14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Asal-Usul Muslim Tegallinggah Bali, Benarkah Berasal dari Bugis?

Jaswanto by Jaswanto
March 7, 2023
in Khas
Asal-Usul Muslim Tegallinggah Bali, Benarkah Berasal dari Bugis?

Samsul Hadi ketua Tim Penelusuran Sejarah Islam Tegallinggah | Foto: Yahya Umar

SEJARAH MENGENAI ASAL-USUL komunitas Muslim di Bali memang menarik untuk digali. Bukan hanya menarik karena sebagai minoritas, lebih dari itu, juga menarik karena masih banyak misteri yang tersimpan di baliknya. Seperti komunitas Muslim di Desa Tegallinggah, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, misalnya.

Tokoh-tokoh Muslim Tegallinggah yang tergabung dalam Tim Penelusuran Sejarah Islam Tegallinggah (PSIT)─yang diketuai Samsul Hadi dan beranggotakan Roni, Zaini Halim, Azwar Annas, dan Ahmad Hanif─memang sedang melakukan penelusuran sejarah Islam masuk Tegallinggah dengan mengumpulkan informasi berupa cerita-cerita dari sesepuh yang masih ada, dan akan terus menggali bukti-bukti yang lebih otoritatif. Hasilnya, sebuah laporan awal yang bertajuk “Temuan Awal Penelusuran Sejarah Islam Desa Tegallinggah” telah disusun.

Pada Jumat, 06 Januari 2023 lalu, laporan awal itu dibedah dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) di Masjid Jami’ Al Miftah Tegallinggah. Menurut laporan Balisharing.com, FGD dihadiri tokoh-tokoh Muslim Tegallinggah dan anggota Forum Pemerhati Sejarah Islam (FPSI) Buleleng. Sementara itu, Drs. Amoeng Abdurrahman, selaku Koordinator FPSI Buleleng, dan anggota FPSI Buleleng, Drs. Ketut Muhammad Suharto, diplot sebagai narasumber.

Focus Group Discussion (FGD) di Masjid Jami’ Al Miftah Tegallinggah | Foto: Yahya Umar

Diskusi yang dilakukan pada malam hari itu melahirkan banyak wacana tentang asal-usul Islam Tegallinggah berasal dari Bugis, cerita-cerita orang dulu, sumber katanya-katanya, informasi (dari yang ilmiah sampai supranatural), asumsi-asumsi, sampai harapan-harapan tersusunnya sejarah Islam Tegallinggah yang utuh─yang tak lagi tercecer dan “katanya-katanya”.

Cerita-cerita supranatural

Usaha penggalian sejarah (kadang) tak lepas dari unsur supranatural. Hal ini pula yang menjadi pemantik tokoh-tokoh Muslim Tegallinggah bergerak menggali asal usul moyangnya.

Seperti yang diceritakan Samsul Hadi, Ketua Tim PSIT, dalam FGD tentang sejarah Islam Tegallinggah sebulan lalu. Wakil Ketua I PCNU Buleleng itu mengaku bermimpi didatangi seorang yang berjubah─dan mimpi itu terjadi berkali-kali.

“Semula ada kekuatan emosional untuk mengetahui jati diri saya, jati diri Muslim Tegallinggah. Karena saya penekun dunia spiritual, maka saya tempuh upaya-upaya spiritual untuk mengetahui jati diri itu,” katanya dikutip dari Balisharing.com.

Tak mau melakukan taklid buta, ia lantas bertanya kepada Kiai Agus Afandi, dari Jombang, Jawa Timur, yang menurutnya, memiliki tingkat spiritual yang diakui nasional bahkan internasional.

Tak sampai di situ, Samsul Hadi juga menuturkan bahwa sejak kecil, berdasarkan cerita dari tokoh-tokoh Muslim Tegallinggah terdahulu, ia mendengar ada makam leluhur mereka (Muslim Tegallinggah) yang terletak di suatu tempat di Desa Tukadmungga. Namun, yang menjadi masalah, siapa orang yang di makamkan dan di manakah letak makam tersebut?

Samsul Hadi kemudian melakukan tirakat (semacam kegiatan spiritual seperti puasa.) Maka dari situlah terkuak nama Sayyid Umar yang pada 17 Juni 2013 juga ditemukan posisi makamnya.

Tim PSIT memaparkan, berdasarkan cerita warga Tukadmungga, makam tersebut dulu pernah mau diurug atau digusur oleh penduduk setempat menggunakan buldoser. Anehnya, tiba-tiba buldoser itu mati, tidak dapat difungsikan. Upaya mengurug makam tersebut gagal.

