6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jalang [yang] Tak Lagi Lajang

Angga Wijaya by Angga Wijaya
June 15, 2024
in Esai
Jalang [yang] Tak Lagi Lajang

SEORANG kawan—penyair kawakan Bali—mengirimkan poster acara sastra bagus di mana dia akan tampil menyanyikan puisinya. Saya menjawab singkat: “kemungkinan saya akan datang”. Namun, sayangnya, saya tak bisa hadir ke acara penting tersebut. Tunangan ingin saya menemaninya hari itu. Maafkan saya, Bung. Bukan berarti saya takut padanya—lebih dari itu: ‘kepentingan bersama’ menjadi prioritas utama. Bung tentu tahu—bahkan Chairil Anwar pun sering cekcok dengan istrinya karena perkara ‘gaya hidup’ bohemian penyair ‘jalang’ yang ‘ingin hidup seribu tahun lagi’ itu. Penyair hebat yang namanya selalu dikenang oleh kita semua.

Akhirnya, istrinya meninggalkan dia. Tak tahan—soal ekonomi, penyair kerap berhadapan dengan kenyataan hidup sehari-hari; pendapatan yang tak pasti, terlebih jika punya anak; uang menjadi masalah pelik; jika kini: menjual buku puisi seharga lima puluh ribu rupiah saja sulit, sementara gelegak api kreativitas bisa padam saat pasangan dalam kondisi emosi kurang baik– membuat hati penyair yang terkenal peka terusik; apa yang sebaiknya kita lakukan kemudian? Bersiasat ‘mencari pekerjaan di luar dunia sastra’ atau dengan kecewa—berhenti dan mengundurkan diri dari jalan aksara dan sastra yang bahkan sejak remaja kita sukai dan cintai?

Hidup ‘jalang’ rasanya bisa terus dilakukan ketika penyair/seniman tidak mengikatkan diri pada sebuah komitmen bernama ‘rumah tangga’. Ah, ini tentu soal lain lagi. Kita akan bahasa lain waktu saja. Sifatnya tentu relatif dan sangat personal. ‘Lain padang, lain ilalang’. Begitulah.

Buku kumpulan puisi [Bukan] Anjing Malam ini pun semacam antitesa: bahwa saya bukanlah seperti yang banyak sahabat juga kerabat sematkan pada sosok penyair yang hidupnya dikenal bebas—terlebih di masa lalu, misalnya, ia dikenal punya banyak kawan perempuan. Puisi-puisi boleh saja “liar”, tetapi itu tidak lantas menjadi gambaran nyata kehidupan. Bahkan, justru sering terjadi kebalikan dari itu semua. Dalam karya yang terkesan polos, tersimpan gelora yang mengejutkan; jauh dari apa yang pembaca bayangkan, termasuk dalam hidup keseharian penyair.

[Bukan] Anjing Malam adalah buku kumpulan puisi ketujuh saya yang akan segera terbit. Berisi 49 puisi yang saya tulis dari tahun 2021 hingga 2023. Judul buku saya ambil dari salah satu puisi dengan judul yang sama. Puisi itu adalah tentang ingatan lama saat saya pernah menjadi mahasiswa pada salah satu universitas negeri di Bali. Syahdan, kakak kelas saya dari jurusan lain menulis prosa liris dengan judul ‘Anjing Malam’. Prosa liris itu dimuat pada salah satu koran besar yang digawangi oleh almarhum Umbu Landu Paranggi. Bagi penulis di Bali, tulisan yang lolos seleksi beliau dan dimuat di koran tersebut merupakan kebanggaan tersendiri. Prosa liris itu bercerita tentang kehidupan mahasiswa yang disebutkan penulis mirip dengan anjing malam; mengacu pada bebasnya kehidupan para mahasiswa laki-laki termasuk dalam asmara dan seks.

Kala itu saya membaca tulisan kakak kelas tersebut. Menurut saya ia memposisikan dirinya lebih sebagai seorang ‘moralis’, apalagi ia dikenal religius dan aktif pada kegiatan organisasi agama. Dari amatan saya, ia juga tak punya pacar, sehingga apa yang ia tulis ketika itu agak bias—semacam rasa muak melihat mahasiswa yang menurutnya ‘liar’, kuliah belum lulus-lulus karena aktif berorganisasi, dan terlalu ‘bebas’ karena lebih mengutamakan urusan asmara ketimbang misalnya menyelesaikan skripsi sehingga bisa lulus tepat waktu seusai harapan dari orang tua.

