24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Realita Agama dalam Sepakbola: Tangan Tuhan atau Tangan Setan, Dari Maradona hingga Gonzales

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Opini

Peristiwa terjadinya gol tangan Tuhan oleh Maradona di perempat final Piala Dunia 1986 (kiri), Gonzales (kanan)/ Foto-foto Google

GOL Diego Armando Maradona ke gawang Inggris di perempat final Piala Dunia 1986, tepatnya 22 Juni 1986, menjadi sejarah, legenda, mitos, hingga disakralkan. Gol yang dielu-elukan suporter, fans, dan warga Argentina, tetapi tidak bagi suporter dan masyarakat Inggris yang menjadi “korban” dalam catatan hitam dunia sepak bola itu. Sebuah gol kontroversial yang mencederai semangat fair play yang selalu didengung-dengungkan di jagat sepakbola. Gol paling istimewa sekaligus paling menyakitkan.

Gol di Stadion Aztec, Mexico City, itu mendapatkan tempat tersendiri. Padahal, gol lahir melalui tangan yang seharusnya “haram” dalam sepak bola manapun. Maradona melesakkan bola ke gawang dengan menggunakan tangan kirinya. Maradona melewati lima pemain Inggris lalu diumpan sampai bola melambung ke atas. Maradona menyambut dengan tangannya yang tampak seperti mengenai kepalanya. Bola pun masuk ke gawang Inggris pada menit 51′. Wasit utama Ali bin Nasser asal Tunisia yang memimpin laga itu pun mengesahkan. Laga tersebut sebenarnya berjalan dramatis. Argentina keluar sebagai pemenang dengan unggul melalui gol Maradona tersebut.

Gol itu kemudian disebut sebagai “gol tangan Tuhan”. Ada campur tangan Tuhan dalam proses gol tersebut. Jika terjadi peristiwa serupa maka rujukannya “gol tangan Tuhan milik Maradona”. Dan kenyataan dari masa ke masa gol bak Maradona tercipta dengan tokoh lain. Dalam wikipedia banyak pemain yang disebut “the next Maradona” seperti Pablo Aimar, Hernan Crespo atau Gabriel Omar Batistuta, Lionel Messi pernah mempraktikkan gol tangan Tuhan. Lionel Messi misalnya melakukan pada saat Barcelona menghadapi Espanyol di semi final Copa Del Rey pada 9 Juni 2007 lalu. Messi yang berada di bawah bola langsung berlari dan berusaha menyundul bola menggunakan tangannya mengelabuhi kiper Espanyol, Idriss Carlos Kameni. Wasit menganggap gol Messi tersebut sah meski para pemain Espanyol memprotesnya.

Gol tangan Tuhan pun tak hanya di ajang bergengsi, di liga-liga top dunia, namun di tanah air pun terjadi. Dalam Liga I Indonesia, tentu kita masih ingat betul gol milik Cristian “el Loco” Gonzales striker Arema FC ke gawang Bali United (BU) yang dijaga Kadek Wardana, Sabtu (17/06/2017). Kala itu, Singo Edan menjadi tuan rumah meladeni skuat “Serdadu Tridatu” Bali United di Stadion Gajayana Kota Malang, Jawa Timur.

El Loco memborong dua gol Arema FC melalui penalti pada menit 38′ dan satu gol tambahan pada menit 52′.   Proses gol kedua El Loco terjadi setelah ia meneruskan umpan Adam Alis. Namun sebelum masuk ke gawang, bola terlihat memantul dari tangan Gonzales. Bahkan jelas sekali tampak dalam tayangan ulang di TV, yang kemudian menyebar di youtube, bola memantul dari tangan Gonzales sebelum meluncur ke gawang. Gol itu menuai protes pemain Serdadu Tridatu namun wasit tetap “memberikan” gol tersebut.

Berkat gol itu, tuan rumah memantapkan diri sebagai pemenang pada laga terakhir sebelum jeda kompetisi. Bahkan bagi fans Arema FC tentu gol tersebut mungkin identik dengan “gol tangan Tuhan” milik Maradona. Namun bagi suporter dan penonton Bali United, gol Gonzales itu bisa jadi disebut “gol tangan setan”.  Gol yang amat kontroversial. Dan gol itu bakal selalu diingat ketika Arema FC bertemu BU pada pertandingan-pertandingan berikutnya. Bukan soal skor, siapa, dan bagaimana jalannya pertandingan, tetapi peristiwa gol tangan Gonzales.

Apa benar ada campur tangan Tuhan dan setan dalam gol di arena sepak bola? Biarkan Maradona dan Tuhan yang tahu, begitu juga dengan Gonzales. Dalam muara gol keduanya telah terjadi pertemuan sebutan “Tuhan” dan “Setan”. Dua kata yang merujuk pada agama. Tuhan adalah kebaikan dan setan adalah kejelekan dan kesesatan. Realita agama dalam sepak bola begitu tampak. Simbol-simbol agama masuk dalam sendi-sendi altar jagat sepak bola.

Bagaimana kita melihat sejumlah pemain-pemain top dunia mengekspresikan diri setelah mencetak gol. Pemain pun melaksanakan bentuk ritual, ketaataan, keyakinan tentang ajaran agama yang dianutnya. Lionel Messi misalnya, selalu membuat tanda salib dengan tangannya usai mencetak gol. Begitu juga dengan pemain Arsenal Mesut Oezil yang selalu berdoa dan membaca Al-Fatihah di atas lapangan sebelum laga dimulai.

