3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Asmaraloka: Antologi Cinta yang Tak Biasa

Nengah Kertalangu by Nengah Kertalangu
July 3, 2024
in Esai
Asmaraloka: Antologi Cinta yang Tak Biasa

Buku Asmaraloka karya Alit S Rini

SEBUAH genre seni lukis romantisme sempat menjadi bagian dari sejarah perkembangan seni lukis Indonesia. Mooi Indie atau Indonesia Molek, sebagai penanda memberi gairah pada kasat mata. Keindahan  atau kemolekan figur benda-benda, alam tropis dan juga tubuh ditunjukkan secara berlebihan, dramatis dan ekosotis.

Eksotis  di mata orang luar dianggap sebuah keunikan yang dramatis. Bila telanjur bayangan tentang eksotis mengarah erotis, apa boleh buat, begitulah, secara umum romantisme juga kerap dianggap sesuatu yang erotis.

Bila penjelasan itu  digunakan untuk menilai karya sastra, apa sajak-sajak dalam buku Asmaraloka, dengan tambahan sebagai sebuah antologi cinta di belakang judul buku, sebagai sajak-sajak romantisme? Ini bagian lain memerlukan penjelasan lain pula.

Sebagai penikmat, bukan pengamat, hal tersebut tak terlalu penting. Lebih utama ingin menemukan nilai. Atau makna kehidupan. Sebab karya susastra itu indah dan mengandung makna. Di balik pernyataan tersurat ada yang  tersirat. Dan pada buku ini ada janji menyuguhkan cinta yang tak biasa dengan cara yang tak biasa pula. Ini sudah nampak pada sejumlah judul sajak.  

Alih-alih menemukan suasana hati yang lembut, mendayu-dayu eksotis apalagi erotis, sebaliknya kita menemukan ungkapan lugas, menabrak pikiran. Misal, sajak “Pembual Kehilangan Cinta.” Ini sajak terasa skeptis  bahwa cinta menjadi sebatas alat. Ini persoalan tubuh. Dengan personifikasi burung merak sebagai tokoh ‘dikorbankan’  sebagai pembual.

Burung merak, simbol maskulin nan anggun, seolah-olah seorang hero yang ditumbangkan melalui penceritaan begitu linier. Memaparkan secara dramatis, teatrikal sang merak tak menemukan yang dicari. Terbayang pesona tubuh yang berharap pemujaan atas keanggunan dirinya. Namun sesungguhnya bagaimana

“Menerima ketaksempurnaan/ Bukan jadi bayang-bayang/ Tak saling memuja,/ menjadi setengah berhala” (sajak Ibadah Cinta,hal 40).   

Apa sesungguhnya cinta itu? Makhluk apakah dia gerangan? Dan menjadi buah bibir dimana-mana. Ada begitu banyak ungkapan pemujaan namun sebaliknya ada pernyataan sinis, bahkan skeptis. Mungkin ini sajak bisa membawa kita pada sebuah pernyataan yang umum dan klise, bahwa ”cinta dari mata turun ke hati” seharusnya sebaliknya, “dari hati lalu ke mata.”    

Pesan semacam ini mudah ditemui dalam novel remaja atau filem yang menempatkan perempuan pada posisi kalah atau korban. Ketika dibangun menjadi sebuah sajak, ini menjadi tantangan. Bisa jadi sebagai uji nyali menantang daya kreativitas  menunjukkan sejauh pencapaian estetika mampu mengeksplorasi yang umum dan yang  remeh-temeh.

Sebuah transformasi menjadikan narasi puitis. Dan ini  menjadi alasan penting,  sesudah penyairnya menerbikan dua  buku kumpulan sajak dengan konten berbeda dan dengan cara bercerita dari sudut pandang perempuan. Dapat dirasakan bahwa sajak-sajak di buku Asmaraloka erat kaitannya dengan peristiwa sosial yang umum.

Penyisipan imajinatif dengan realitas di lingkungan domestik  yang memberi batasan garis tegas dalam hal hubungan personal mengenai cinta. Pada batas ini, beberapa sajak di buku Asmaraloka mengarah ke kritik sosial.

Buku ketiga dari dua buku kumpulan sajak sebelumnya ”Karena Aku Perempuan Bali” (Arti Foundation 2003)  buku kedua “Arunika” (Pustaka Ekspresi 2024) sebagai buku sastra pilihan Majalah Tempo 2023, memang berbeda kontennya namun tetap saja unsur kritik sosial muncul pada ketiga buku.   

Buku kumpulan sajak Asmaraloka antologi cinta ini menjadi unik. Karena tak terjebak diksi yang umum. Beberapa sajak terasa provokatif (Pembual Kehilangan Cinta), dan pada sajak “Cinta Offside” seolah penyairnya melakukan suatu penjelasan bahwa mahkota mutiara, kemegahan yang tak rapuh, tak lapuk dikikis waktu.

