23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

MATI CARA HINDU (1)

Sugi Lanus by Sugi Lanus
August 18, 2024
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

Catatan Harian Sugi Lanus, 18 Agustus 2024

SEMUA kitab Hindu jelas menyebutkan bahwa ketika seseorang mati akan dijemput di pintu kematian oleh “watek Bhatara Yama”.

Watek artinya “para petugas atau anggota” dari sebuah perikatan tugas.

Bhatara Yama sendiri adalah pelindung atau pemimpin. Bhatara Yama kadang disebut Yamadipati, yang maknanya pemimpin atau dipertuan dari watek Yama.

Ajaran Hindu menyebutkan tidak ada yang bisa menghindar dari “pemeriksaan” para petugas Bhatara Yama.

Siapa lantas Bhatara Yama?

Bhatara Yama adalah yang menguasai Yama atau memahami kualitas Yama dari semua manusia.

Apa itu “kualitas Yama” dari manusia?

Sebelum menjelaskan apa itu Yama, sebaiknya dipahami bahwa menurut Hindu, kualitas manusia ditentukan oleh “kualitas Yama” masing-masing manusia.

Kualitas Yama dari masing-masing manusia itu yang dengan sendirinya mengantar roh si manusia masuk neraka atau surga.

Sebenarnya ini otomatis melekat kualitasnya secara inheren dalam roh dari manusia yang sudah menjalani hidupnya.

“Yama” adalah bahasa Sansekerta untuk “disiplin moral”.

Dalam Hindu disebutkan manusia masuk surga atau neraka tidak ditentukan oleh garis silsilahnya. Dalam Hindu disebutkan manusia masuk surga atau neraka tidak ditentukan oleh besarnya upacara atau ritual kematian yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Yang menentukan masuk surga atau neraka adalah “Yama” atau “disiplin moral” yang dijalaninya selama menjadi manusia di dunia.

Bhatara Yama atau Yamadipati adalah “malaikat penjaga pintu kematian”, sekaligus diberi mandat oleh Tuhan Maha Tunggal untuk memverifikasi layak tidaknya sang mati, entah masuk surga atau neraka, berdasarkan “kualitas Yama” dari sang mati.

Jadi, kalau mau disederhanakan, bahwa Bhatara Yama atau Dewa Yama, atau Yamadipati, adalah “kekuatan dewata” yang meregulasi “perjalanan” manusia setelah kematiannya. Ini didasari dari “kualitas Yama” dari roh/jiwa-atma sang mati.

Apa itu “kualitas Yama”?

Pokok atau dasar etika-moralitas Hindu adalah Dasa-Yama. Terdiri dari 5 Yama (panca-yama) dan 5 Niyama (panca-niyama).

Pedoman mendapatkan kualitas Yama yang baik atau pedoman hidup yang membuat manusia damai dalam dirinya ketika hidup, dan masuk surga — bahkan sampai Nirvana atau Moksha setelah kematian adalah Yama dan Niyama.

YAMA adalah kode etik atau disiplin moral terhadap dunia luar. NIYAMA juga merupakan aturan perilaku untuk hidup, tetapi disiplin ini berfokus pada bagaimana Anda memperlakukan diri sendiri.

5 YAMA ini berurusan dengan tingkah laku kita terhadap dunia luar atau lingkungan sekitar kita. Menyangkut relasi kita dengan manusia dan semua makhluk lain.

Kelima dispilin moral yang disebut YAMA ini adalah:

1.⁠ ⁠”Ahimsa” — Bahasa Sansekerta yang berarti “tidak menyakiti” — tidak menyakiti dalam harus dibersihkan dari pikiran, kata-kata dan tindakan.

2.⁠ ⁠”Satya” — Bahasa Sansekerta yang berarti “menahan diri dari ketidakjujuran” — kejujuran menjadi pedoman bertindak dan bertingkah laku dalam keseharian.

3.⁠ ⁠”Asteya” — bahasa Sansekerta untuk “tidak mencuri” — tidak ada niatan dan prilaku korupsi, mengelapan dan mengambil yang bukan hak kita.

4.⁠ ⁠”Brahmacharya” — Bahasa Sansekerta untuk “penggunaan energi seksual yang bijaksana” — dalam hal ini juga berarti bagaimana bisa menguasai tubuh dan pikiran secara bijak. Pembelajaran dan disiplin untuk memahami tubuh dan pikiran ini agar tidak terjebak nafsu seksual dan perangai ketubuhan yang merugikan ini disebut “brahmacarya”.

5.⁠ ⁠“Aparigraha” — bahasa Sansekerta untuk “tidak posesif” — tidak terjebak pada nafsu ingin menguasai atau kepemilikan.

Bhatara Yama dan para petugas pintu kematian akan memberikan nilai atau score pada “kualitas Yama” si mati yang melintas ke alam kematian.

