12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Perasaanmu saat Kakak Perempuan Menikah? Ya Senang, Ya Sedih Juga

Julio Saputra by Julio Saputra
February 2, 2018
in Esai

APAKAH kamu punya seorang kakak perempuan? Jika iya, mari jawab pertanyaan satu ini. Bagaimana perasaan kamu ketika kakak perempuanmu menikah?

Nah, pertanyaan itulah yang kini menghantui benak saya.

Saya punya seorang kakak perempuan, tujuh tahun lebih tua dari saya, dan beberapa waktu lalu ia menikah. Beberapa sanak mulai melempar sebuah pertanyaan yang sama. “Kakakmu menikah, bagaimana perasaanmu?”

Jujur, saya tidak mempersiapkan diri dan mental untuk menjawab pertanyaan itu. Saya sendiri bingung harus menjawab apa. Apakah saya harus senang, atau sebaliknya saya harus bersedih?

Pada akhirnya saya menjawab sebagaimana idealnya orang-orang menjawab pertanyaan seperti itu: “Saya turut bahagia”.

Sesungguhnya jawaban itu tak sepenuhnya jujur. Saya jawab cepat, hitung-hitung biar perkara jawab-menjawab ini cepat selesai. Padahal saya merasa perlu merenung dalam-dalam apa sebenarnya yang saya rasakan.

Hubungan dengan Kakak

Kalau boleh jujur lagi, hubungan saya dengan kakak saya tidak terlalu bagus. Saya dengan adik saya pun juga tidak bagus-bagus amat. Rentang usia yang terpaut jauh membuat kami memiliki minat dan ego yang sangat berbeda. Dari kecil, bak anjing dan kucing, kerjaan kami hanya bertengkar. Hari-hari yang kami lewati selalu diisi dengan sebuah pertengkaran.

Bahkan, kami 100 kali lebih sering bertengkar satu sama lain ketimbang bertengkar dengan teman sebaya kami. Bertengkarnya pun karena hal yang beragam, rebutan barang misalnya, seperti remote untuk mencari chanel TV favorit masing-masing, selisih paham, beda pendapat , sifat saya yang kekanak-kanakan, atau hanya sekadar saling ledek.

Akibatnya, tak jarang kami marahan berhari-hari, bahkan pernah juga sampai berbulan-bulan, layaknya seorang musuh. Orang tua kami sepertinya sudah lelah geleng-geleng kepala dan pusing melihat kami yang rajin bertengkar.

Tapi, itu kan dulu. Saya sendiri sadar kenapa saya bertengkar dengan kakak saya. Mempunyai saudara adalah mempunyai saingan. Ya, tak jarang saya dibanding-bandingkan dengan kakak saya, bahkan dengan sepupu-sepupu saya juga. Saya secara pribadi tidak suka dengan hal tersebut.

Di samping itu, karena umur saya masih belia, barangkali kemampuan menghargai perasaan orang lain yang saya miliki masih belum berkembang, juga kemampuan untuk mengalah dan berkompromi dengan masalah yang ada. Hal yang sama juga barangkali terjadi terhadap kakak saya.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia kami, pertengkaran kami surut dengan sendirinya. Semakin dewasa, sepertinya kemampuan-kemampuan yang saya sebut tadi juga semakin berkembang. Namun, jika pertengkaran kami surut apakah berarti hubungan kami juga membaik? Ya, bisa dikatakan baik, dalam artian tidak ada pertengkaran, namun hubungan kami sejatinya jauh sekali. Kami tidak pernah lagi saling berkomunikasi. Pernah memang, tapi jarang. Kami cenderung tidak berkomunikasi untuk menghindari pertengkaran, untuk menghindari masalah, apalagi misalnya suasana di keluarga juga sedang panas. Bedik ngomong, bedik pelih, begitu kata pepatah Bali.

Saya mengerti bahwa pertengkaran dalam persaudaraan adalah sebuah hal yang mutlak. Saudara di keluarga mana pun pasti akan bertengkar. Adakah saudara di luar sana yang tidak pernah bertengkar? Tidak ada. Semua pernah memiliki pengalaman bertengkar. Tidak ada satu pun saudara yang bebas dari pengalaman bertengkar. Kalau dipikir-pikir lagi, bertengkar justru sengaja diciptakan Tuhan untuk tujuan tertentu.

Lalu apakah perenungan ini sudah bisa menjawab pertanyaan yang saya dapatkan di awal tadi? “Bagaimana perasaanmu saat kakak perempuanmu menikah?” Hhhhmmm saya rasa masih belum.

Perasaan terhadap Kakak

Karena menyangkut perasaan, tentu akan ada pertanyaan seperti “Apakah kamu sayang dengan kakakmu?”

