2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Mualafnya Tujuh KK di Desa Kutuh Bangli

Abdul Karim Abraham by Abdul Karim Abraham
March 13, 2024
in Tualang
Kisah Mualafnya Tujuh KK di Desa Kutuh Bangli

Penulis berbincang-bincang di Masjid Nurul Iman | Foto: Dok. Penulis

PADA awal bulan Maret kemarin, saya yang kebetulan ada agenda kaderisasi GP Ansor di Bangli, menyempatkan diri berkunjung ke Dusun Angensari, Desa Kutuh, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Tujuan utamanya adalah bersilaturrahim ke komunitas minoritas Muslim sekaligus ingin mendengar langsung cerita “unik” berkembangnya Islam di sana.

Lokasi daerah ini cukup jauh dan bisa dibilang sulit diakses karena berada di lereng pegunungan Batur. Jaraknya sekitar 42 kilometer ke arah barat laut pusat Kota Bangli.

Meski secara administrasi masuk Kabupaten Bangli, warga Desa Kutuh lebih banyak berinteraksi dan sekaligus bertransaksi dengan warga Kabupaten Buleleng. Tepat di sebelah barat Desa Kutuh, yakni Desa Madenan, termasuk wilayah Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, adalah satu-satunya desa terdekat, paling dekat malah—karena Desa Kutuh dikelilingi perbukitan dan kawasan hutan.

Ditemani beberapa sahabat, saya meluncur dari Kota Bangli dengan mengambil rute agak jauh. Ini saya lakukan karena mengikuti saran dari sahabat Banser Bangli yang sudah pernah ke Desa Kutuh. Rute jalan terdekat cukup membahayakan, kata mereka. Banyak kelokan, tanjakan, maupun turunan yang ekstrem, apalagi cuaca yang kini sering hujan dan rawan pohon tumbang.

Rute yang kami ambil menuju Kintamani, kemudian meneruskan ke Madenan, arah tembusan Tejakula. Artinya, untuk mencapai Desa Kutuh, kami harus masuk wilayah Buleleng dulu. Kata seorang teman, ini rute yang paling aman.

Namun, aman yang ia maksud tentu bukan dalam arti yang sesungguhnya. Sebab, setelah kami melewatinya, ini rute tetap ekstrem. Apalagi, di antara kami, belum pernah sama sekali melewati jalanan pegunungan yang membelah hutan ini.

Di Desa Kutuh ini, tepatnya di Dusun Angensari, kini terdapat 27 KK Muslim. Di sini juga sudah berdiri sebuah masjid, yang diberi nama Nurul Iman. Kami disambut 3 orang warga di sana, salah satunya Mustaqim, tokoh pemuda yang sebelumnya sudah berkomunikasi via WA.

Memang, secara geografis, rasanya sulit Islam bisa masuk ke sini, tapi ini yang bikin penasaran. Setelah berbincang-bincang, kira-kira begini awal mulanya:

Kakeknya Mustaqim, kalau tidak salah bernama Irasun, yang saat itu masih beragama Hindu, pada tahun 1982 mengalami luka pada kakinya yang tidak kunjung sembuh. Berbagai usaha penyembuhan sudah dilakukan, tapi tidak membuahkan hasil.

Akhirnya ia menemui salah seorang pendeta Hindu Bali. Dan di luar dugaan, sang pendeta justru mengatakan, kalau mau sembuh, Irasun dan keluarganya harus kembali ke agama leluhurnya. Masih ragu dengan saran tersebut, ia pun mendatangi pendeta lain. Ternyata sarannya sama, harus kembali ke agama leluhur.

Irasun kemudian menelusuri agama leluhurnya. Ternyata ia dan mayoritas penduduk Angensari dulunya meruapakan pasukan kerajaan dari Lombok yang ditugaskan ke Bali untuk menyerang Kerajaan Klungkung. Ekspedisi militer ini terjadi sekitar tahun 1891. Artinya, leluhurnya dulu berasal dari Suku Sasak yang beragama Islam.

Akhirnya, sejak saat mengetahui asal-usul agama leluhurnya, bersama keluarganya, sebanyak 7 KK, Irasun mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah masuk Islam, anehnya, tanpa diobati, kaki Irasun sembuh.

Penulis (paling kanan) foto bersama tokoh Muslim Desa Kutuh | Foto: Dok. Penulis

Berpindahnya agama ini membuat gempar warga Angensari. Awalnya, beberapa sesepuh Hindu di sana mencurigai adanya pihak luar yang sengaja mengislamkan warga setempat. Apalagi saat itu menjelang Pemilu 1982.

