12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keindahan Lain di Nusa Penida: Toya Pakeh, Satu Desa Penduduknya Muslim

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
March 26, 2020
in Opini
Keindahan Lain di Nusa Penida: Toya Pakeh, Satu Desa Penduduknya Muslim

Desa Toya Pakeh. Sumber foto:magazine.job-like.com

Pulau Nusa Penida (NP) dihuni oleh penduduk yang heterogen. Anda mungkin kurang percaya? Tidak. Ini kenyataan, lho! Selain beragama Hindu, NP juga dihuni oleh masyarakat yang beragama Islam (muslim). Bahkan, keberadaan masyarakat muslim masuk ranking 2 terbesar di NP. Kalau tidak yakin, Anda cukup masuk ke Desa Kampung Toya Pakeh. Dari 16 desa (dinas) yang ada di NP, Desa Kampung Toya Pakeh menjadi satu-satunya desa yang penduduknya beragama Islam semua. Terbayang kan sekarang!

Saya kurang tahu bagaimana histori keberadaan masyarakat muslim di NP. Sepengetahuan saya, Kampung Toya Pakeh menjadi desa (dinas) sejak lama. Waktu saya kecil (belum sekolah), saya mendapatkan kampung ini sudah menjadi sebuah desa (dinas) yang independen. Bahkan, paman dan ayah saya juga mengetahui kampung ini sudah menjadi desa dinas.

Wah, artinya Kampung Toya Pakeh sudah berusia tua, dong! Pun sudah lama memenuhi syarat administrasi sebagai sebuah desa. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan masyarakat muslim di NP memang terbilang sangat tua. Lalu, seberapa tuakah usianya?

Cukup sulit menjawab pertanyaan tersebut. Dari ragam versi beredar, ada yang mengaitkan eksistensi muslim di NP dengan Pelabuhan Toya Pakeh. Konon, Pelabuhan Toya Pakeh sebagai pelabuhan tua, dijadikan tempat berlabuhnya kapal laut zaman dahulu. Kapal-kapal inilah (mulanya) yang diduga membawa pendatang muslim, lalu menetap di Kampung Toya Pakeh.

Ada pula yang menghubungkan dengan masa kerajaan Klungkung. Konon, Kampung Toya Pakeh merupakan tempat silahturahmi oleh orang-orang pendatang zaman itu. Jadi, keberadaan suku bangsa yang ada di desa ini mayoritas suku Jawa, Banjarmasin, Bugis dan Bali (www.kintamani.id).

Versi lain datang dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Kemdikbud). Versi ini mungkin dianggap sebagai analisis historis yang lebih ilmiah. Dalam artikelnya yang berjudul “Jejak Islam di Pulau Nusa Penida”, Pusat Penelitian  Arkeologi Nasional mendapatkan informasi petunjuk awal (dari takmir Masjid Al-Imran, H. Syahran, usia 54 tahun) bahwa orang-orang islam awalnya tersebar di Pulau NP, kemudian pada tahun 1936 mereka disatukan di Desa Kampung Toya Pakeh agar tidak terserai berai.

Penduduk Kampung Toya Pakeh meyakini bahwa Islam masuk di NP pada tahun 1925, yang dibawa oleh orang dari Jawa bernama R. Mustafa dan R. Jumat. R. Mustafa wafat di Desa Toya Pakeh dan dimakamkan di pemakaman Muslim Kuna di desa itu. Makamnya dicungkup berukuran 3.9 x 4.95 m dengan tinggi tembok berukuran 2.35 m. Makam itu ditandai dengan jirat dan nisan (tanpa tulisan) berbentuk dan bertipologi Demak-Troloyo (arkenas.kemdikbud.go.id).

Tipologi dan morfologi inilah yang menunjukkan bahwa pertanggalan relatif berasal dari abad ke-16-17 M.  Temuan nisan bertipe Demak-troloyo tersebut menguatkan bahwa para pendatang Islam yang datang ke NP memiliki hubungan dengan muslim yang telah terlebih dahulu ada di Jawa.

