24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Relasi Ekosistem Kesenian dan Festival

I Wayan Artika by I Wayan Artika
August 16, 2024
in Esai
Relasi Ekosistem Kesenian dan Festival

RELASI EKOSISTEM KESENIAN DAN FESTIVAL[1]

Oleh I Wayan Artika[2]

Ekosistem adalah lingkungan hidup mahluk hidup. Pada awalnya digunakan untuk menyebut lingkungan biologi. Kini ekosistem juga digunakn untuk menyebut lingkungan sosial atau budaya. Kehidupan manusia dalam konteks kesenian juga melahirkan istilah ekosistem seni (kesenian dan berkesenian).

Dengan berpijak pada konsep ekosistem, kehidupan masyarakat Bali ada di dalam berbagai ekosistem sosial, budaya, ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Masyarakat Bali termasuk sangat pruralistik dari aspek ekosistemnya.

Subak misanya adalah sebuah ekosistem. Tidak hanya ekosistem biologi. Subak juga ekosistem budaya, ekonomi, konservasi lingkungan (air, tanah).

Ada pula ekosistem-ekosistem relasi sosial. Ekosistem ini dibangun berdasarkan ikatan-ikatan sosial dan historis.

Ekosistem seni adalah kehidupan manusia dalam lingkungan kesenian yang mereka bangun. Di dalam ekosistem itulah kesenian Bali tumbuh. Kesenian menjadi ”lembaga” di dalam setiap ekosistem sosial. Desa-desa memiliki kesenian barong, gambuh, wayang kulit, sastra, genjek, rengganis, dan lain sebagainya.

Melihat keberadaan kesenian dalam masyarakat; berpikir tentang ekosistem seni maka kesenian bukan merupakan ekosistem yang mandiri tetapi mirip sebagai subekosistem. tidak bersifat mandiri atau terlepas/terisolasi dari masyarakatnya.

Odalan dan perayaan hari-hari raya serta peristiwa-peristiwa adat yang sangat meriah dan memberi rasa gembira bersama-sama. Karena itu, odalan dan perayaan hari raya selalu ditunggu. Hal ini sejalan dengan pengertian festival.

Festival seringkali identik dengan perayaan, sehingga istilah ini merupakan hal yang sering kita temui karena berperan penting untuk menambah struktur sosial dalam kehidupan di lingkungan sosial yang bisanya memperkuat rasa kebersamaan serta sebagai upaya untuk membantu kita menjaga hubungan dengan akar budaya dan melestarikannya.

Oleh karena itulah festival secara umum bisa diartikan sebagai perayaan, hiburan, atau rangkaian pertunjukan dengan jenis tertentu, sering diadakan secara berkala. Festival yang seringkali diadakan misalnya festival nasional, festival keagamaan, dan festival musiman. Jenis festival itu sendiri pun beragam di antaranya yaitu festival musik, festival film, festival makanan, festival seni, dan festival budaya. Berbagai contoh perayaan festival dapat ditemui baik di dalam negeri maupun di luar negeri, khususnya Indonesia sebagai negara yang memiliki keberagaman budaya tentu memiliki perayaan budaya yang sangat beragam.

Berdasarkan berbagai penjelasan, festival adalah acara pesta atau perayaan, yang terutama berkaitan dengan hari atau waktu penting yang berulang secara berkala; berupa rangkaian acara yang terorganisir bertujuan untuk suatu perayaan bersama. Karena itu, festival merupakan sarana komunikasi sosial yang penting guna membangun, memberdayakan, dan pengakuan suatu identitas budaya.

Penjelasan tersebut relevan dengan berbagai perayaan di Bali. Sehingga perspektif barat sering menyebut perayaan-perayaan di Bali (odalan, saba, karya) dengan festival (contoh sebuah artikel yang ditulis tahun 1979 berjudul “The Eleven Powers: The Festival of Eka Dasa Rudra” atau “Galungan Festival in Bali: A Celebration of Spiritual Renewal”) atau ceremony.

Kesenian yang hidup di dalam ekosistem adat, desa, subak, klan atau relasi sosial tumbuh sejalan dengan dinamika ekosistem. Kesenian mendapatkan berbagai imbas dari kehidupan ekosistem tersebut. Tampak secara tidak langsung peranan ekosistem adat sangat besar dalam kehidupan seni. Hal itu masih berlangsung sampai saat ini.

Perkembangan masyarakat Bali karena dipicu oleh penjajahan, nasionalisasi Indonesia, pendidikan modern, pariwisata, dan urbanisasi dari pedesaan ke kota; dapat dilihat dalam bidang perkembangan ekosistem kesenian dan munculnya berbagai festival.

