penggemarnya. Ini adalah hari di mana uang hasil panen dibelanjakan, baju baru dikenakan, segala kudapan diperjual-belikan, mainan anak-anak dipamerkan, dan nasib diundi di papan judi.

Sungguh “pesta” rakyat yang meriah. Puluhan pedagang makanan, mainan, dan pakaian, laris terjual. Ekonomi berputar begitu cepat melalui transaksi bakso, mi ayam, sate, sosis, daster, celana dalam, permainan anak-anak, bola adil, dan masih banyak lagi. Ini memang benar-benar sebuah “pesta”. Dan sebagaimana pesta pada umumnya, ini memang harus dirayakan. Bukan begitu, Pak Mekel?[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

“Desa Les Ngembak Festival”,  Memaknai Ngembak Geni Nyepi  Secara Lebih Luas
Tradisi “Ngembak Geni ke Pasih” di Desa Les, Ajang Silahturahmi dan Silahturasa
Tags: balibulelengDesa LesHari Raya NyepiLes Fest Ngembak Geningembak geniNyepi 2024Tejakulatradisi nyepi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kisah Mualafnya Tujuh KK di Desa Kutuh Bangli

Next Post

Komunikasi dan Pandangan Dunia

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Komunikasi dan Pandangan Dunia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co