Jujur, saya sendiri sayang sekali dengan kakak saya. Itulah kenapa saya sering mengusilinya, mencari perhatiannya dengan hal-hal konyol dan lain-lain. Ya, atas dasar sayang.

Saya selalu bangga mengakuinya sebagai kakak. Saya selalu bangga mempunyai kakak yang cantik, meski pada akhirnya yang saya dapat adalah ledekan karena wajah kakak saya dengan saya tidak ada miripnya, bak langit dan bumi. Kakak saya memang terlahir cantik, saya sialnya terlahir kurang tampan, mendekati jelek. Tapi saya tidak terlalu memusingkan ledekan-ledekan macam itu. Cuma ledekan bercanda, tak ada seriusnya. Hal yang sudah biasa terjadi dalam sebuah pertemanan.

Selain itu, saya juga bangga menceritakan ke teman-teman saya bahwa kakak saya berbakat, tentang bakatnya menjadi MC sampai menjadi juara di perlombaan, tentang pengalamannya menjadi penari dalam sendratari pawai ogoh-ogoh, tentang pengalamannya terlibat dalam lomba baris berbaris sampai menjadi juara, dan masih banyak lagi. Cukup saya katakana saya bangga dengan semua itu, meski kemudian berakhir juga dengan ledekan bercandaan teman-teman saya yang mengatai saya tak bisa apa-apa.

Namun, di satu sisi, memang benci dulu pernah ada karena pertengkaran yang berlarut dengan marahan selama berbulan-bulan, tapi seiring berjalanya waktu benci itu memang sudah memudar, tapi yang terjadi selanjutnya saya dan kakak saya seperti canggung untuk berinteraksi, untuk mengobrol, untuk menyapa, atau hanya untuk jalan bareng.

Bagaimana Perasaan Ketika Kakak Menikah?

Nah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan ini berdasarkan dua renungan saya di atas. Jika nanti ada lagi yang bertanya demikian, saya akan menjawab dengan tegas “Saya senang, dan saya sedih”

Saya bahagia, ia akan melangsungkan pernikahan dengan orang yang ia pilih, laki-laki polos dan lugu yang asing dengan rokok dan kekerasan, yang saya yakini bisa membuatnya bahagia setelah kisah cintanya selama kurang lebih delapan tahun dalam status pacaran. Sebagai saudara memang sepantasnya saya bahagia. Sudah wajibnya saya mendukung kebahagian kakak saya sendiri.

Saya bersedih, karena ternyata saya sedikit menyesal. Aya menyesal karena ternyata hari-hari yang saya lalui dengan kakak saya hanya diwarnai sebuah pertengkaran. Saya merasa sedikit sekali memiliki kenangan indah bersama kakak saya, sepertinya juga hampir tak bisa dingat, kecuali pertengkaran-pertengkaran kami, dan saat kakak saya akan menikah, ia akan dimiliki sepenuhnya oleh suami dan keluarga suaminya, sementara saya merasa saya belum bisa menjadi adik yang baik dan berguna.

Keinginan untuk memiliki hubungan lebih dekat tentu ada, selalu bersama meski saling mengejek, karena menurut saya lebih baik berisik karena bertengkar ketimbang damai tapi berpisah. Berpisah selain karena jarak, juga karena saling tidak mau menyapa dan bergaul karena membenci satu sama lain. Waktu memang membawa perubahan. Pertengkaran yang sudah lama berlalu kerap membuat saya rindu masa-masa menggelikan itu. Meski menyebalkan, keberadaan kakak saya juga terkadang saya rindukan.

Teruntuk kakak saya, maaf karena saya belum menjadi adik yang baik. Saya berharap pertengkaran yang kita lalui selama ini bisa menjadi bekal hidup untuk menghadapi masalah-masalah yang akan nanti, entah apa, entah kapan. Saya bahagia kakak menikah, dan saya sedih juga kakak menikah. (T)

Tags: cintakasihkemanusiaanperasaanpersaudaraan
Share9TweetSendShareSend
Previous Post

Hari Ini, Apakah Agama itu Mitos?

Next Post

Realita Agama dalam Sepakbola: Tangan Tuhan atau Tangan Setan, Dari Maradona hingga Gonzales

Julio Saputra

Julio Saputra

Alumni Mahasiswa jurusan Bahasa Inggris Undiksha, Singaraja. Punya kesukaan menulis status galau di media sosial. Pemain teater yang aktif bergaul di Komunitas Mahima

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post

Realita Agama dalam Sepakbola: Tangan Tuhan atau Tangan Setan, Dari Maradona hingga Gonzales

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co