14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selalu Suka ke Pegayaman: Rancak Budrah, Nyanyian Muslim dengan Nada Kidung Bali

Kardian Narayana by Kardian Narayana
February 2, 2018
in Khas

Foto-foto: Kardian Narayana

SUDAH sering kali saya ke Desa Pegayaman di Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali, baik untuk urusan jalan-jalan maupun mengemban tugas jurnalistik. Dan, entah kenapa, saya selalu senang memasuki desa di kaki perbukitan hijau itu.

Masuk ke desa dengan jalan-jalan kecil yang dijepit persawahan dan kebun cengkeh itu, perasaan seperti dibawa ke negeri entah yang unik, tidak biasa, terkesan asing tapi sekaligus akrab. Warga desa itu penganut Muslim yang taat, tapi di sisi lain ditemukan sisi-sisi penting dari kebudayaan Bali. Kita tahu, Bali sebagian besar penganut Hindu, termasuk warga desa di sekeliling Pegayaman.

Desa Pegayaman adalah desa muslim tua yang ada di Buleleng. Desa Pegayaman dipercaya ada sejak tahun 1639. Leluhur mereka diajak ke Bali dari Blambangan oleh Raja Panji Sakti. Di Bali, mereka ditempatkan di sebuah desa di kaki bukit di sebelah selatan kerajaan Buleleng.

Yang membuat perasaan jadi nyaman, kerukunan antara umat Muslim dan Hindu, di desa itu dan di desa sekitarnya terjalin dengan baik. Orang Bali menyebut warga Muslim itu dengan sebutan Nyama Slam (Saudara Islam), begitu sebaliknya orang Bali disebut Nyama Bali.

Empat abad sudah keberadaan Desa Pegayaman di Buleleng. Namun kerukunan itu tetap terjalin. Dalam pergaulan sehari-hari, warga Pegayaman masih tetap menggunakan bahasa Bali alus. Jangan heran jika berkunjung ke Pegayaman, kita mendengar kata-kata tiang (saya), nike (itu) meriki (ke sini), ragane (Anda), ring dije (di mana) dan sebagainya. Nama-nama warga Pegayaman juga menggunakan nama Bali di depan nama Jawa atau Arab, seperti Wayan, Made, Nyoman dan Ketut.

Tentang hal itu, sepertinya sudah banyak diteliti dan ditulis orang di media umum. Namun saya selalu seperti menemukan hal baru di Pegayaman. Apalagi, pemuka-pemuka desa amat ramah dan bersedia diajak ngobrol panjang lebar tentang apa saja yang berkaitan dengan kondisi desa.

Terus terang, hal yang membuat saya paling betah berlama-lama di Pegayaman, terutama pada saat ada perayaan agama atau hajatan desa, adalah suara rancak-merdu dari kesenian budrah, atau biasa juga disebut burdah.

Perangkat musiknya memang tak jauh beda dengan alat musik dari komunitas Muslim lain. Namun warga Pegayaman meramu seni budrah dengan bumbu-bumbu akulturasi yang sedap, sehingga adonan kesenian itu begitu enak didengar, baik oleh Nyama Slam maupun Nyama Bali.

Kesenian Budrah di Pegayaman adalah satu bentuk kesenian yang menggabungkan suara pukulan rebana yang rancak dengan suara nyayian ayat suci Kitab Albarzanji yang dilantunkan seperti lantunan cengkok tembang kidung di Bali. Jika kita membayangkan mungkin akan terasa agak aneh, setelah kita mendengarkan semua rasa aneh yang kita bayangkan akan sirna. Alunan ayat-ayat suci yang ditembangkan dengan nada kidung terasa sangat menakjubkan. Reng (resonansi) kidung Bali sangat terasa di setiap alunan ayat suci yang berbahasa Arab.

