14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Realita Agama dalam Sepakbola: Tangan Tuhan atau Tangan Setan, Dari Maradona hingga Gonzales

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Opini

Peristiwa terjadinya gol tangan Tuhan oleh Maradona di perempat final Piala Dunia 1986 (kiri), Gonzales (kanan)/ Foto-foto Google

GOL Diego Armando Maradona ke gawang Inggris di perempat final Piala Dunia 1986, tepatnya 22 Juni 1986, menjadi sejarah, legenda, mitos, hingga disakralkan. Gol yang dielu-elukan suporter, fans, dan warga Argentina, tetapi tidak bagi suporter dan masyarakat Inggris yang menjadi “korban” dalam catatan hitam dunia sepak bola itu. Sebuah gol kontroversial yang mencederai semangat fair play yang selalu didengung-dengungkan di jagat sepakbola. Gol paling istimewa sekaligus paling menyakitkan.

Gol di Stadion Aztec, Mexico City, itu mendapatkan tempat tersendiri. Padahal, gol lahir melalui tangan yang seharusnya “haram” dalam sepak bola manapun. Maradona melesakkan bola ke gawang dengan menggunakan tangan kirinya. Maradona melewati lima pemain Inggris lalu diumpan sampai bola melambung ke atas. Maradona menyambut dengan tangannya yang tampak seperti mengenai kepalanya. Bola pun masuk ke gawang Inggris pada menit 51′. Wasit utama Ali bin Nasser asal Tunisia yang memimpin laga itu pun mengesahkan. Laga tersebut sebenarnya berjalan dramatis. Argentina keluar sebagai pemenang dengan unggul melalui gol Maradona tersebut.

Gol itu kemudian disebut sebagai “gol tangan Tuhan”. Ada campur tangan Tuhan dalam proses gol tersebut. Jika terjadi peristiwa serupa maka rujukannya “gol tangan Tuhan milik Maradona”. Dan kenyataan dari masa ke masa gol bak Maradona tercipta dengan tokoh lain. Dalam wikipedia banyak pemain yang disebut “the next Maradona” seperti Pablo Aimar, Hernan Crespo atau Gabriel Omar Batistuta, Lionel Messi pernah mempraktikkan gol tangan Tuhan. Lionel Messi misalnya melakukan pada saat Barcelona menghadapi Espanyol di semi final Copa Del Rey pada 9 Juni 2007 lalu. Messi yang berada di bawah bola langsung berlari dan berusaha menyundul bola menggunakan tangannya mengelabuhi kiper Espanyol, Idriss Carlos Kameni. Wasit menganggap gol Messi tersebut sah meski para pemain Espanyol memprotesnya.

Gol tangan Tuhan pun tak hanya di ajang bergengsi, di liga-liga top dunia, namun di tanah air pun terjadi. Dalam Liga I Indonesia, tentu kita masih ingat betul gol milik Cristian “el Loco” Gonzales striker Arema FC ke gawang Bali United (BU) yang dijaga Kadek Wardana, Sabtu (17/06/2017). Kala itu, Singo Edan menjadi tuan rumah meladeni skuat “Serdadu Tridatu” Bali United di Stadion Gajayana Kota Malang, Jawa Timur.

El Loco memborong dua gol Arema FC melalui penalti pada menit 38′ dan satu gol tambahan pada menit 52′.   Proses gol kedua El Loco terjadi setelah ia meneruskan umpan Adam Alis. Namun sebelum masuk ke gawang, bola terlihat memantul dari tangan Gonzales. Bahkan jelas sekali tampak dalam tayangan ulang di TV, yang kemudian menyebar di youtube, bola memantul dari tangan Gonzales sebelum meluncur ke gawang. Gol itu menuai protes pemain Serdadu Tridatu namun wasit tetap “memberikan” gol tersebut.

Berkat gol itu, tuan rumah memantapkan diri sebagai pemenang pada laga terakhir sebelum jeda kompetisi. Bahkan bagi fans Arema FC tentu gol tersebut mungkin identik dengan “gol tangan Tuhan” milik Maradona. Namun bagi suporter dan penonton Bali United, gol Gonzales itu bisa jadi disebut “gol tangan setan”.  Gol yang amat kontroversial. Dan gol itu bakal selalu diingat ketika Arema FC bertemu BU pada pertandingan-pertandingan berikutnya. Bukan soal skor, siapa, dan bagaimana jalannya pertandingan, tetapi peristiwa gol tangan Gonzales.

Apa benar ada campur tangan Tuhan dan setan dalam gol di arena sepak bola? Biarkan Maradona dan Tuhan yang tahu, begitu juga dengan Gonzales. Dalam muara gol keduanya telah terjadi pertemuan sebutan “Tuhan” dan “Setan”. Dua kata yang merujuk pada agama. Tuhan adalah kebaikan dan setan adalah kejelekan dan kesesatan. Realita agama dalam sepak bola begitu tampak. Simbol-simbol agama masuk dalam sendi-sendi altar jagat sepak bola.

Bagaimana kita melihat sejumlah pemain-pemain top dunia mengekspresikan diri setelah mencetak gol. Pemain pun melaksanakan bentuk ritual, ketaataan, keyakinan tentang ajaran agama yang dianutnya. Lionel Messi misalnya, selalu membuat tanda salib dengan tangannya usai mencetak gol. Begitu juga dengan pemain Arsenal Mesut Oezil yang selalu berdoa dan membaca Al-Fatihah di atas lapangan sebelum laga dimulai.

