2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masa Lalu yang Bercerita dan Struktur Naratif Ingatan

I Wayan Artika by I Wayan Artika
July 10, 2023
in Esai
Masa Lalu yang Bercerita dan Struktur Naratif Ingatan

I Wayan Artika

—- Dipersiapakan dalam rangka diskusi draft novel Enigma

MASA KECIL adalah masa lalu. Bagi siapapun, biografi telah menjadi masa lalu. Setiap orang punya masa lalu yang disimpan dalam ingatan. Kini masa lalu telah berpindah ke dalam dunia digital. FB, misalnya, tempat menyimpan masa lalu. Setiap orang pernah menceritakan masa lalunya. Pada keluarga, sahabat, rekan kerja, istri, dan lain-lain.

Bagi kaum penulis atau pengarang, masa lalu adalah kekayaan. Untuk dijadikan tulisan atau karangan.

Sayang sekali jumlah penulis sedikit. Tidak semua orang menceritakan atau menulis masa lalunya dalam buku-buku biografi atau sastra. Jika semua orang di muka bumi menulis masa lalunya maka penerbitan atau percetakan akan kewalahan bekerja. Dunia ini dipenuhi berbagai teks bergenre biografi.

Memang hanya para penulis menulis kisah masa lalunya.

Mengarang adalah kegiatan yang sadar untuk jujur dan berbohong. Terutama kebohongan akan dijustifikasi dalam tulisan. Menulis tak ubahnya sebagai pengakuan atas diri sendiri. Sementara itu, mengarang adalah mengedit materi realitas atau pengalaman. Karena itu, tulisan atau karangan adalah hanya 15 persen kebenaran. Yang 85 persen juga kebenaran tetapi telah disiasati secara kreatif dan psikologis oleh pengarangnya.

Dalam sastra ada istilah fiksi atau rekaan. Ini kata untuk memisahkan realitas dan fakta. Ini kata untuk melindungi sastrawan yang berbohong. Namun demikian, ilmu sastra menyadari keadaan seperti itu. Hal ini tampak dalam pendekatan yang disampaikan oleh M.H. Abrams. Sastra adalah mimesis atau representasi alam dan hidup manusia. Sastra adalah pragmatic atau manfaat bagi manusia. Sastra adalah otonom yakni struktur yang mandiri dan tidak berhubungan dengan variable-variabel di luar Bahasa dan struktur naratif. Dan, sastra adalah ekspresif atau pengalaman para pengarang.

Dari keempat pendekatan itu, maka Enigma adalah ekspresif. Sudah amat jelas karena novel ini biografis. Ada hubungan yang kuat dan mendasar dengan pengarang. Novel ini ditulis oleh pengarang sendiri mengenai masa lalunya. Hubungan itu sengaja diakui dengan pernyataan yang eksplisit dalam judul. Novel ini musti dibaca sebagai sebuah riwayat hidup pengarang.

Masa lalu itu bercerita lewat sosok. Cerita masa lalu itu diterima oleh Nyoman Sukma selaku pengarang yang berada pada masa kini. Masa lalu memiliki sosok tersendiri. Sosok masa kini melihat sosok masa lalu. Hal ini terjadi hanya secara sepihak karena sosok masa lalu sama sekali tidak mungkin melihat sosok masa kini, yang sejak dari masa itu disebut dengan masa depan. Mereka berdialog. Dialog yang dikendalikan hanya oleh sosok masa kini. Kondisi ini seperti yang terjadi dalam wawancara Najwa dengan Prabowo.

