23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ruwetnya Birokrasi Perizinan Event Pariwisata

Chusmeru by Chusmeru
July 10, 2024
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) merasa jengkel dengan sistem perizinan acara yang sangat ruwet di Indonesia. Hal itu diungkapkan, lantaran konser Coldplay di Indonesia hanya satu hari; sedangkan di Singapura Coldplay tampil selama enam hari.

Jokowi mengungkapkan, tiket konser Coldplay di Indonesia ludes terjual hanya dalam waktu 20 menit. Meski demikian, Coldplay hanya manggung sehari saja. Ketika mau menambah durasi pentasnya sulit. Jokowi menelusuri kepada pihak penyelenggara. Terungkap, bahwa birokrasi perizinan yang ruwet menyebabkan Coldplay tidak dapat menambah waktu pentasnya di Indonesia.

Bukan hanya Coldplay, penyelenggaraan event MotoGP Mandalika juga berhadapan dengan ruwetnya perizinan. Jokowi memaparkan ada 13 berkas surat rekomendasi yang harus diurus untuk menggelar MotoGP. Jokowi pun merasa lemas dengan ruwetnya birokrasi perizinan event (detikFinance, 25 Juni 2024).

Konser musik dan gelaran MotoGP adalah bagian dari event internasional yang sangat potensial mendukung pertumbuhan pariwisata di Indonesia. Acara-acara berkelas dunia itu akan mampu memberikan multiplier effect dalam biasnis pariwisata.

Wisatawan yang datang untuk menyaksikan konser musik dan MotoGP sangat banyak. Konser Coldplay dikabarkan ditonton oleh 81 ribu orang. Sedangkan hajatan MotoGP disaksikan oleh 102.929 pengunjung. Penonton bukan hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari mancanegara. Artinya, terjadi arus kunjungan wisatawan selama berlangsungnya kedua event tersebut.

Masalah keamanan diduga menjadi alasan ruwetnya birokrasi perizinan event di Indonesia. Keamanan bukan hanya menyangkut keselamatan penonton dan artis saja. Konser dan event internasional lain kadang juga disaksikan oleh pejabat negara.

Isu keamanan pernah menjadi alasan bagi Polda Metro Jaya yang belum mengeluarkan izin saat grup band Dewa 19 akan menggelar konser pada bulan November 2022 lalu. Pertimbangan Polda Metro Jaya kala itu adalah kasus targedi di Itaewon, Seoul, Korea Selatan (Republika, 3 November 2022).

Tragedi Itaewon terjadi pada 29 Oktober 2022. Ratusan orang meninggal dan luka-luka dalam sebuah perayaan Halloween di Korea Selatan. Ribuan orang memadati jalan yang sempit di kota Itaewon yang menyebabkan ratusan orang mengalami henti jantung. Atas dasar itulah konser musik Dewa 19 baru diizinkan tampil pada bulan Februari 2023.

Manfaat Event

Konser musik dan acara olah raga internasional  masuk dalam salah satu bentuk Meetings, Incentives, Conferences, dan Exhibitions (MICE) yang belakangan ini mulai tumbuh pesat di sektor pariwisata. Hal itu tak terlepas dari jumlah penonton  konser musik dan olahraga yang selalu penuh dan potensi uang yang beredar pada gelaran event itu. 

Konser dan olah raga sangat besar kontribusinya bagi  sektor pariwisata dan perekonomian Indonesia. Konser musik internasional memiliki multiplier effect bagi subsektor lain dalam pariwisata. Banyak pihak diuntungkan secara ekonomis dari ajang musik dan olah raga.

Subsektor akomodasi merupakan salah satu yang diuntungkan dengan adanya berbagai event. Hotel dan penginapan di sekitar venue konser akan mengalami peningkatan angka hunian kamar selama konser berlangsung. Bahkan pernah ada konser salah satu musisi dunia di Jakarta yang membuat seluruh hotel di seputaran venue konser mengalami full booked alias penuh terisi.

Transportasi, baik darat maupun udara akan mengalami peningkatan jumlah penumpang; dan ini akan memacu mobilitas masyarakat ke lokasi konser. Usaha jasa kuliner juga akan kecipratan cuan dari gelaran konser, baik restoran maupun warung makan tradisional.

