13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Selasar Pensiun Rezza Kancil, Pembalap Road Race Legendaris Asal Buleleng

Son Lomri by Son Lomri
July 12, 2024
in Persona
Di Selasar Pensiun Rezza Kancil, Pembalap Road Race Legendaris Asal Buleleng

Rezza Kancil saat balapan di sirkuit | Foto: Dok. Rezza

MUNGKIN saja malaikat maut hanya mampir ketika itu, hanya mengintip di tikungan. Lalu ia pergi lagi setelah melihat Rezza Kancil, pembalap yang terbungkus kostum tebal itu berguling-guling di Sirkuit Selagalas, Lombok, 2013 silam.

Malaikat itu sempat mendesis sebelum pergi—kesempatanmu kesekian kali, barangkali ia berkata seperti itu. Sebab keberuntungan “selamat” selalu menyertai laki-laki itu berkali-kali, di tikungan sirkuit yang, tentu saja, keras dan kasar. Tuhan telah memberkatinya sebagaimana memberkati sang idola, Mick Doohan tahun 1992 dan 1999.

“Tikungan itu menukik, miring ke kanan. Gas yang aku pegang ternyata terlepas, pegat, saat memiringkan badan hendak berbelok. Wah, itu rasanya nyawa seperti melayang di atasku ketika badanku terpental. Tapi syukur, nyawa itu kembali lagi,” kenang Rezza, mantan pembalap kondang asal Buleleng, pada Sabtu (6/6/2024) malam di Cafe Joglo Kartini.

Detik-detik Rezza sebelum terjatuh di Sirkuit Selagalas 2013 silam | Foto: Dok. Rezza

Rezza Kancil adalah pembalap motor Road Race asal Buleleng pilih tanding. Selain debutnya di daerah, ia juga pernah mewakili Bali di kancah nasional melalui Yamaha. Pada tahun 2005, di Semarang, ia bertengger di peringkat 9. Kemudian peringkat 11 di tahun 2006 di Sirkuit Kenjeran Surabaya. Kemudian peringkat yang sama juga telah diraihnya di Sirkuit Sentul Bogor pada tahun 2009.

Dari banyaknya kejuaraan yang pernah ia raih, beberapa kejuaran itulah yang masih ia ingat. Tentu masih banyak kejuaraan lainnya yang pernah ia torehkan. Tetapi, dan ini yang paling unik, Rezza tak pernah membawa piala-piala itu ke rumah. Ia memiliki kebiasaan—yang tak biasa—yakni memberikan piala tersebut kepada siapa saja yang mau. Mengapa? Nanti saya ceritakan di bawah.

Yang jelas, tak pernah sedikitpun ia mangkir dari rasa takut bernama kematian itu di tikungan. Keberanian, katanya, telah melekat di mentalnya sejak kecil.

Rezza Kancil, bernama Lengkap Muhammad Rezza Yunus saat bercerita masa mudanya | Foto: Son

“Waktu saya masih kecil, ya, sebelum masuk taman kanak-kanak (TK), saya sudah bisa naik sepeda roda dua dengan lancar, gesit—dan membawanya ke mana-mana,” kenang Rezza Kancil. “Dan ketika sudah masuk TK, ketika yang lain masuk diantar orang tuanya dengan motor, saya justru mengendarai sepeda sendiri.”

Pada saat nama Mick Doohan diperbincangkan di televisi sebagai pembalap motor terbaik di tahun 1994 sampai akhir 1999, Rezza semakin kegirangan dengan dunia balap. Gayanya berspeda semakin menjadi-jadi ketika sudah masuk ke Sekolah Dasar.

“Mick Doohan. Ya, Mick Doohan!” lelaki bernama lengkap Muhammad Rezza Yunus itu menyebut idolanya sewaktu kecil. “Bapak saya seringkali menonton Moto GP kala itu, dan secara tidak langsung saya terpengaruh oleh selera tontonan yang sama.” Ia mengatakan hal ini dengan sangat mengagumkan.

Tak hanya Valentino Rosi, sang raja kejuaraan dunia, rupanya Mick—sapaan akrab Michael Doohan itu, pula telah menginspirasi anak muda yang hidup di daerah di Bali Utara, daerah yang berjarak ribuan kilometer dari tanah kelahiran Mick. Anak muda kelahiran Singaraja, 27 Juni 1986 itu, berkat Mick, sampai juara di lokal dan nasional. Rezza sangat mengidolakan sosok Mick.