Jauh lebih dalam, ketika kita bicara sepak bola Brasil. Di negara kelahiran Neymar ini, praktik permainan sepak bola bahkan sering diaduk rata dengan ritual agama. Tingkah laku pemain di dalam dan luar lapangan mewakili kehidupan beragama. Semua pemain memulai pertandingan dengan membuat tanda salib. Keyakinan tumbuh siapapun yang mencatatkan gol pertama untuk Brasil, Yesus dianggap berperan.

Dalam sebuah laporan yang dirilis BBC, Profesor Carmen Rial, pakar antropologi sosial dari Universitas Federal di Santa Catarina menyebutkan,  perayaan kemenangan tim nasional Brasil sangat kentara menunjukkan ketaatan beragama para pemain.

Simbol agama juga begitu jelas ketika perayaan trio pemain Bali United, Ngurah Nanak, Miftahul Hamdi, dan Yabes Roni saat Bali United melawan Perseru Serui di Stadion I Wayan Dipta Gianyar, Minggu (04/06/2017). Nanak yang beragama Hindu menangkupkan tangannya ke atas di depan dahi. Yabes yang beragama Nasrani berlutut sambil mencium kedua tangannya, dan Hamdi bersujud syukur dengan kepala menyentuh rumput lapangan.

Momen tersebut diabadikan fotografer Jawa Pos Radar Bali, Miftahuddin Halim. Foto yang kemudian menjadi viral di media sosial hingga berbagai media dalam negeri maupun luar negeri beberapa waktu lalu. Apalagi waktu itu, Indonesia sedang dilanda isu intoleransi antarumat beragama. Simbol dalam lapangan sepak bola itu disebut-sebut sebagai inspirasi dan penggerak bagaimana membina kerukunan antarumat beragama. Simbol dan ekspresi itu menular ke sejumlah pemain di Liga Indonesia.

Kovak (1976) seperti dituliskan Iswandi Syahputra (KPG: 2016) menilai semua peristiwa olahraga dalam kompetisi sama dengan sebuah liturgi atau upacara keagamaan yang secara ketat memisahkan yang sakral dan profan. Dalam Sosiologi Agama Durkheim, terdapat argumen kausalitas yang menjelaskan bagaimana upacara kolektif dari sebuah ritual keagamaan mampu memunculkan keyakinan kolektif.

Dalam gambaran, simbol, dan gejala-gejala di sepak bola maka tidak salah dan keterlaluan jika sepak bola merupakan agama, minimal agama populer. Penegasan MU for everyman a relegion di Manchester atau munculnya gereja Maradonian di Argentina merupakan hilir dari fenomena sepak bola sebagai agama populer yang diproduksi oleh suatu kebudayaan massa melalui medai massa. Sejumlah syarat ilustrasi sepak bola sebagai agama pun terpenuhi. Agama terutama dalam agama Abrahamik ditandai setidaknya empat hal. Adalah pengakuan terhadap kitab suci, nabi pembawa ajaran, pengikut, dan ritual keagamaan.

“Kitab suci” dalam agama sepak bola statuta FIFA yang diakui seluruh anggota. Kemudian sepak bola juga memiliki “nabi-nabi” kontemporer yang menjadi panutan setiap masa. Pada era tahun 1970-an misalnya, “nabi” dalam sepak bola ada nama Pele dari Brasil, kemudian Johan Cruff dari Belanda. Pada era 1980-an muncul “nabi” Diego Armando Maradona dan Michael Platini (Perancis). Di era 1990-an muncul Reberto Baggio, namun diakhiri Zinedine Zidane dan David Beckham.

Lalu syarat adanya ritual keagamaan juga begitu tampak dalam sepak bola. Ritual yang dalam skala internasional dapat disaksikan dalam hajatan World Cup yang digelar 4  tahun sekali. Sepak bola juga memiliki pengikut bahkan pemuja fanatik dengan jumlah yang melintasi benua, agama, dan negara.

Seperti agama lain, sepak bola mengenal mazhab permainan, misalnya mazhab Samba atau Joga Bonito dari Brasil, Tanggo Argentina, dan total football yang ditemukan Rinus Michels. Ilustrasi tersebut menunjukkan ciri yang melekat dalam suatu agama Abrahamik yang juga dimiliki oleh industri sepak bola.

Dalam skala dan konteks yang berbeda, sepak bola yang telah mengalami proses industrilisasi mampu menempati posisi sosial, kultural, dan religius sekaligus cukup terhormat, setara dengan kedudukan sebuah agama. Lalu apakah sepak bola benar-benar menjadi agama? Sebuah refleksi bagi agamawan dan sosiolog yang mendalami sosiologi agama. (T)

Tags: agamasepakbolasetanTuhan
Share20TweetSendShareSend
Previous Post

Bagaimana Perasaanmu saat Kakak Perempuan Menikah? Ya Senang, Ya Sedih Juga

Next Post

“Aku, Kimia, dan Mereka” – Cerita Ajar dari Guru Kimia

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata...

Read moreDetails
Next Post

"Aku, Kimia, dan Mereka" - Cerita Ajar dari Guru Kimia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co