Festival selalu berkaitan dengan kehiduapan di dalam ekosistem republik desa adat. Kemudian setelah kemerdekaan, dikenal pameran Pembangunan dan pawai pembangunan. Hal itu berhubungan dengan adanya perayaan baru di Bali yaitu perayaan keindonesiaan atau agustusan, di luar odalan, ngaben, pernikahan, tiga bulanan, potong gigi, mlaspas atau peresmian bangunan.

Perayaan-baru memberi angin segar kemeriahan masyarakat. Kini ekosistem kesenian atau kemeriahan itu juga ada di pihak pemerintah sebagai penyelenggara. Sampai kurang lebih dua dekade setelah Indonesia merdeka, persaingan ideologi partai politik berperan penting dalam menghidupkan ekosistem kesenian atau perayaan yang sangat meriah dan progresif. Sebagaimana peran kesenian dalam ekosistem desa adat di Bali yang terintegrasi kuat dan memiliki fungsi sosial dan agama; kesenian, perayaan, atau pesta-pesta rakyat yang berbau kental politik; menjadi organ partai.

Kesenian memang tumbuh di ekosistemnya sendiri. Bisa berupa ekosistem republik desa. Bisa pula ekosistem ideologi dan partai. Pun di dalam ekosistem pemerintah.

Ekosistem pemerintah pernah berperan sangat dominan selama periode Orde Baru. Kesenian memang tumbuh tetapi harus sejalan dengan pemerintah Orde Baru. Di Tengah keadaan ini kemudian muncul ekosistem alternatif atau ekosistem seni yang dituduh subversif. Potensi perlawanan sangat tinggi namun sudah barang tentu tidak sanggup mengalahkan ekosistem yang dominan. Pemerintah memetakan keberadaan ekosistem-ekosistem kesenian itu sebagai ekosistem subversif, seperti pelarangan pentas Teater Koma, pelarangan baca puisi W.S. Rendra, bahkan sampai akhir kekuasaan Orde Baru Wiji Thukul hilang sampai saat ini tidak jelas keberadaannya. Hal ini menjadi dasar pertimbangan untuk menghancurkan ekosistem alternatif tersebut.

Berbagai ekosistem kesenian setelah Reformasi 1998 tumbuh sebagai lanjutan ekosistem-ekosistem alternatif/subvrsif era Orde Baru yang ditekan dan tidak diberi ruang gerak. Berkembangkan ekosistem kesenian setelah Reformasi tidak serta merta mengurangi peran pemerintah. Namun pada era ini pemerintah tidak lagi dominan sebagai pemilik ekosistem. Di luar pemerintah mulai tumbuh ekosistem kesenian karena adanya kebebasan dari pemerintah.

Semasa Orde Baru festival mengambil waktu pada bulan Agustus. Kesenian yang ditampilkan adalah pawai dan pameran pembangunan. Materi-materinya adalah romantisme perang kemerdekaan. Di sini festival berfungsi sebagai pesta rakyat untuk suatu peringatan peristiwa sejarah dan sekaligus untuk mewariskan nilai-nilai nasionalisme. Festival agustusan memang bukan sebagai festival seni semata karena di dalamnya ada beberapa materi di luar kesenian, seperti permainan anak-anak dengan meniru permainan di dunia fantasi, pasar malam, dan komidi putar.

Pada periode stagnasi ketika segala harapan terhadap reformasi telah berakhir, kota-kota menggas festival baru yang bertujuan untuk mengatasi rasa jenuh terhadap festival perayaan agustusan. Bali mulai mengenal festival baru sejak 2008 (Gajah Mada Town Festival disingkat GMTF) Pada saat itu, Pemerintah Kota Denpasar melaksanakan GMTF dengan pengaturan sebuah street festival untuk mendukung program revitalisasi kawasan legendaris Gajah Mada sebagai kawasan heritage atau pusaka budaya. Bertemakan Inspirational Memories, GMTF berhasil menjawab kerinduan masa lalu akan hiruk-pikuk kawasan Gajah Mada sebagai pusat pemukiman multietnis, perekonomian, hiburan dan gastronomi ternama di Bali pada masa tahun 1960-1980- an.

Hal ini juga terjadi kemudian di Jembrana dengan festival Loloan Zaman Lame, misalnya.  Konsep festival budaya Loloan sama dengan GMTF, termasuk adanya kerinduan kepada masa lalu kehidupan di Kampung Melayu Loloan. Kedua festival ini bertujuan membawa masyarakat, warga kota atau kampung dan bahkan orang di luarnya untuk kembali ke masa lalu. Masa lalu Jalan Gajah Mada atau Kampung Loloan tidak hanya cukup diceritakan secara lisan atau dijumpai di dalam arsip (foto-foto) tetapi dibangun lagi untuk dialami. Festival sebagai jalan nostalgia menyediakan berbagai artefak, seperti masakan, aneka kue, mode, musik, permainan, dan lain-lain yang sejauh mungkin dapat dihadirkan kembali.

