23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gumi Delod Ceking Sebagai Pusat Perguruan

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
August 18, 2024
in Esai
Gumi Delod Ceking Sebagai Pusat Perguruan

Pura Uluwatu | Foto: Didik Juliawan

GUMI Delod Ceking sejak zaman dulu dikenal sebagai pusat Perguruan Spiritual, sejak kedatangan  Dang Hyang Nirartha pada abad ke-16 yang melakukan Dharma Yatra di beberapa tempat antara lain di Goa Gong, Pura Geger, Pura Gunung Payung, Pura Batu Pageh, Pura Selonding,dan Uluwatu. Menariknya tempat-tempat tujuan Dharma Yatra di Gumi Delod Ceking adalah pesisir pantai dengan batu-batu tebing yang kukuh kokoh, dengan pandan pesisir berpudak wangi menyatu dengan tebing dan deburan ombak berbuih putih berpasir putih.

Bunga pudak yang wangi menjadi parfum alam mengharumkan tebing-tebing perkasa ibarat perjaka sedang mengundang  bidadari  yang sedang mandi di segara. Melaksanakan laku asuci laksana, anganyudaken papa mala klesa.  Airnya bersih lebih-lebih diterpa sinar mentari pagi, tampak indah nian. Tenang kala sore ketika jukung-jukung nelayan mendarat diterpa  sinar mentari berwarna jingga keperakan berserak. Sungguh menakjubkan. Membuat kalangwan. 

Suasana indah itu berhasil ditangkap oleh para seniman Pecatu melalui pentas Tari Kecak yang memukau bersatu dengan keindahan Sunset Uluwatu dengan deburan ombak membentur tebing-tebing berbatu karang. Batu karang itu ternyata menjadi sumber inspirasi  bagi seniman mengarang banyolan menghibur wisatawan. Maka alih kode dalam linguistik pun terjadilah, melalui pesan-pesan punakawan yang memukau.

Berbaurnya Bahasa Bali, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris dalam konteks berkecak membuat decak kagum para penonton yang merasa dielus-elus hatinya. Tontonan yang memberikan tuntunan.  Tari  Kecak telah membuat perbedaan bahasa menjadi cair dalam pergaulan antarbangsa. Terkelolanya perbedaan dengan semangat merdeka berkesenian membuat kalangwan bagi wisatawan saat merayakan 79 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Fenomena ini adalah wahana pendidikan yang tidak mendadak terjadinya. Sebab sampai berhasil pentas di stage bertaksu Kawasan luar Uluwatu adalah proses menjadi dalam Pendidikan. Proses yang memerlukan ketekunan dan kedisiplinan dengan konsentrasi penuh kontemplatif.

Begitulah Gumi Delod Ceking memikat Pertapa Jawa menyatu di Uluwatu. Secara etimologi, Ulu berarti Kepala dan Watu berarti Batu. Batu di posisi ketinggian, ibarat kepala manusia sebagai ulu. Karena posisi paling tinggi di antara hamparan batu tebing pantai Gumi Delod Ceking, maka stana Beliau yang kelak dikenal sebagai Pura Uluwatu menjadi Pura dengan Status Sad Kahyangan. 

Pura Uluwatu berstatus sebagai Pura Sad Kahyangan, sedangkan Pura-Pura lain yang pernah disinggahi Dang Hyang Nirartha  di Gumi Delod Ceking berstatus sebagai Pura Dang Kahyangan, kecuali Pura Geger dengan status Pura Kahyangan Jagat. Dalam konteks ke-Bali-an, Pura adalah benteng pertahanan moral spiritual masyarakat pendukungnya. Dengan kalimat lain, Pura tak ubahnya  sekolah kehidupan untuk mendidik dan menggembleng  mental spiritual umat-Nya.

Berbicara masalah pendidikan di Gumi Delod Ceking adalah berbicara masalah keberlanjutan kebudayaan bagi para pendukungnya baik bagi krama wed (warga pribumi/asal) maupun krama tamiu dengan status pendatang (urban). Baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal sebagai bagian dari  kebudayaan tampaknya sudah mendapat perhatian pemerintah di Gumi Delod Ceking ditandai dengan berdirinya  tiga kampus besar berstatus negeri, yaitu Unud, PNB, Poltekpar Bali dan dua kampus swasta Stikom Bali dan Universitas Teknologi Indonesia (UTI). Terdapat  tiga SMA Negeri, dua SMK Negeri, lima SMP Negeri, sejumlah SMP, SMA, SMK Swasta dan puluhan SD negeri dan sejumlah SD swasta. TK/PAUD Negeri, dan puluhan TK/PAUD swasta. 

