23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita Nyata dan (Sedikit) Imajinasi

I Wayan Artika by I Wayan Artika
July 10, 2024
in Esai
Cerita Nyata dan (Sedikit) Imajinasi

I Wayan Artika

  • Materi Pelatihan Cerpen, MGMP Bahasa Indonesia se-Kabupaten Buleleng

YANG sangat ”berbahaya” dalam pelajaran menulis ketika pelajaran itu menjadi teoretis. Guru sering dipandang sebagai tenaga profesional tetapi untuk bidang-bidang tertentu tidak dinilai sebagai praktisi. Hal ini tampak dalam pelajaran bahasa Indonesia. Salah satu keterampilan guru yang paling dianggap tidak praktis adalah menulis. Guru bisa mengajarkan menulis tetapi tidak pernah menulis.  

Namun demikian, kurikulum menuntut guru bahasa dan sastra Indonesia harus mengajarkan keterampilan menulis. Semuanya berjalan lancar namun tidak pernah lahir penulis dari tangan guru. Kalau ada siswa yang terampil menulis, ini hanya sebuah ”kecelakaan”.

Penulis itu lahir dari dalam kehidupannya. Dari biografi para penulis terungkap banyak sekali faktor pendorong seorang menjadi penulis. Yang paling lumrah adalah lingkungan literasi, terutama di keluarganya.

Misalnya seorang memiliki orang tua yang suka membaca dan membeli buku, sampai membangun perpustakaan di rumah maka anak yang tumbuh di sana kelak menjadi penulis. Bisa pula menulis itu untuk tujuan yang tidak masuk akal yaitu untuk penyembuhan sakit jiwa.

Ada pula menulis karena ingin menyampaikan isi hatinya. Ada pula yang suka menulis karena ingin memiliki buah pena. Saking inginnya mereka memiliki karya, ia membaca karya yang bagus. Karya ini kemudian disalin atau ditulis ulang berdasarkan ingatannya tanpa perubahan. Jika ada perubahan pada karya yang dijiplaknya, semata-mata karena keterbatasan ingatannya. Atau sedikit perubahan yang disengaja. Lantas cerita itu dibubuhi namanya sendiri.

Alasan lain orang menulis adalah karena diberi dorongan oleh bahan bacaan yang menarik hatinya. Ia ingin menulis seperti apa yang ia baca. Tulisan ini biasanya tidak selamanya hanya menarik tetapi juga mudah untuk ditiru. Maka mulailah seseorang menulis.

Kurang lebih itulah beberapa asal-muasal seseorang menulis. Latihan menulis memang sering dilakukan tetapi bekerja metode seleksi. Orang-orang yang ikut latihan menulis sebenarnya bukan mulai dari nol tetapi sudah mencapai kemampuan menulis sekitar 85%. Artinya sangat mustahil melakukan latihan menulis (juga menulis cerpen) dengan modal nol.

Yang dimaksud modal di sini adalah pengalaman membaca dan daya tarik terhadap cerita. Karena itu jangan salahkan bahwa guru bahasa gagal mengajarkan menulis. Mereka hanyalah guru yang tahu teori menulis tetapi pada umumnya tidak memiliki karya karena tidak menulis.

Bagi yang awam, menulis itu berat tetapi ringan bagi penulis. Pelatihan-pelatihan menulis atau pelajaran menulis memang tidak cukup sehari dua hari. Ini tidak memberi hasil nyata kecuali bagi mereka yang sudah memiliki 85% tadi. Artinya, mereka sudah memiliki modal. Mengajarkan atau melatih menulis orang yang dimulai dari nol dalam pelatihan resmi tidak hanya berat bagi peserta tetapi justru lebih berat bagi pelatih.

Yang harus diingat atau lazimnya terjadi adalah yang sering memberi pelatihan menulis bagi orang-orang yang gemar menulis yang sudah memiliki 85% itu adalah para penulis. Para penulis seperti cerpennis, sastrawan, atau penulis esai, tidak memiliki teori umum dalam menulis. Yang terjadi dalam pelatihan menulis adalah apa yang dialami oleh instruktur yang adalah penulis.

Pelatihan menulis adalah menceritakan pengalaman sebagai penulis yang terus menulis hingga puluhan tahun (dari buku harian, surat-surat kertas dikirim via pos, hingga medsos). Menulis dalam waktu yang lama dengan intens tidak pernah putus. Hal ini sering diberi tekanan atau perhatian. Dalam pelatihan menulis yang diber oleh penulis adalah pengalaman pribadi.