Situasi yang semakin panas, menurut cerita Mustaqim, Kapolres dan Bupati Bangli sampai turun ke Angensari untuk menstabilkan keadaan. Situasi kembali tenang setelah mendapat cerita kronologis secara utuh.

Kemudian, dibawah bimbingan MUI Provinsi Bali yang kala itu diketuai oleh KH. Habib Adnan, 7 KK yang baru masuk Islam itu diadakan sunatan bersama, baik yang orang tua maupun anak-anak.

Tentu tidak mudah menjalani ibadah sebagai Muslim di tengah mayoritas Hindu, apalagi tidak ada yang membimbing. Kala itu, komunitas Muslim terdekat dari Desa Kutuh ada di di Dusun Batugambir, Desa Julah, Kabupaten Buleleng, yang jaraknya sekitar 14 Kilometer.

Menurut cerita Mustaqim, orang tuanya, bersama yang lain, saat belum ada masjid di Angensari, kalau salat jumat harus berjalan kaki dari Angensari ke Batugambir dengan medan yang tak mudah. Pagi berangkat, sekitar 4-5 jam sampai. Setelah jumatan, mereka pulang sampai rumah sudah sore hari.

Adalah sosok bernama Ustaz Miyadi, yang ketokohannya sangat dikenang oleh masyarakat Muslim di sana. Menurut Mustaqim, Ust. Miyadi dengan konsisten sejak awal membimbing tata cara salat, mengaji, dan mengajarkan doa-doa.

Ust. Miyadi ini tinggal di Desa Kintamani, yang jaraknya sekitar 16 kilometer ke arah atas (selatan) Desa Kutuh. Setiap minggu, dengan jalan kaki, ia mengajar ngaji 7 KK yang baru masuk Islam itu. Kala itu akses jalan masih setapak. Jarak tempuhnya bisa memakan waktu 5 jam dengan medan yang curam. (Insya Allah, suatu saat saya akan menemuinya. Menurut informasi dari tokoh Muslim di Kutuh, beliau masih sehat.)

Kini, setelah 42 tahun sejak pertama kali Islam dipeluk di sana, jumlah komunitas Muslim sudah mencapai 27 KK, dengan jumlah total kurang lebih 76 jiwa. Jadi, penyebaran Islam di sana murni dari ikatan keturunan keluarga dan pernikahan.

Secara sosial tidak ada masalah, karena ikatan praktik sosial sehari-hari mereka tetap bersatu meski beda agama. Seperti acara pernikahan, kematian, dan lainnya masih saling membantu. Begitu juga dengan praktik beribadah, Muslim di sana bebas melaksanakan ibadah. Sudah berdiri masjid dan termasuk bisa menggunakan pengeras suara. Anak-anak kecil juga bebas belajar mengaji.

Satu kelebihan di minoritas Muslim di sana daripada beberapa tempat minoritas Muslim yang pernah saya kunjungi adalah, di Kutuh sudah ada tanah wakaf untuk kuburan Muslim. Sementara di tempat lain, masih ada “mis” karena tidak diizinkannya ada kuburan Islam, sehingga ketika ada yang meninggal, harus dimakamkan di tempat lain yang cukup jauh.

Menjelang Magrib, kami pamit balik. Kisah masuknya Islam di Kutuh tergolong unik, ini seperti cerita-cerita masa kerajaan ratusan tahun silam. Bukan karena ada pendakwah yang datang ke sana, tapi pintu hidayah justru muncul melalui isyarat dari sesepuh pendeta—dan ini nyata.[T]

Editor: Jaswanto

Usaha Menemukan dan Mengabadikan Desa Muslim Pegayaman Bali | Ulasan Buku Ensiklopedia Desa Muslim Pegayaman Bali
Asal-Usul Muslim Tegallinggah Bali, Benarkah Berasal dari Bugis?
Tags: BangliDesa KutuhIslamKintamanimualafMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Meamuk-amukan” di Padangbulia: Percik Amarah yang Padam oleh Percik Api

Next Post

Les Fest Ngembak Geni, Harinya Orang-Orang Desa Les

Abdul Karim Abraham

Abdul Karim Abraham

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Buleleng

Related Posts

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails
Next Post
Les Fest Ngembak Geni, Harinya Orang-Orang Desa Les

Les Fest Ngembak Geni, Harinya Orang-Orang Desa Les

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co