23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bumi yang Tersedak Plastik

M. Fajarli Iqbal by M. Fajarli Iqbal
February 2, 2018
in Opini

Ilustrasi: Komang Astiari

FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan hewan mati ‘tersedak plastik’. Tidak sedikit biota laut yang mengira plastik adalah makanan sehingga harus mati dan menjadi bangkai akibat tersedak plastik. Bahkan sampah ini diperkirakan berkali lipat lebih besar daripada benua Amerika. Sungguh luar biasa.

Frasa ‘tersedak plastik’ mungkin berlebihan namun jika ditelaah cocok untuk mengambarkan bagaimana keadaan bumi sekarang ini. Penggunaan  plastik yang tidak terkontrol membuat berbagai sektor kehidupan menghasilkan limbah yang sangat sulit terurai ini. Mulai dari bayi sampai dengan orang dewasa pernah memakai plastik dan membuang limbahnyai. Pemakaian plastik yang tidak terhingga ini membuat bumi kian ‘tersedak’ dengan plastik dan kini, planet hijau ini sudah sangat sekarat.

Hasil riset Jenna R Jambeck dan kawan-kawan (publikasi di www.sciecemag.org 12 Februari 2015) yang diunduh dari www.iswa.org menyebutkan bahwa Indonesia berada di posisi kedua penyumbang sampah plastik ke laut setelah Tiongkok, disusul Filipina, Vietman, dan Sri Langka. Prestasi yang sangat unik.

Hasil yang sangat mencengangkan juga diungkap oleh Greeneretaion, organisasi non pemerintah ini menyebutkan bahwa satu orang Indonesia rata-rata bisa menghabiskan 700 kantong plastik pertahun. Dengan kata lain, untuk satu orang Indonesia saja, ratusan lembar plastik terpakai yang pada akhirnya menjadi limbah yang membahayakan kehidupan.

Pada tataran ini kita yang katanya makhluk paling cerdas telah melakukan pembunuhan. Pada tahap ini pula kita mulai membinasakan kehidupan. Pada level ini pula kita telah menrusak tatanan kehidupan. Tudingan ini tentu tidaklah keterlaluan mengingat limbah plastik sangat sulit terurai. Tak heran jika fenomena ini dibiarkan, umur bumi dan umur kehidupan tidak akan lama lagi bertahan.

Tentu tak perlu dipikirkan lagi ini ulah siapa, karena secara akal sehat hanya manusialah yang mampu menciptakan plastik dan memakainya. Dan, hanya kita juga yang menjadi produsen tunggal limbah platik. Dengan kata lain, manusialah yang telah membunuh jutaan biota laut dan makhluk tak berdosa lain dengan merusak ekosistem akibat tak hentinya menghasilkan limbah plastik.

MULAI Minggu 21 Februari 2016 pemerintah menerapkan peraturan untuk tidak lagi mengratiskan kantong plastik di pusat perbelanjaan. Setiap pengguna kantong plastik harus membayar minimal Rp 200 untuk setiap satu kantongnya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan terhadap meledaknya limbah plastik yang kian menumpuk. Namun, apakah langkah ini mampu menghentikan ribuan ton limbah setiap harinya?

Tentu saja kita mengapresiasi setiap langkah untuk mengurangi limbah plastik namun secara ekonomi membayar Rp 200 untuk setiap kantong plastik hanya akan membebani ekonomi rakyat dan menambah aset beberapa perusahaan besar. Karena kenyataannya konsumen tidak mempedulikan 200 rupiah itu dan tetap saja limbah plastik semakin banyak dengan tambahan catatan pengusaha makin kaya.

Mungkin ada pernyataan yang mengatakan bahwa hasil penjualan tersebut akan dipakai untuk pengolahan limbah plastik. Tapi, berapa persen? Kita tahu, banyak yang tidak jujur di negeri ini. Bisa saja 200 rupiah itu berpindah kantong dan memperkaya beberapa pihak dan bukan digunakan sebagamana mestinya. Ironis sekali.

Birokrasi pemerintahan kita selalu bertele-tele pada persoalan sampingan dan tidak langsung ke inti persoalan. Logika berpikirnya begini, jika ingin mengurangi limbah plastik maka penggunaan plastik harus dikurangi. Nah, menggurangi penggunaan plastik bukan dengan menjual plastik ke masyarakat dengan harapan tak ada pembeli akan tetapi penurunan konsumsi plastik dapat dilakukan dengan cara menciptakan pengganti plastik yang murah dan tentu saja ramah lingkungan sehingga tidak menjadi limbah.

Ketika pengganti platik muncul dengan teknologi ramah lingkungan maka sektor penghasil plastik harus dikurangi secara berkala agar tidak muncul gelombang PHK. Tarik para pekerja ke sektor prokdusi pengganti plastik yang ramah lingkungan tersebut. Terdengar mudah tapi pada dasarnya sangat sulit namun, untuk kepentingan yang lebih penting hal ini bukanlah hal yang mustahil. Demi menyelamatkan bumi demi menyelamatkan kehidupan.

Persoalan plastik bukan masalah sepele. Ini merupakan fenomena kehancuran alam yang harus segera ditangani. Fenomena ini dipercaya atau tidak dapat memusnahkan kehidupan di bumi. Semakin lama sampah semakin menumpuk dan pada akhirnya bumi tertimbun plastik. Dan pada skenario terburuk, bumi juga akan tersedak plastik.

Selain daripada penangana oleh pemerintah kita selaku manusia dan produsen limbah plastik juga harus paham dengan fenomena ini. Sedini mungkin kita harus menjaga agar sampah plastik tak lagi terapung di laut. Kita juga harus mulai memberikan energi terhadap sampah di sekitar kita yang kiat menggunug. Membuang sampah ke kali atau ke sungai sudah harus kita tinggalkan. Jangan sampai mencari praktis malah menimbulkan dampak yang besar.

Kita harus konsen terhadap persoalan sampah ini. jika tidak maka fenomena ini akan terus membesar. Plastik akan membawa bencana besar bagi kehidupan. Jika plastik terus dikonsumsi dan limbah plastik terus diproduksi dan limbah itu dibuang ke laut. Maka, laut biru yang bersih akan jadi catatan indah dalam cerita sejarah manusia. Karena dalam hitungan tahun laut akan menjadi tumpukan sampah dan sampah akan menutupi laut. Dan pada akhirnya laut biru yang jernih hanya akan jadi cerita sejarah atau cerita fiksi masa lalu. (T)

Tags: bumiplastikSampah
Share44TweetSendShareSend
Previous Post

Kemiskinan dan Upacara, Mendapat dan Memberi

Next Post

Dari Singaraja ke Kaohsiung: Menembus Batas Menembus Nalar

M. Fajarli Iqbal

M. Fajarli Iqbal

Mahasiswa PBSI FKIP Unsyiah, Aceh, dan pecinta lingkungan. Email: fajarliiqbal@gmail.com

Related Posts

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails
Next Post

Dari Singaraja ke Kaohsiung: Menembus Batas Menembus Nalar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co