23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pariwisata Bali: Riwayatmu Dulu dan Kini

Chusmeru by Chusmeru
July 29, 2024
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

“Tulisan ini didedikasikan untuk Prof. Ida Bagus Adnyana Manuaba, pendiri Program Studi Ilmu Kepariwisataan, Universitas Udayana, Bali”

MEMBANDINGKAN Bali serta pariwisatanya di masa lalu dan kini bagaikan memandang suasana tengah malam dan siang hari. Antara ketenangan dan kesejukan di waktu dulu dengan kesemerawutan dan kepengapan di saat sekarang. Bali yang dulu ramah, kini menjadi beringas.

Bali sedang tidak baik-baik saja. Bali sedang banyak masalah. Begitu kira-kira tanggapan banyak orang tentang Bali. Pariwisata dituding sebagai “rezim” yang kini menikam Bali. Pariwisata menjadi madu yang sekaligus racun. Pariwisata Bali kini menjadi amburadul.

Orang lantas rindu pada Bali di masa lalu. Rindu pada kedamaian. Rindu pada wisatawan yang akrab dengan masyarakat. Rindu pada alam yang sakral namun meneduhkan. Rindu pada segalanya yang kini hanya riwayat.

Akankah Bali mendapatkan kembali taksunya, sehingga wisatawan begitu kagum dan hormat kepada masyarakatnya? Akankah bentangan sawah menghijau masih dapat dipertahankan? Akankah masih bisa disaksikan kedigdayaan Subak dan ritual para petani saat menanam dan memanen padi?

Pertanyaan dan kenyataan tersebut mengingatkan pada sederet tokoh dan akademisi Bali, yang jauh hari bicara tentang masa depan Bali dan pariwisatanya. Dari sekian tokoh dan akademisi Bali, adalah Profesor Ida Bagus Adnyana Manuaba yang selalu kritis menyoroti pariwisata Bali.

Profesor Manuaba adalah tokoh Bali dan pendiri Fakultas Pariwisata Universitas Udaya; dulu bernama Program Studi Diploma IV (PSD IV), lantas menjadi Program Studi Ilmu Kepariwisataan (PSIK) Universitas Udayana. Begitu gigih Profesor Manuaba memperjuangkan agar pariwisata diakui sebagai ilmu. Upaya yang dimulai sejak tahun 1985 itu akhirnya membuahkan hasil. Sejak 27 September 2008, Universitas Udayana memiliki Fakultas Pariwisata (fpar.unud.ac.id).

Apa yang Kau Cari Palupi?

Selama sepuluh tahun menjadi asisten dosen Profesor Manuaba di Program Studi Ilmu Kepariwisataan, Universitas Udayana; banyak catatan tentang ucapan dan pemikiran kritisnya yang dilontarkan dalam berbagai kesempatan. Hal itu dilakukan sejak tahun 1985. Artinya, 39 tahun lalu Profesor Manuaba mencemaskan Bali.

Ungkapan yang sering disampaikan terkait pariwisata Bali adalah sebuah pertanyaan sindiran: “Apa yang Kau Cari Palupi?”. Pertanyaan yang mengutip judul film terkenal garapan sutradara kondang Asrul Sani tahun 1969 itu ditujukan kepada stakeholder pariwisata dan masyarakat Bali.

Apa yang sesungguhnya dicari pengusaha, pejabat, dan masyarakat Bali dari pariwisata? Apakah beramai-ramai berburu dollar atau menjaga alam dan budaya Bali agar tetap lestari? Dan kini pertanyaan itu terjawab. Pariwisata menjadi sektor andalan Bali dan Indonesia. Nyaris tak ada satu jengkal pun lahan yang tak tersentuh pariwisata.

Pertanyaan berikut yang kerap dilontarkan Profesor Manuaba dalam berbagai seminar nasional dan internasional adalah: ”Bali untuk Pariwisata atau Pariwisata untuk Bali?”. Pertanyaan yang sangat substantif dan filosofis. Pertanyaan itu pun kini telah terjawab. Bali telah  diobral untuk pariwisata. Bali saat ini semakin tergantung dari pariwisata.

Memang banyak yang diuntungkan dari pariwisata Bali. Namun ada pula yang beranggapan, hanya segelintir orang yang benar-benar menikmati pariwisata untuk kesejahteraan hidupnya. Selebihnya, Bali dinikmati oleh para investor dan pejabat pusat yang ikutan mendulang bisnis di Bali. Bahkan orang asing begitu mudah memiliki villa dan properti lain di Bali.

Masyarakat pun terpaksa dan dipaksa oleh keadaan untuk terjun bebas di sektor pariwisata. Alih profesi bukan hal baru di Bali. Petani dan nelayan banyak yang tak lagi mencangkul dan melaut. Pariwisata menjadi ladang garapan baru. Pariwisata menjadi majikan baru bagi masyarakat Bali.

Daya Dukung

Daya dukung wilayah (carrying capacity) sering pula dilontarkan Profesor Manuaba ketika bicara tentang pengembangan pariwisata. Bali perlu dikembangkan dengan memperhatikan daya dukung wilayahnya. Berapa luas wilayah Bali, Berapa kamar hotel yang diperlukan, dan berapa jumlah wisatawan yang diharapkan. Jangan sampai Bali menjadi destinasi wisata yang sarat beban.