Jauh lebih dalam, ketika kita bicara sepak bola Brasil. Di negara kelahiran Neymar ini, praktik permainan sepak bola bahkan sering diaduk rata dengan ritual agama. Tingkah laku pemain di dalam dan luar lapangan mewakili kehidupan beragama. Semua pemain memulai pertandingan dengan membuat tanda salib. Keyakinan tumbuh siapapun yang mencatatkan gol pertama untuk Brasil, Yesus dianggap berperan.

Dalam sebuah laporan yang dirilis BBC, Profesor Carmen Rial, pakar antropologi sosial dari Universitas Federal di Santa Catarina menyebutkan,  perayaan kemenangan tim nasional Brasil sangat kentara menunjukkan ketaatan beragama para pemain.

Simbol agama juga begitu jelas ketika perayaan trio pemain Bali United, Ngurah Nanak, Miftahul Hamdi, dan Yabes Roni saat Bali United melawan Perseru Serui di Stadion I Wayan Dipta Gianyar, Minggu (04/06/2017). Nanak yang beragama Hindu menangkupkan tangannya ke atas di depan dahi. Yabes yang beragama Nasrani berlutut sambil mencium kedua tangannya, dan Hamdi bersujud syukur dengan kepala menyentuh rumput lapangan.

Momen tersebut diabadikan fotografer Jawa Pos Radar Bali, Miftahuddin Halim. Foto yang kemudian menjadi viral di media sosial hingga berbagai media dalam negeri maupun luar negeri beberapa waktu lalu. Apalagi waktu itu, Indonesia sedang dilanda isu intoleransi antarumat beragama. Simbol dalam lapangan sepak bola itu disebut-sebut sebagai inspirasi dan penggerak bagaimana membina kerukunan antarumat beragama. Simbol dan ekspresi itu menular ke sejumlah pemain di Liga Indonesia.

Kovak (1976) seperti dituliskan Iswandi Syahputra (KPG: 2016) menilai semua peristiwa olahraga dalam kompetisi sama dengan sebuah liturgi atau upacara keagamaan yang secara ketat memisahkan yang sakral dan profan. Dalam Sosiologi Agama Durkheim, terdapat argumen kausalitas yang menjelaskan bagaimana upacara kolektif dari sebuah ritual keagamaan mampu memunculkan keyakinan kolektif.

Dalam gambaran, simbol, dan gejala-gejala di sepak bola maka tidak salah dan keterlaluan jika sepak bola merupakan agama, minimal agama populer. Penegasan MU for everyman a relegion di Manchester atau munculnya gereja Maradonian di Argentina merupakan hilir dari fenomena sepak bola sebagai agama populer yang diproduksi oleh suatu kebudayaan massa melalui medai massa. Sejumlah syarat ilustrasi sepak bola sebagai agama pun terpenuhi. Agama terutama dalam agama Abrahamik ditandai setidaknya empat hal. Adalah pengakuan terhadap kitab suci, nabi pembawa ajaran, pengikut, dan ritual keagamaan.

“Kitab suci” dalam agama sepak bola statuta FIFA yang diakui seluruh anggota. Kemudian sepak bola juga memiliki “nabi-nabi” kontemporer yang menjadi panutan setiap masa. Pada era tahun 1970-an misalnya, “nabi” dalam sepak bola ada nama Pele dari Brasil, kemudian Johan Cruff dari Belanda. Pada era 1980-an muncul “nabi” Diego Armando Maradona dan Michael Platini (Perancis). Di era 1990-an muncul Reberto Baggio, namun diakhiri Zinedine Zidane dan David Beckham.

Lalu syarat adanya ritual keagamaan juga begitu tampak dalam sepak bola. Ritual yang dalam skala internasional dapat disaksikan dalam hajatan World Cup yang digelar 4  tahun sekali. Sepak bola juga memiliki pengikut bahkan pemuja fanatik dengan jumlah yang melintasi benua, agama, dan negara.

Seperti agama lain, sepak bola mengenal mazhab permainan, misalnya mazhab Samba atau Joga Bonito dari Brasil, Tanggo Argentina, dan total football yang ditemukan Rinus Michels. Ilustrasi tersebut menunjukkan ciri yang melekat dalam suatu agama Abrahamik yang juga dimiliki oleh industri sepak bola.

Dalam skala dan konteks yang berbeda, sepak bola yang telah mengalami proses industrilisasi mampu menempati posisi sosial, kultural, dan religius sekaligus cukup terhormat, setara dengan kedudukan sebuah agama. Lalu apakah sepak bola benar-benar menjadi agama? Sebuah refleksi bagi agamawan dan sosiolog yang mendalami sosiologi agama. (T)

Tags: agamasepakbolasetanTuhan
Share20TweetSendShareSend
Previous Post

Bagaimana Perasaanmu saat Kakak Perempuan Menikah? Ya Senang, Ya Sedih Juga

Next Post

“Aku, Kimia, dan Mereka” – Cerita Ajar dari Guru Kimia

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails
Next Post

"Aku, Kimia, dan Mereka" - Cerita Ajar dari Guru Kimia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co