Di luar cungkup makam Raden Mustafa, ditemukan dua buah nisan makam yang tidak berjirat. Nisan makam itu dibuat dari batu gamping dan diihiasi dengan sulur-suluran membentuk kala dalam stiliran inskripsi Arab yang dapat dibaca “bismillah ar-rahman ar-rahim” dan angka tahun dengan tulisan Arab “1211” H atau 1797 M.  Angka ini  merupakan petunjuk yang sangat jelas bahwa Islam telah berkembang di NP sebelum angka tahun itu. Setidaknya, pada akhir abad ke-18 Islam sudah hadir di NP.

Kampung Toleran

Meski menghimpun diri dalam satu ruang (desa), bukan berarti masyarakat Kampung Toya Pakeh ingin menutup diri, intoleran, dan tidak bisa bergaul dengan penduduk sekitarnya. Sebaliknya, masyarakat Kampung Toya Pakeh termasuk tipe muslim yang terbuka, toleran, dan relatif mudah bergaul.

Saya menduga, wadah satu desa ini semata-mata karena faktor kesadaran kelompok dan faktor persamaan nasib, kepentingan, tujuan dan ideologi. Sebuah alasan yang alamiah. Mereka tidak terlalu fanatik, tidak merasa spesial, dan tidak terlalu sensitif—layaknya Islam nusantara pada umumnya.

Ya, mungkin karena mereka tinggal lama di nusantara (NP), sehingga karakter kenusantaraannya sudah mengental menjadi kepribadian sehari-hari. Mereka memiliki sikap saling menghargai, tenggang rasa, jiwa gotong-royong, tolong-menolong, dan lain sebagainya. Bahkan, waktu saya kecil (SD), nilai-nilai kenusantaraan itu tampak begitu kental.

Misalnya, waktu saya SD (tahun 80-an) ada tradisi saling ngejot antara orang muslim (Kampung Toya pakeh) dengan orang Hindu di lingkungan saya (Kayu Buluh). Lebaran, keluarga saya mendapat jotan dari kampung muslim. Sebaliknya, Galungan giliran keluarga saya ngejot ke Kampung Toya Pakeh. Tradisi ini berlangsung cukup lama, hingga saya SMP, tahun 90-an.

Sikap kenusantaraan lainnya tercermin ketika Hindu di lingkungan saya menggelar ritual agama yaitu melasti. Jika desa saya melasti, pasti harus berbondong-bondong melintasi kampung ini. Sebab,  cuma ada satu akses jalan, membelah Kampung Toya Pakeh menuju ke laut, tempat saya melasti. Kerumunan masa (melasti) yang melintas, tidak pernah mengalami komplain dari warga Kampung Toya Pakeh. Sebaliknya, mereka menonton dan menghargai proses ritual itu.

Pelabuhan Tradisional Toya Pakeh. Sumber foto: juleebrarian.com

Begitu juga ketika masyarakat Hindu menggelar upacara ngaben atau acara tari balih-balihan. Masyarakat Kampung Toya Pakeh biasa menonton dan memberikan apresiasi. Bahkan, beberapa warga muslim malah berbaur, ikut berjualan makanan. Tidak ditemukan penajaman istilah makanan halal/ haram atau sukla/ surudan. Tanpa plang itu, kedua belah pihak sudah saling memahami. Sebab, jauh sebelumnya mereka (saudara muslim-Hindu) sudah saling memahami tradisi, adat, dan keyakinan masing-masing. Keduanya saling percaya dan saling menghargai satu sama lain.

Nilai-nilai kenusantaraan itu juga tampak dalam kegiatan manusia yadnya (acara pernikahan, potong gigi, tiga bulanan), pitra yadnya (majenukan), dan lain-lainnya. Biasanya yang punya kenalan muslim, diundang untuk menghadirinya. Pun perayaan Nyepi. Mereka sangat menghargainya dengan tidak menghidupkan pengeras suara di masjid, dan termasuk tidak beraktivitas keluar batas desa. Sampai sekarang pun, saya lihat toleransi itu masih hangat terpelihara.  

Fondasi toleransi ini tentu tidak dibangun secara instan. Mungkin puluhan tahun atau berabad-abad yang lalu. Saking lamanya, sehingga sudah terjadi akulturasi antara masyarakat muslim dengan masyarakat Hindu di NP. Beberapa orang Hindu menikah dengan masyarakat muslim. Sebaliknya, sedikit orang muslim ada pula yang menikah dengan orang Hindu. Bisa jadi, fenomena akulturasi ini merupakan faktor pendorong hubungan keduanya menjadi tidak berjarak. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka terbuka. Mau bergaul dengan siapa saja, tanpa memandang bulu. Hanya saja, kurang disentuh oleh media massa.

