2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Perasaanmu saat Kakak Perempuan Menikah? Ya Senang, Ya Sedih Juga

Julio Saputra by Julio Saputra
February 2, 2018
in Esai

APAKAH kamu punya seorang kakak perempuan? Jika iya, mari jawab pertanyaan satu ini. Bagaimana perasaan kamu ketika kakak perempuanmu menikah?

Nah, pertanyaan itulah yang kini menghantui benak saya.

Saya punya seorang kakak perempuan, tujuh tahun lebih tua dari saya, dan beberapa waktu lalu ia menikah. Beberapa sanak mulai melempar sebuah pertanyaan yang sama. “Kakakmu menikah, bagaimana perasaanmu?”

Jujur, saya tidak mempersiapkan diri dan mental untuk menjawab pertanyaan itu. Saya sendiri bingung harus menjawab apa. Apakah saya harus senang, atau sebaliknya saya harus bersedih?

Pada akhirnya saya menjawab sebagaimana idealnya orang-orang menjawab pertanyaan seperti itu: “Saya turut bahagia”.

Sesungguhnya jawaban itu tak sepenuhnya jujur. Saya jawab cepat, hitung-hitung biar perkara jawab-menjawab ini cepat selesai. Padahal saya merasa perlu merenung dalam-dalam apa sebenarnya yang saya rasakan.

Hubungan dengan Kakak

Kalau boleh jujur lagi, hubungan saya dengan kakak saya tidak terlalu bagus. Saya dengan adik saya pun juga tidak bagus-bagus amat. Rentang usia yang terpaut jauh membuat kami memiliki minat dan ego yang sangat berbeda. Dari kecil, bak anjing dan kucing, kerjaan kami hanya bertengkar. Hari-hari yang kami lewati selalu diisi dengan sebuah pertengkaran.

Bahkan, kami 100 kali lebih sering bertengkar satu sama lain ketimbang bertengkar dengan teman sebaya kami. Bertengkarnya pun karena hal yang beragam, rebutan barang misalnya, seperti remote untuk mencari chanel TV favorit masing-masing, selisih paham, beda pendapat , sifat saya yang kekanak-kanakan, atau hanya sekadar saling ledek.

Akibatnya, tak jarang kami marahan berhari-hari, bahkan pernah juga sampai berbulan-bulan, layaknya seorang musuh. Orang tua kami sepertinya sudah lelah geleng-geleng kepala dan pusing melihat kami yang rajin bertengkar.

Tapi, itu kan dulu. Saya sendiri sadar kenapa saya bertengkar dengan kakak saya. Mempunyai saudara adalah mempunyai saingan. Ya, tak jarang saya dibanding-bandingkan dengan kakak saya, bahkan dengan sepupu-sepupu saya juga. Saya secara pribadi tidak suka dengan hal tersebut.

Di samping itu, karena umur saya masih belia, barangkali kemampuan menghargai perasaan orang lain yang saya miliki masih belum berkembang, juga kemampuan untuk mengalah dan berkompromi dengan masalah yang ada. Hal yang sama juga barangkali terjadi terhadap kakak saya.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia kami, pertengkaran kami surut dengan sendirinya. Semakin dewasa, sepertinya kemampuan-kemampuan yang saya sebut tadi juga semakin berkembang. Namun, jika pertengkaran kami surut apakah berarti hubungan kami juga membaik? Ya, bisa dikatakan baik, dalam artian tidak ada pertengkaran, namun hubungan kami sejatinya jauh sekali. Kami tidak pernah lagi saling berkomunikasi. Pernah memang, tapi jarang. Kami cenderung tidak berkomunikasi untuk menghindari pertengkaran, untuk menghindari masalah, apalagi misalnya suasana di keluarga juga sedang panas. Bedik ngomong, bedik pelih, begitu kata pepatah Bali.

Saya mengerti bahwa pertengkaran dalam persaudaraan adalah sebuah hal yang mutlak. Saudara di keluarga mana pun pasti akan bertengkar. Adakah saudara di luar sana yang tidak pernah bertengkar? Tidak ada. Semua pernah memiliki pengalaman bertengkar. Tidak ada satu pun saudara yang bebas dari pengalaman bertengkar. Kalau dipikir-pikir lagi, bertengkar justru sengaja diciptakan Tuhan untuk tujuan tertentu.

Lalu apakah perenungan ini sudah bisa menjawab pertanyaan yang saya dapatkan di awal tadi? “Bagaimana perasaanmu saat kakak perempuanmu menikah?” Hhhhmmm saya rasa masih belum.