Kemeriahan festival terjadi karena melibatkan berbagai kalangan sehingga tidak elitis. Hal ini menjadi daya dorong tumbuhnya berbagai jenis festival di mana-mana. Festival yang mengusung ide atau gagasan peragaan busana di jalan telah ditiru di berbagai kota di Indonesia. Demikian pula halnya dengan festival-festival kota, sastra (di Ubud misalnya dan sejak setahun lalu dilakukan di Kota Singaraja dengan tajuk Singaraja Literary Festival).

Menghubungkan festival dengan kesenian tidak sepenuhnya tepat. Festival tidak selalu identik dengan kesenian. Kecuali memang sejak awal diniatkan secara khusus, seperti festival tari, musik, teater, film, dan lain sebagainya. Festival lebih kompleks karena terdiri atas berbagai aspek, sesuai dengan keinginan penggagasnya.

PKB (Pesta Kesenian Bali) adalah festival tertua di Bali yang digagas oleh Bapak Profesor Ida Bagus Mantra. Ini merupakan festival negara yang lahir pada dekade-dekade awal pemerintahan Orde Baru dan telah mampu melewati berbagai peristiwa sejarah kontemporer. Sepanjang sejarahnya itu, PKB dapat menyandingi festival resmi negara, yaitu perayaan agustusan.

PKB berperan besar dalam menjamin tumbuhnya ekosistem kesenian di Bali, seperti seka. Peran ini tampak ketika PKB telah mampu menjadi motivator dan generator berkesenain yang menjadi daya hidup yang bermuara pada arena tahunan PKB. Dalam praktinya, taksu ”festival” PKB berbasis pada relasi masyarakat dengan keseniannya dan pengelolaan profesional pemerintah dalam bidang kesenian. Maka hubungan festival dan kehidupan ekosistem seni dapat dipelajari dari PKB. PKB adalah model hubungan yang paling ideal antara festival dan keberlangsungan ekosistem kesenian. Jauh sebelum kota-kota di Indonesia mengenal festival, Bali telah memulai, yaitu PKB. Hal ini merupakan prestasi pemerintah dalam pembangunan kesenian. Dampak pembangunan ini adalah terbinanya apreasiasi masyarakat Bali terhadap berbagai genre kesenian yang dimiliki.

Di tengah surutnya festival agustusan dan kehadiran PKB pada setiap tahun bertepan dengan liburan sekolah yang selalu ditunggu-tunggu; memang muncul festival-festival baru di Bali dalam berbagi ”ukuran”. Hal ini tidak terlepas dari potensi-potensi yang dimiliki oleh suatu kabupaten, desa, atau suatu kawasan pariwisata, seperti Festival Lovina di kawasan pariwisata Pantai Lovina (Singaraja). Kehadiran festival-festival ini dapat dilihat secara krtiis. Festival-festival baru adalah kebutuhan bersama untuk berbagai tujuan (nostalgia, penghargaan, pengkajian, pengalaman, penebus rasa kehilangan suatu warisan atau nilai lama, pelestarian, nostalgia identitas leluhur, ekonomi kreatif, membangun hubungan generasi baru dengan kehidupan para leluhur). Karena itu, ide untuk membangun festival, lebih diutamakan ketimbang usaha membangun ekosistem pendukung festival.

Jika paradigma ini dipilih maka festival tidak dapat membantu tumbuhnya ekosistem kesenian. Dengan konsep pembangunan ekosistem kesenian, maka agenda festival (seni) harus melakukan serangkaian program jauh-jauh hari sebelum suatu festival dilaksanakan. Pada umumnya ide-ide festival tidak sampai menjangkau kehidupan ekosistem seni. Festival seolah hanya ingin menghadirkan kesenian tanpa harus terlibat dalam memelihara ekosistemnya. Hubungan-hubungan antara ekosistem seni dan festival masih harus dikaji. Memang ada kemungkinan bahwa pada konstelasi ekosistem dan festival; adalah dua pihak yang memiliki agenda tersendiri atau bahkan sepihak (utamanya dari sisi penggagas atau penyelenggara festival). Karena itu, suatu ekosistem seni tertentu sebagai pihak tersendiri, tumbuh dan mengharap suatu festival untuk mempertunjukkan kekayaan karya seni. Sementara itu, festival hanya berkepentingan pada membangun arena.

Pada kasus PKB konstelasi itu terjadi secara harmonis. Ekosistem seni telah hidup di desa-desa sejak masa lampau hingga hari ini. PKB selalu bermuara pada gagasan awal: arena bagi kesenian Bali di tengah perubahan. Lewat peran pemerintah, menjadikan PKB sebagai festival negara dalam bidang khusus yakni kesenian Bali.