Pengalaman ini biasanya berkaitan dengan cerita yang ditulis untuk teks sastra dan teknik menulis. Teknik menulis mungkin bisa sama tetapi teknik bahasa berbeda karena menyangkut gaya perseorangan. Pemilihan cerita yang akan ditulis dijadikan cerpen juga sangat subjektif. Di sini pengalaman yang banyak bicara.

Cerpen itu sebenarnya tidak berupa karangan (fiksi) tetapi cerita yang ada di dalam kehidupan manusia. Benar yang dikatakan oleh Julia Kristeva bahwa pengarang itu hanyalah talang air tempat cerita dari semesta mengalir lalu ditulis di atas kertas atau di dalam komputer.

Untuk memulai mengarang, yang dibutuhkan adalah bahan berupa cerita (bukan tema). Untuk gampangnya cerita ini bukan fiksi tetapi kejadian nyata di muka bumi. Kejadian nyata inilah yang diolah oleh pengarang dengan imajinasi dan kreativitas.

Jumlah imajinasi di dalam cerpen itu sangat sedikit. Orang salah paham kalau cerpen atau sastra itu dipandang fiksi, khayalan, buah lamunan. Cerita dari realitas adalah bahan utama dalam membuat cerpen atau novel.

Imajinasi adalah semacam bumbu penyedap saja. Karena tidak seluruhnya fiksi, cerpen (dan semua karya sastra) selalu mengandung pengetahuan tetapi sering dianggap tidak benar karena semata-mata diberi label cerpen, novel, atau roman.

Tidak mudah bagi semua orang berimajinasi. Imajinasi bisa bekerja kalau dipadukan dengan kejadian yang nyata. Untuk itu, menulis cerpen mulai dari cerita yang sudah pernah terjadi di masyarakat. Kata cerita mungkin terlalu berbau dongeng atau sastra. Sebaiknya harus diganti dengan peristiwa. Peristiwa itu sangat banyak. Ada yang menarik, ada yang tidak.

Menulis cerpen mulai dari cerita apa yang akan kita tulis. Cerita ini sama sekali bukan tema tetapi kesatuan atau keutuhan informasi yang melibatkan manusia. Untuk mudahnya peristiwa itu selalu bisa dipahami dengan 5W 1H. Sastra, cerpen atau novel juga memiliki unsur 5W 1H yang berlapis-lapis karena dikembangkan.

Yang perlu dilatih adalah menemukan cerita. Ditangkap secara lisan. Di dalam pikiran cerita itu disusun sesuai dengan apa yang ada di dalam kenyataannya. Setelah itu cerita itu ditulis dan pada saat penulisan ini terjadi pengolahan dengan menggunakan campuran kekuatan-kekuatan imajinasi. Maka lahirlah fiksi.

Manusia bersyukur memiliki imajinasi dan ini adalah bagian penting dari otak homo sapiens. Dengan daya imajinasi dalam otak homo sapiens dan merupakan bagian dari satu tahap revolusi kognitif manusia purba maka peradaban manusia memiliki sastra dalam berbagai bentuk.

Begitu pentingnya bagian imajinasi dalam otak yang diwujudkan dalam produk sastra, baik penciptaan maupun penikmatan karya; maka Akademi Nobel Swedia memberikan penghargaan nobel sastra.

Kategori penghargaan nobel sastra setara dengan kedokteran, kimia, perdamaian, fisika, ekonomi dan lain-lain. Kemampuan manusia bercerita atau bersastra adalah kemampuan berimajinasi itu, sebenarnya bukanlah karena pengaruh peradaban tetapi itu sebenarnya genetik dan  klinis.

Namun teori sastra sering memandang karya sastra itu lebih rendah daripada ilmu pengetahuan. Relasi sastra dan ilmu pengetahuan bukan relasi atasan dan bawahan tetapi adalah relasi yang komplementer, saling melengkapi. Keduanya memiliki eksistensi. Karena itu, tidak bisa saling menyerang.

Menulis cerpen adalah aktivitas menangkap cerita dari apa yang ada. Jangan sekali-sekali berpikir menulis cerpen itu adalah berimajinasi. Jika menulis cerpen itu berimajinasi maka bagi pemula ada dua beban. Beban imajinasi dan beban menulis. Karena itu menulis cerpen adalah menulis kembali cerita yang terjadi.

Jika belum mampu menulis cerita dengan daya imajinasi, cukup menulis cerita-cerita yang nyata apa adanya. Karena itu, jika siapa pun memiliki cerita atau mengetahui suatu cerita dari kehidupan, bisa menuliskannya. Ini telah dibuktikan dalam buku seri chicken soup. Para penulis di dalam buku ini sama sekali bukan sastrawan atau penulis.