Pada satu segemen, tim kreatif acara Mata Najwa menampilkan foto sosok Prabowo remaja. ”Pak Prabowo, apa yang Bapak dapat katakan kepada Prabowo dalam foto itu?” Segemen ini dengan jelas menunjukkan bahwa ada sosok yang berbeda di masa lalu dan masa kini. Demikianlah Nyoman Sukma Arida melihat dan memperlakukan sosok masa lalu dan seluruh ceritanya

Melalui pola sosok-sosok itu, kehidupan manusia adalah fase-fase yang berubah sesuai dengan tahapan tertentu. Pada setiap tahapan itu hadir tokoh tersendiri. Mirip dengan metamorofisis sempurna. Semua sosok itu pernah mencapai suatu tahapan (telor, larva, ulat, kepompong, dan kupu-kupu atau kumbang). Itu telah menentukan tahapan terkini.

Novel ini menjadi sorot balik sebuah metamorfosis. Hasil sorot balik itu adalah kisah yang dikemas dalam buku sastra berjudul Enigma.

Karena novel ini ditulis dari masa kini oleh sosok yang paling mutakhir yang berada pada bagian “akhir” tahapan, untuk sementara waktu; maka ia memiliki kuasa kepada masa lalu dan sosok-sosoknya. Mereka tidak dibiarkan bercerita apa adanya. Sosok yang menulis cerita dari masa sekarang itu kini turut campur dengan pikiran atau kehidupan sosok masa lalunya. Kutipan di bawah ini dapat menjadi suatu bukti.

Pikiran kanakku sudah memahami; pastilah mahal barang bernilai seni tinggi itu. Hanya turis-turis yang kulihat mampu membelinya. Batinku, perlu berapa helai kain batik jualan meme untuk bisa memiliki lukisan itu? Saya tak mampu mengkalkulasinya. Akhirnya keinginan memiliki lukisan khas Pengosekan itu terus kupendam. Kupuaskan mata hanya dengan menatapnya lekat. (hal. 77)

Isi kutipan di atas bentuk campur tangan kepada sosok masa lalu. Ketika itu sosok masa lalu tidak memiliki pandangan yang demikian. Dalam tulisan biografi, masa lalu itu dihadirkan tidak murni lagi. Dia tidak lagi realitas. Di tangan sosok masa kini, dia sudah menjadi konstruksi, sesuatu yang dibangun. Masa lalu pun tidak emik dari sosok yang hidup di dalamnya. Masa lalu itu etik dilihat dari masa kini, dari luar, dari jarak waktu, dari diakronisme!

Kutipan di bawah ini juga menunjukkan interpensi dari masa kini.

… sehingga tak sempat menyaksikan perbukitan di kaki pulau Bali dalam perjalanan pulang. (hal. 79)

Kala itu, si sosok yang dimaksud oleh kutipan di atas, tidak yakin memiliki pandangan yang sedemikian. Pandangan bahwa ”menyaksikan perbukitan di kaki pulau Bali dalam perjalanan pulang.” adalah putis. Namun ini lahir dalam sorot balik atau ziarah ke masa lalu.

Novel-novel sorot balik ke masa lalu ada dalam struktur memandang semua kenangan dengan cara saat ini, dijadikan semacam perspektif untuk melihat masa lalu itu. Ini adalah penglihatan yang tidak jujur. Penglihatan yang campur tangan.

Dari satu gulungan utuh dan tiada putus, masa lalu itu hanya dibangun dalam ingatan seperti grafik. Ada puncak-puncak ingatan. Entah puncak yang baik atau buruk dan semua hal yang mengacu hal itu dalam kehidupan ini. Novel ini pun memilih kisah-kisah yang paling membekas atau paling kuat dalam ingatan. Ada beberapa puncak ingatan tentang sejumlah peristiwa. Novel ini melakukan pilihan-pilihan puncak ingatan pengarangnya.

Komentar atau sejenis catatan yang paling penting tentu saja struktur naratif ingatan. Ingatan memiliki struktur tertentu. Di dalamnya tampak kisah-kisah yang mana membekas dalam dan sedemikian permanen di dalam dunia ingatan seseorang.

