2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jalang [yang] Tak Lagi Lajang

Angga Wijaya by Angga Wijaya
June 15, 2024
in Esai
Jalang [yang] Tak Lagi Lajang

SEORANG kawan—penyair kawakan Bali—mengirimkan poster acara sastra bagus di mana dia akan tampil menyanyikan puisinya. Saya menjawab singkat: “kemungkinan saya akan datang”. Namun, sayangnya, saya tak bisa hadir ke acara penting tersebut. Tunangan ingin saya menemaninya hari itu. Maafkan saya, Bung. Bukan berarti saya takut padanya—lebih dari itu: ‘kepentingan bersama’ menjadi prioritas utama. Bung tentu tahu—bahkan Chairil Anwar pun sering cekcok dengan istrinya karena perkara ‘gaya hidup’ bohemian penyair ‘jalang’ yang ‘ingin hidup seribu tahun lagi’ itu. Penyair hebat yang namanya selalu dikenang oleh kita semua.

Akhirnya, istrinya meninggalkan dia. Tak tahan—soal ekonomi, penyair kerap berhadapan dengan kenyataan hidup sehari-hari; pendapatan yang tak pasti, terlebih jika punya anak; uang menjadi masalah pelik; jika kini: menjual buku puisi seharga lima puluh ribu rupiah saja sulit, sementara gelegak api kreativitas bisa padam saat pasangan dalam kondisi emosi kurang baik– membuat hati penyair yang terkenal peka terusik; apa yang sebaiknya kita lakukan kemudian? Bersiasat ‘mencari pekerjaan di luar dunia sastra’ atau dengan kecewa—berhenti dan mengundurkan diri dari jalan aksara dan sastra yang bahkan sejak remaja kita sukai dan cintai?

Hidup ‘jalang’ rasanya bisa terus dilakukan ketika penyair/seniman tidak mengikatkan diri pada sebuah komitmen bernama ‘rumah tangga’. Ah, ini tentu soal lain lagi. Kita akan bahasa lain waktu saja. Sifatnya tentu relatif dan sangat personal. ‘Lain padang, lain ilalang’. Begitulah.

Buku kumpulan puisi [Bukan] Anjing Malam ini pun semacam antitesa: bahwa saya bukanlah seperti yang banyak sahabat juga kerabat sematkan pada sosok penyair yang hidupnya dikenal bebas—terlebih di masa lalu, misalnya, ia dikenal punya banyak kawan perempuan. Puisi-puisi boleh saja “liar”, tetapi itu tidak lantas menjadi gambaran nyata kehidupan. Bahkan, justru sering terjadi kebalikan dari itu semua. Dalam karya yang terkesan polos, tersimpan gelora yang mengejutkan; jauh dari apa yang pembaca bayangkan, termasuk dalam hidup keseharian penyair.

[Bukan] Anjing Malam adalah buku kumpulan puisi ketujuh saya yang akan segera terbit. Berisi 49 puisi yang saya tulis dari tahun 2021 hingga 2023. Judul buku saya ambil dari salah satu puisi dengan judul yang sama. Puisi itu adalah tentang ingatan lama saat saya pernah menjadi mahasiswa pada salah satu universitas negeri di Bali. Syahdan, kakak kelas saya dari jurusan lain menulis prosa liris dengan judul ‘Anjing Malam’. Prosa liris itu dimuat pada salah satu koran besar yang digawangi oleh almarhum Umbu Landu Paranggi. Bagi penulis di Bali, tulisan yang lolos seleksi beliau dan dimuat di koran tersebut merupakan kebanggaan tersendiri. Prosa liris itu bercerita tentang kehidupan mahasiswa yang disebutkan penulis mirip dengan anjing malam; mengacu pada bebasnya kehidupan para mahasiswa laki-laki termasuk dalam asmara dan seks.

Kala itu saya membaca tulisan kakak kelas tersebut. Menurut saya ia memposisikan dirinya lebih sebagai seorang ‘moralis’, apalagi ia dikenal religius dan aktif pada kegiatan organisasi agama. Dari amatan saya, ia juga tak punya pacar, sehingga apa yang ia tulis ketika itu agak bias—semacam rasa muak melihat mahasiswa yang menurutnya ‘liar’, kuliah belum lulus-lulus karena aktif berorganisasi, dan terlalu ‘bebas’ karena lebih mengutamakan urusan asmara ketimbang misalnya menyelesaikan skripsi sehingga bisa lulus tepat waktu seusai harapan dari orang tua.