Bhatara Yama adalah dewa atau bhatara yang menjadi semacam wasit pemberi skor dan menjebloskan si mati dalam “kelas neraka” atau “kelas surga”.

Bhatara Yama tidak bisa dibelokkan dan tidak bisa disogok oleh ritual keluarga si mati yang ditinggalkan. Sama dengan keluarga di rumah yang tidak bisa membantu kerabatnya yang sedang menjalani test kualifikasi sebuah penempatan posisi bagi yang bersangkutan. Ini semua tergantung “kualitas Yama” si mati ketika masih hidup. Kualitas dari pelaksanaan Yama tidak bisa direkayasa dengan bekal-bekal kubur atau ritual kematian. Begitu si mati jeblok dalam kualitas disiplin diri (Yama) dalam hidupnya, otomatis “mesin tercanggih AI canggih” Bhatara Yama menjebloskan si mati pada level yang memang sesuai dengan “skor disiplin moral” si mati.

Bhatara Yama adalah kekuatan kosmik yang meregulasi atau mengatur serta merekam jejak kualitas dispilin moral semua manusia untuk nantinya ditempatkan di surga atau neraka.

Dalam Hindu disebutkan jika manusia menjalankan dispilin moral atau Yama, tidak perlu menunggu mati, dalam hidupnya pun telah akan bisa menikmatinya. Sang manusia yang menjalankan lima displin moral (Panca Yama) akan otomatis memiliki kedamaian diri dalam hatinya. Memiliki keteguhan dan kekuatan diri untuk menghadapi semua ujian dalam hidupnya.

Bhatara Yama tidak hanya menunggu kematian manusia, dia juga bekerja membantu manusia baik berdisiplin moral ketat untuk bisa meneguhkan dirinya dalam kehidupannya.

Selama manusia tidak lulus dalam urusan Panca Yama, Bhatara Yama akan menjebloskan Anda ke dalam neraka, baik selama hidup dan ketika mati. Dalam bahasa Bali disebut: “Neraka idup-idup” — neraka sebelum menunggu ajal.

Jika manusia mengalami perasaan neraka dalam hidup — neraka idup-idup — dalam ajaran Hindu diberikan resepnya terdalamnya: Kasihani diri kita. Jangan sakiti diri kita. Terima diri kita jangan banyak mengeluh dan berpikirlah terus positif. Tindakan ini adalah inti dari Ahimsa: “Menghindari aniaya tindakan kejam-keji”.   Ini adalah prinsip untuk tidak menyakiti dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Tidak menyakiti orang lain, hewan, lingkungan, dan terutama TIDAK MENYAKITI DIRI SENDIRI. Berpikir positif terhadap diri sendiri dan terus menerus menjaga semangat hidup adalah cara untuk tidak kejam dan jahat pada diri sendiri. Sebaliknya, memikirkan hal buruk, penuh sesal dengan situasi diri sendiri, tidak mau berpikir positif dan pemalas dalam menjalani hidup adalah tindakan “ahimsa ring angga sarira” — keji pada diri sendiri.

Bhatara Yama atau Yamadipati melindungi mereka yang menyayangi dan menghargai dirinya sendiri, dengan tetap berpikir, berbuat, dan bertindak positif dalam hidup, apapun situasi yang dihadapinya. Bhatara Yama akan memberikan ganjaran “neraka idup–idup” kepada mereka yang apatis pada hidup dan membenci dirinya sendiri. [T]

 [MATI CARA HINDU (2) membahas Bhatara Yama dan NIYAMA (perilaku untuk hidup dan disiplin moral yang berfokus pada bagaimana Anda memperlakukan diri sendiri)].

BACA artikel lain dari penulis SUGI LANUS

SEBARIS DOA | Catatan Harian Sugi Lanus
Sang Hyang Eta-Eto: Memahami Kalender Hindu Bali & Baik-Buruk Hari dengan Rumusan ‘Lanus’
MAHARSI PENULIS WEDA DI NUSANTARA
Hindu Bali: Om, Ong atau Wong?
I GUSTI BAGUS SUGRIWA MEMBACA DASA BAYU
MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA
“Idea-Puisika” & “Idea-Masa Lalu”
Catatan dari Pura Meduwekarang 2003: GEMPA BALI 1917, BOM BALI 2002
Peta Kosmik Tubuh Manusia Bali || Catatan Harian Sugi Lanus
Air, Agama Tirta, dan Pariwisata Bali
Perlindungan Pohon dalam Undang-Undang Bali Kuno – Renungan Pasca Bencana
Tags: hindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Bendera” atau “Sembako” : Dari Pementasan Teater Selem Putih

Next Post

Animals Don’t Speak Human Gaungkan Kesejahteraan Ayam Lewat Festival Kekeruyuuuk

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Animals Don’t Speak Human Gaungkan Kesejahteraan Ayam Lewat Festival Kekeruyuuuk

Animals Don’t Speak Human Gaungkan Kesejahteraan Ayam Lewat Festival Kekeruyuuuk

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co