6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Realita Agama dalam Sepakbola: Tangan Tuhan atau Tangan Setan, Dari Maradona hingga Gonzales

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Opini

Peristiwa terjadinya gol tangan Tuhan oleh Maradona di perempat final Piala Dunia 1986 (kiri), Gonzales (kanan)/ Foto-foto Google

GOL Diego Armando Maradona ke gawang Inggris di perempat final Piala Dunia 1986, tepatnya 22 Juni 1986, menjadi sejarah, legenda, mitos, hingga disakralkan. Gol yang dielu-elukan suporter, fans, dan warga Argentina, tetapi tidak bagi suporter dan masyarakat Inggris yang menjadi “korban” dalam catatan hitam dunia sepak bola itu. Sebuah gol kontroversial yang mencederai semangat fair play yang selalu didengung-dengungkan di jagat sepakbola. Gol paling istimewa sekaligus paling menyakitkan.

Gol di Stadion Aztec, Mexico City, itu mendapatkan tempat tersendiri. Padahal, gol lahir melalui tangan yang seharusnya “haram” dalam sepak bola manapun. Maradona melesakkan bola ke gawang dengan menggunakan tangan kirinya. Maradona melewati lima pemain Inggris lalu diumpan sampai bola melambung ke atas. Maradona menyambut dengan tangannya yang tampak seperti mengenai kepalanya. Bola pun masuk ke gawang Inggris pada menit 51′. Wasit utama Ali bin Nasser asal Tunisia yang memimpin laga itu pun mengesahkan. Laga tersebut sebenarnya berjalan dramatis. Argentina keluar sebagai pemenang dengan unggul melalui gol Maradona tersebut.

Gol itu kemudian disebut sebagai “gol tangan Tuhan”. Ada campur tangan Tuhan dalam proses gol tersebut. Jika terjadi peristiwa serupa maka rujukannya “gol tangan Tuhan milik Maradona”. Dan kenyataan dari masa ke masa gol bak Maradona tercipta dengan tokoh lain. Dalam wikipedia banyak pemain yang disebut “the next Maradona” seperti Pablo Aimar, Hernan Crespo atau Gabriel Omar Batistuta, Lionel Messi pernah mempraktikkan gol tangan Tuhan. Lionel Messi misalnya melakukan pada saat Barcelona menghadapi Espanyol di semi final Copa Del Rey pada 9 Juni 2007 lalu. Messi yang berada di bawah bola langsung berlari dan berusaha menyundul bola menggunakan tangannya mengelabuhi kiper Espanyol, Idriss Carlos Kameni. Wasit menganggap gol Messi tersebut sah meski para pemain Espanyol memprotesnya.

Gol tangan Tuhan pun tak hanya di ajang bergengsi, di liga-liga top dunia, namun di tanah air pun terjadi. Dalam Liga I Indonesia, tentu kita masih ingat betul gol milik Cristian “el Loco” Gonzales striker Arema FC ke gawang Bali United (BU) yang dijaga Kadek Wardana, Sabtu (17/06/2017). Kala itu, Singo Edan menjadi tuan rumah meladeni skuat “Serdadu Tridatu” Bali United di Stadion Gajayana Kota Malang, Jawa Timur.

El Loco memborong dua gol Arema FC melalui penalti pada menit 38′ dan satu gol tambahan pada menit 52′.   Proses gol kedua El Loco terjadi setelah ia meneruskan umpan Adam Alis. Namun sebelum masuk ke gawang, bola terlihat memantul dari tangan Gonzales. Bahkan jelas sekali tampak dalam tayangan ulang di TV, yang kemudian menyebar di youtube, bola memantul dari tangan Gonzales sebelum meluncur ke gawang. Gol itu menuai protes pemain Serdadu Tridatu namun wasit tetap “memberikan” gol tersebut.

Berkat gol itu, tuan rumah memantapkan diri sebagai pemenang pada laga terakhir sebelum jeda kompetisi. Bahkan bagi fans Arema FC tentu gol tersebut mungkin identik dengan “gol tangan Tuhan” milik Maradona. Namun bagi suporter dan penonton Bali United, gol Gonzales itu bisa jadi disebut “gol tangan setan”.  Gol yang amat kontroversial. Dan gol itu bakal selalu diingat ketika Arema FC bertemu BU pada pertandingan-pertandingan berikutnya. Bukan soal skor, siapa, dan bagaimana jalannya pertandingan, tetapi peristiwa gol tangan Gonzales.