Bagi saya, apa yang ia tulis saat itu bisa benar dan bisa juga keliru. Benar, karena memang demikian adanya kondisi para mahasiswa di fakultas kampus tersebut. Keliru, karena dalam kasus mahasiswa yang lulusnya lama terdapat juga sebab lain yakni sistem yang tidak berjalan dengan baik. Para dosen yang kurang serius mengajar juga menjadi salah satu sebab, sehingga ketika menyusun skripsi banyak mahasiswa yang kurang memahami apa yang diajarkan baik teori maupun dalam menemukan konteks dengan apa yang hendak mereka teliti dalam skripsi. Agaknya kini sistem dan kondisi perkuliahan tersebut sudah lebih baik seiring dengan perubahan dan perbaikan di sana-sini. Aturan drop-out (DO) mahasiswa juga kabarnya kini lebih ketat.

Puisi [Bukan] Anjing Malam kemudian hadir mengkritisi tulisan kakak kelas saya itu. Bahwa, tidak semua mahasiswa yang ia gambarkan pada prosa liris tersebut kenyataannya begitu. Masih ada mahasiswa baik-baik dan ‘lurus’, sehingga apa yang ia tulis hanya bersifat kasuistik. Pandangan sebagai ‘moralis’ juga seakan-akan menghakimi apalagi tanpa disertai dengan riset mendalam juga solusi dari apa yang ia kritik melalui tulisannya. Berikut puisi saya tersebut:

[BUKAN] ANJING MALAM

Anjing dalam tulisanmu menggonggong keras,
suaranya penuhi kampus kita. Bagai moralis,
kau hakimi para lelaki yang gemar bercinta.

Bisa jadi, bercinta hiburan kita kala kuliah
tak kunjung tamat. Sibuk berorganisasi,
terlalu kritis sehingga dosen tidak suka
dan menunda memberikan nilai ujian.

Kurasa engkau terlalu kuper–tak punya
banyak teman, suka mengurung diri
di kamar kos bersama buku-buku.

Aku tentu bukan anjing malam kau maksud.
Aku lebih takut kepada tuhan melebihimu.

Biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya.
Lama aku tak mendengar kabar tentangmu.
Ada yang bilang kau menikahi orang asing.

Tentu kau tak perlu menjadi anjing seperti kau tulis,
dulu sekali—saat kita sama-sama muda dan belia.

2022

Kembali pada judul esai saya ini, kehidupan mahasiswa yang lajang, dalam artian belum menikah yang biasanya dianggap ‘jalang’, ‘liar’, dan ‘bebas’ tentu akan berubah seiring waktu. Tamat kuliah, menjadi sarjana dan bekerja, lalu menikah dan berkeluarga—adalah fase kehidupan yang alami dan mesti dijalani. Prosa liris ‘Anjing Malam’ pun demikian; asumsi di dalamnya bisa gugur seiring perubahan gaya hidup mahasiswa yang mungkin saja kini berubah: rajin belajar dan mengerjakan tugas kuliah, tidak ikut organisasi kampus; nilai kuliah yang bagus sehingga cepat lulus, tidak pacaran serius sehingga lebih fokus kuliah, dan seterusnya. Tentu, pada posisi ini, ‘Anjing Malam’ hanya akan menjadi cerita masa lalu tentang sosok mahasiswa di kampus tertentu, dan mereka ternyata jauh lebih tangguh saat terjun di dunia kerja maupun bermasyarakat, karena telah melewati banyak pengalaman saat menjadi mahasiswa dulu. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
Menulis Bagi Kehidupan, Melampaui Ruang Kelas : Pengantar Buku Cerpen “Merawat Indonesia”, SMP Jembatan Budaya
Buku “Menafsir Realitas dan Wacana” | Epilog: Mencari Pembaca

.

Pertemuan Sejarah dan Pariwisata: Perihal Kebebasan Sejarah
Tags: BukuPuisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hangat Soto Ayam Ninik | Cerpen Putu Putik Padi

Next Post

Mengenal Penelitian Komunikasi dan Budaya

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Mengenal Penelitian Komunikasi dan Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co