Perajin dan usaha kecil juga kebagian rejeki, karena penonton konser biasanya akan membeli atau membawa atribut maupun merchandise yang berhubungan dengan artis penyanyi atau grup band. Ini dapat memacu perkembangan UMKM di Tanah Air.

Birokrasi Ruwet

Izin konser dan event di Indonesia menjadi ruwet karena buruknya tata kelola event di Indonesia. Mungkin banyak pihak yang menginginkan agar konser maupun event di Indonesia dapat berjalan aman, lancar dan sukses. Namun tata kelola dan birokrasi izin event di Indonesia yang panjang justru membuat penyelenggara event kewalahan.

Rantai birokrasi izin event begitu panjang dan rumit. Seolah semua ingin dilibatkan dalam izin gelaran event. Proses perizinan bisa mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi hingga ke pusat. Padahal semestinya untuk konser internasional cukup izin dari pemerintah pusat yang bisa ditembuskan sampai pemerintah desa.

Begitu pula izin yang berkaitan dengan keamanan, urusannya bisa sampai di tingkat Polsek. Padahal bisa cukup di Mabes Polri, dengan tembusan perintah pengamanan yang ditujukan ke Polda, Polres, hingga Polsek.

Belum lagi perizinan terkait dengan venue event, keimigrasian, bea cukai, dan sebagainya. Semestinya rantai birokrasi perizinan itu bisa lebih pendek dan sederhana, sehingga tidak memakan waktu lama dan biaya besar bagi penyelenggara. Rantai birokrasi yang panjang dan tata kelola perizinan yang ruwet dapat menghambat perkembangan industri pariwisata dan ekonomi kreatif, seperti konser maupun event olah raga internasional.

Ruwetnya birokrasi dan tata kelola perizinan konser justru bertentangan dan sangat kontradiktif dengan semangat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk penggalangan Dana Abadi Pariwisata, yang salah satunya untuk kepentingan penyelenggaraan promosi dan event yang berskala internasional.

Tentu saja sangat memalukan di mata dunia, jika ada rencana konser musik internasional  di Indonesia yang dibatalkan atau dipersingkat masa perform-nya hanya karena masalah ruwetnya perizinan. Seolah Indonesia tidak becus dan tidak profesional menyelenggarakan event-event berskala dunia.

Bukan hanya itu, konser musik maupun olah raga di Indonesia acapkali juga diganggu dengan urusan sentiment isu agama, sosial, dan politik kelompok tertentu. Konser Coldplay di Jakarta pernah diterpa isu penolakan kelompok tertentu, karena grup band itu dituding mendukung LGBT.

Rencana konser musik Bruno Mars bulan September tahun 2024 ini juga didera isu politik. Penyanyi lagu “24K Magic” mendapat ancaman boikot karena dianggap mendukung Israel. Hal sama pernah terjadi, ketika Gubernur Bali menolak penyelenggaran Piala Dunia U-20 tahun 2023 hanya karena keikutsertaan tim Israel.

Kasus yang mirip juga terjadi di kota Solo, Jawa Tengah. Festival kuliner non-halal yang bertajuk Festival Pecinan Nusantara tanggal 3-7 Juli 2024 sempat mendapat penolakan dari kelompok tertentu atas dasar ikatan keagamaan. Padahal festival kuliner adalah bagian dari event pariwisata yang mampu mendongkrak industri ekonomi kreatif. Sepertinya kendala penyelenggaraan event pariwisata di Indonesia bukan semata disebabkan oleh ruwetnya birokrasi perizinan. Persoalan prasangka serta sentimen agama, politik, dan kelompok ikut mewarnainya.[T]

BACA artikel lain dari penulis CHUSMERU

Pemberdayaan Masyarakat dalam Pariwisata
Wisata Petualangan: Manfaat Ekonomi dan Konservasi
Bule Berulah, Pariwisata Kena Getah
Wisata Museum: Menghapus Stigma Menyeramkan
Tags: ColdplayMotoGPPariwisataPresiden Jokowi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berkunjung ke Situs Candi Doi Suthep, Bangunan Suci di Atas Gunung di Thailand

Next Post

Cerita Nyata dan (Sedikit) Imajinasi

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Cerita Nyata dan (Sedikit) Imajinasi

Cerita Nyata dan (Sedikit) Imajinasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co