Mick Doohan adalah pembalap legendaris asal Australia—juga seorang legenda balap motor dunia. Pembalap kelahiran tahun 1965 itu telah menyabet banyak kejuaraan bergengsi, misalnya Grand Prix 500 cc lima kali berturut-turut sejak tahun 1994-1999. Namun, ia mesti pensiun dini di tahun 1999—setelah cidera parah di bagian kaki kanan pada saat mencoba Sirkuit Assen di Belanda.

Rezza saat angkat piala | Foto: Dok. Rezza

Walaupun sebelumnya, Mick juga telah mengalami pengalaman maut pada tahun 1992, dan setelah dua tahun kemudian itulah ia menyabet juara tadi tanpa jeda—hingga diakui kehebatannya sebagai pembalap, yang cilakanya berkali-kali.

Terinspirasi dari pembalap asal Negara Kanguru itu, balap liar menjadi bahan percobaan Rezza untuk bertarung di awal-awal karirnya. Ketika itu, katanya terus mengingat, SD kelas lima, motor Supra menjadi kuda besi pertama yang ia pacu di arena balap liar—jalanan. “Sekadar untuk bersenang-senang,” ucapnya lirih. “Semua teman saya ajak balap—kecepatan.”

Romantisme kisah Mick Doohan di sirkuit yang cenderung sebentar dalam berkarir itu, menjadi ingatan paling mengesankan bagi Rezza. Bahkan, telah menjadi inspirasinya pula dalam meniti karir di dunia balap: liar maupun resmi.

Bagaimana seorang legenda itu pensiun dengan memboyong juara walaupun badan sudah banyak yang rusak, terbayang hebat di kepala Rezza terus-menerus. Dan sepertinya, lelaki yang pernah menyelesaikan kuliahnya selama tujuh tahun itu terpantik untuk menjadi seorang pembalap seperti Mick.

Rezza Kancil saat balapan di sirkuit | Foto: Dok. Rezza

Hingga satu waktu di kelas 3 SMP—tahun 2000, Rezza menyambung cerita, taman bunga di Jalan Udayana depan Universitas Pendidikan Ganesha (dulu Lab) membangunkan mimpinya yang khayali itu—cukup keras. Lebih-lebih menghilangkan memori kisah Mick dari kepalanya beberapa waktu ke depan, akibat kecelakaan tunggal.

Rezza mengalami gegar otak setelah kepalanya terbentur ke beton pembatas di sana. Insiden itu pun nyaris mendekatkannya pada kematian, dan inilah kali pertama malaikat menemuinya barangkali. Supra oleng tak karuan dan tak ada yang tahu bagaimana tragedi itu terjadi secara kronologis. Masih menyimpan misteri, sebutnya.

“Kepala bagian kiri pecah—retak! Abang tak ingat apa-apa setelah itu,” sebutnya enteng sambil menunjukan bekas jahitan di kepala bagian kiri. “Sampai sekarang Abang tak ingat bagaimana dan karena apa kecelakaan tunggal itu terjadi.”

Darah mengocor deras, dari kepala merambah ke mana-mana. “Untung seorang teman keburu datang. Akhirnya bisa selamat. Aku dibawa ke rumah sakit segera oleh dia,” lanjutnya.

Melihat sang anak memiliki mimpi yang kuat, dan kemauan yang keras terhadap kecepatan di jalanan sebagai pembalap motor, bapaknya, Rezza memanggilnya Abah, mulai membuka diri setelah tragedi tersebut.

Rezza Kancil saat balapan di sirkuit | Foto: Dok. Rezza

Sang bapak mengizinkan Rezza untuk menjadi seorang pembalap yang sah, resmi, kemudian, dengan catatan bapaknya harus selalu mengikutinya pada saat pertandingan. “Itu adalah balapan resmi,” kata sang bapak setelah anaknya benar-benar sembuh. “Bukan balap liar, ya. Yang kalo balap itu, tanpa tujuan yang jelas. Harus serius setelah ini jika memang pengen jadi pembalap beneran—di sirkuit,” ucap sang bapak, dulu—persis seperti yang diceritakannya.

