22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hindu Bali: Om, Ong atau Wong?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
August 24, 2023
in Esai
Hindu Bali: Om, Ong atau Wong?

— Catatan Harian Sugi Lanus,  24 Agustus 2023

Banyak yang bertanya melalui WA atau pertanyaan langsung ketika berjumpa offline prihal pengucapan BIJA MANTRA utama dalam tradisi Hinduisme: OM atu ONG?

Perlu ditambahkan bahwa dalam masyarakat Hindu Bali sebelum kemerdekaan bukan hanya ada varian pelafalan OM dan ONG, variasi pengucapan WONG juga ada. Hasil riset Jane Belo tahun 1937-1938, diterbitkan dalam buku BALI: TEMPLE FESTIVAL (1953), puja pemangku Banjar Kutuh, Sayan-Ubud, pengucapannya adalah WONG. Yang mencatat pengucapan WONG ini adalah Goesti Made Soemeng, sekretaris peneliti Jane Belo.

Ada kecenderungan yang berkembang sekarang jika seseorang belajar mantra dari catatan mantra-mantra beraksara Latin tanpa pendampingan GURU yang mumpuni akan rentan, alih-alih menjadi mantap, berbalik mengundang keragu-raguan: OM, ONG atau WONG?

Siapapun yang bertanya-tanya ke saya secara pribadi perihal variasi pengucapan Om, Ong ataupun Wong, saya berharap untuk dipahami secara hati-hati, dengan hati terbuka membaca penjelasan saya di bawah ini. Saya tidak ada niat ingin mengurui. Saya hanya berbagi sebagai semeton sedharma dan saya tujukan jawaban ini ke semeton yang bertanya langsung ke saya. Karena saya tidak bisa satu persatu memberikan jawaban, maka saya ketik jawaban pribadi saya sebagai berikut:

.

Beragama Hindu Bali sebelum masa pendidikan modern, sebelum ada sekolah dan kurikulum modern Agama Hindu di Nusantara, proses belajar atau proses pemerolehan pengetahuan keagamaan diturunkan lewat tradisi guru-sisya (guru-murid). Prosesnya lisan. Mantra dan puja mengacu atau berpegangan pada pengucapan atau pelafalan GURU yang diajarkan langsung ke SISYA (siswa/murid). Jika ada ajaran tertulis maka huruf bukan huruf Latin tari AKSARA BALI atau AKSARA NUSANTARA lainnya.

Salah satu alasan kuat kenapa Hindu Bali masih bertahan ajarannya selama ribuan tahun karena tradisi GURU-SISYA. Jika tidak ada tradisi ini bisa dipastikan Hindu Bali bergoyang karena kekaburannya. Hindu Bali bukan tradisi jalanan. Diturunkan secara baik dan transmisinya dari sang guru bersambung ke sang sisya. Demikian secara sinambung.

Siapa SANG GURU?

Bisa saja orang tuanya yang memang memahami Agama Hindu Bali, atau jika orang tuanya tidak paham maka mereka masisya (berguru) ke griya Mpu, Rsi, Dukuh, Padanda, Bhagawan, dstnya. Anak-anak Padanda dan sulinggih lainnya termasuk kategori “sisya” dalam proses ini. Kalau kelak setelah matang dilantik dalam tradisi DIKSA. Baik putra kandung atau bukan putra kandung masing-masing SISYA dilahirkan kembali sebagai PUTRA. Putra dalam hal ini “kaputra diksa” — dijadikan anak secara garis gotra atau tradisi inisiasi kepanditaan.

Proses guru-sisya tingkat lanjut disebut relasi NABE dan calon DIKSITA. Semua “putra diksa” yang lahir dari Nabenya mutlak mengikuti pelafalan dan tradisi puja yang diberikan/diajarkan oleh Nabenya masing-masing. Jika yang bersangkutan merobah atau mereview kembali ajaran Nabenya wajib seijin Nabenya. Tanpa seijin Nabe, jika langsung merobah tradisi Puja dan Weda yang diberikan oleh Nabenya, maka yang bersangkutan keluar atau merintis sendiri secara ulang garis perguruannya sendiri.

Jika dalam tradisi guru-sisya (guru-murid) Anda diajarkan pengucapan Wong, silahkan lanjutkan tradisi itu. Jika guru Anda mengucapkan Ong, silahkan lanjutkan pelafalan itu.

.

Oleh karena garis-guru-sisya yang saya ikuti mengajari saya menguncarkan suara Oṃ dengan /o/ bulat dan ditutup /ṃ/ bibir atas dan bibir atas saling bertemu dan tertutup lembut, dan ini juga sejalan dengan yang diajarkan oleh I Gusti Bagus Sugriwa kepada murid-muridnya langsung di sekolah PGA Hindu, maka kami melanjutkan tradisi pengucapan ini. Saya belajar TRISANDHYA dari guru sekolah saya IDA BAGUS SUAMBA (nama walaka sebelum melinggih dalam tradisi Kamenuh) di usia 8-9 tahun dengan pengucapan Oṃ.

Selanjutnya di usia 17 tahun sampai 19 tahun saya secara privat mendapat transmisi langsung pengucapan Oṃ dari guru kami Guru Newata Mantra Kamenuh. Jadi saya tidak akan bergeming dengan pengajaran lain, sebab itulah yang saya terima dari garis guru-sisya saya. Kedua guru saya yang kebetulan bergaris silsilah tradisi Pandita Kamenuh Bali Utara. Sayapun setiap ditanya akan mengakui bahwa memasuki Hindu Bali dalam garis Pandita Kamenuh. Dari lahir, tiga bulanan, diberikan upakara wayang, belajar puja-mantra, dll., alirannya adalah tradisi Kamenuh Bali Utara.

