3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pariwisata Bali: Riwayatmu Dulu dan Kini

Chusmeru by Chusmeru
July 29, 2024
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

“Tulisan ini didedikasikan untuk Prof. Ida Bagus Adnyana Manuaba, pendiri Program Studi Ilmu Kepariwisataan, Universitas Udayana, Bali”

MEMBANDINGKAN Bali serta pariwisatanya di masa lalu dan kini bagaikan memandang suasana tengah malam dan siang hari. Antara ketenangan dan kesejukan di waktu dulu dengan kesemerawutan dan kepengapan di saat sekarang. Bali yang dulu ramah, kini menjadi beringas.

Bali sedang tidak baik-baik saja. Bali sedang banyak masalah. Begitu kira-kira tanggapan banyak orang tentang Bali. Pariwisata dituding sebagai “rezim” yang kini menikam Bali. Pariwisata menjadi madu yang sekaligus racun. Pariwisata Bali kini menjadi amburadul.

Orang lantas rindu pada Bali di masa lalu. Rindu pada kedamaian. Rindu pada wisatawan yang akrab dengan masyarakat. Rindu pada alam yang sakral namun meneduhkan. Rindu pada segalanya yang kini hanya riwayat.

Akankah Bali mendapatkan kembali taksunya, sehingga wisatawan begitu kagum dan hormat kepada masyarakatnya? Akankah bentangan sawah menghijau masih dapat dipertahankan? Akankah masih bisa disaksikan kedigdayaan Subak dan ritual para petani saat menanam dan memanen padi?

Pertanyaan dan kenyataan tersebut mengingatkan pada sederet tokoh dan akademisi Bali, yang jauh hari bicara tentang masa depan Bali dan pariwisatanya. Dari sekian tokoh dan akademisi Bali, adalah Profesor Ida Bagus Adnyana Manuaba yang selalu kritis menyoroti pariwisata Bali.

Profesor Manuaba adalah tokoh Bali dan pendiri Fakultas Pariwisata Universitas Udaya; dulu bernama Program Studi Diploma IV (PSD IV), lantas menjadi Program Studi Ilmu Kepariwisataan (PSIK) Universitas Udayana. Begitu gigih Profesor Manuaba memperjuangkan agar pariwisata diakui sebagai ilmu. Upaya yang dimulai sejak tahun 1985 itu akhirnya membuahkan hasil. Sejak 27 September 2008, Universitas Udayana memiliki Fakultas Pariwisata (fpar.unud.ac.id).

Apa yang Kau Cari Palupi?

Selama sepuluh tahun menjadi asisten dosen Profesor Manuaba di Program Studi Ilmu Kepariwisataan, Universitas Udayana; banyak catatan tentang ucapan dan pemikiran kritisnya yang dilontarkan dalam berbagai kesempatan. Hal itu dilakukan sejak tahun 1985. Artinya, 39 tahun lalu Profesor Manuaba mencemaskan Bali.

Ungkapan yang sering disampaikan terkait pariwisata Bali adalah sebuah pertanyaan sindiran: “Apa yang Kau Cari Palupi?”. Pertanyaan yang mengutip judul film terkenal garapan sutradara kondang Asrul Sani tahun 1969 itu ditujukan kepada stakeholder pariwisata dan masyarakat Bali.

Apa yang sesungguhnya dicari pengusaha, pejabat, dan masyarakat Bali dari pariwisata? Apakah beramai-ramai berburu dollar atau menjaga alam dan budaya Bali agar tetap lestari? Dan kini pertanyaan itu terjawab. Pariwisata menjadi sektor andalan Bali dan Indonesia. Nyaris tak ada satu jengkal pun lahan yang tak tersentuh pariwisata.

Pertanyaan berikut yang kerap dilontarkan Profesor Manuaba dalam berbagai seminar nasional dan internasional adalah: ”Bali untuk Pariwisata atau Pariwisata untuk Bali?”. Pertanyaan yang sangat substantif dan filosofis. Pertanyaan itu pun kini telah terjawab. Bali telah  diobral untuk pariwisata. Bali saat ini semakin tergantung dari pariwisata.

Memang banyak yang diuntungkan dari pariwisata Bali. Namun ada pula yang beranggapan, hanya segelintir orang yang benar-benar menikmati pariwisata untuk kesejahteraan hidupnya. Selebihnya, Bali dinikmati oleh para investor dan pejabat pusat yang ikutan mendulang bisnis di Bali. Bahkan orang asing begitu mudah memiliki villa dan properti lain di Bali.

Masyarakat pun terpaksa dan dipaksa oleh keadaan untuk terjun bebas di sektor pariwisata. Alih profesi bukan hal baru di Bali. Petani dan nelayan banyak yang tak lagi mencangkul dan melaut. Pariwisata menjadi ladang garapan baru. Pariwisata menjadi majikan baru bagi masyarakat Bali.

Daya Dukung

Daya dukung wilayah (carrying capacity) sering pula dilontarkan Profesor Manuaba ketika bicara tentang pengembangan pariwisata. Bali perlu dikembangkan dengan memperhatikan daya dukung wilayahnya. Berapa luas wilayah Bali, Berapa kamar hotel yang diperlukan, dan berapa jumlah wisatawan yang diharapkan. Jangan sampai Bali menjadi destinasi wisata yang sarat beban.