Struktur naratif ingatan memiliki alasan dan sejarah sehubungan dengan hal-hal apa saja yang diingat. Bahkan, berpengaruh kepada masa depan orang yang bersangkutan, si empunya ingatan. Itulah semua menjadi nisan-nisan yang diziarahi. Bagi pengarang itulah yang selalu menjadi repertoar karya sastra. Lewat pendekatan ekspresifnya M.H. Abrams, sastra yang bersumber pada ingatan pengarang dapat dijelaskan secara ilmiah.

Pertnyaan yang tidak penting bagi penulis. Kepada siapa karya ini diharapkan akan dibaca? Gao tidak peduli hal itu. Ia menuls untuk dirinya sendiri! Apakah Anne Frank menulis catatan perang untuk pembaca di seluruh dunia? Pun Soe Hok Gie? Tapi dalam perkara ini penulis surat lebih realistis. Surat-surat R.A. Kartini ditulis untuk dibaca oleh sahabat-sahabat korespodensinya di Negeri Belanda.

Namun demikian, pembaca mungkin bisa jadi tamu tak diundang namun memiliki hikmah besar bagi penulis.

Artinya tidak cukup sebatas diri sendiri. Pembaca adalah koloni legitimasi bagi para penulis. Hal ini tidak hanya meligitimasi penulis tetapi juga meligitimasi pembaca lain dalam relasi di ranah masyaraakat pembaca. Kelak ini dijadikan pasar oleh kapitalisme cetak dengan mesin produksi industri dan jaringan distribusi toko buku.

Karena itu, terhadap kutipan ini:

Dengan penuh harap saya menunggu kendaraan truk pasir yang bisa ditumpangi hingga kota kabupaten, Gianyar, di mana sekolah SMA ku berada. Bila truk menyalakan sign lampu ke arah kanan, artinya itu berkah bagiku, truk tersebut akan menuju kota Gianyar, kota tujuanku. Kedatangan truk ditandai dengan suara gemuruh dan sorot lampu depan yang jauh lebih terang daripada kendaraan biasa. Bila ada truk yang melintas, saya akan melihat situasi di sekelilingku terlebih dahulu.

Siapakah yang terketuk? Sebab dalam dunia sejarah, makna hanya terbentuk di antara generasi yang sezaman atau yang mengalami. Maka pelajaran sejarah adalah usaha untuk mengalamkan atau menjadikan genarasi yang belajar ada di dalam sejarah tersebut. Pengajaran sejarah adalah menarik siswa untuk masuk ke dalam zamannya.

Kutipan di atas, mungkin tepat bagi generasi yang mengalami. Tapi tidak sejalan dengan generasi di luar zamannya. Novel ini apakah sanggup membawa masuk pembaca ke dalam dunia anak SMA naik teruk pasir ke sekolah?

Demikian beberapa konsep yang diajukan dalam diskusi draft novel autibiografi Enigma karya Nyoman Sukma Arida. Selebihnya novel ini telah mencapai kualitas narasi yang sangat bagus. Yang perlu mendapat catatan adalah penyelarasan bahasa.[T]

Literasi Dasar: Hubungan Abadi Antara Manusia dan Pengetahuan, Konstruksi dan Konsumsi
Teknodigital | Catatan Pengantar Buku Cerpen “Penari” Karya DN Sarjana
Linieritas Peristiwa Teks dan Pengalaman Individu | Membaca Persoalan Klasik dalam Cerpen “Pura Subak” Karya DN Sarjana
Penerjemahan Roman “Mlantjaran ka Sasak” dan Gugatan Terhadap Pujangga Baru
Tags: esainovelsastrasastra balisastra bali modernSastra Indonesiasastrawansastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pribadi Anda Adalah Unik

Next Post

Seniman dari Bekasi, Ajak Penonton Ikut Menari

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Seniman dari Bekasi, Ajak Penonton Ikut Menari

Seniman dari Bekasi, Ajak Penonton Ikut Menari

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co