2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Mualafnya Tujuh KK di Desa Kutuh Bangli

Abdul Karim Abraham by Abdul Karim Abraham
March 13, 2024
in Tualang
Kisah Mualafnya Tujuh KK di Desa Kutuh Bangli

Penulis berbincang-bincang di Masjid Nurul Iman | Foto: Dok. Penulis

PADA awal bulan Maret kemarin, saya yang kebetulan ada agenda kaderisasi GP Ansor di Bangli, menyempatkan diri berkunjung ke Dusun Angensari, Desa Kutuh, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Tujuan utamanya adalah bersilaturrahim ke komunitas minoritas Muslim sekaligus ingin mendengar langsung cerita “unik” berkembangnya Islam di sana.

Lokasi daerah ini cukup jauh dan bisa dibilang sulit diakses karena berada di lereng pegunungan Batur. Jaraknya sekitar 42 kilometer ke arah barat laut pusat Kota Bangli.

Meski secara administrasi masuk Kabupaten Bangli, warga Desa Kutuh lebih banyak berinteraksi dan sekaligus bertransaksi dengan warga Kabupaten Buleleng. Tepat di sebelah barat Desa Kutuh, yakni Desa Madenan, termasuk wilayah Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, adalah satu-satunya desa terdekat, paling dekat malah—karena Desa Kutuh dikelilingi perbukitan dan kawasan hutan.

Ditemani beberapa sahabat, saya meluncur dari Kota Bangli dengan mengambil rute agak jauh. Ini saya lakukan karena mengikuti saran dari sahabat Banser Bangli yang sudah pernah ke Desa Kutuh. Rute jalan terdekat cukup membahayakan, kata mereka. Banyak kelokan, tanjakan, maupun turunan yang ekstrem, apalagi cuaca yang kini sering hujan dan rawan pohon tumbang.

Rute yang kami ambil menuju Kintamani, kemudian meneruskan ke Madenan, arah tembusan Tejakula. Artinya, untuk mencapai Desa Kutuh, kami harus masuk wilayah Buleleng dulu. Kata seorang teman, ini rute yang paling aman.

Namun, aman yang ia maksud tentu bukan dalam arti yang sesungguhnya. Sebab, setelah kami melewatinya, ini rute tetap ekstrem. Apalagi, di antara kami, belum pernah sama sekali melewati jalanan pegunungan yang membelah hutan ini.

Di Desa Kutuh ini, tepatnya di Dusun Angensari, kini terdapat 27 KK Muslim. Di sini juga sudah berdiri sebuah masjid, yang diberi nama Nurul Iman. Kami disambut 3 orang warga di sana, salah satunya Mustaqim, tokoh pemuda yang sebelumnya sudah berkomunikasi via WA.

Memang, secara geografis, rasanya sulit Islam bisa masuk ke sini, tapi ini yang bikin penasaran. Setelah berbincang-bincang, kira-kira begini awal mulanya:

Kakeknya Mustaqim, kalau tidak salah bernama Irasun, yang saat itu masih beragama Hindu, pada tahun 1982 mengalami luka pada kakinya yang tidak kunjung sembuh. Berbagai usaha penyembuhan sudah dilakukan, tapi tidak membuahkan hasil.

Akhirnya ia menemui salah seorang pendeta Hindu Bali. Dan di luar dugaan, sang pendeta justru mengatakan, kalau mau sembuh, Irasun dan keluarganya harus kembali ke agama leluhurnya. Masih ragu dengan saran tersebut, ia pun mendatangi pendeta lain. Ternyata sarannya sama, harus kembali ke agama leluhur.

Irasun kemudian menelusuri agama leluhurnya. Ternyata ia dan mayoritas penduduk Angensari dulunya meruapakan pasukan kerajaan dari Lombok yang ditugaskan ke Bali untuk menyerang Kerajaan Klungkung. Ekspedisi militer ini terjadi sekitar tahun 1891. Artinya, leluhurnya dulu berasal dari Suku Sasak yang beragama Islam.

Akhirnya, sejak saat mengetahui asal-usul agama leluhurnya, bersama keluarganya, sebanyak 7 KK, Irasun mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah masuk Islam, anehnya, tanpa diobati, kaki Irasun sembuh.

Penulis (paling kanan) foto bersama tokoh Muslim Desa Kutuh | Foto: Dok. Penulis

Berpindahnya agama ini membuat gempar warga Angensari. Awalnya, beberapa sesepuh Hindu di sana mencurigai adanya pihak luar yang sengaja mengislamkan warga setempat. Apalagi saat itu menjelang Pemilu 1982.