Bagi saya, apa yang ia tulis saat itu bisa benar dan bisa juga keliru. Benar, karena memang demikian adanya kondisi para mahasiswa di fakultas kampus tersebut. Keliru, karena dalam kasus mahasiswa yang lulusnya lama terdapat juga sebab lain yakni sistem yang tidak berjalan dengan baik. Para dosen yang kurang serius mengajar juga menjadi salah satu sebab, sehingga ketika menyusun skripsi banyak mahasiswa yang kurang memahami apa yang diajarkan baik teori maupun dalam menemukan konteks dengan apa yang hendak mereka teliti dalam skripsi. Agaknya kini sistem dan kondisi perkuliahan tersebut sudah lebih baik seiring dengan perubahan dan perbaikan di sana-sini. Aturan drop-out (DO) mahasiswa juga kabarnya kini lebih ketat.

Puisi [Bukan] Anjing Malam kemudian hadir mengkritisi tulisan kakak kelas saya itu. Bahwa, tidak semua mahasiswa yang ia gambarkan pada prosa liris tersebut kenyataannya begitu. Masih ada mahasiswa baik-baik dan ‘lurus’, sehingga apa yang ia tulis hanya bersifat kasuistik. Pandangan sebagai ‘moralis’ juga seakan-akan menghakimi apalagi tanpa disertai dengan riset mendalam juga solusi dari apa yang ia kritik melalui tulisannya. Berikut puisi saya tersebut:

[BUKAN] ANJING MALAM

Anjing dalam tulisanmu menggonggong keras,
suaranya penuhi kampus kita. Bagai moralis,
kau hakimi para lelaki yang gemar bercinta.

Bisa jadi, bercinta hiburan kita kala kuliah
tak kunjung tamat. Sibuk berorganisasi,
terlalu kritis sehingga dosen tidak suka
dan menunda memberikan nilai ujian.

Kurasa engkau terlalu kuper–tak punya
banyak teman, suka mengurung diri
di kamar kos bersama buku-buku.

Aku tentu bukan anjing malam kau maksud.
Aku lebih takut kepada tuhan melebihimu.

Biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya.
Lama aku tak mendengar kabar tentangmu.
Ada yang bilang kau menikahi orang asing.

Tentu kau tak perlu menjadi anjing seperti kau tulis,
dulu sekali—saat kita sama-sama muda dan belia.

2022

Kembali pada judul esai saya ini, kehidupan mahasiswa yang lajang, dalam artian belum menikah yang biasanya dianggap ‘jalang’, ‘liar’, dan ‘bebas’ tentu akan berubah seiring waktu. Tamat kuliah, menjadi sarjana dan bekerja, lalu menikah dan berkeluarga—adalah fase kehidupan yang alami dan mesti dijalani. Prosa liris ‘Anjing Malam’ pun demikian; asumsi di dalamnya bisa gugur seiring perubahan gaya hidup mahasiswa yang mungkin saja kini berubah: rajin belajar dan mengerjakan tugas kuliah, tidak ikut organisasi kampus; nilai kuliah yang bagus sehingga cepat lulus, tidak pacaran serius sehingga lebih fokus kuliah, dan seterusnya. Tentu, pada posisi ini, ‘Anjing Malam’ hanya akan menjadi cerita masa lalu tentang sosok mahasiswa di kampus tertentu, dan mereka ternyata jauh lebih tangguh saat terjun di dunia kerja maupun bermasyarakat, karena telah melewati banyak pengalaman saat menjadi mahasiswa dulu. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
Menulis Bagi Kehidupan, Melampaui Ruang Kelas : Pengantar Buku Cerpen “Merawat Indonesia”, SMP Jembatan Budaya
Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Epilog: Mencari Pembaca

.

Pertemuan Sejarah dan Pariwisata: Perihal Kebebasan Sejarah
Tags: BukuPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hangat Soto Ayam Ninik | Cerpen Putu Putik Padi

Next Post

Mengenal Penelitian Komunikasi dan Budaya

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Mengenal Penelitian Komunikasi dan Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co