2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ruwetnya Birokrasi Perizinan Event Pariwisata

Chusmeru by Chusmeru
July 10, 2024
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) merasa jengkel dengan sistem perizinan acara yang sangat ruwet di Indonesia. Hal itu diungkapkan, lantaran konser Coldplay di Indonesia hanya satu hari; sedangkan di Singapura Coldplay tampil selama enam hari.

Jokowi mengungkapkan, tiket konser Coldplay di Indonesia ludes terjual hanya dalam waktu 20 menit. Meski demikian, Coldplay hanya manggung sehari saja. Ketika mau menambah durasi pentasnya sulit. Jokowi menelusuri kepada pihak penyelenggara. Terungkap, bahwa birokrasi perizinan yang ruwet menyebabkan Coldplay tidak dapat menambah waktu pentasnya di Indonesia.

Bukan hanya Coldplay, penyelenggaraan event MotoGP Mandalika juga berhadapan dengan ruwetnya perizinan. Jokowi memaparkan ada 13 berkas surat rekomendasi yang harus diurus untuk menggelar MotoGP. Jokowi pun merasa lemas dengan ruwetnya birokrasi perizinan event (detikFinance, 25 Juni 2024).

Konser musik dan gelaran MotoGP adalah bagian dari event internasional yang sangat potensial mendukung pertumbuhan pariwisata di Indonesia. Acara-acara berkelas dunia itu akan mampu memberikan multiplier effect dalam biasnis pariwisata.

Wisatawan yang datang untuk menyaksikan konser musik dan MotoGP sangat banyak. Konser Coldplay dikabarkan ditonton oleh 81 ribu orang. Sedangkan hajatan MotoGP disaksikan oleh 102.929 pengunjung. Penonton bukan hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari mancanegara. Artinya, terjadi arus kunjungan wisatawan selama berlangsungnya kedua event tersebut.

Masalah keamanan diduga menjadi alasan ruwetnya birokrasi perizinan event di Indonesia. Keamanan bukan hanya menyangkut keselamatan penonton dan artis saja. Konser dan event internasional lain kadang juga disaksikan oleh pejabat negara.

Isu keamanan pernah menjadi alasan bagi Polda Metro Jaya yang belum mengeluarkan izin saat grup band Dewa 19 akan menggelar konser pada bulan November 2022 lalu. Pertimbangan Polda Metro Jaya kala itu adalah kasus targedi di Itaewon, Seoul, Korea Selatan (Republika, 3 November 2022).

Tragedi Itaewon terjadi pada 29 Oktober 2022. Ratusan orang meninggal dan luka-luka dalam sebuah perayaan Halloween di Korea Selatan. Ribuan orang memadati jalan yang sempit di kota Itaewon yang menyebabkan ratusan orang mengalami henti jantung. Atas dasar itulah konser musik Dewa 19 baru diizinkan tampil pada bulan Februari 2023.

Manfaat Event

Konser musik dan acara olah raga internasional  masuk dalam salah satu bentuk Meetings, Incentives, Conferences, dan Exhibitions (MICE) yang belakangan ini mulai tumbuh pesat di sektor pariwisata. Hal itu tak terlepas dari jumlah penonton  konser musik dan olahraga yang selalu penuh dan potensi uang yang beredar pada gelaran event itu. 

Konser dan olah raga sangat besar kontribusinya bagi  sektor pariwisata dan perekonomian Indonesia. Konser musik internasional memiliki multiplier effect bagi subsektor lain dalam pariwisata. Banyak pihak diuntungkan secara ekonomis dari ajang musik dan olah raga.

Subsektor akomodasi merupakan salah satu yang diuntungkan dengan adanya berbagai event. Hotel dan penginapan di sekitar venue konser akan mengalami peningkatan angka hunian kamar selama konser berlangsung. Bahkan pernah ada konser salah satu musisi dunia di Jakarta yang membuat seluruh hotel di seputaran venue konser mengalami full booked alias penuh terisi.

Transportasi, baik darat maupun udara akan mengalami peningkatan jumlah penumpang; dan ini akan memacu mobilitas masyarakat ke lokasi konser. Usaha jasa kuliner juga akan kecipratan cuan dari gelaran konser, baik restoran maupun warung makan tradisional.