Situasi yang semakin panas, menurut cerita Mustaqim, Kapolres dan Bupati Bangli sampai turun ke Angensari untuk menstabilkan keadaan. Situasi kembali tenang setelah mendapat cerita kronologis secara utuh.

Kemudian, dibawah bimbingan MUI Provinsi Bali yang kala itu diketuai oleh KH. Habib Adnan, 7 KK yang baru masuk Islam itu diadakan sunatan bersama, baik yang orang tua maupun anak-anak.

Tentu tidak mudah menjalani ibadah sebagai Muslim di tengah mayoritas Hindu, apalagi tidak ada yang membimbing. Kala itu, komunitas Muslim terdekat dari Desa Kutuh ada di di Dusun Batugambir, Desa Julah, Kabupaten Buleleng, yang jaraknya sekitar 14 Kilometer.

Menurut cerita Mustaqim, orang tuanya, bersama yang lain, saat belum ada masjid di Angensari, kalau salat jumat harus berjalan kaki dari Angensari ke Batugambir dengan medan yang tak mudah. Pagi berangkat, sekitar 4-5 jam sampai. Setelah jumatan, mereka pulang sampai rumah sudah sore hari.

Adalah sosok bernama Ustaz Miyadi, yang ketokohannya sangat dikenang oleh masyarakat Muslim di sana. Menurut Mustaqim, Ust. Miyadi dengan konsisten sejak awal membimbing tata cara salat, mengaji, dan mengajarkan doa-doa.

Ust. Miyadi ini tinggal di Desa Kintamani, yang jaraknya sekitar 16 kilometer ke arah atas (selatan) Desa Kutuh. Setiap minggu, dengan jalan kaki, ia mengajar ngaji 7 KK yang baru masuk Islam itu. Kala itu akses jalan masih setapak. Jarak tempuhnya bisa memakan waktu 5 jam dengan medan yang curam. (Insya Allah, suatu saat saya akan menemuinya. Menurut informasi dari tokoh Muslim di Kutuh, beliau masih sehat.)

Kini, setelah 42 tahun sejak pertama kali Islam dipeluk di sana, jumlah komunitas Muslim sudah mencapai 27 KK, dengan jumlah total kurang lebih 76 jiwa. Jadi, penyebaran Islam di sana murni dari ikatan keturunan keluarga dan pernikahan.

Secara sosial tidak ada masalah, karena ikatan praktik sosial sehari-hari mereka tetap bersatu meski beda agama. Seperti acara pernikahan, kematian, dan lainnya masih saling membantu. Begitu juga dengan praktik beribadah, Muslim di sana bebas melaksanakan ibadah. Sudah berdiri masjid dan termasuk bisa menggunakan pengeras suara. Anak-anak kecil juga bebas belajar mengaji.

Satu kelebihan di minoritas Muslim di sana daripada beberapa tempat minoritas Muslim yang pernah saya kunjungi adalah, di Kutuh sudah ada tanah wakaf untuk kuburan Muslim. Sementara di tempat lain, masih ada “mis” karena tidak diizinkannya ada kuburan Islam, sehingga ketika ada yang meninggal, harus dimakamkan di tempat lain yang cukup jauh.

Menjelang Magrib, kami pamit balik. Kisah masuknya Islam di Kutuh tergolong unik, ini seperti cerita-cerita masa kerajaan ratusan tahun silam. Bukan karena ada pendakwah yang datang ke sana, tapi pintu hidayah justru muncul melalui isyarat dari sesepuh pendeta—dan ini nyata.[T]

Editor: Jaswanto

Usaha Menemukan dan Mengabadikan Desa Muslim Pegayaman Bali | Ulasan Buku Ensiklopedia Desa Muslim Pegayaman Bali
Asal-Usul Muslim Tegallinggah Bali, Benarkah Berasal dari Bugis?
Tags: BangliDesa KutuhIslamKintamanimualafMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Meamuk-amukan” di Padangbulia: Percik Amarah yang Padam oleh Percik Api

Next Post

Les Fest Ngembak Geni, Harinya Orang-Orang Desa Les

Abdul Karim Abraham

Abdul Karim Abraham

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Buleleng

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Les Fest Ngembak Geni, Harinya Orang-Orang Desa Les

Les Fest Ngembak Geni, Harinya Orang-Orang Desa Les

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co