2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Realita Agama dalam Sepakbola: Tangan Tuhan atau Tangan Setan, Dari Maradona hingga Gonzales

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Opini

Peristiwa terjadinya gol tangan Tuhan oleh Maradona di perempat final Piala Dunia 1986 (kiri), Gonzales (kanan)/ Foto-foto Google

GOL Diego Armando Maradona ke gawang Inggris di perempat final Piala Dunia 1986, tepatnya 22 Juni 1986, menjadi sejarah, legenda, mitos, hingga disakralkan. Gol yang dielu-elukan suporter, fans, dan warga Argentina, tetapi tidak bagi suporter dan masyarakat Inggris yang menjadi “korban” dalam catatan hitam dunia sepak bola itu. Sebuah gol kontroversial yang mencederai semangat fair play yang selalu didengung-dengungkan di jagat sepakbola. Gol paling istimewa sekaligus paling menyakitkan.

Gol di Stadion Aztec, Mexico City, itu mendapatkan tempat tersendiri. Padahal, gol lahir melalui tangan yang seharusnya “haram” dalam sepak bola manapun. Maradona melesakkan bola ke gawang dengan menggunakan tangan kirinya. Maradona melewati lima pemain Inggris lalu diumpan sampai bola melambung ke atas. Maradona menyambut dengan tangannya yang tampak seperti mengenai kepalanya. Bola pun masuk ke gawang Inggris pada menit 51′. Wasit utama Ali bin Nasser asal Tunisia yang memimpin laga itu pun mengesahkan. Laga tersebut sebenarnya berjalan dramatis. Argentina keluar sebagai pemenang dengan unggul melalui gol Maradona tersebut.

Gol itu kemudian disebut sebagai “gol tangan Tuhan”. Ada campur tangan Tuhan dalam proses gol tersebut. Jika terjadi peristiwa serupa maka rujukannya “gol tangan Tuhan milik Maradona”. Dan kenyataan dari masa ke masa gol bak Maradona tercipta dengan tokoh lain. Dalam wikipedia banyak pemain yang disebut “the next Maradona” seperti Pablo Aimar, Hernan Crespo atau Gabriel Omar Batistuta, Lionel Messi pernah mempraktikkan gol tangan Tuhan. Lionel Messi misalnya melakukan pada saat Barcelona menghadapi Espanyol di semi final Copa Del Rey pada 9 Juni 2007 lalu. Messi yang berada di bawah bola langsung berlari dan berusaha menyundul bola menggunakan tangannya mengelabuhi kiper Espanyol, Idriss Carlos Kameni. Wasit menganggap gol Messi tersebut sah meski para pemain Espanyol memprotesnya.

Gol tangan Tuhan pun tak hanya di ajang bergengsi, di liga-liga top dunia, namun di tanah air pun terjadi. Dalam Liga I Indonesia, tentu kita masih ingat betul gol milik Cristian “el Loco” Gonzales striker Arema FC ke gawang Bali United (BU) yang dijaga Kadek Wardana, Sabtu (17/06/2017). Kala itu, Singo Edan menjadi tuan rumah meladeni skuat “Serdadu Tridatu” Bali United di Stadion Gajayana Kota Malang, Jawa Timur.

El Loco memborong dua gol Arema FC melalui penalti pada menit 38′ dan satu gol tambahan pada menit 52′.   Proses gol kedua El Loco terjadi setelah ia meneruskan umpan Adam Alis. Namun sebelum masuk ke gawang, bola terlihat memantul dari tangan Gonzales. Bahkan jelas sekali tampak dalam tayangan ulang di TV, yang kemudian menyebar di youtube, bola memantul dari tangan Gonzales sebelum meluncur ke gawang. Gol itu menuai protes pemain Serdadu Tridatu namun wasit tetap “memberikan” gol tersebut.

Berkat gol itu, tuan rumah memantapkan diri sebagai pemenang pada laga terakhir sebelum jeda kompetisi. Bahkan bagi fans Arema FC tentu gol tersebut mungkin identik dengan “gol tangan Tuhan” milik Maradona. Namun bagi suporter dan penonton Bali United, gol Gonzales itu bisa jadi disebut “gol tangan setan”.  Gol yang amat kontroversial. Dan gol itu bakal selalu diingat ketika Arema FC bertemu BU pada pertandingan-pertandingan berikutnya. Bukan soal skor, siapa, dan bagaimana jalannya pertandingan, tetapi peristiwa gol tangan Gonzales.

Apa benar ada campur tangan Tuhan dan setan dalam gol di arena sepak bola? Biarkan Maradona dan Tuhan yang tahu, begitu juga dengan Gonzales. Dalam muara gol keduanya telah terjadi pertemuan sebutan “Tuhan” dan “Setan”. Dua kata yang merujuk pada agama. Tuhan adalah kebaikan dan setan adalah kejelekan dan kesesatan. Realita agama dalam sepak bola begitu tampak. Simbol-simbol agama masuk dalam sendi-sendi altar jagat sepak bola.

Bagaimana kita melihat sejumlah pemain-pemain top dunia mengekspresikan diri setelah mencetak gol. Pemain pun melaksanakan bentuk ritual, ketaataan, keyakinan tentang ajaran agama yang dianutnya. Lionel Messi misalnya, selalu membuat tanda salib dengan tangannya usai mencetak gol. Begitu juga dengan pemain Arsenal Mesut Oezil yang selalu berdoa dan membaca Al-Fatihah di atas lapangan sebelum laga dimulai.