Kampung Strategis

Secara geografis, Kampung Toya Pakeh termasuk strategis. Kampung ini berada di pesisir pantai. Bahkan, sebelah baratnya ful berupa pantai. Sebelah utara dan timur berbatasan dengan Desa Ped dan sebelah selatan berbatasan dengan Desa Sakti.

Kampung Toya Pakeh hanya memiliki luas wilayah 0,65 km2, jumlah penduduk 544 jiwa (per tahun 2010), dan kepadatan yang mencapai 837 jiwa/ km2 (id.m.wikipedia.org). Dari 16 desa yang ada di NP, Desa Kampung Toya Pakeh termasuk desa terkecil. Saking kecilnya, Kampung Toya Pakeh hampir tidak memiliki ruang agraris (untuk bercocok tanam), kecuali ternak kambing. Ternak ini pun sifatnya sambilan. Hanya beberapa, dan jumlah yang dipelihara tidak terlalu banyak. Selain peternak, (dulu) ada beberapa sebagai petani rumput laut dan nelayan.

Pekerjaan utama mereka adalah pedagang. Lebih dari 90 %, penduduk Kampung Toya Pakeh bekerja di sektor dagang. Faktor ini pula yang menyebabkan Kampung Toya Pakeh dapat mendirikan pasar persis berada di tengah-tengah perkampungan, yang dibelah oleh jalan raya.

Pasar Kampung Toya Pakeh menjadi pusat transaksi yang sangat tua umurnya. Setahu saya, pasar ini tergolong cukup luas, terkenal, dan memegang peranan strategis setelah Pasar Mentigi (Sampalan). Pasalnya, letak pasar ini sangat strategis. Dekat Pelabuhan Kampung Toya Pakeh, Pelabuhan Dermaga Banjar Nyuh, dan dilalui jalan raya utama.

Toya Pakeh Harbour. Sumber foto: toya-pakeh-harbour.business.site

Jadi, secara operasional biayanya menjadi lebih murah. Apalagi, didukung oleh pengusaha transportasi laut yang didominasi oleh orang lokal. Hampir seratus persen, pengusaha jukung dan jangolan milik pengusaha asal Kampung Toya Pakeh. Hal ini tentu berpengaruh terhadap biaya operasional penyeberangan barang dari (atau ke) Bali daratan-NP.

Kelebihan-kelebihan itulah yang menyebabkan Pasar Kampung Toya Pakeh tetap bertahan sampai sekarang. Selain strategis, juga memiliki keunggulan nilai ekonomis sebagai desa. Jika dihubungkan dengan kemajuan pariwisata di NP sekarang, kampung ini juga memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Sebab, Pelabuhan Kampung Toya Pakeh menjadi salah pusat pelabuhan transportasi laut yaitu fast boat untuk trip wilayah barat NP.

Bahkan, perkembangan pariwisata tersebut membuat masyarakat Kampung Toya Pakeh kian mampu melebarkan sayap ekonominya. Pasalnya, beberapa warganya ada yang terjun ke dunia bisnis akomodasi, bisnis transportasi laut, guide, instruktur dan awak diving/ snorkeling, dan lain sebagainya. Artinya sekarang, generasi mereka tidak hanya mengandalkan sektor perdagangan saja. Namun, sudah bisa mengambil sektor-sektor pekerjaan yang lebih bervariasi untuk survive.

Dengan modal toleransi dan luwes, memudahkan mereka dapat menjalin relasi dengan siapa pun di NP. Hal ini menguntungkan penduduk Kampung Toya Pakeh untuk bekerja di berbagai sektor yang berkembang di NP. Sehingga,  ke depan kampung ini tetap bisa eksis dalam situasi apa pun. [T]

Tags: desadesa wisataMuslimNusa PenidaPariwisata
Share1035TweetSendShareSend
Previous Post

Tamu Sepi, Kapal Tak Sandar, Menulis adalah Pilihan

Next Post

Di Rumah Saja – Saatnya Anak-anak Jauh dari Makanan Jalanan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
Di Rumah Saja – Saatnya Anak-anak Jauh dari Makanan Jalanan

Di Rumah Saja – Saatnya Anak-anak Jauh dari Makanan Jalanan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co