23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pariwisata Bali: Riwayatmu Dulu dan Kini

Chusmeru by Chusmeru
July 29, 2024
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

“Tulisan ini didedikasikan untuk Prof. Ida Bagus Adnyana Manuaba, pendiri Program Studi Ilmu Kepariwisataan, Universitas Udayana, Bali”

MEMBANDINGKAN Bali serta pariwisatanya di masa lalu dan kini bagaikan memandang suasana tengah malam dan siang hari. Antara ketenangan dan kesejukan di waktu dulu dengan kesemerawutan dan kepengapan di saat sekarang. Bali yang dulu ramah, kini menjadi beringas.

Bali sedang tidak baik-baik saja. Bali sedang banyak masalah. Begitu kira-kira tanggapan banyak orang tentang Bali. Pariwisata dituding sebagai “rezim” yang kini menikam Bali. Pariwisata menjadi madu yang sekaligus racun. Pariwisata Bali kini menjadi amburadul.

Orang lantas rindu pada Bali di masa lalu. Rindu pada kedamaian. Rindu pada wisatawan yang akrab dengan masyarakat. Rindu pada alam yang sakral namun meneduhkan. Rindu pada segalanya yang kini hanya riwayat.

Akankah Bali mendapatkan kembali taksunya, sehingga wisatawan begitu kagum dan hormat kepada masyarakatnya? Akankah bentangan sawah menghijau masih dapat dipertahankan? Akankah masih bisa disaksikan kedigdayaan Subak dan ritual para petani saat menanam dan memanen padi?

Pertanyaan dan kenyataan tersebut mengingatkan pada sederet tokoh dan akademisi Bali, yang jauh hari bicara tentang masa depan Bali dan pariwisatanya. Dari sekian tokoh dan akademisi Bali, adalah Profesor Ida Bagus Adnyana Manuaba yang selalu kritis menyoroti pariwisata Bali.

Profesor Manuaba adalah tokoh Bali dan pendiri Fakultas Pariwisata Universitas Udaya; dulu bernama Program Studi Diploma IV (PSD IV), lantas menjadi Program Studi Ilmu Kepariwisataan (PSIK) Universitas Udayana. Begitu gigih Profesor Manuaba memperjuangkan agar pariwisata diakui sebagai ilmu. Upaya yang dimulai sejak tahun 1985 itu akhirnya membuahkan hasil. Sejak 27 September 2008, Universitas Udayana memiliki Fakultas Pariwisata (fpar.unud.ac.id).

Apa yang Kau Cari Palupi?

Selama sepuluh tahun menjadi asisten dosen Profesor Manuaba di Program Studi Ilmu Kepariwisataan, Universitas Udayana; banyak catatan tentang ucapan dan pemikiran kritisnya yang dilontarkan dalam berbagai kesempatan. Hal itu dilakukan sejak tahun 1985. Artinya, 39 tahun lalu Profesor Manuaba mencemaskan Bali.

Ungkapan yang sering disampaikan terkait pariwisata Bali adalah sebuah pertanyaan sindiran: “Apa yang Kau Cari Palupi?”. Pertanyaan yang mengutip judul film terkenal garapan sutradara kondang Asrul Sani tahun 1969 itu ditujukan kepada stakeholder pariwisata dan masyarakat Bali.

Apa yang sesungguhnya dicari pengusaha, pejabat, dan masyarakat Bali dari pariwisata? Apakah beramai-ramai berburu dollar atau menjaga alam dan budaya Bali agar tetap lestari? Dan kini pertanyaan itu terjawab. Pariwisata menjadi sektor andalan Bali dan Indonesia. Nyaris tak ada satu jengkal pun lahan yang tak tersentuh pariwisata.

Pertanyaan berikut yang kerap dilontarkan Profesor Manuaba dalam berbagai seminar nasional dan internasional adalah: ”Bali untuk Pariwisata atau Pariwisata untuk Bali?”. Pertanyaan yang sangat substantif dan filosofis. Pertanyaan itu pun kini telah terjawab. Bali telah  diobral untuk pariwisata. Bali saat ini semakin tergantung dari pariwisata.

Memang banyak yang diuntungkan dari pariwisata Bali. Namun ada pula yang beranggapan, hanya segelintir orang yang benar-benar menikmati pariwisata untuk kesejahteraan hidupnya. Selebihnya, Bali dinikmati oleh para investor dan pejabat pusat yang ikutan mendulang bisnis di Bali. Bahkan orang asing begitu mudah memiliki villa dan properti lain di Bali.

Masyarakat pun terpaksa dan dipaksa oleh keadaan untuk terjun bebas di sektor pariwisata. Alih profesi bukan hal baru di Bali. Petani dan nelayan banyak yang tak lagi mencangkul dan melaut. Pariwisata menjadi ladang garapan baru. Pariwisata menjadi majikan baru bagi masyarakat Bali.

Daya Dukung

Daya dukung wilayah (carrying capacity) sering pula dilontarkan Profesor Manuaba ketika bicara tentang pengembangan pariwisata. Bali perlu dikembangkan dengan memperhatikan daya dukung wilayahnya. Berapa luas wilayah Bali, Berapa kamar hotel yang diperlukan, dan berapa jumlah wisatawan yang diharapkan. Jangan sampai Bali menjadi destinasi wisata yang sarat beban.

