23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
August 26, 2024
in Esai
Berguru ke “Ngampan” Delod Ceking  

Foto penulis (tengah)

BATU-BATU di antara Pura Geger dan Pura Uluwatu di Gumi Delod Ceking adalah tebing yang dalam bahasa setempat disebut ngampan. Ada perbedaan status  kawasan ngampan yang menjadi wewidangan ‘wilayah’  Desa Adat di Gumi Delod Ceking. Di Desa Adat Peminge, misalnya di ngampan sudah berdiri sejumlah vila dan hotel milik investor.  Di Desa Adat Kutuh, ngampan adalah karang pemupon Desa Adat yang tereksplisit dalam Awig-Awig. Status hukumnya cukup kuat karena Awig-Awig diakui sebagai  dasar hukum yang mengatur kesejahteraan : Sukerta Tata  Parhyangan (kawasan suci), Sukerta Tata Pawongan (manusia), dan Sukerta Tata  Palemahan (lingkungan).

Di Desa Adat Ungasan, menurut I Ketut Marcin, mantan Bandesa Ungasan, ngampan di bawah pengelolaan Desa Adat. Di Desa Adat Pecatu, kata Wetra Adnyana dan I Nyoman Sudama,  kawasan ngampan sebagian menjadi Pelaba Pura dan sebagian telah beralih status ke investor.

Walaupun Kawasan ngampan sepanjang Pura Geger sampai Pura Uluwatu bertebing yang makin ke Barat makin tinggi dengan puncak ketinggian di Pura Ulawatu, keberadaan ngampan itu tidak semua tebing berbatu. Ada juga tanah di antara garis pantai sampai puncak tebing. Tanah-tanah ngampan itu sangat subur, mirip dengan di Batur. Di antara bebatuan, tomat tumbuh subur. Buktinya dulu sebelum 1990-an tanah ngampan itu  tempat petani menanam jagung. Jagungnya tumbuh subur dan buahnya besar-besar. Petani itu juga mendirikan pondok beratap daun jati kering  atau alang-alang yang dianyam  diperoleh dari  ngampan pula.  Pondok-pondok di ngampan itu sebagai tempat berteduh para petani sembari menjaga kebun dari gangguan binatang (landak dan kera).

Saya meyakini para petani itu tidak tahu bila Perjalanan Sang Maha Kawi Wiku, Dang Hyang Nirartha tempo doeloe telah membuat pondok sastra di sekitar Kawasan itu. Pondok Sastra adalah tempat berteduh untuk menyiapkan sarapan batin dalam meningkatkan jnana (spiritualitas), sedang pondok petani adalah tempat berteduh untuk memenuhi kebutuhan pangan secara jasmani. Kini, ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan makan siang gratis, kebijakan itu telah dilaksanakan para petani secara mandiri tanpa menunggu bantuan sosial dari pemerintah.  Kearifan petani yang berkecerdasan memproduksi makanan dengan nandur aneka tanaman pangan cepat panen dan belakangan ini juga menjadi program pemeritah. Kecerdasan petani menyiapkan pangan untuk memenuhi kebutuhannnya perlu terus didorong oleh pemerintah bila perlu didampingi dengan tenaga ahli. Mengedukasi petani dengan baik dan benar, tidak memanjakan dengan harap-harap cemas menunggu bansos pangan.

Kembali ke batu-batu di antara Pura Geger dan Pura Uluwatu. Ada batu kembar, batu mejan, batu makeprus, batu gong, batu buyar, batu cupit, batu madinding, batu pageh, batu matandal. Menyebut batu-batu itu tiba-tiba saya teringat puisi Sutardji  Chalzoum Bachri berjudul, “Batu”.

Dalam bait puisinya, Sutardji menyebut aneka batu : batu mawar/batu langit/batu duka/batu rindu/batu janun/batu bisu/ kaukah itu/teka/teki/yang/tak menepati janji ?…  Pada bait lain, batu juga digunakan sebagai metafora pemujaan, “… Kau tahu/batu risau/batu pukau/batu Kau-ku/batu sepi/batu ngilu/batu bisu/kaukah itu/teka/teki/yang/tak menepati janji ? …

 Jika melihat latar belakang Sutardji,  tampaknya budaya Melayu juga memuliakan batu. Ketika demam batu akik beberapa tahun lalu, banyak pemburu yang ingin mengoleksi aneka batu entah hanya sekadar untuk hobi atau dibawa ke aras yang lebih tinggi secara spirit karena batu konon ada jodohnya pula. Batu di tangan orang tepat bisa bertuah, batu tangan orang tak tepat bisa bernilai rongsokan. Memuliakan batu untuk keseimbangan artistik sangat perlu agar tidak  ada batu salah genah. Apalagi ada yang lempar batu sembunyi tangan. Hal yang tidak diharapkan.