Perajin dan usaha kecil juga kebagian rejeki, karena penonton konser biasanya akan membeli atau membawa atribut maupun merchandise yang berhubungan dengan artis penyanyi atau grup band. Ini dapat memacu perkembangan UMKM di Tanah Air.

Birokrasi Ruwet

Izin konser dan event di Indonesia menjadi ruwet karena buruknya tata kelola event di Indonesia. Mungkin banyak pihak yang menginginkan agar konser maupun event di Indonesia dapat berjalan aman, lancar dan sukses. Namun tata kelola dan birokrasi izin event di Indonesia yang panjang justru membuat penyelenggara event kewalahan.

Rantai birokrasi izin event begitu panjang dan rumit. Seolah semua ingin dilibatkan dalam izin gelaran event. Proses perizinan bisa mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi hingga ke pusat. Padahal semestinya untuk konser internasional cukup izin dari pemerintah pusat yang bisa ditembuskan sampai pemerintah desa.

Begitu pula izin yang berkaitan dengan keamanan, urusannya bisa sampai di tingkat Polsek. Padahal bisa cukup di Mabes Polri, dengan tembusan perintah pengamanan yang ditujukan ke Polda, Polres, hingga Polsek.

Belum lagi perizinan terkait dengan venue event, keimigrasian, bea cukai, dan sebagainya. Semestinya rantai birokrasi perizinan itu bisa lebih pendek dan sederhana, sehingga tidak memakan waktu lama dan biaya besar bagi penyelenggara. Rantai birokrasi yang panjang dan tata kelola perizinan yang ruwet dapat menghambat perkembangan industri pariwisata dan ekonomi kreatif, seperti konser maupun event olah raga internasional.

Ruwetnya birokrasi dan tata kelola perizinan konser justru bertentangan dan sangat kontradiktif dengan semangat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk penggalangan Dana Abadi Pariwisata, yang salah satunya untuk kepentingan penyelenggaraan promosi dan event yang berskala internasional.

Tentu saja sangat memalukan di mata dunia, jika ada rencana konser musik internasional  di Indonesia yang dibatalkan atau dipersingkat masa perform-nya hanya karena masalah ruwetnya perizinan. Seolah Indonesia tidak becus dan tidak profesional menyelenggarakan event-event berskala dunia.

Bukan hanya itu, konser musik maupun olah raga di Indonesia acapkali juga diganggu dengan urusan sentiment isu agama, sosial, dan politik kelompok tertentu. Konser Coldplay di Jakarta pernah diterpa isu penolakan kelompok tertentu, karena grup band itu dituding mendukung LGBT.

Rencana konser musik Bruno Mars bulan September tahun 2024 ini juga didera isu politik. Penyanyi lagu “24K Magic” mendapat ancaman boikot karena dianggap mendukung Israel. Hal sama pernah terjadi, ketika Gubernur Bali menolak penyelenggaran Piala Dunia U-20 tahun 2023 hanya karena keikutsertaan tim Israel.

Kasus yang mirip juga terjadi di kota Solo, Jawa Tengah. Festival kuliner non-halal yang bertajuk Festival Pecinan Nusantara tanggal 3-7 Juli 2024 sempat mendapat penolakan dari kelompok tertentu atas dasar ikatan keagamaan. Padahal festival kuliner adalah bagian dari event pariwisata yang mampu mendongkrak industri ekonomi kreatif. Sepertinya kendala penyelenggaraan event pariwisata di Indonesia bukan semata disebabkan oleh ruwetnya birokrasi perizinan. Persoalan prasangka serta sentimen agama, politik, dan kelompok ikut mewarnainya.[T]

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Pemberdayaan Masyarakat dalam Pariwisata
Wisata Petualangan: Manfaat Ekonomi dan Konservasi
Bule Berulah, Pariwisata Kena Getah
Wisata Museum: Menghapus Stigma Menyeramkan
Tags: ColdplayMotoGPPariwisataPresiden Jokowi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berkunjung ke Situs Candi Doi Suthep, Bangunan Suci di Atas Gunung di Thailand

Next Post

Cerita Nyata dan (Sedikit) Imajinasi

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Cerita Nyata dan (Sedikit) Imajinasi

Cerita Nyata dan (Sedikit) Imajinasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co