24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gumi Delod Ceking Sebagai Pusat Perguruan

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
August 18, 2024
in Esai
Gumi Delod Ceking Sebagai Pusat Perguruan

Pura Uluwatu | Foto: Didik Juliawan

GUMI Delod Ceking sejak zaman dulu dikenal sebagai pusat Perguruan Spiritual, sejak kedatangan  Dang Hyang Nirartha pada abad ke-16 yang melakukan Dharma Yatra di beberapa tempat antara lain di Goa Gong, Pura Geger, Pura Gunung Payung, Pura Batu Pageh, Pura Selonding,dan Uluwatu. Menariknya tempat-tempat tujuan Dharma Yatra di Gumi Delod Ceking adalah pesisir pantai dengan batu-batu tebing yang kukuh kokoh, dengan pandan pesisir berpudak wangi menyatu dengan tebing dan deburan ombak berbuih putih berpasir putih.

Bunga pudak yang wangi menjadi parfum alam mengharumkan tebing-tebing perkasa ibarat perjaka sedang mengundang  bidadari  yang sedang mandi di segara. Melaksanakan laku asuci laksana, anganyudaken papa mala klesa.  Airnya bersih lebih-lebih diterpa sinar mentari pagi, tampak indah nian. Tenang kala sore ketika jukung-jukung nelayan mendarat diterpa  sinar mentari berwarna jingga keperakan berserak. Sungguh menakjubkan. Membuat kalangwan. 

Suasana indah itu berhasil ditangkap oleh para seniman Pecatu melalui pentas Tari Kecak yang memukau bersatu dengan keindahan Sunset Uluwatu dengan deburan ombak membentur tebing-tebing berbatu karang. Batu karang itu ternyata menjadi sumber inspirasi  bagi seniman mengarang banyolan menghibur wisatawan. Maka alih kode dalam linguistik pun terjadilah, melalui pesan-pesan punakawan yang memukau.

Berbaurnya Bahasa Bali, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris dalam konteks berkecak membuat decak kagum para penonton yang merasa dielus-elus hatinya. Tontonan yang memberikan tuntunan.  Tari  Kecak telah membuat perbedaan bahasa menjadi cair dalam pergaulan antarbangsa. Terkelolanya perbedaan dengan semangat merdeka berkesenian membuat kalangwan bagi wisatawan saat merayakan 79 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Fenomena ini adalah wahana pendidikan yang tidak mendadak terjadinya. Sebab sampai berhasil pentas di stage bertaksu Kawasan luar Uluwatu adalah proses menjadi dalam Pendidikan. Proses yang memerlukan ketekunan dan kedisiplinan dengan konsentrasi penuh kontemplatif.

Begitulah Gumi Delod Ceking memikat Pertapa Jawa menyatu di Uluwatu. Secara etimologi, Ulu berarti Kepala dan Watu berarti Batu. Batu di posisi ketinggian, ibarat kepala manusia sebagai ulu. Karena posisi paling tinggi di antara hamparan batu tebing pantai Gumi Delod Ceking, maka stana Beliau yang kelak dikenal sebagai Pura Uluwatu menjadi Pura dengan Status Sad Kahyangan. 

Pura Uluwatu berstatus sebagai Pura Sad Kahyangan, sedangkan Pura-Pura lain yang pernah disinggahi Dang Hyang Nirartha  di Gumi Delod Ceking berstatus sebagai Pura Dang Kahyangan, kecuali Pura Geger dengan status Pura Kahyangan Jagat. Dalam konteks ke-Bali-an, Pura adalah benteng pertahanan moral spiritual masyarakat pendukungnya. Dengan kalimat lain, Pura tak ubahnya  sekolah kehidupan untuk mendidik dan menggembleng  mental spiritual umat-Nya.

Berbicara masalah pendidikan di Gumi Delod Ceking adalah berbicara masalah keberlanjutan kebudayaan bagi para pendukungnya baik bagi krama wed (warga pribumi/asal) maupun krama tamiu dengan status pendatang (urban). Baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal sebagai bagian dari  kebudayaan tampaknya sudah mendapat perhatian pemerintah di Gumi Delod Ceking ditandai dengan berdirinya  tiga kampus besar berstatus negeri, yaitu Unud, PNB, Poltekpar Bali dan dua kampus swasta Stikom Bali dan Universitas Teknologi Indonesia (UTI). Terdapat  tiga SMA Negeri, dua SMK Negeri, lima SMP Negeri, sejumlah SMP, SMA, SMK Swasta dan puluhan SD negeri dan sejumlah SD swasta. TK/PAUD Negeri, dan puluhan TK/PAUD swasta. 