 Jika Sutardji mengeja batu dalam puisi-puisinya, Pemangku Sonteng di Delod Ceking tempo doeloe juga mengeja batu dalam puja saa-nya. Pemangku berpuisi menyebut Bhatara-Bhatari yang berstana di batu-batu itu. Dari situlah muncul istilah bebaturan  sebagai tempat yang disucikan.  Penyebutan berulang  nama-nama tempat dengan aneka nama batu oleh Pemangku Sonteng, dapat dianalogikan dengan mantra Sulinggih yang memuja keagungan Sungai-Sungai di India, Gangga, Saraswati, dan Yamuna, misalnya.  Begitu sederhana Pemangku Sonteng melakukan pemujaan dengan olah vokal tanpa suara genta.  Orang Bali menyebutnya mantra papojolan ’mantra lugas’ membumi. Kini, seiring dengan pembinaan dan pelatihan kepemangkuan, puja mantra Pemangku Sonteng di Gumi Delod Ceking relatif  sama dan standar dengan genta.

Kembali ke batu-batu bertuah di antara Pura Geger dan Pura Ulawatu. Oleh karena bertuah, krama setempat menyucikan batu-batu itu dengan menghaturkan canang saat hari-hari tertentu (Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon, dan hari Puja Wali di Pura yang dekat dengan Batu itu).  Seperti di Batu Kembar, umat memohon tirta segara untuk Puja Wali di Pura Gunung Payung pada Purnama Sasih Kaulu.

Di Batu Makeprus, nelayan memancing ikan dengan waspada dan eling sambil  menyepi kalau-kalau kail bertemu ikan. Swadharma sebagai bandega ‘nelayan’ adalah dharma pemujaan dengan kail dan umpan sebagai mantra untuk merayu ikan-ikan yang berkelana ke sana-ke mari di lubuk. Kearifan ini telah melahirkan peribahasa, lain lubuk lain ikan, lain padang lain belalang, sebagai bentuk pemuliaan kepada nelayan dan petani. Betapa indahnya.

Di Batu Mejan, orang-orang Desa Adat Kutuh tempo doeloe sebelum 1990-an menumpahkan harapan untuk bisa sekadar bertahan hidup mencari pakan ternak untuk sapi-sapinya sambil melaut. Melakukan dua pekerjaan sekaligus, bendega dan pengangon. Sambil menyelam minum air, sebuah kearifan Melayu berbasis agraris. Oleh karena di Batu Mejan, medannya terjal dan mesti menggunakan tangga, kehati-hatian menjadi keniscayaan. Keseimbangan dijaga sehingga bisa selamat dan tercapai tujuan.

Batu-batu bertuah di pesisir Desa Adat Kutuh adalah batu spirit yang pada awalnya tanpa pelinggih, belakangan dibuatkan Pelinggih seperti di Batu Cupit, Batu Medinding, dan Batu Pageh seiring dengan perubahan bentang ngampan karena dikelola dan dikomersialkan untuk kawasan pariwisata. Pelinggih-pelinggih itu menyimpan  jejak historis yang perlu dimuliakan oleh generasi yang akan datang berdasarkan semangat trisemaya : Atita, wartamana, nagata. Oleh karena berbentuk pelinggih, maka pujawali pun digelar. Dari tiada menjadi ada. Sebelumnya disebut Pura Tankaton (Pura tak tampak) menjadi Pura Katon (Pura yang tampak maujud).

 Begitulah batu-batu bertuah di Gumi Delod Ceking terutama yang berada di sepanjang pesisir dan tebing menyimpan pesan sebagai bentang alam yang menjadi benteng pertahanan moral spiritual sekaligus benteng pertahanan pangan berbasis maritim dan kini intens merayu turis berdatangan membawa dolar.  Daya eksotis tebing-tebing itu perlu dijaga dan dirawat agar makin memikat, bukan ditebang sembarangan. Saatnya, berguru ke Ngampan Delod Ceking tentang ketangguhan dan kesungguhan mengolah manik astagina dalam diri. Karang awake tandurin. [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Antara Pura Gunung Payung dan Pura Batu Pageh  
Pura Gunung Payung di Gumi Delod Ceking
Gumi Delod Ceking Sebagai Pusat Perguruan
Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
“Kupu-Kupu di Dalam Buku”
Tags: Gumi Delod CekingNusa DuaPura Uluwatu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Alexis de Tocqueville dan Tantangan Demokrasi: Mengapa Agama Sangat Penting bagi Masyarakat Demokratis?

Next Post

Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film

Tambal Sulam Ekranisasi Teks Lama ke Film

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co