Sampai di sini, barulah pada tahun 2003, ia mengawal karirnya kemudian. Lomba-lomba yang jaraknya dekat dengan kota tempatnya tinggal, mulai diikutinya dengan modal seadanya. Pula sejak itu ia mulai dikenal oleh  banyak orang walaupun tak juara. 

Namun setelah perlombaan Road Race tahun 2004 di Cargo Denpasar, event Kejorda Djarum, Rezza benar-benar memulainya secara sengit. “Peringkat 4,” ujar Rezza membanggakan diri.

Bukan main! Beberapa pembalap senior (seeded) tak bisa mengelak saat Rezza melewatinya dengan begitu cepat dari kejauhan. Kejuaraan yang seharusnya hanya jatuh kepada pembalap professional itu, mereka yang telah memiliki jam terbang tinggi, tetapi ini justru dicuri oleh pendatang baru dari Bali Utara, Rezza Kancil.

“Di tahun 2004 itulah abang salah satu pembalap yang asli Singaraja, dikenal masyarakat, dapat juara 1 di Sirkuit Dewi Sartika Singaraja, wah heboh di Buleleng saat itu. Lawan abang cukup jauh tertinggal, over lap saat itu. Dan di situlah nama “Kancil” itu disebut. Sampai dinyanyiin lagunya: si kancil anak nakal suka mencuri timun… karena abang start paling belakang,” jelasnya.

Penonton bersorak, komentator heboh menyebutnya “Kancil”—dan dari sanalah bagaimana julukan kancil itu tersemat di belakang namanya, hingga sekarang. Apalagi, ia adalah satu-satunya pembalap asal Buleleng yang lahir dari rahim Singaraja, asli.

Ini sangat jarang, katanya, dulu di event kejuaraan daerah itu biasanya pemainnya tidak benar-benar asli dari asal daerah sendiri, bisa dari daerah yang lain tapi atas nama Buleleng, misalnya. Karena dulu mudah memanipuasi data tempat tinggal untuk daftar, untuk menjadi delegasi.

Tim Yamaha (pusat), tahun 2005 meliriknya kemudian dan mengkontraknya untuk bermain sebagai tim, untuk bermain di kancah nasional mewakili Bali. Ia benar-benar petarung jalanan yang liar—yang menjadi hebat. Kota ini, Singaraja, sebagai kota petarung, akhirnya bukan omong kosong dengan melahirkan petarungnya yang resmi di kancah bergengsi itu.

Rezza Kancil bersama Tim Yamaha | Foto: Dok. Rezza

Menariknya, sempat kembali terjungkal keras di pertengahan tahun 2006 di Sirkuit Kargo Denpasar, Rezza kembali gegar otak. Cidera itu cukup lama, sampai satu tahun, sehingga kontraknya diputus oleh Yamaha—agar bisa pulih kembali. Sejak itu juga performanya sedikit menurun beberapa waktu.

Di tahun 2007, ia kembali ke arena balapan seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa terhadap tubuhnya. Melihat performa yang cukup bagus di Yamaha Cup Race 2007 di Jembrana, Reza Kancil ditarik kembali oleh perusahaan tempatnya menyokong materil dahulu—setelah menjadi juara 3 pada kelas Underbone 4 Tak 110 CC Terbuka itu.

Sampai di sini, hanya beberapa saja kejuaraan yang ia ingat sedari tahun 2004-2014. Bahkan, piala penghargaan miliknya tak pernah disimpannya di rumah—dan dilirik pun tidak. Ia selalu membagi pialanya setelah turun dari podium kepada orang yang menginginkan itu sebagai pajangan bagus di etalase rumah.

Benar-benar perolehan yang berdarah-darah itu seperti bungkus kacang tak berharga. Lantas, apa yang membuatnya berharga setelah turun dari podium juara itu?

Rezza Kancil bersama motornya di sela-sela waktu istirahat | Foto: Dok. Rezza

Ia percaya, katanya lagi, dengan tidak menyimpannya di rumah dan melihat pencapaian setelah juara, dapat membangkitkan semangatnya secara berkepanjangan di lomba-lomba berikutnya. Sebab ia tak ingin dirinya merasa puas atas pencapaiannya itu.