PKB telah memberi peran besar untuk tetap tubuhnya ekosistem  kesenian di desa-desa. Sebagai sebuah festival, PKB mengambil langkah yang tepat: menyediakan arena baru bagi kesenian Bali dengan zaminan keberlanjutan di tangan pemerintah provinsi. Atas prestasi ini, tidak menutup peluang untuk lahirnya festival  baru, setelah PKB dalam ”ukuran” besar dengan mengadopsi model festival PKB, bukan semata gagasan besarnya tetapi juga karena festival ini telah mampu dipertahankan dan dikembangkan oleh para pemimpin daerah beserta seluruh jajarannya, yaitu seni bali jani (FSBJ). Sehubungan dengan hal ini, masih harus dipertanyakan, dimanakan ekosistem seni Bali jani saat ini?

Pada kasus tumbuhnya berbagai festival, masih ada gejala bahwa yang lebih diutamakan adalah festivalnya. Materi-materi festival yang bersumber pada ekosistem kesenian tidak ditangani karena dipandang sudah siap disajikan di dalam ajang festival. Ekosistem kesenian muingkin tetap tumbuh dengan sendirinya tanpa peran festival. Mungkin pula mati!

Penyelenggaraan festival seni bisa lebih mudah dilakukan ketimbang membangun ekosistemnya. Ekosistem berhubungan dengan proses hidup yang natural dan historis.

Hubungan festival dan ekosistem seni bisa dalam pola timbal-balik. Festival memicu pertumbuhan dan perkembangan ekosistem kesenian. Ekosistem kesenian memicu terselenggaranya festival. Pada konteks seni tradisi, ekosistemnya sudah ada dan hidup berdampingan dengan masyarakat atau berada di bawah ekosistem besarnya, seperti desa adat. Lalu ada odalan di berbagai pura sebagai festivalnya. Sementara itu, semaraknya festival akhir-akhir ini bertitik tolak dari ekosistem yang sudah ada.

Pertumbuhan festival di kota-kota, termasuk di kota-kota kecil yang sebelumnya tidak dikenal secara luas, di desa atau kampung, bermula dari gagasan perseorangan. Hal ini terlihat pada Jember Fashion Carnival (JFC) yang digagas oleh Dynand Fariz (desainer), Ubud Food Festival and Ubud Writers & Readers Festival dengan pendirinya Janet DeNeefe atau Loloan Zaman Lame oleh Kepala Lingkungan Loloan Timur.

Festival-festival seni biasanya memiliki program, yang tampak pada tema festival dan berbagai mata acara. Di dalam program itulah bisa dilihat peranan festival dalam menghidupkan ekosistem-ekosistem kesenian. Dalam rangka berperan terhadap keberlangsungan komunitas seni, sebuah festival harus mengambil bagian di dalam pembangunan ekosistem.

Jika pengaruh atau reputasi sebuah festival sangat besar, maka ini sudah cukup untuk menggerakan pertumbuhan ekosistem. Peran secara langsung festival tidak diperlukan lagi. Ekosistem kesenian berkembang. Reputasi sebuah festival, seperti JFC, tidak hanya membangun ekosistem kesenian di Kota Jember dan sekitarnya tetapi memicu berkembangnya ekosistem sejenis di kota-kota yang jauh dari Jember.

Jika sebuah festival berjalan sendiri, tidak dapat membangun ekosistem kesenian. Pembangunan ekosistem seni harus menjadi program festival. Bukan hanya festivalnya yang dipentingkan tetapi pembangunan komunitas jauh sebelum festival dilaksanakan. Festival-festival yang ada belum sampai kepada pembangunan ekositem seni. Festival-festival itu baru sebatas menyediakan arena bagi kekayaan seni yang sudah tumbuh di ekosistemnya.


[1] Disampaikan pada acara Timbang Rasa (Sarasehan) PERAN FESTIVAL MEMBANGUN KEBERLANJUTAN EKOSISTEM KESENIAN, Waktu : Kamis, 15 Agustus 2024, pukul 10.00 WITA, Tempat : Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali

[2] Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum., Dosen Undiksha

BACA esai-esai lain dari penulis I WAYAN ARTIKA

Tulisan Ilmiah dan Esai
Gagal Menulis Esai
Masa Lalu yang Bercerita dan Struktur Naratif Ingatan
Tags: ekosistem kesenianfestival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Refleksi Kemerdekaan dan Warisan Diplomasi Indonesia untuk Dunia

Next Post

Dari Flores ke Kampus Impian: Cerita dari PKKMB Undiksha Singaraja 2024

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Dari Flores ke Kampus Impian: Cerita dari PKKMB Undiksha Singaraja 2024

Dari Flores ke Kampus Impian: Cerita dari PKKMB Undiksha Singaraja 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co