12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ruwetnya Birokrasi Perizinan Event Pariwisata

Chusmeru by Chusmeru
July 10, 2024
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) merasa jengkel dengan sistem perizinan acara yang sangat ruwet di Indonesia. Hal itu diungkapkan, lantaran konser Coldplay di Indonesia hanya satu hari; sedangkan di Singapura Coldplay tampil selama enam hari.

Jokowi mengungkapkan, tiket konser Coldplay di Indonesia ludes terjual hanya dalam waktu 20 menit. Meski demikian, Coldplay hanya manggung sehari saja. Ketika mau menambah durasi pentasnya sulit. Jokowi menelusuri kepada pihak penyelenggara. Terungkap, bahwa birokrasi perizinan yang ruwet menyebabkan Coldplay tidak dapat menambah waktu pentasnya di Indonesia.

Bukan hanya Coldplay, penyelenggaraan event MotoGP Mandalika juga berhadapan dengan ruwetnya perizinan. Jokowi memaparkan ada 13 berkas surat rekomendasi yang harus diurus untuk menggelar MotoGP. Jokowi pun merasa lemas dengan ruwetnya birokrasi perizinan event (detikFinance, 25 Juni 2024).

Konser musik dan gelaran MotoGP adalah bagian dari event internasional yang sangat potensial mendukung pertumbuhan pariwisata di Indonesia. Acara-acara berkelas dunia itu akan mampu memberikan multiplier effect dalam biasnis pariwisata.

Wisatawan yang datang untuk menyaksikan konser musik dan MotoGP sangat banyak. Konser Coldplay dikabarkan ditonton oleh 81 ribu orang. Sedangkan hajatan MotoGP disaksikan oleh 102.929 pengunjung. Penonton bukan hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari mancanegara. Artinya, terjadi arus kunjungan wisatawan selama berlangsungnya kedua event tersebut.

Masalah keamanan diduga menjadi alasan ruwetnya birokrasi perizinan event di Indonesia. Keamanan bukan hanya menyangkut keselamatan penonton dan artis saja. Konser dan event internasional lain kadang juga disaksikan oleh pejabat negara.

Isu keamanan pernah menjadi alasan bagi Polda Metro Jaya yang belum mengeluarkan izin saat grup band Dewa 19 akan menggelar konser pada bulan November 2022 lalu. Pertimbangan Polda Metro Jaya kala itu adalah kasus targedi di Itaewon, Seoul, Korea Selatan (Republika, 3 November 2022).

Tragedi Itaewon terjadi pada 29 Oktober 2022. Ratusan orang meninggal dan luka-luka dalam sebuah perayaan Halloween di Korea Selatan. Ribuan orang memadati jalan yang sempit di kota Itaewon yang menyebabkan ratusan orang mengalami henti jantung. Atas dasar itulah konser musik Dewa 19 baru diizinkan tampil pada bulan Februari 2023.

Manfaat Event

Konser musik dan acara olah raga internasional  masuk dalam salah satu bentuk Meetings, Incentives, Conferences, dan Exhibitions (MICE) yang belakangan ini mulai tumbuh pesat di sektor pariwisata. Hal itu tak terlepas dari jumlah penonton  konser musik dan olahraga yang selalu penuh dan potensi uang yang beredar pada gelaran event itu. 

Konser dan olah raga sangat besar kontribusinya bagi  sektor pariwisata dan perekonomian Indonesia. Konser musik internasional memiliki multiplier effect bagi subsektor lain dalam pariwisata. Banyak pihak diuntungkan secara ekonomis dari ajang musik dan olah raga.

Subsektor akomodasi merupakan salah satu yang diuntungkan dengan adanya berbagai event. Hotel dan penginapan di sekitar venue konser akan mengalami peningkatan angka hunian kamar selama konser berlangsung. Bahkan pernah ada konser salah satu musisi dunia di Jakarta yang membuat seluruh hotel di seputaran venue konser mengalami full booked alias penuh terisi.

Transportasi, baik darat maupun udara akan mengalami peningkatan jumlah penumpang; dan ini akan memacu mobilitas masyarakat ke lokasi konser. Usaha jasa kuliner juga akan kecipratan cuan dari gelaran konser, baik restoran maupun warung makan tradisional.