Dan mahkota mutiara jelas asosiatif dengan martabat seseorang. Mudah dikaitkan dengan tokoh sentral burung merak nan anggun pada sajak “Pembual Kehilangan Cinta.”  Penyairnya mengatakan, padaku mahkota (kemegahan, keanggunan mudah memenjara, membelenggu, beban bagi kebebasan( hal 33).

Bagi penyairnya, cinta seharusnya memberi ruang bukan membelenggu atas nama kasih sayang. Lagi-lagi terasa umum kita dengar. Ketika dibuat dramatis, ini upaya,  menyuguhkan yang umum menjadi tak biasa.

Ada pula sajak mengandung  asosiatif dengan spirit penerimaan yang afirmatif (Cinta Hujan Puisi). Sikap hidup sebagai pilihan dan penerimaan dengan spirit berserah diri bukan menyerah pada nasib. Melainkan menyerahkan hasil dari memperjuangkan hidup.

Sebuah filosofi cinta yang sembunyi di balik bangunan narasi yang lugas dalam sajak Siklus Waktu seperti sebuah ceritera Panji yang “rindu rasa rindu rupa” (meminjam pernyataan penyair Amir Hamzah dalam sajak “Padamu Jua”) mengalami samsara tubuh di bumi. Cinta menjadi sesuatu yang gaib.

Dalam bahasa lokal ada istilah jatukarma, pertemuan karena karma. Alur narasi dibuat seperti garis lingkaran. Bermula dari titik awal dan ujung perjalanan menuju kembali ke titik semula. Penyairnya menjelaskan tentang ruang dan waktu menjadi jarak dari pertemuan di masa kanak-kanak, seiring waktu saling mencari yang tak diketahui siapa yang dicari, sesat oleh bayang-bayang identitas imajiner.

Sebuah eksplorasi dari ceritera panji dan dongeng pangeran dalam ceritera klasik. Jarak yang terbentang membuat tersesat karena yang dicari menjelma seekor angsa, belibis atau seekor kodok. Eksplorasi menarik jika kreativitas ini dapat memasuki wilayah sejarah sebagai sumber teks di kemudian hari.

Jika sajak dicarikan hubungan dengan kebangkitan kreativitas pada media sosial, apa mungkin di samping konten sejarah sajak juga bisa bicara soal horor? Dalam bentuk cerpen agaknya sudah ada yang memulai.   

 “Deru angin mengurung/ Mengguncang keberadaan/ Tangan-tangan menyulut api amarah// Tak juga hangus// Alam bersuara/ jiwa mendengar/ Menggema seantero sukma,/membuat demarkasi/Lingkaran gaib/Menghadang yang menerabas/lewat gelap……” (Demarkasi Hening, hal 52 ).

Ini cerita lain lagi. Kuasa supranatural memasuki wilayah cinta menjadi magis. Jika istilah penelitian dianggap terlalu berlebihan maka wilayah observasi dan yang bersifat empirik mungkin diperlukan bagi penulis sajak menuju konten lebih luas. Sajak ini bisa dianggap membuka tabir yang membatasi kreativitas.    

Saya bertanya tentang cinta dan Anda pasti punya jawaban panjang dan mungkin juga  mudah terjebak pada rasa romantis maupun erotis.

Bagaimana mengungkapkan cinta tanpa romantis dan erotis temukanlah pada sejumlah judul pada sajak: Percintaan Uji Nyali (hal 13), Anomali Cinta (hal. 17), Titik Nol Cinta (hal.20), Gelembung Cinta (hal 26), Cinta Offside (hal. 33), Cinta Nukturno (hal.50).

Penyairnya mengatakan ini sebuah tawaran dan bukan main-main menawarkan 28 sajak dalam sebuah buku. [T]

Arunika, Terminal Dua Keberangkatan  Alit S Rini
“Arunika” Karya Alit S Rini, Buku Puisi Terbaik Pilihan Tempo 2023
Puisi-puisi Alit S Rini | Aku dan Pertiwi, Percakapan di Depan Api
Puisi-puisi Alit S.Rini | Mantra Disko dari Pub Dekat Kuburan
Sastra Indonesia di Bali | Sebelum dan Semasa Umbu Landu Paranggi
Membaca Puisi Penyair Kupu-Kupu : Ulasan Kumpulan Puisi I Made Suantha “Kukubur Hidup Hidup Puisiku Dalam Hidupku”
Tags: Alit S Rinibuku puisipenyair baliSastra Indonesiasastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gambuh Pedungan: Kesenian Klasik yang Dilematis dan Persoalan Lain di Baliknya

Next Post

Mistaji Menyelam di Tengah Air Keruh, Menjadi Pahlawan Air Bocor di Kota Singaraja

Nengah Kertalangu

Nengah Kertalangu

Penulis tinggal di Denpasar

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Mistaji Menyelam di Tengah Air Keruh, Menjadi Pahlawan Air Bocor di Kota Singaraja

Mistaji Menyelam di Tengah Air Keruh, Menjadi Pahlawan Air Bocor di Kota Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co