Apa benar ada campur tangan Tuhan dan setan dalam gol di arena sepak bola? Biarkan Maradona dan Tuhan yang tahu, begitu juga dengan Gonzales. Dalam muara gol keduanya telah terjadi pertemuan sebutan “Tuhan” dan “Setan”. Dua kata yang merujuk pada agama. Tuhan adalah kebaikan dan setan adalah kejelekan dan kesesatan. Realita agama dalam sepak bola begitu tampak. Simbol-simbol agama masuk dalam sendi-sendi altar jagat sepak bola.

Bagaimana kita melihat sejumlah pemain-pemain top dunia mengekspresikan diri setelah mencetak gol. Pemain pun melaksanakan bentuk ritual, ketaataan, keyakinan tentang ajaran agama yang dianutnya. Lionel Messi misalnya, selalu membuat tanda salib dengan tangannya usai mencetak gol. Begitu juga dengan pemain Arsenal Mesut Oezil yang selalu berdoa dan membaca Al-Fatihah di atas lapangan sebelum laga dimulai.

Jauh lebih dalam, ketika kita bicara sepak bola Brasil. Di negara kelahiran Neymar ini, praktik permainan sepak bola bahkan sering diaduk rata dengan ritual agama. Tingkah laku pemain di dalam dan luar lapangan mewakili kehidupan beragama. Semua pemain memulai pertandingan dengan membuat tanda salib. Keyakinan tumbuh siapapun yang mencatatkan gol pertama untuk Brasil, Yesus dianggap berperan.

Dalam sebuah laporan yang dirilis BBC, Profesor Carmen Rial, pakar antropologi sosial dari Universitas Federal di Santa Catarina menyebutkan,  perayaan kemenangan tim nasional Brasil sangat kentara menunjukkan ketaatan beragama para pemain.

Simbol agama juga begitu jelas ketika perayaan trio pemain Bali United, Ngurah Nanak, Miftahul Hamdi, dan Yabes Roni saat Bali United melawan Perseru Serui di Stadion I Wayan Dipta Gianyar, Minggu (04/06/2017). Nanak yang beragama Hindu menangkupkan tangannya ke atas di depan dahi. Yabes yang beragama Nasrani berlutut sambil mencium kedua tangannya, dan Hamdi bersujud syukur dengan kepala menyentuh rumput lapangan.

Momen tersebut diabadikan fotografer Jawa Pos Radar Bali, Miftahuddin Halim. Foto yang kemudian menjadi viral di media sosial hingga berbagai media dalam negeri maupun luar negeri beberapa waktu lalu. Apalagi waktu itu, Indonesia sedang dilanda isu intoleransi antarumat beragama. Simbol dalam lapangan sepak bola itu disebut-sebut sebagai inspirasi dan penggerak bagaimana membina kerukunan antarumat beragama. Simbol dan ekspresi itu menular ke sejumlah pemain di Liga Indonesia.

Kovak (1976) seperti dituliskan Iswandi Syahputra (KPG: 2016) menilai semua peristiwa olahraga dalam kompetisi sama dengan sebuah liturgi atau upacara keagamaan yang secara ketat memisahkan yang sakral dan profan. Dalam Sosiologi Agama Durkheim, terdapat argumen kausalitas yang menjelaskan bagaimana upacara kolektif dari sebuah ritual keagamaan mampu memunculkan keyakinan kolektif.

Dalam gambaran, simbol, dan gejala-gejala di sepak bola maka tidak salah dan keterlaluan jika sepak bola merupakan agama, minimal agama populer. Penegasan MU for everyman a relegion di Manchester atau munculnya gereja Maradonian di Argentina merupakan hilir dari fenomena sepak bola sebagai agama populer yang diproduksi oleh suatu kebudayaan massa melalui medai massa. Sejumlah syarat ilustrasi sepak bola sebagai agama pun terpenuhi. Agama terutama dalam agama Abrahamik ditandai setidaknya empat hal. Adalah pengakuan terhadap kitab suci, nabi pembawa ajaran, pengikut, dan ritual keagamaan.

“Kitab suci” dalam agama sepak bola statuta FIFA yang diakui seluruh anggota. Kemudian sepak bola juga memiliki “nabi-nabi” kontemporer yang menjadi panutan setiap masa. Pada era tahun 1970-an misalnya, “nabi” dalam sepak bola ada nama Pele dari Brasil, kemudian Johan Cruff dari Belanda. Pada era 1980-an muncul “nabi” Diego Armando Maradona dan Michael Platini (Perancis). Di era 1990-an muncul Reberto Baggio, namun diakhiri Zinedine Zidane dan David Beckham.