Bahkan, entah ada hubungannya atau tidak, sejak ada upaya penggusuran makam tersebut, Tukadmungga ketiban bah bedeg (grubug). Setiap hari ada saja warga yang meninggal dunia. Hal itu berlangsung hingga 12 hari lamanya. Penduduk Tukadmungga pun panik, sampai menggelar upacara untuk menangani grubug tersebut. (Cerita ini masih memerlukan penelusuran mendalam.)

Lantas, siapakah Sayyid Umar tersebut? Benarkah ia tokoh dari Bugis?

Sayyid Umar dari Bugis

Penelusuran berlanjut. Samsul Hadi mencari informasi hingga ke Bone, Sulawesi Selatan. Rasa penasarannya sangat kuat. Makam Syekh Yusuf Al Makassari juga dikunjungi karena informasinya Sayyid Umar merupakan adik dari Syekh Yusuf Al Makassari (masih memerlukan data). Kerajaan Bone dan Kerajaan Gowa pun dikunjungi.

Dari kunjungannya tersebut, Samsul Hadi mendapatkan sejumlah data dan informasi. Misalnya, keluarga Kerajaan Bone tahu bahwa salah satu keluarganya ada di wilayah Singaraja. Pada tahun 1998-2000-an, pernah dua orang Bugis Bone datang ke Tegallinggah. “Mereka menanyakan tentang lontar,” katanya.

Ia mengaku sempat ingin menyampaikan informasi dan data tentang Bugis yang dimilikinya kepada MWC NU Buleleng, Abdul Muis dan kepada Sekbid Budaya dan Sejarah Masjid Agung Jami’ Singaraja, Lalu Ibrahim. Tapi hal itu ia urungkan sampai akhirnya tercetus ide untuk membentuk Tim Penelusuran Sejarah Islam Tegallinggah (PSIT).

Di kutip dari Balisharing.com, soal sosok Sayyid Umar, Tim PSIT melaporkan, Sayyid Umar waktu kecil bernama Teuku Umar. Hidup antara 1538-1642. Sayyid Umar Assegaf, demikian laporan Tim PSIT, merupakan tokoh utama dan orang yang pertama kali menginjakkan kaki (membabat hutan) tanah Tukad Mungga.

Dijelaskan juga, Sayyid Umar Assegaf merupakan bangsawan dari Kerajaan Bugis, tepatnya Kerajaan Bugis Bone. Ia saudara dari Syekh Maulana Yusuf Makassar (1543-1628). Benarkah Sayyid Umar Assegaf dari Bugis Makassar dan saudara dari Syekh Yusuf Al Makassari? Ini masih perlu penelusuran lebih jauh. Diperlukan bukti-bukti sejarah primer yang lebih jelas untuk mengungkap hal ini.

Mengingat, studi tentang ulama di Sulawesi tidak sintensif dengan kiai-pesantren di Jawa-Madura. Setidaknya, sampai akhir abad ke-20, daya tarik kajian kiai-pesantren di Sulawesi belum banyak menarik sarjana asing maupun sarjana lokal, kecuali segelintir nama seperti Wahyuddin Halim (2013), Afifuffin Harisah (2013), Azyumardi Asra (1994), Martin van Bruinessen (1995), Andi Faisal Bakti (2005), Abdul Karim Hafid (1997), dan Abu Hamid (1983).

Benarkah Muslim Tegallinggah dari Bugis?

Menurut Koordinator FPSI Buleleng, Amoeng Abdurrahman, orang-orang Bugis masuk ke Buleleng diduga karena situasi perkembangan politik di daerahnya, di mana Raja Hassanudin kalah berperang dengan penjajah VOC (Belanda). Orang-orang Bugis melarikan diri menyebar ke berbagai daerah, termasuk di Bali. Di Buleleng, orang-orang Bugis menyebar dari pesisir Sumberkima di sebelah barat hingga ke Sangsit di timur Buleleng.

Lebih detail, pemerhati sejarah yang juga Anggota FPSI Buleleng, Drs. Ketut Muhammad Suharto, mengatakan, orang-orang Bugis menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, ketika Raja Hassanudin kalah perang dengan VOC. “Itu terjadi antara 1667-1670-an Masehi,” katanya.

H. Ahmad Annas, dalam acara Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Temuan Awal Penelusuran Sejarah Islam Tegallinggah” yang digelar di Masjid Jami’ Al Miftah Tegallinggah, malam itu (06/01/23) dengan yakin, yang pertama membabat hutan di Tegallinggah adalah orang-orang Islam (dari Bugis). Meski demikian, menurutnya, hal itu harus dilakukan konfirmasi ke warga Tegallinggah yang beragama Hindu, terutama para penglingsir (sesepuh)-nya.