Penulis-penulis dalam buku seri chicken soup adalah siapa saja, asalkan mereka memiliki cerita yang menarik (cerita pribadi) lalu dibukukan dalam satu buku dan dibaca sebagaimana karya itu karya para pengarang yang sudah memiliki nama besar.

Jangan juga berpikir menulis cerpen itu hanyalah bagi sastrawan karena para penulis di dalam buku chicken soup telah membuktikan. Hanya satu cerita dan itu menjadi satu-satunya cerita yang pernah ditulis oleh seseorang tetapi dibaca di seluruh dunia.

Sastrawan itu hanya orang yang kebetulan bisa tertarik dengan peristiwa-peristiwa yang ada di dalam kehidupannya sendiri, kehidupan orang lain, di dalam kehidupan masyarakat, atau di dalam kehidupan suatu bangsa dalam sejarah. Ia mengolahnya dengan imajinasi. Lahirlah cerpen, drama, atau buku puisi.

Yang terpenting adalah menemukan peristiwa. Tulis saja apa adanya. Baca lagi dan sekali lagi! Dapat melakukan eksperimen kecil di era medsos ini. Tulis cerita lalu lempar begitu saja. Dan tulis lagi cerita atau peristiwa yang terjadi. Jangan pikirkan imajinasi. Imajinasi nanti. Baru dipikirkan setelah beberapa kali menulis cerita dari peristiwa sehari-hari. Sumber peristiwa sehari-hari itu banyak sekali terutama diri sendiri adalah pelaku dalam cerpen.

Agar tidak malu menceritakan hal-hal yang kurang baik lakukan imajinasi, misalnya menggunakan orang lain untuk bersembunyi. Nah, itulah cara imajinasi bekerja. Imajinasi pada prinsipnya membelokkan realitas. Mengaburkan realitas. Memotong realitas. Atau mendobelkan realitas. Artinya, imajinasi itu menghapus jejak-jejak realitas di dalam cerpen.

Membangun jejak baru dan menghapus jejak lama maka inilah yang disebut dengan imajinasi. Saking percayanya bahwa sastra atau cerpen itu imajinatif maka jika sebuah cerpen ditulis begitu persis dengan kehidupan yang nyata yang pernah terjadi maka para pembaca tidak pernah bisa menerima cerita itu sebagai cerita nyata.

Pokoknya asal berlabel cerpen, sastra, atau novel pasti imajinatif atau karya rekaan, dan  khayalan pengarang. Hal ini tidak benar. Pengarang atau sastrawan itu sejatinya pembohong. Alat berbohongnya adalah kreativitas imajinatif. Karya sastra telanjur diterima sebagai lembaga fiksi sehingga siapapun yang masuk ke dalamnya harus memasuki realitas fiksi atau realitas rekaan. Bukan dunia sains atau realitas sosial, agama, filsafat, politik, ekonomi.

Sekali lagi, mengapa hal itu bisa terjadi? Karena otak homo sapiens (kita) di mana adalah hasil revolusi kognitif; satu-satunya spesies manusia purba yang sukses, semata-mata karena di dalam otak ada bagian yang mengurusi imajinasi.

Menyusun cerpen adalah menulis peristiwa yang menarik. Peristiwa itu biasanya terjadi sekali setelah itu perulangan. Sekali seseorang menemukan peristiwa yang menarik maka peristiwa-peristiwa lain yang sejenis sudah tidak berguna dan tidak menarik lagi (misalnya cerita surat kepada Tuhan).

Pengarang hanya bertugas menemukan cerita yang menarik kemudian mengolahnya secara kreatif dan imajinatif, misalnya dengan mengubah kronologi menjadi sorot balik atau menghilangkan satu bagian dari suatu peristiwa. Bagi pemula mungkin tidak harus berpikir tentang perkara imajinasi dan kreativitas. Tulis saja apa yang terjadi apa adanya. Semua peristiwa kehidupan adalah penuh dengan daya tarik. Romantisme, dramatis, kesedihan, penderitaan, kejayaan, dan lain-lain.[T]

BACA esai-esai lain dari penulis I WAYAN ARTIKA

Tulisan Ilmiah dan Esai
Gagal Menulis Esai
Masa Lalu yang Bercerita dan Struktur Naratif Ingatan
Tags: cerita pendekCerpenfiksiMenulis cerpensastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ruwetnya Birokrasi Perizinan Event Pariwisata

Next Post

Pura Bandesa Kubayan Batur, Jejak Kepemimpinan Kubayan di Desa Adat Batur

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Pura Bandesa Kubayan Batur, Jejak Kepemimpinan Kubayan di Desa Adat Batur

Pura Bandesa Kubayan Batur, Jejak Kepemimpinan Kubayan di Desa Adat Batur

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co