Lalu syarat adanya ritual keagamaan juga begitu tampak dalam sepak bola. Ritual yang dalam skala internasional dapat disaksikan dalam hajatan World Cup yang digelar 4  tahun sekali. Sepak bola juga memiliki pengikut bahkan pemuja fanatik dengan jumlah yang melintasi benua, agama, dan negara.

Seperti agama lain, sepak bola mengenal mazhab permainan, misalnya mazhab Samba atau Joga Bonito dari Brasil, Tanggo Argentina, dan total football yang ditemukan Rinus Michels. Ilustrasi tersebut menunjukkan ciri yang melekat dalam suatu agama Abrahamik yang juga dimiliki oleh industri sepak bola.

Dalam skala dan konteks yang berbeda, sepak bola yang telah mengalami proses industrilisasi mampu menempati posisi sosial, kultural, dan religius sekaligus cukup terhormat, setara dengan kedudukan sebuah agama. Lalu apakah sepak bola benar-benar menjadi agama? Sebuah refleksi bagi agamawan dan sosiolog yang mendalami sosiologi agama. (T)

Tags: agamasepakbolasetanTuhan
Share20TweetSendShareSend
Previous Post

Bagaimana Perasaanmu saat Kakak Perempuan Menikah? Ya Senang, Ya Sedih Juga

Next Post

“Aku, Kimia, dan Mereka” – Cerita Ajar dari Guru Kimia

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

Read moreDetails

Toa Lagi Toa Lagi

by Khairul A. El Maliky
February 23, 2026
0
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

PENDAHULUAN Saat bulan Ramadhan tiba setiap tahunnya, suasana keislaman menyelimuti hampir setiap sudut kehidupan di Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke,...

Read moreDetails

Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

by I Gede Joni Suhartawan
February 19, 2026
0
Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

SIDANG RDP (Rapat Dengar Pendapat) antara MKMK (Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi) yang digawangi I Dewa Gede Palguna dengan Komisi III...

Read moreDetails

Tanah Terlantar dan Krisis Ekologis: Mencari Arah Kebijakan Pertanahan Berkeadilan dengan Berlakunya PP 48/2025

by I Made Pria Dharsana
February 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah bukan sekadar objek hak atau sertifikat, tetapi ruang hidup bersama yang menentukan masa depan keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis...

Read moreDetails

Degradasi Moral Elite Politik dalam Perspektif Etika Demokrasi

by I Made Pria Dharsana
January 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

ETIKA politik di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan serius yang bersifat multidimensional. Krisis kepercayaan publik terhadap institusi politik, menguatnya pragmatisme...

Read moreDetails

Matinya Demokrasi Lokal: Kala Pemilihan Kepala Daerah Ditarik Kembali  ke DPRD

by I Made Pria Dharsana
January 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KETIKA hak memilih pemimpin daerah tidak lagi berada di tangan rakyat, di situlah demokrasi lokal mulai kehilangan maknanya. Wacana pengembalian...

Read moreDetails

Wacana Pilkada Lewat DPRD adalah Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Konstitusi?

by Ruben Cornelius Siagian
January 16, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

WACANA pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD kembali mengemuka, dengan dalih klasik, yaitu sah secara konstitusi, lebih efisien, dan...

Read moreDetails

Tanah dan Apartemen untuk Orang Asing di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
January 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

- kajian kritis atas berlakunya Omnibus Law PERKEMBANGAN globalisasi  adalah keniscayaan. Dengan kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi menyebabkan mobilisasi orang...

Read moreDetails

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

by Ikrom F.
January 8, 2026
0
Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Shinta Athaya Gadiza menulis opini berjudul Budaya Viral dan Krisis Kedalaman, Ketika Validasi Publik Menggeser Nalar Kritis yang dimuat di...

Read moreDetails

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNA terhadap Status Hak Milik atas Tanah

by I Made Pria Dharsana
January 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNAterhadap Status Hak Milik atas Tanah setelah berlakunyaKeputusan Mahkamah Konstitusi Nomor No. 69/PUU/XII/2015 dan...

Read moreDetails
Next Post

"Aku, Kimia, dan Mereka" - Cerita Ajar dari Guru Kimia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co