1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

MATI CARA HINDU (1)

Sugi Lanus by Sugi Lanus
August 18, 2024
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus

Catatan Harian Sugi Lanus, 18 Agustus 2024

SEMUA kitab Hindu jelas menyebutkan bahwa ketika seseorang mati akan dijemput di pintu kematian oleh “watek Bhatara Yama”.

Watek artinya “para petugas atau anggota” dari sebuah perikatan tugas.

Bhatara Yama sendiri adalah pelindung atau pemimpin. Bhatara Yama kadang disebut Yamadipati, yang maknanya pemimpin atau dipertuan dari watek Yama.

Ajaran Hindu menyebutkan tidak ada yang bisa menghindar dari “pemeriksaan” para petugas Bhatara Yama.

Siapa lantas Bhatara Yama?

Bhatara Yama adalah yang menguasai Yama atau memahami kualitas Yama dari semua manusia.

Apa itu “kualitas Yama” dari manusia?

Sebelum menjelaskan apa itu Yama, sebaiknya dipahami bahwa menurut Hindu, kualitas manusia ditentukan oleh “kualitas Yama” masing-masing manusia.

Kualitas Yama dari masing-masing manusia itu yang dengan sendirinya mengantar roh si manusia masuk neraka atau surga.

Sebenarnya ini otomatis melekat kualitasnya secara inheren dalam roh dari manusia yang sudah menjalani hidupnya.

“Yama” adalah bahasa Sansekerta untuk “disiplin moral”.

Dalam Hindu disebutkan manusia masuk surga atau neraka tidak ditentukan oleh garis silsilahnya. Dalam Hindu disebutkan manusia masuk surga atau neraka tidak ditentukan oleh besarnya upacara atau ritual kematian yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Yang menentukan masuk surga atau neraka adalah “Yama” atau “disiplin moral” yang dijalaninya selama menjadi manusia di dunia.

Bhatara Yama atau Yamadipati adalah “malaikat penjaga pintu kematian”, sekaligus diberi mandat oleh Tuhan Maha Tunggal untuk memverifikasi layak tidaknya sang mati, entah masuk surga atau neraka, berdasarkan “kualitas Yama” dari sang mati.

Jadi, kalau mau disederhanakan, bahwa Bhatara Yama atau Dewa Yama, atau Yamadipati, adalah “kekuatan dewata” yang meregulasi “perjalanan” manusia setelah kematiannya. Ini didasari dari “kualitas Yama” dari roh/jiwa-atma sang mati.

Apa itu “kualitas Yama”?

Pokok atau dasar etika-moralitas Hindu adalah Dasa-Yama. Terdiri dari 5 Yama (panca-yama) dan 5 Niyama (panca-niyama).

Pedoman mendapatkan kualitas Yama yang baik atau pedoman hidup yang membuat manusia damai dalam dirinya ketika hidup, dan masuk surga — bahkan sampai Nirvana atau Moksha setelah kematian adalah Yama dan Niyama.

YAMA adalah kode etik atau disiplin moral terhadap dunia luar. NIYAMA juga merupakan aturan perilaku untuk hidup, tetapi disiplin ini berfokus pada bagaimana Anda memperlakukan diri sendiri.

5 YAMA ini berurusan dengan tingkah laku kita terhadap dunia luar atau lingkungan sekitar kita. Menyangkut relasi kita dengan manusia dan semua makhluk lain.

Kelima dispilin moral yang disebut YAMA ini adalah:

1.⁠ ⁠”Ahimsa” — Bahasa Sansekerta yang berarti “tidak menyakiti” — tidak menyakiti dalam harus dibersihkan dari pikiran, kata-kata dan tindakan.

2.⁠ ⁠”Satya” — Bahasa Sansekerta yang berarti “menahan diri dari ketidakjujuran” — kejujuran menjadi pedoman bertindak dan bertingkah laku dalam keseharian.

3.⁠ ⁠”Asteya” — bahasa Sansekerta untuk “tidak mencuri” — tidak ada niatan dan prilaku korupsi, mengelapan dan mengambil yang bukan hak kita.

4.⁠ ⁠”Brahmacharya” — Bahasa Sansekerta untuk “penggunaan energi seksual yang bijaksana” — dalam hal ini juga berarti bagaimana bisa menguasai tubuh dan pikiran secara bijak. Pembelajaran dan disiplin untuk memahami tubuh dan pikiran ini agar tidak terjebak nafsu seksual dan perangai ketubuhan yang merugikan ini disebut “brahmacarya”.

5.⁠ ⁠“Aparigraha” — bahasa Sansekerta untuk “tidak posesif” — tidak terjebak pada nafsu ingin menguasai atau kepemilikan.

Bhatara Yama dan para petugas pintu kematian akan memberikan nilai atau score pada “kualitas Yama” si mati yang melintas ke alam kematian.

Bhatara Yama adalah dewa atau bhatara yang menjadi semacam wasit pemberi skor dan menjebloskan si mati dalam “kelas neraka” atau “kelas surga”.