Budrah dipadu seni pencak silat

Kesenian Budrah mengunakan rebana khusus budrah. Bentuknya bulat-bulan terbuat dari batang pohon kelapa dan kulit binatang seperti sapi atau kambing. Ukuran rebananya pun bervariasi dari berdiameter tiga puluh centimeter hingga lima puluh sentimeter. Rebana Budrah dibuat dengan cara manual.

Yang menarik, selain mampu memainkan rebana budrah, warga yang masuk dalam sekaa (kelompok) budrah juga mampu membuat rebana budrah. Dan hampir semua anggota sekaa mampu membuat rebana budrah.

Ketut Mohamad Suharto, Ketua Sekaa Budrah Pengayaman, menyatakan kata budrah berasal dari kata Arab yang berarti salju atau angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. Kesenian ini telah diterima dan diwariskan secara turun-temurun, dan akan tetap dipertahankan. Budrah ini merupakan bukti alkuturasi dan toleransi yang diajarkan oleh para leluhur Desa Pegayaman.

Keunikan lain yang ada pada kesenian Budrah Pegayaman terdapat pada kostum saat tampil. Anggota sekaa budrah saat tampil mengunakan pakaian adat Bali. Bagaian kepala menggunakan udeng batik, baju kemeja yang utama putih, dan menggunakan kamen lelancingan. Kekhasan kostum ini pun merupakan warisan yang diteruskan dan tidak akan penah diganti. “Amen sube budrah, pasti pun care niki, meudeng, baju kemeja putih, kamen lenjingan, ten pun meubah-ubah,” kata Mohamad Suharto.

Terkait dengan kaderisasi, Sekaa Budrah tidak sulit lagi untuk mencari anggota. Anggota sekaa budrah Pegayaman silih berganti dari muda hingga tua. Kesenian budrah telah menjadi kesenian yang mengakar bagi Nyame Selam di Pegayaman. Saat latihan, anak-anak kecil Desa Pegayaman, selalu datang untuk sekedar melihat orang latihan, tak jarang mereka mencuri-curi kesempatan untuk ikut memainkan rebana budrah, para tetua pun membiarkan anak-anak mereka belajar.

Anak-anak Pegayaman penerus seni budrah

Mohamad Masidi adalah anggota termuda yang bergabung di Sekaan Budrah Pegayaman. Masidi telah bergabung Sekaa Budrah Pegayaman dari satu tahun lalu. Alasannya bergabung di sekaa budrah karena suka budra sejak kecil. Terkait dengan kostum Masidi mengatakan, “Sudah dari leluhur seperti ini ya saya terima saja dan enak menggunakannya.”

Kesenian Budrah sering tampil di acara yang dilaksanakan di Desa Pegayaman maupun di luar Desa Pegayaman. Dalam penampilan kesenian budrah sering dipadukan dengan menampilkan Pencak Silat Blebet dari Desa Pegayaman. Blebet merupakan kata lain dari rotan. Blebet dalam pencak silat Pegayaman menjadi senjata utama dalam penampilan pencak silat. Jika mahir memainkan, blelet mampu digunakan untuk mematikan lawan.

Saya selalu suka menyaksikan pencak silat Blebet itu. Meski terkesan sebagai permainan fisik yang keras, namun warga Pegayaman sesekali memainkannya dengan atraksi lucu yang bisa mengundang tawa. Tak percaya? Mainlah ke Pegayaman. (T)

Tags: balibulelenghinduMuslimSenitoleransi
Share567TweetSendShareSend
Previous Post

Okokan dan Rintih Merdu “Lelakut Nyuling” dari Kediri – Catatan Festival Tepi Sawah

Next Post

Guru Honorer, Survivor Sejati – Survive di Sekolah Sibuk di Luar Sekolah

Kardian Narayana

Kardian Narayana

Hobinya serabutan, dari teater, menari, musik, pramuka, fotografi, film, hingga dunia tulis-menulis. Kini bekerja agak tetap menjadi video jurnalis di sebuah TV nasional

Related Posts

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails
Next Post

Guru Honorer, Survivor Sejati – Survive di Sekolah Sibuk di Luar Sekolah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co