Perasaan terhadap Kakak

Karena menyangkut perasaan, tentu akan ada pertanyaan seperti “Apakah kamu sayang dengan kakakmu?”

Jujur, saya sendiri sayang sekali dengan kakak saya. Itulah kenapa saya sering mengusilinya, mencari perhatiannya dengan hal-hal konyol dan lain-lain. Ya, atas dasar sayang.

Saya selalu bangga mengakuinya sebagai kakak. Saya selalu bangga mempunyai kakak yang cantik, meski pada akhirnya yang saya dapat adalah ledekan karena wajah kakak saya dengan saya tidak ada miripnya, bak langit dan bumi. Kakak saya memang terlahir cantik, saya sialnya terlahir kurang tampan, mendekati jelek. Tapi saya tidak terlalu memusingkan ledekan-ledekan macam itu. Cuma ledekan bercanda, tak ada seriusnya. Hal yang sudah biasa terjadi dalam sebuah pertemanan.

Selain itu, saya juga bangga menceritakan ke teman-teman saya bahwa kakak saya berbakat, tentang bakatnya menjadi MC sampai menjadi juara di perlombaan, tentang pengalamannya menjadi penari dalam sendratari pawai ogoh-ogoh, tentang pengalamannya terlibat dalam lomba baris berbaris sampai menjadi juara, dan masih banyak lagi. Cukup saya katakana saya bangga dengan semua itu, meski kemudian berakhir juga dengan ledekan bercandaan teman-teman saya yang mengatai saya tak bisa apa-apa.

Namun, di satu sisi, memang benci dulu pernah ada karena pertengkaran yang berlarut dengan marahan selama berbulan-bulan, tapi seiring berjalanya waktu benci itu memang sudah memudar, tapi yang terjadi selanjutnya saya dan kakak saya seperti canggung untuk berinteraksi, untuk mengobrol, untuk menyapa, atau hanya untuk jalan bareng.

Bagaimana Perasaan Ketika Kakak Menikah?

Nah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan ini berdasarkan dua renungan saya di atas. Jika nanti ada lagi yang bertanya demikian, saya akan menjawab dengan tegas “Saya senang, dan saya sedih”

Saya bahagia, ia akan melangsungkan pernikahan dengan orang yang ia pilih, laki-laki polos dan lugu yang asing dengan rokok dan kekerasan, yang saya yakini bisa membuatnya bahagia setelah kisah cintanya selama kurang lebih delapan tahun dalam status pacaran. Sebagai saudara memang sepantasnya saya bahagia. Sudah wajibnya saya mendukung kebahagian kakak saya sendiri.

Saya bersedih, karena ternyata saya sedikit menyesal. Aya menyesal karena ternyata hari-hari yang saya lalui dengan kakak saya hanya diwarnai sebuah pertengkaran. Saya merasa sedikit sekali memiliki kenangan indah bersama kakak saya, sepertinya juga hampir tak bisa dingat, kecuali pertengkaran-pertengkaran kami, dan saat kakak saya akan menikah, ia akan dimiliki sepenuhnya oleh suami dan keluarga suaminya, sementara saya merasa saya belum bisa menjadi adik yang baik dan berguna.

Keinginan untuk memiliki hubungan lebih dekat tentu ada, selalu bersama meski saling mengejek, karena menurut saya lebih baik berisik karena bertengkar ketimbang damai tapi berpisah. Berpisah selain karena jarak, juga karena saling tidak mau menyapa dan bergaul karena membenci satu sama lain. Waktu memang membawa perubahan. Pertengkaran yang sudah lama berlalu kerap membuat saya rindu masa-masa menggelikan itu. Meski menyebalkan, keberadaan kakak saya juga terkadang saya rindukan.

Teruntuk kakak saya, maaf karena saya belum menjadi adik yang baik. Saya berharap pertengkaran yang kita lalui selama ini bisa menjadi bekal hidup untuk menghadapi masalah-masalah yang akan nanti, entah apa, entah kapan. Saya bahagia kakak menikah, dan saya sedih juga kakak menikah. (T)

Tags: cintakasihkemanusiaanperasaanpersaudaraan
Share9TweetSendShareSend
Previous Post

Hari Ini, Apakah Agama itu Mitos?

Next Post

Realita Agama dalam Sepakbola: Tangan Tuhan atau Tangan Setan, Dari Maradona hingga Gonzales

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

Realita Agama dalam Sepakbola: Tangan Tuhan atau Tangan Setan, Dari Maradona hingga Gonzales

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co