Bhatara Yama tidak bisa dibelokkan dan tidak bisa disogok oleh ritual keluarga si mati yang ditinggalkan. Sama dengan keluarga di rumah yang tidak bisa membantu kerabatnya yang sedang menjalani test kualifikasi sebuah penempatan posisi bagi yang bersangkutan. Ini semua tergantung “kualitas Yama” si mati ketika masih hidup. Kualitas dari pelaksanaan Yama tidak bisa direkayasa dengan bekal-bekal kubur atau ritual kematian. Begitu si mati jeblok dalam kualitas disiplin diri (Yama) dalam hidupnya, otomatis “mesin tercanggih AI canggih” Bhatara Yama menjebloskan si mati pada level yang memang sesuai dengan “skor disiplin moral” si mati.

Bhatara Yama adalah kekuatan kosmik yang meregulasi atau mengatur serta merekam jejak kualitas dispilin moral semua manusia untuk nantinya ditempatkan di surga atau neraka.

Dalam Hindu disebutkan jika manusia menjalankan dispilin moral atau Yama, tidak perlu menunggu mati, dalam hidupnya pun telah akan bisa menikmatinya. Sang manusia yang menjalankan lima displin moral (Panca Yama) akan otomatis memiliki kedamaian diri dalam hatinya. Memiliki keteguhan dan kekuatan diri untuk menghadapi semua ujian dalam hidupnya.

Bhatara Yama tidak hanya menunggu kematian manusia, dia juga bekerja membantu manusia baik berdisiplin moral ketat untuk bisa meneguhkan dirinya dalam kehidupannya.

Selama manusia tidak lulus dalam urusan Panca Yama, Bhatara Yama akan menjebloskan Anda ke dalam neraka, baik selama hidup dan ketika mati. Dalam bahasa Bali disebut: “Neraka idup-idup” — neraka sebelum menunggu ajal.

Jika manusia mengalami perasaan neraka dalam hidup — neraka idup-idup — dalam ajaran Hindu diberikan resepnya terdalamnya: Kasihani diri kita. Jangan sakiti diri kita. Terima diri kita jangan banyak mengeluh dan berpikirlah terus positif. Tindakan ini adalah inti dari Ahimsa: “Menghindari aniaya tindakan kejam-keji”.   Ini adalah prinsip untuk tidak menyakiti dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan. Tidak menyakiti orang lain, hewan, lingkungan, dan terutama TIDAK MENYAKITI DIRI SENDIRI. Berpikir positif terhadap diri sendiri dan terus menerus menjaga semangat hidup adalah cara untuk tidak kejam dan jahat pada diri sendiri. Sebaliknya, memikirkan hal buruk, penuh sesal dengan situasi diri sendiri, tidak mau berpikir positif dan pemalas dalam menjalani hidup adalah tindakan “ahimsa ring angga sarira” — keji pada diri sendiri.

Bhatara Yama atau Yamadipati melindungi mereka yang menyayangi dan menghargai dirinya sendiri, dengan tetap berpikir, berbuat, dan bertindak positif dalam hidup, apapun situasi yang dihadapinya. Bhatara Yama akan memberikan ganjaran “neraka idup–idup” kepada mereka yang apatis pada hidup dan membenci dirinya sendiri. [T]

 [MATI CARA HINDU (2) membahas Bhatara Yama dan NIYAMA (perilaku untuk hidup dan disiplin moral yang berfokus pada bagaimana Anda memperlakukan diri sendiri)].

BACA artikel lain dari penulis SUGI LANUS

SEBARIS DOA | Catatan Harian Sugi Lanus
Sang Hyang Eta-Eto: Memahami Kalender Hindu Bali & Baik-Buruk Hari dengan Rumusan ‘Lanus’
MAHARSI PENULIS WEDA DI NUSANTARA
Hindu Bali: Om, Ong atau Wong?
I GUSTI BAGUS SUGRIWA MEMBACA DASA BAYU
MANTRA-MANTRA NYEPI REKOMENDASI I GUSTI BAGUS SUGRIWA
“Idea-Puisika” & “Idea-Masa Lalu”
Catatan dari Pura Meduwekarang 2003: GEMPA BALI 1917, BOM BALI 2002
Peta Kosmik Tubuh Manusia Bali || Catatan Harian Sugi Lanus
Air, Agama Tirta, dan Pariwisata Bali
Perlindungan Pohon dalam Undang-Undang Bali Kuno – Renungan Pasca Bencana
Tags: hindu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Bendera” atau “Sembako” : Dari Pementasan Teater Selem Putih

Next Post

Animals Don’t Speak Human Gaungkan Kesejahteraan Ayam Lewat Festival Kekeruyuuuk

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Animals Don’t Speak Human Gaungkan Kesejahteraan Ayam Lewat Festival Kekeruyuuuk

Animals Don’t Speak Human Gaungkan Kesejahteraan Ayam Lewat Festival Kekeruyuuuk

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co