Lontaran Profesor Manuaba menjadi kenyataan. Bali kini sedang diambang overtourism. Meski ada yang kurang sependapat dengan kondisi tersebut, kenyataannya secara kualitatif Bali banyak menyandang masalah dengan serbuan wisatawan. Perilaku wisatawan sulit dikendalikan, melecehkan norma, adat, dan tradisi Bali. Wisatawan mulai berperilaku brutal dan beringas.

Wisatawan terus berdatangan, dibarengi dengan pembangunan kamar hotel yang tiada henti. Sehingga seolah Bali masih mampu menampung wisatawan sebanyak mungkin. Akibatnya, persaingan harga kamar hotel menjadi tidak sehat. Banyak kamar hotel dan villa yang dijual murah, sehingga mematikan hotel lain yang mencoba mempertahankan harga kamar sesuai kualitasnya.

Kongesti atau kemacetan lalu lintas sudah 39 tahun yang lalu  diprediksi oleh Profesor Manuaba. Bali, khususnya Badung dan Denpasar akan mengalami kemacetan lalu lintas sebagai dampak perkembangan pariwisata. Hal itu disebabkan oleh panjang dan lebar jalan tidak sebanding dengan jumlah kendaraan di Bali yang terus bertambah. Selain itu, banyak pertokoan dan rumah makan di Bali yang tidak memiliki lahan parkir memadai. Sehingga makin menambah kemacetan lalu lintas.

Pariwisata juga dikatakan sangat rakus pada sumber daya alam dan lahan. Jika tidak dibarengi dengan political will yang baik, maka akan terjadi eksploitasi dan kerusakan alam di Bali. Kondisi ini mulai terjadi di Bali.

Kerusakan lingkungan sebagai imbas pariwisata dialami Bali. Banyak lahan produktif yang kini berubah menjadi resort wisata. Investasi besar-besaran melanda Bali. Sementara masyarakat Bali sendiri kesulitan untuk mendapatkan air bersih untuk kepentingan sehari-hari.

Dislokasi budaya menjadi kekhawatiran waktu dahulu. Bukan hanya pada perubahan perilaku, tetapi juga orientasi seni budaya yang cenderung memenuhi kehendak pasar wisata. Kini, orientasi itu menjadi nyata. Banyak pertunjukan kesenian untuk wisatawan  yang bukan hanya dipentaskan di sanggar kesenian atau pelataran pura, tetapi juga di halaman sebuah mall.

Terbaru, masyarakat Bali kini disuguhkan dengan isu tarian Joged Bumbung jaruh (porno) yang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Perlu kajian mendalam dari perspektif sosiologis, antropologis, ekonomi, religi, maupun yuridis.  Apakah tarian itu memang produk budaya asli Bali yang sudah ada sejak dulu ataukah ekses dislokasi dan komodifikasi budaya atas nama pariwisata. Faktanya, sebagian dari masyarakat Bali sendiri pernah menolak diberlakukannya Undang-Undang Pornografi.

Perubahan perilaku bukan hanya melanda masyarakat Bali. Imitasi perilaku wisatawan oleh masyarakat dibarengi pula oleh perilaku wisatawan yang justru bertentangan dengan norma, adat, dan tradisi Bali. Beberapa kasus pelecehan terhadap tempat-tempat suci  di Bali dilakukan wisatawan. Perilaku negatif wisatawan ini tentu saja akan berdampak pada dislokasi budaya.

Salah satu dislokasi budaya yang kini mengancam Bali adalah keberadaan Subak. Sebagai warisan budaya dunia yang ditetapkan UNESCO pada tahun 2012, kini Subak di Bali tak lagi seperti dulu. Subak terancam tergusur oleh kepentingan pariwisata, sehingga suatu ketika sawah yang dikelola secara adat dan tradisi itu hanya akan menjadi riwayat tempo dulu.

Masih banyak pemikiran futuristik Profesor Manuaba tentang pariwisata Bali. Dan selayaknya Bali memang harus dikembangkan dengan konsep pariwisata yang futuristik. Dengan demikian, Bali dengan segala potensi alam dan budayanya masih bisa bertahan untuk hari ini dan masa depan. [T]

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Menunggu Kiprah DPR Baru untuk Benahi Pariwisata
Belajar Desa Wisata dari Bali
Wisata “Overland”Jelajah Negeri
Ruwetnya Birokrasi Perizinan Event Pariwisata
Pemberdayaan Masyarakat dalam Pariwisata
Wisata Petualangan: Manfaat Ekonomi dan Konservasi
Tags: baliilmu pariwisataPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berjualan di Kolong Jalan Shortcut Tepi Danau Beratan Adalah Ketidakpastian Nasib

Next Post

Redientz dan Romantisasi Kesedihan Dalam Debut EP Moving 

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Redientz dan Romantisasi Kesedihan Dalam Debut EP Moving 

Redientz dan Romantisasi Kesedihan Dalam Debut EP Moving 

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co