Ia meyakini, Tukadmungga merupakan jejak awal masuknya orang Bugis (Islam) sebelum ke Tegallinggah. Itu dibuktikan dengan ditemukannya makam Sayyid Umar di Tukadmungga yang terletak di sebelah selatan setra (sema) di lahan milik warga. Tokoh Muslim Tegallinggah lainnya, H. Maujir, juga meyakini hal teresebut. “Mereka pergi ke tegal ane linggah. Dari kata tegal yang linggah akhirnya wilayah baru itu dikenal sebagai Tegallinggah,” tutur H. Maujir.

Masjid di Desa Tegallinggah | Foto: Yahya Umar

Dalam analisa tokoh lain, Jaelani, orang Bugis yang datang ke Tegallinggah bukan orang sembarangan. Mereka adalah pendakwah, yang berdakwah baik di dalam internal komunitas mereka maupun berdakwah ke komunitas eksternal mereka.

Jika dikatakan Muslim Tegallinggah dari Bugis, apa bukti-buktitnya?

H. Syahrudin, M.Pd., mengungkapkan, beberapa orang tua Tegallinggah memanggil orangtuanya “datuk”. Mantan dosen Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) itu merasa dirinya sendiri keturunan dari Bugis.  “Sampai sekarang anak memanggil orangtuanya datuk,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan tokoh Muslim Tegallinggah lainnya, Jaelani. “Selain panggilan datuk, di Tegallinggah juga ada panggilan encik untuk orangtua perempuan. Panggilan encik atau cik juga merupakan ciri khas Bugis,” jelasnya.

Selain itu, sekali lagi, dikutip dari Balisharing.com, menurut H. Syahrudin, mentalitas orang Islam Tegallinggah sangat keras, sama seperti orang Bugis. Pada nama-nama Muslim Tegallinggah banyak menggunakan ‘din’. Seperti Syahrudin, Khairudin, Mashudin, dan seterusnya. Di Tegallinggah juga ditemukan alat-alat cantok, yang merupakan budaya Bugis. Juga ditemukan pisau khas Bugis yang disebut badik.

Mashudin, S.Pd.I, membenarkan hal itu. Waktu kecil, ia selalu diwanti-wanti agar jangan macam-macam dengan beberapa tokoh Tegallinggah, seperti Datuk Arsyad dan Datuk Makruf. Tokoh tersebut mempunyai tipikal orang Bugis, “serem” dan “menakutkan”.

Sementara menurut Sopian Hadi, Ketua MUI Kecamatan Sukasada, sejumlah ciri khas Bugis ada dalam masyarakat Muslim Tegallinggah. Seperti misalnya penanaman pohon jepun di kuburan dan penggunaan telur dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW. “Ini merupakan budaya dari Sulawesi, khususnya Bugis. Di Jawa tidak ada penggunaan telur saat maulidan, kecuali di titik-titik yang ada komunitas Bugis-nya. Jadi budaya di Tegallinggah dan Bugis itu ada hubungan,” kata Sopian.

Apakah semua itu benar? Perlu penelitian lebih lanjut.

Terlepas dari benar-salah temuan awal penelusuran sejarah Islam Desa Tegallinggah, pada akhirnya sejarah memang menyisakan banyak hal, begitulah kiranya. Seperti orang bijak bilang, sejarah memberikan pelajaran, sekaligus menawarkan alternatif kebijakan. Yang buruk dari masa silam dibenamkan, yang baik ditegakkan. Jangan menengok pada yang buram karena hidup di kala mendatang memerlukan obor terang.

Sejarah adalah serupa tetumbuhan makna, kita ditantang merawatnya—dan itu yang sedang dilakukan tokoh-tokoh Muslim Tegallinggah—agar kehidupan tidak lantas menjadi pasak-pasak dengan pucuk yang serat beban hingga kita mungkin saja tergopoh memikulnya. [T]

Obituari Ustadz Mar’i Aly Baslom | Ustadz yang Ramah dan Dicintai Warga Muslim Singaraja
Keindahan Lain di Nusa Penida: Toya Pakeh, Satu Desa Penduduknya Muslim
Selalu Suka ke Pegayaman: Rancak Budrah, Nyanyian Muslim dengan Nada Kidung Bali
Tags: Desa TegallinggahIslamIslam di BaliMuslimMuslim Singaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bawaslu dan Pers Sama-sama Berperan dalam Pengawasan

Next Post

Telepon dari Seorang Ibu, Nilai-nilai Pada Sang Anak

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails
Next Post
Telepon dari Seorang Ibu, Nilai-nilai Pada Sang Anak

Telepon dari Seorang Ibu, Nilai-nilai Pada Sang Anak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co