.

Saya telah mengamati atau bersaksi bahwa banyak umat beragama Hindu Bali rentan jatuh dalam kekaburan jika tidak lagi menganut tradisi GURU-SISYA. Saya bahkan mendapat pengakuan keluarga Bali yang berpindah agama dipicu oleh persoalan ini. Saya mensinyalir beberapa teman yang ikut masuk dan belajar ajaran SAMPRADAYA pun karena alasan ini. Garis guru-sisya di keluarganya terputus. Ini bukan hanya terjadi di kalangan keluarga luar garis kepanditaan tradisional.

Bahkan di tengah keluarga yang semestinya secara tradisional adalah pewaris darah atau trah kepanditaan, akibat PUTUS-DIKSA atau PUTUS GURU-SISYA, mereka goyang dan memasuki kelompok belajar SAMPRADAYA untuk mencari penerang. Tumpukan kertas atau lontar-lontar yang berisi mantra dan ajaran tanpa dijamin tradisi suci garis guru-sisya secara historis membuka muncul interpretasi sangat luas dan bisa memancing gotak-gatik-gatuk, alias cocokologi. Alih-alih memberi penerangan, yang muncul kegelapan. Secara tradisional tidak akan ajeg tradisi Puja-Weda tanpa dimediasi oleh tradisi PARAM-PARAM atau GURU-SISYA.

Ibu kandung saya selalu menekankan saat saya mulai belajar agama sekitar kelas 3-4 SD bahwa agama Hindu Bali manut tradisi DHARMA-PARAMPARĀ. Istilah ini adalah istilah bahasa Kawi dan Sanskrit untuk garis Guru-Sisya. Ibu saya selalu mengulang-ulang cerita di masa kecil di griya Kemenuh tugasnya menimba air untuk TIRTA PEDANDA, dan mengajari saya untuk tegak lurus dengan PARAMPARĀ.

Dijelaskan bahwa garis guru dan sisya sinambung. Ajaran diturunkan dalam pembelajaran yang berkesinambungan, atau suksesi ajaran tidak boleh terputus untuk menjaga tradisi puja dan semua ajaran dharma. “TIDAK BOLEH TERPUTUS!”, papar ibu saya. Ini disebut sebagai dharmaparamparā. Ini sejalan dengan yang berkembang di pusat kerajaan. Di kalangan pewaris kerajaan sang raja akan mewariskan Puja Satria dan semua pedoman ajaran lontar etika dan dharmaning kasatria ke pelanjutnya agar tidak terputus keilmuan dan kemahiran ketatanegaraannya, tradisi ini disebut sebagai RAJĀ-PARAMPARĀ. 

Pokok-pokok ajaran dan DIKSA dalam DHARMA-PARAMPARĀ atau GURU-SISYA dijaga ketat dalam perguruan di masing-masing. Tradisi suci ini perpusat di PADUKUHAN, KARESIAN, KABHUJANGGAN, WANASRAMA, KADEWANGURUAN, GRIYA, dstnya.

.

Jika melihat buku PEDOMAN TRISANDHYA yang disebarkan pertama kali dan selanjutnya diajarkan secara lisan di sekolah semasa hidup ‘guru-suci’ I Gusti Bagus Sugriwa, sangat jelas pengucapan yang diajarkan adalah OM. Hal ini bisa ditanyakan langsung ke murid-murid yang mendapat pengajaran langsung oleh I Gusti Bagus Sugriwa, seperti dosen saya Ida Bagus Agastia, Mpu Prof Titib, dan mertua saya sendiri yang adalah siswa teladan yang diasuh langsung di bawah bimbingan I Gusti Bagus Sugriwa yang mengajarkan pelafalan OM dalam TRISANDHYA.

Pengajaran TRISANDHYA dengan pelafalan OM oleh I Gusti Bagus Sugriwa secara formal diterima di sekolah dan kalangan pandita dan pemangku semenjak tahun 1950-an.

.

.

Sebagai penutup saya tambahkan bahwa newata-almarhum IDA PEDANDA OKA PUNYATMADJA, intelektual dan ahli puja-mantra dan lontar-lontar suci kepanditaan yang ternama, yang menjadi salah satu dari dua penyusun TUNTUNAN KRAMANING MUSPA (lebih terkenal sekarang sebagai PANCA SEMBAH) mengajarkan dan menuliskan bahwa pengucapan PANCA SEMBAH dimulai dengan BIJA-MANTRA dengan pelafalan OM.

Pedoman PANCA SEMBAH secara aklamasi diterima dan dicetak serta disebarkan di kalangan pemangku, sulinggih, dan guru di seluruh Bali dan Indonesia semenjak tanggal 1 Pebruari 1970. Pedoman PANCA SEMBAH bersumber dari Weda Suci yang ditemukan dalam lontar-lontar Bali. Pengucapan dan penulisan dalam buku TUNTUNAN KRAMANING MUSPA (PANCA SEMBAH) adalah OM.

  • BACA artikel dan esai lain dari penulis SUGI LANUS
Yadnya Keenam, Yadnya Melindungi Lingkungan
Manusia Mentah Menurut Hindu Bali
Kepala Kelamin & Pusat Kendali Padmahṛdaya
Tags: hinduHindu Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pentingnya Kolaborasi dalam Menumbuhkan Sikap Positif Bahasa : Catatan Pemantauan dan Evaluasi Revitalisasi Bahasa Daerah di SMPN 2 Sawan

Next Post

Gamelan Mulut Tour Eropa 2023, Dubes RI Brussel Ikut Menari

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Gamelan Mulut Tour Eropa 2023, Dubes RI Brussel Ikut Menari

Gamelan Mulut Tour Eropa 2023, Dubes RI Brussel Ikut Menari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co