“Nah, untuk masalah piala, abang gak pernah nyimpen sama sekali. Walaupun ada, itu hanya ada beberapa saja yang sempat terbawa pulang. Jadi, karena pribadi zaman dulu tuh, bahwa juara itu bagi abang akan bisa digantikan sama seseorang, jadi abang gak pernah megang,” ujarnya eteng saja.

Yang menjadi motivasinya Rezza tidak pernah merasa puas, karena ia tidak melihat hasil pencapaiannya. Pada saat juara pun, ia tidak pernah menaruh piala, sama sekali, di rumahnya. “Jadi, kalau abang dapet piala, aku selalu bertanya, siapa yang mau piala ini? Nanti tak kasih minta. Jadi abang cuma merasa diri abang adalah pembalap yang gak pernah juara. Jadi itu untuk memotivasi diri, agar gak merasa puas, gitu aja.”

Kini, di rumahnya, hanya tersisa beberapa saja penghargaan yang sempat ia bawa pulang. Di nukil dari koran Bali Tribune terbitan tahun 2012, berikut adalah beberapa prestasi selama tahun 2012 yang pernah ia dan timnya sabet, antara lain: Juara 4 Mp3 Motoprix Seri 1 Region 3 Lombok (NTB), Juara 4 Mp4 Motoprix Seri 1 Region 3 Lombok (NTB).

Rezza Kancil saat memberi ahan kepada anak asuhnya tahun 2023 lalu | Foto: Dok. Rezza

Juara 3 Mp4 Motoprix Seri 2 Region 3 Bali; Juara 5 Mp3 Kejurda Bali Road Reace Seri 1 2012, Seri 3 Region 3 Lombok (NTB); Juara 3 MP3 Motoprix seri 4 Region 3 Kupang (NTT); Juara 1 Mp4 Lokal Buleleng dan Open.

Setelah pensiun pada tahun 2014, kini, selain menjadi seorang suami dan mengurus tiga anak, di selasar pensiunnya juga, ia sesekali melatih para pembalap junior yang hendak berlomba. Dua tahun yang lalu, tahun 2022 tepatnya, ia sempat dipanggil oleh IMI (Ikatan Motor Indonesia) untuk melatih di Porprov Bali di Negara, Jembarana.

Dalam kesempatannya itu ia mengakui begitu susahnya mencari calon pembalap—yang mengerti tentang cara membaca RPM pada motor bebek, karena kebanyakan para calon itu lebih cenderung pada metik. Mencarilah ia kemudian ke desa-desa, yang biasa menggunakan motor bebek dan biasa dengan tikungan tajam dan jalan terjal. Akhirnya ia mendapatkan seleranya itu.

Kadek Dwi Surya Putra, anak asuh Rezza Kancil (pojok paling kiri), meraih perak pada Porprov Bali tahun 2022 di Jembrana | Foto: Dok. Rezza

Dalam kurun waktu 4 bulan untuk mencetak pembalap, dengan caranya melatih yang friendly, akhirnya ia mengantarkan anak asuhnya bernama Kadek Dwi Surya Putra meraih perak pada Porprov Bali 2022. Mantap. Selain menjadi pelatih balap, hari ini Rezza juga berjualan emas di Pasar Anyar Buleleng.[T]

Reporter: Sonhaji Abdullah
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto

Berkah Hari Raya Idul Adha, Gede Sedia, Lelaki 70 Tahun Itu Jajakan Koran Bekas dengan Suka Cita
Nenek Kaiyah, Kini 73 Tahun, Kerja Naik Pohon Sejak Usia 15 Tahun
Puji Hartono, Menggantung Hidup kepada Sadel Motor
Suka Duka Pembaca Water Meter PDAM: Diprotes Pelanggan, Digigit Anjing, sampai Bertemu Ular pun Sudah Biasa
Tags: pembalapRezza KancilRoad RaceYamaha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengelola Pertanian di Sela Riuh Pariwisata — Catatan Perjuangan dari SMKN 1 Petang

Next Post

Literasi Digital dan Praktik Jahat AIDA sebagai Strategi Penipuan Efektif

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Literasi Digital dan Praktik Jahat AIDA sebagai Strategi Penipuan Efektif

Literasi Digital dan Praktik Jahat AIDA sebagai Strategi Penipuan Efektif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co