Dengan demikian, di Gumi Delod Ceking, Lembaga Pendidikan dapat dikatakan lengkap dari Pendidikan Dasar, Menengah, dan Tinggi. Namun, dari ketersediaan guru, sering masih bermasalah baik dari segi jumlah, kualitas, dan distribusinya sesuai dengan mata pelajaran dan bidang keahlian di SMK.

Berdirinya  sejumlah perguruan di Gumi Delod Ceking mengingatkan kita pada perjalanan Dharma yatra Dang Hyang Nirartha yang mendirikan Pondok Sastra di kawasan Nusa Dua dengan melahirkan karya sastra Anyang Nirartha. Konon dalam tapa semadinya, Beliau telah melihat kawasan Gumi Delod Ceking bertabur sinar cahaya.

Hal itu dapat diinterpretasikan sebagai sinar taksu ilmu pengetahuan (widya) di kedalaman budhi yang memancar keluar, sehingga menjadi galang apadang, sebagai antithesis dari kegelapan (awidya) di goa peteng. Begitu pula halnya, dengan berdirinya perguruan modern di Gumi Delod Ceking, diniatkan untuk memberantas kebodohan dan kemiskinan melalui jalan terang pendidikan. Imajinasi itu kelak memang benar-benar nyata adanya. Malam bertabur cahaya lampu listrik yang indah berkat ilmu pengetahuan modern (Ipteks) yang terus-menerus dikembangkan di Lembaga Pendidikan.

Ada sejumlah makna penting yang dapat ditarik dari Gumi Delod Ceking sebagai pusat perguruan. Pertama, secara historis adalah mengaktualisasikan ajaran sastra Sang Maha Kawi Wiku untuk bertimbang rasa dalam keseimbangan sekala niskala. Boleh jadi, hal itu sudah diaktualisasikan melalui Pura Penataran yang berada di Desa Adat Kampial dengan puluhan Pura Ibu Tapa. Kalau tesis ini benar, maka semangat trisemaya : atita, nagata, wartamana berjalan secara berkelanjutannya. “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”, kata Bung Karno.

Kedua, secara geografi, Gumi Delod Ceking adalah kaki Pulau Bali. Sebagai pusat saraf yang membuat warganya bisa kokoh berdiri pantang menyerah seperti batu karang, baat tuhu, tetap kokoh walau diterjang badai. Begitulah seharusnya, warga yang mendiami Gumi Delod Ceking, selalu berguru pada karang untuk merawat integritas memuliakan Kawasan melalui jalan Pendidikan. Mendidik adalah mendidik diri-sendiri tidak mendadak dan perlu proses yang minim protes.

Ketiga, secara ekonomi berdirinya Pusat Perguruan di Gumi Delod Ceking adalah strategi pemerataan dalam konteks merta masambehan. “Alam semesta menyediakan makanan yang cukup bagi seluruh umat-Nya, tetapi tidak cukup untuk seorang yang serakah,” demikian kata para bijaksana.  Dalam konteks inilah, merawat tanah sebagai ladang utama ekonomi produktif dapat dikembangkan melalui semangat berguru penuh integritas di Perguruan modern kini. “Tidak ada jalan pintas menuju kebijaksanaan. Kebijaksanaan hanya dapat diraih melalui pengalaman hidup”, kata Mahatma Gandhi.

Keempat, secara kultural, Gumi Delod Ceking adalah tempat persembunyian bahkan pembuangan orang-orang yang bermasalah tempo doeloe yang belakangan dikenal sebagai warga yang nyineb wangsa. Nyineb wangsa adalah strategi penyelamatan untuk bisa bertahan hidup. Itu pula tampaknya yang membuat kata sapaan untuk ayah bagi orang Delod Ceking adalah sama yaitu Nanang. Belakangan, sapaan Nanang kian  menghilang, bahkan ada yang tersinggung bila dipanggil Nanang. Belum Merdeka Belajar. Inilah produk gagal dari proses berguru. Duh, Dewa Ratu! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
“Kupu-Kupu di Dalam Buku”
Gala Dinner, “Diplomasi Paon” Kelas Dunia  
Harkitnas, WWF, dan Kearifan Lokal  
Sumpah Pemuda, Momentum Memuliakan Perbedaan
Tags: BadungDesa Adat PecatuGumi Delod CekingNusa DuaPura Uluwatu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ubud Folkfest 2024: Merayakan Kemerdekaan Berkarya di Hati Ubud

Next Post

“Bendera” atau “Sembako” : Dari Pementasan Teater Selem Putih

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
“Bendera” atau “Sembako” : Dari Pementasan Teater Selem Putih

“Bendera” atau “Sembako” : Dari Pementasan Teater Selem Putih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co