Dengan demikian, di Gumi Delod Ceking, Lembaga Pendidikan dapat dikatakan lengkap dari Pendidikan Dasar, Menengah, dan Tinggi. Namun, dari ketersediaan guru, sering masih bermasalah baik dari segi jumlah, kualitas, dan distribusinya sesuai dengan mata pelajaran dan bidang keahlian di SMK.

Berdirinya  sejumlah perguruan di Gumi Delod Ceking mengingatkan kita pada perjalanan Dharma yatra Dang Hyang Nirartha yang mendirikan Pondok Sastra di kawasan Nusa Dua dengan melahirkan karya sastra Anyang Nirartha. Konon dalam tapa semadinya, Beliau telah melihat kawasan Gumi Delod Ceking bertabur sinar cahaya.

Hal itu dapat diinterpretasikan sebagai sinar taksu ilmu pengetahuan (widya) di kedalaman budhi yang memancar keluar, sehingga menjadi galang apadang, sebagai antithesis dari kegelapan (awidya) di goa peteng. Begitu pula halnya, dengan berdirinya perguruan modern di Gumi Delod Ceking, diniatkan untuk memberantas kebodohan dan kemiskinan melalui jalan terang pendidikan. Imajinasi itu kelak memang benar-benar nyata adanya. Malam bertabur cahaya lampu listrik yang indah berkat ilmu pengetahuan modern (Ipteks) yang terus-menerus dikembangkan di Lembaga Pendidikan.

Ada sejumlah makna penting yang dapat ditarik dari Gumi Delod Ceking sebagai pusat perguruan. Pertama, secara historis adalah mengaktualisasikan ajaran sastra Sang Maha Kawi Wiku untuk bertimbang rasa dalam keseimbangan sekala niskala. Boleh jadi, hal itu sudah diaktualisasikan melalui Pura Penataran yang berada di Desa Adat Kampial dengan puluhan Pura Ibu Tapa. Kalau tesis ini benar, maka semangat trisemaya : atita, nagata, wartamana berjalan secara berkelanjutannya. “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”, kata Bung Karno.

Kedua, secara geografi, Gumi Delod Ceking adalah kaki Pulau Bali. Sebagai pusat saraf yang membuat warganya bisa kokoh berdiri pantang menyerah seperti batu karang, baat tuhu, tetap kokoh walau diterjang badai. Begitulah seharusnya, warga yang mendiami Gumi Delod Ceking, selalu berguru pada karang untuk merawat integritas memuliakan Kawasan melalui jalan Pendidikan. Mendidik adalah mendidik diri-sendiri tidak mendadak dan perlu proses yang minim protes.

Ketiga, secara ekonomi berdirinya Pusat Perguruan di Gumi Delod Ceking adalah strategi pemerataan dalam konteks merta masambehan. “Alam semesta menyediakan makanan yang cukup bagi seluruh umat-Nya, tetapi tidak cukup untuk seorang yang serakah,” demikian kata para bijaksana.  Dalam konteks inilah, merawat tanah sebagai ladang utama ekonomi produktif dapat dikembangkan melalui semangat berguru penuh integritas di Perguruan modern kini. “Tidak ada jalan pintas menuju kebijaksanaan. Kebijaksanaan hanya dapat diraih melalui pengalaman hidup”, kata Mahatma Gandhi.

Keempat, secara kultural, Gumi Delod Ceking adalah tempat persembunyian bahkan pembuangan orang-orang yang bermasalah tempo doeloe yang belakangan dikenal sebagai warga yang nyineb wangsa. Nyineb wangsa adalah strategi penyelamatan untuk bisa bertahan hidup. Itu pula tampaknya yang membuat kata sapaan untuk ayah bagi orang Delod Ceking adalah sama yaitu Nanang. Belakangan, sapaan Nanang kian  menghilang, bahkan ada yang tersinggung bila dipanggil Nanang. Belum Merdeka Belajar. Inilah produk gagal dari proses berguru. Duh, Dewa Ratu! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

Ibu Tapa dan Pura Penataran Kampial, Keistimewaan Lain dari Gumi Delod Ceking 
Gumi Delod Ceking dan Dadu yang Terbalik
“Kupu-Kupu di Dalam Buku”
Gala Dinner, “Diplomasi Paon” Kelas Dunia  
Harkitnas, WWF, dan Kearifan Lokal  
Sumpah Pemuda, Momentum Memuliakan Perbedaan
Tags: BadungDesa Adat PecatuGumi Delod CekingNusa DuaPura Uluwatu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ubud Folkfest 2024: Merayakan Kemerdekaan Berkarya di Hati Ubud

Next Post

“Bendera” atau “Sembako” : Dari Pementasan Teater Selem Putih

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
“Bendera” atau “Sembako” : Dari Pementasan Teater Selem Putih

“Bendera” atau “Sembako” : Dari Pementasan Teater Selem Putih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co