Perajin dan usaha kecil juga kebagian rejeki, karena penonton konser biasanya akan membeli atau membawa atribut maupun merchandise yang berhubungan dengan artis penyanyi atau grup band. Ini dapat memacu perkembangan UMKM di Tanah Air.

Birokrasi Ruwet

Izin konser dan event di Indonesia menjadi ruwet karena buruknya tata kelola event di Indonesia. Mungkin banyak pihak yang menginginkan agar konser maupun event di Indonesia dapat berjalan aman, lancar dan sukses. Namun tata kelola dan birokrasi izin event di Indonesia yang panjang justru membuat penyelenggara event kewalahan.

Rantai birokrasi izin event begitu panjang dan rumit. Seolah semua ingin dilibatkan dalam izin gelaran event. Proses perizinan bisa mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi hingga ke pusat. Padahal semestinya untuk konser internasional cukup izin dari pemerintah pusat yang bisa ditembuskan sampai pemerintah desa.

Begitu pula izin yang berkaitan dengan keamanan, urusannya bisa sampai di tingkat Polsek. Padahal bisa cukup di Mabes Polri, dengan tembusan perintah pengamanan yang ditujukan ke Polda, Polres, hingga Polsek.

Belum lagi perizinan terkait dengan venue event, keimigrasian, bea cukai, dan sebagainya. Semestinya rantai birokrasi perizinan itu bisa lebih pendek dan sederhana, sehingga tidak memakan waktu lama dan biaya besar bagi penyelenggara. Rantai birokrasi yang panjang dan tata kelola perizinan yang ruwet dapat menghambat perkembangan industri pariwisata dan ekonomi kreatif, seperti konser maupun event olah raga internasional.

Ruwetnya birokrasi dan tata kelola perizinan konser justru bertentangan dan sangat kontradiktif dengan semangat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk penggalangan Dana Abadi Pariwisata, yang salah satunya untuk kepentingan penyelenggaraan promosi dan event yang berskala internasional.

Tentu saja sangat memalukan di mata dunia, jika ada rencana konser musik internasional  di Indonesia yang dibatalkan atau dipersingkat masa perform-nya hanya karena masalah ruwetnya perizinan. Seolah Indonesia tidak becus dan tidak profesional menyelenggarakan event-event berskala dunia.

Bukan hanya itu, konser musik maupun olah raga di Indonesia acapkali juga diganggu dengan urusan sentiment isu agama, sosial, dan politik kelompok tertentu. Konser Coldplay di Jakarta pernah diterpa isu penolakan kelompok tertentu, karena grup band itu dituding mendukung LGBT.

Rencana konser musik Bruno Mars bulan September tahun 2024 ini juga didera isu politik. Penyanyi lagu “24K Magic” mendapat ancaman boikot karena dianggap mendukung Israel. Hal sama pernah terjadi, ketika Gubernur Bali menolak penyelenggaran Piala Dunia U-20 tahun 2023 hanya karena keikutsertaan tim Israel.

Kasus yang mirip juga terjadi di kota Solo, Jawa Tengah. Festival kuliner non-halal yang bertajuk Festival Pecinan Nusantara tanggal 3-7 Juli 2024 sempat mendapat penolakan dari kelompok tertentu atas dasar ikatan keagamaan. Padahal festival kuliner adalah bagian dari event pariwisata yang mampu mendongkrak industri ekonomi kreatif. Sepertinya kendala penyelenggaraan event pariwisata di Indonesia bukan semata disebabkan oleh ruwetnya birokrasi perizinan. Persoalan prasangka serta sentimen agama, politik, dan kelompok ikut mewarnainya.[T]

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Pemberdayaan Masyarakat dalam Pariwisata
Wisata Petualangan: Manfaat Ekonomi dan Konservasi
Bule Berulah, Pariwisata Kena Getah
Wisata Museum: Menghapus Stigma Menyeramkan
Tags: ColdplayMotoGPPariwisataPresiden Jokowi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berkunjung ke Situs Candi Doi Suthep, Bangunan Suci di Atas Gunung di Thailand

Next Post

Cerita Nyata dan (Sedikit) Imajinasi

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Cerita Nyata dan (Sedikit) Imajinasi

Cerita Nyata dan (Sedikit) Imajinasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co