6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Meditasi Selamatkan Hidup Saya

Angga Wijaya by Angga Wijaya
May 14, 2024
in Esai
Telenovela

Angga Wijaya

KETIKA banyak pikiran, dalam bahasa kekinian: overthinking, saya melakukan meditasi. Itu jelas kurang baik, karena (hanya) pada keadaan tertentu baru bermeditasi. Baiknya, meditasi dilakukan secara rutin, setiap hari, bisa di waktu pagi dan sore, atau malam sebelum tidur. Tidak perlu terlalu lama, cukup 30 menit. Bahkan, oleh psikiater senior yang juga seorang guru meditasi di Bali, Luh Ketut Suryani, disarankan meditasi  dilakukan tidak lebih dari 15 menit.

Terdapat banyak teknik meditasi. Saya menyukai meditasi dengan memperhatikan masuk dan keluarnya nafas. Kemudian mengulang-ulang “OM” selama beberapa menit. Lalu biasanya saya mendaraskan mantra Gayatri. “OM” diyakini sebagai pranava, sabda atau suara awal penciptaan semesta. Penelitian oleh NASA baru-baru ini membuktikan bahwa alam semesta selalu bergetar, mengeluarkan suara “OM”. Itu pula yang diketahui para resi ribuan tahun lalu. “OM” dipakai untuk mengawali sebuah mantra. Itu tentu bukanlah sebuah kebetulan.

Ajaran pertama meditasi datang dari ayah angkat saat saya berusia sekitar 6 tahun. Ketika sore saat kami duduk bersama di beranda rumah, beliau menyarankan saya untuk bersila dengan punggung tegak. “Jangan bungkuk,” kata beliau berulang kali. Saya mematuhinya. Setelah belasan tahun berlalu sewaktu saya intens mempelajari spiritualitas, saya baru sadar bahwa ayah angkat saya adalah guru pertama yang mengajari meditasi.

Saat ujian sekolah menjelang, misalnya, beliau tidak pernah bosan menyampaikan kepada saya untuk tenang dalam mengerjakan soal-soal ujian. Beliau menyuruh saya agar menarik lalu menghembuskan nafas secara perlahan sebelum ujian dimulai. Juga berdoa. Bukankah apa yang beliau sampaikan adalah ajaran mengenai meditasi? Beliau luar biasa, saya merasa amat bersyukur pernah diasuh olehnya. Budi-baik beliau selalu terkenang di hati.

Dalam kondisi tidak baik bahkan “kritis”, meditasi memberi saya ketenangan. Ada yang mengatakan, meditasi adalah antidot dari penyakit jiwa. Maksudnya, meditasi sangat membantu pemulihan gangguan mental seperti depresi, cemas berlebih, bipolar, skizofrenia, dan jenis gangguan mental lainnya yang kini banyak menghinggapi tidak hanya anak-anak muda namun juga para lansia. Isu kesehatan mental pun kini banyak diperbincangkan berbagai kalangan.

Meditasi, adalah pelengkap pengobatan. Bukan berarti sebagai pengganti obat-obatan medis. Bhagavan Shree Rajneesh atau juga dikenal dengan nama Osho (1931-1990), beliau adalah profesor ilmu filsafat yang kemudian mengabdikan diri menjadi guru spiritual, memandang obat dan meditasi sebagai praktik yang saling melengkapi untuk mencapai keutuhan. Seperti yang beliau katakan: “Medicine heals the body, meditation heals the soul”. Obat menyembuhkan tubuh, meditasi menyembuhkan jiwa.”

Osho membayangkan masa depan di mana rumah sakit mengintegrasikan meditasi bersama dengan pengobatan tradisional. Beliau percaya bahwa stres kronis dan pikiran yang terputus seringkali menjadi akar penyebab penyakit. Meditasi, dengan menenangkan pikiran dan meningkatkan kedamaian batin, berpotensi mencegah masalah ini.

Osho melihat meditasi sebagai cara untuk menumbuhkan gaya hidup sehat, sehingga mengurangi ketergantungan pada obat dalam jangka panjang. Beliau mengakui pentingnya obat untuk mengobati penyakit fisik. Namun, dia memperingatkan bahwa obat sering mengatasi gejala tanpa mengatasi faktor mental atau emosional yang mendasari yang mungkin berkontribusi pada penyakit tersebut.