Lontaran Profesor Manuaba menjadi kenyataan. Bali kini sedang diambang overtourism. Meski ada yang kurang sependapat dengan kondisi tersebut, kenyataannya secara kualitatif Bali banyak menyandang masalah dengan serbuan wisatawan. Perilaku wisatawan sulit dikendalikan, melecehkan norma, adat, dan tradisi Bali. Wisatawan mulai berperilaku brutal dan beringas.

Wisatawan terus berdatangan, dibarengi dengan pembangunan kamar hotel yang tiada henti. Sehingga seolah Bali masih mampu menampung wisatawan sebanyak mungkin. Akibatnya, persaingan harga kamar hotel menjadi tidak sehat. Banyak kamar hotel dan villa yang dijual murah, sehingga mematikan hotel lain yang mencoba mempertahankan harga kamar sesuai kualitasnya.

Kongesti atau kemacetan lalu lintas sudah 39 tahun yang lalu  diprediksi oleh Profesor Manuaba. Bali, khususnya Badung dan Denpasar akan mengalami kemacetan lalu lintas sebagai dampak perkembangan pariwisata. Hal itu disebabkan oleh panjang dan lebar jalan tidak sebanding dengan jumlah kendaraan di Bali yang terus bertambah. Selain itu, banyak pertokoan dan rumah makan di Bali yang tidak memiliki lahan parkir memadai. Sehingga makin menambah kemacetan lalu lintas.

Pariwisata juga dikatakan sangat rakus pada sumber daya alam dan lahan. Jika tidak dibarengi dengan political will yang baik, maka akan terjadi eksploitasi dan kerusakan alam di Bali. Kondisi ini mulai terjadi di Bali.

Kerusakan lingkungan sebagai imbas pariwisata dialami Bali. Banyak lahan produktif yang kini berubah menjadi resort wisata. Investasi besar-besaran melanda Bali. Sementara masyarakat Bali sendiri kesulitan untuk mendapatkan air bersih untuk kepentingan sehari-hari.

Dislokasi budaya menjadi kekhawatiran waktu dahulu. Bukan hanya pada perubahan perilaku, tetapi juga orientasi seni budaya yang cenderung memenuhi kehendak pasar wisata. Kini, orientasi itu menjadi nyata. Banyak pertunjukan kesenian untuk wisatawan  yang bukan hanya dipentaskan di sanggar kesenian atau pelataran pura, tetapi juga di halaman sebuah mall.

Terbaru, masyarakat Bali kini disuguhkan dengan isu tarian Joged Bumbung jaruh (porno) yang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Perlu kajian mendalam dari perspektif sosiologis, antropologis, ekonomi, religi, maupun yuridis.  Apakah tarian itu memang produk budaya asli Bali yang sudah ada sejak dulu ataukah ekses dislokasi dan komodifikasi budaya atas nama pariwisata. Faktanya, sebagian dari masyarakat Bali sendiri pernah menolak diberlakukannya Undang-Undang Pornografi.

Perubahan perilaku bukan hanya melanda masyarakat Bali. Imitasi perilaku wisatawan oleh masyarakat dibarengi pula oleh perilaku wisatawan yang justru bertentangan dengan norma, adat, dan tradisi Bali. Beberapa kasus pelecehan terhadap tempat-tempat suci  di Bali dilakukan wisatawan. Perilaku negatif wisatawan ini tentu saja akan berdampak pada dislokasi budaya.

Salah satu dislokasi budaya yang kini mengancam Bali adalah keberadaan Subak. Sebagai warisan budaya dunia yang ditetapkan UNESCO pada tahun 2012, kini Subak di Bali tak lagi seperti dulu. Subak terancam tergusur oleh kepentingan pariwisata, sehingga suatu ketika sawah yang dikelola secara adat dan tradisi itu hanya akan menjadi riwayat tempo dulu.

Masih banyak pemikiran futuristik Profesor Manuaba tentang pariwisata Bali. Dan selayaknya Bali memang harus dikembangkan dengan konsep pariwisata yang futuristik. Dengan demikian, Bali dengan segala potensi alam dan budayanya masih bisa bertahan untuk hari ini dan masa depan. [T]

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Menunggu Kiprah DPR Baru untuk Benahi Pariwisata
Belajar Desa Wisata dari Bali
Wisata “Overland”Jelajah Negeri
Ruwetnya Birokrasi Perizinan Event Pariwisata
Pemberdayaan Masyarakat dalam Pariwisata
Wisata Petualangan: Manfaat Ekonomi dan Konservasi
Tags: baliilmu pariwisataPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berjualan di Kolong Jalan Shortcut Tepi Danau Beratan Adalah Ketidakpastian Nasib

Next Post

Redientz dan Romantisasi Kesedihan Dalam Debut EP Moving 

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Redientz dan Romantisasi Kesedihan Dalam Debut EP Moving 

Redientz dan Romantisasi Kesedihan Dalam Debut EP Moving 

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co