Lontaran Profesor Manuaba menjadi kenyataan. Bali kini sedang diambang overtourism. Meski ada yang kurang sependapat dengan kondisi tersebut, kenyataannya secara kualitatif Bali banyak menyandang masalah dengan serbuan wisatawan. Perilaku wisatawan sulit dikendalikan, melecehkan norma, adat, dan tradisi Bali. Wisatawan mulai berperilaku brutal dan beringas.

Wisatawan terus berdatangan, dibarengi dengan pembangunan kamar hotel yang tiada henti. Sehingga seolah Bali masih mampu menampung wisatawan sebanyak mungkin. Akibatnya, persaingan harga kamar hotel menjadi tidak sehat. Banyak kamar hotel dan villa yang dijual murah, sehingga mematikan hotel lain yang mencoba mempertahankan harga kamar sesuai kualitasnya.

Kongesti atau kemacetan lalu lintas sudah 39 tahun yang lalu  diprediksi oleh Profesor Manuaba. Bali, khususnya Badung dan Denpasar akan mengalami kemacetan lalu lintas sebagai dampak perkembangan pariwisata. Hal itu disebabkan oleh panjang dan lebar jalan tidak sebanding dengan jumlah kendaraan di Bali yang terus bertambah. Selain itu, banyak pertokoan dan rumah makan di Bali yang tidak memiliki lahan parkir memadai. Sehingga makin menambah kemacetan lalu lintas.

Pariwisata juga dikatakan sangat rakus pada sumber daya alam dan lahan. Jika tidak dibarengi dengan political will yang baik, maka akan terjadi eksploitasi dan kerusakan alam di Bali. Kondisi ini mulai terjadi di Bali.

Kerusakan lingkungan sebagai imbas pariwisata dialami Bali. Banyak lahan produktif yang kini berubah menjadi resort wisata. Investasi besar-besaran melanda Bali. Sementara masyarakat Bali sendiri kesulitan untuk mendapatkan air bersih untuk kepentingan sehari-hari.

Dislokasi budaya menjadi kekhawatiran waktu dahulu. Bukan hanya pada perubahan perilaku, tetapi juga orientasi seni budaya yang cenderung memenuhi kehendak pasar wisata. Kini, orientasi itu menjadi nyata. Banyak pertunjukan kesenian untuk wisatawan  yang bukan hanya dipentaskan di sanggar kesenian atau pelataran pura, tetapi juga di halaman sebuah mall.

Terbaru, masyarakat Bali kini disuguhkan dengan isu tarian Joged Bumbung jaruh (porno) yang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Perlu kajian mendalam dari perspektif sosiologis, antropologis, ekonomi, religi, maupun yuridis.  Apakah tarian itu memang produk budaya asli Bali yang sudah ada sejak dulu ataukah ekses dislokasi dan komodifikasi budaya atas nama pariwisata. Faktanya, sebagian dari masyarakat Bali sendiri pernah menolak diberlakukannya Undang-Undang Pornografi.

Perubahan perilaku bukan hanya melanda masyarakat Bali. Imitasi perilaku wisatawan oleh masyarakat dibarengi pula oleh perilaku wisatawan yang justru bertentangan dengan norma, adat, dan tradisi Bali. Beberapa kasus pelecehan terhadap tempat-tempat suci  di Bali dilakukan wisatawan. Perilaku negatif wisatawan ini tentu saja akan berdampak pada dislokasi budaya.

Salah satu dislokasi budaya yang kini mengancam Bali adalah keberadaan Subak. Sebagai warisan budaya dunia yang ditetapkan UNESCO pada tahun 2012, kini Subak di Bali tak lagi seperti dulu. Subak terancam tergusur oleh kepentingan pariwisata, sehingga suatu ketika sawah yang dikelola secara adat dan tradisi itu hanya akan menjadi riwayat tempo dulu.

Masih banyak pemikiran futuristik Profesor Manuaba tentang pariwisata Bali. Dan selayaknya Bali memang harus dikembangkan dengan konsep pariwisata yang futuristik. Dengan demikian, Bali dengan segala potensi alam dan budayanya masih bisa bertahan untuk hari ini dan masa depan. [T]

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Menunggu Kiprah DPR Baru untuk Benahi Pariwisata
Belajar Desa Wisata dari Bali
Wisata “Overland”Jelajah Negeri
Ruwetnya Birokrasi Perizinan Event Pariwisata
Pemberdayaan Masyarakat dalam Pariwisata
Wisata Petualangan: Manfaat Ekonomi dan Konservasi
Tags: baliilmu pariwisataPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berjualan di Kolong Jalan Shortcut Tepi Danau Beratan Adalah Ketidakpastian Nasib

Next Post

Redientz dan Romantisasi Kesedihan Dalam Debut EP Moving 

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Redientz dan Romantisasi Kesedihan Dalam Debut EP Moving 

Redientz dan Romantisasi Kesedihan Dalam Debut EP Moving 

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co