Pendekatan Holistik

Osho meyakini, pengobatan dan meditasi dapat bekerja bersama. Rumah sakit akan menawarkan teknik meditasi bersama dengan metode pengobatan tradisional. Pendekatan holistik ini, dia percaya, akan mengarah pada proses penyembuhan yang lebih dalam. Penting untuk dicatat, beliau tidak menganjurkan untuk meninggalkan pengobatan sama sekali. Untuk kondisi tertentu, pengobatan sangat penting. Pandangannya berfokus pada integrasi meditasi dengan pengobatan untuk pendekatan yang lebih komprehensif terhadap kesehatan dan kesejahteraan.

Beliau mengembangkan berbagai teknik meditasi, beberapa di antaranya cukup dinamis dan katarsis, yang bertujuan untuk melepaskan stres dan hambatan emosional. Anda dapat menemukan informasi tentang teknik ini melalui situs web Osho International (https://www.osho.com/).

Di Indonesia, ajaran Osho banyak diadaptasi dan dipraktikkan di Anand Ashram yang didirikan oleh Anand Krishna, guru spiritual keturunan India kelahiran Solo, Jawa Tengah, pada 1956. Beliau sejak tahun 1990 mempopulerkan meditasi sebagai gaya hidup, termasuk sebagai pendekatan holistik dalam mengatasi berbagai penyakit kronis. Bahkan Anand Krishna sendiri pernah mengidap kanker darah atau leukemia yang kemudian sembuh juga dengan meditasi, selain pengobatan medis. Sejak itu beliau mengajak banyak orang untuk mulai meniti ke dalam diri, menekuni meditasi yang sejatinya bersifat universal tanpa sekat agama, ras, dan suku.

Saya pernah beberapa waktu aktif mengikuti program meditasi di Anand Krishna Centre, Kuta, Badung, Bali, dan merasakan bagaimana meditasi banyak membantu saya terutama soal kepercayaan diri, melakoni hidup dengan optimis,  manajemen stres, yang berguna tidak hanya di lingkungan kerja atau sekolah namun juga dalam kehidupan bermasyarakat. Setelah didera skizofrenia pada 2009, saya jarang sekali melakukan meditasi. Pemulihan hanya mengandalkan obat dari psikiater. Beberapa tahun setelah itu, saya baru kembali menekuni meditasi. Hasilnya, saya tidak lagi menyalahkan orang lain atas semua hal yang saya alami.

Sikap dan cara pandang tersebut membuat saya lebih ringan dan enteng menjalani hidup. Tidak ada lagi pertanyaan dan keluhan tentang apa yang terjadi di masa lalu termasuk mengapa orang tua kandung saya menitipkan saya pada paman dan bibi untuk diasuh dan dibesarkan. Itu poin yang membuat saya sejak kecil merasa “terbuang” dan disia-siakan. Setelah lima tahun masa pemulihan di mana saya kembali ke kampung halaman dan tinggal bersama orang tua kandung saya, rasanya itulah hikmah dari skizofrenia. Saya bisa mengenal ibu yang pernah mengandung saya, juga bapak yang rendah hati, penuh perhatian, yang terpukul ketika mengetahui anaknya mengalami gangguan mental. Beliau selalu memperhatikan dan menjaga saya kala itu. Itulah juga sebuah “meditasi” bagi saya. Ia, sekali lagi, menyelamatkan hidup saya. “Meditasi bukan apa yang kamu katakan, tetapi apa yang kamu lakukan,” kata Nanoq da Kansas yang juga guru sastra saya sewaktu remaja. Ia benar adanya. Pada akhirnya, apa yang kita lakukan sehari-hari, perlakuan kita kepada orang tua, saudara, kerabat, dan sahabat menunjukkan siapa kita sebenarnya; sejauh mana meditasi yang kita pelajari dari banyak “guru” dan juga tempat suci yang pernah kita ziarahi. Selamat bermeditasi. Salam damai dari saya, pembelajar meditasi. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis ANGGA WIJAYA
Mengenal BISAHelpline, Layanan Pencegahan Bunuh Diri di Bali
Menjadi Terbuka Itu Berbahaya | Catatan Akhir Tahun
Di Sanur, Belajar Bangkit dari Lansia Bali
Tags: meditasiSchizophrenia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ke Panti Asuhan Destawan di Sawan Bersama Pemuda Lintas Agama

Next Post

Kemauan Film “Galaksi” dari Sudut Pandang Keluarga, Sahabat, dan Pacar

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Kemauan Film “Galaksi” dari Sudut Pandang Keluarga, Sahabat, dan Pacar

Kemauan Film “Galaksi” dari Sudut Pandang Keluarga, Sahabat, dan Pacar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co