Jauh lebih dalam, ketika kita bicara sepak bola Brasil. Di negara kelahiran Neymar ini, praktik permainan sepak bola bahkan sering diaduk rata dengan ritual agama. Tingkah laku pemain di dalam dan luar lapangan mewakili kehidupan beragama. Semua pemain memulai pertandingan dengan membuat tanda salib. Keyakinan tumbuh siapapun yang mencatatkan gol pertama untuk Brasil, Yesus dianggap berperan.

Dalam sebuah laporan yang dirilis BBC, Profesor Carmen Rial, pakar antropologi sosial dari Universitas Federal di Santa Catarina menyebutkan,  perayaan kemenangan tim nasional Brasil sangat kentara menunjukkan ketaatan beragama para pemain.

Simbol agama juga begitu jelas ketika perayaan trio pemain Bali United, Ngurah Nanak, Miftahul Hamdi, dan Yabes Roni saat Bali United melawan Perseru Serui di Stadion I Wayan Dipta Gianyar, Minggu (04/06/2017). Nanak yang beragama Hindu menangkupkan tangannya ke atas di depan dahi. Yabes yang beragama Nasrani berlutut sambil mencium kedua tangannya, dan Hamdi bersujud syukur dengan kepala menyentuh rumput lapangan.

Momen tersebut diabadikan fotografer Jawa Pos Radar Bali, Miftahuddin Halim. Foto yang kemudian menjadi viral di media sosial hingga berbagai media dalam negeri maupun luar negeri beberapa waktu lalu. Apalagi waktu itu, Indonesia sedang dilanda isu intoleransi antarumat beragama. Simbol dalam lapangan sepak bola itu disebut-sebut sebagai inspirasi dan penggerak bagaimana membina kerukunan antarumat beragama. Simbol dan ekspresi itu menular ke sejumlah pemain di Liga Indonesia.

Kovak (1976) seperti dituliskan Iswandi Syahputra (KPG: 2016) menilai semua peristiwa olahraga dalam kompetisi sama dengan sebuah liturgi atau upacara keagamaan yang secara ketat memisahkan yang sakral dan profan. Dalam Sosiologi Agama Durkheim, terdapat argumen kausalitas yang menjelaskan bagaimana upacara kolektif dari sebuah ritual keagamaan mampu memunculkan keyakinan kolektif.

Dalam gambaran, simbol, dan gejala-gejala di sepak bola maka tidak salah dan keterlaluan jika sepak bola merupakan agama, minimal agama populer. Penegasan MU for everyman a relegion di Manchester atau munculnya gereja Maradonian di Argentina merupakan hilir dari fenomena sepak bola sebagai agama populer yang diproduksi oleh suatu kebudayaan massa melalui medai massa. Sejumlah syarat ilustrasi sepak bola sebagai agama pun terpenuhi. Agama terutama dalam agama Abrahamik ditandai setidaknya empat hal. Adalah pengakuan terhadap kitab suci, nabi pembawa ajaran, pengikut, dan ritual keagamaan.

“Kitab suci” dalam agama sepak bola statuta FIFA yang diakui seluruh anggota. Kemudian sepak bola juga memiliki “nabi-nabi” kontemporer yang menjadi panutan setiap masa. Pada era tahun 1970-an misalnya, “nabi” dalam sepak bola ada nama Pele dari Brasil, kemudian Johan Cruff dari Belanda. Pada era 1980-an muncul “nabi” Diego Armando Maradona dan Michael Platini (Perancis). Di era 1990-an muncul Reberto Baggio, namun diakhiri Zinedine Zidane dan David Beckham.

Lalu syarat adanya ritual keagamaan juga begitu tampak dalam sepak bola. Ritual yang dalam skala internasional dapat disaksikan dalam hajatan World Cup yang digelar 4  tahun sekali. Sepak bola juga memiliki pengikut bahkan pemuja fanatik dengan jumlah yang melintasi benua, agama, dan negara.

Seperti agama lain, sepak bola mengenal mazhab permainan, misalnya mazhab Samba atau Joga Bonito dari Brasil, Tanggo Argentina, dan total football yang ditemukan Rinus Michels. Ilustrasi tersebut menunjukkan ciri yang melekat dalam suatu agama Abrahamik yang juga dimiliki oleh industri sepak bola.

Dalam skala dan konteks yang berbeda, sepak bola yang telah mengalami proses industrilisasi mampu menempati posisi sosial, kultural, dan religius sekaligus cukup terhormat, setara dengan kedudukan sebuah agama. Lalu apakah sepak bola benar-benar menjadi agama? Sebuah refleksi bagi agamawan dan sosiolog yang mendalami sosiologi agama. (T)

Tags: agamasepakbolasetanTuhan
Share20TweetSendShareSend
Previous Post

Bagaimana Perasaanmu saat Kakak Perempuan Menikah? Ya Senang, Ya Sedih Juga

Next Post

“Aku, Kimia, dan Mereka” – Cerita Ajar dari Guru Kimia

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post

"Aku, Kimia, dan Mereka" - Cerita Ajar dari Guru Kimia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co