14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Singaraja ke Kaohsiung: Menembus Batas Menembus Nalar

Ni Luh Wanda Putri Pradanti by Ni Luh Wanda Putri Pradanti
February 2, 2018
in Tualang

Foto-foto: koleksi penulis

Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya – segalanya berjalan seperti film drama. Bukan sekadar menembus batas Negara, tapi rasanya seperti menembus nalar, hingga tubuh ini tiba di kota itu.  

Tentu, setiap orang punya mimpi muluk-muluk. Saya juga. Dulu, beberapa kali saya berangan-angan sembari bertanya dalam diri, bagaimana kira-kira pengalaman pertama saya jalan-jalan ke luar negeri? Bersama keluargakah? Sulit membayangkan saya bisa pergi bersama keluarga. Biaya pasti sangat besar untuk menanggung lima sampai tujuh orang. Bersama teman-temankah? Mungkin bisa. Namun tetap saja harus memiliki tabungan dan persiapan dulu.

Artinya, tahapan harus saya lalui dengan panjang untuk menikmati mimpi muluk-muluk itu. Selesaikan kuliah, kemudian bekerja. Bila beruntung tabungan bisa disisihkan. Bila tidak, mungkin selama beberapa tahun lebih lama baru bisa keluar negeri. Namun nampaknya saya memiliki kelebihan kecil yang tanpa sengaja melekat dalam diri saya. Sehingga tahap pencapaian mimpi menjadi tidak teratur dan bisa lebih cepat dari harapan. Kelebihan kecil itu adalah “berani memutuskan untuk meletakkan diri di tempat yang tak biasa”.

13467621_677787339028579_1001231644_oDampak kelebihan kecil itu tampak membawa perubahan sejak dua tahun lalu. Berawal dari iseng ikut Komunitas Anak Alam karena bosan dengan rutinitas harian sebagai mahasiswi Jurusan Pendidikan Matematika. Dari situ saya bertemu teman-teman baru yang memperkenalkan saya dengan organisasi Wirausaha Muda Singaraja. Yang kemudian membuat saya berkenalan dengan teman baru lainnya yang mengajak saya bergabung dengan organisasi kepemudaan internasional JCI (Junior Chamber International). JCI kemudian membawa diri saya berhadapan dengan banyak perubahan.

Saya mengalami banyak perbaikan dan menikmati momen pemaknaan hidup. Selain mengalami kepuasan pribadi karena banyak terlibat dalam kegiatan sosial untuk membantu sesama, saya juga mengalami peningkatan diri baik dari segi kemampuan berkomunikasi, perluasan jaringan pertemanan, dan yang terpenting adalah mengalami banyak perombakan pola pikir.

Perombakan pola pikir tidak hanya berdampak kepada hidup jadi lebih positif dan lebih asyik, tapi juga membawa banyak pengalaman baru yang gila dan tak terduga. Berlatarbelakang sebagai mahasiswa Pendidikan Matematika yang notabene dicap hanya berkutat dengan rumus-rumus, serta tidak pernah sekalipun ikut terlibat aktif dalam kegiatan apapun di luar rutintas belajar, tiba-tiba saya diterjang secara bertubi-tubi oleh pengalaman-pengalaman pertama yang mengesankan. Kali pertama menyanyi solo di depan umum. Merasa gemetar menjadi pembawa acara (MC) dadakan. Merasakan gregetnya menjadi perancang dan pelaksana kegiatan dalam jumlah tim yang minim. Yang terbaru, adalah pengalaman yang mewujud dari mimpi, yakni merasakan enaknya jalan-jalan keluar negeri.

Wah jalan-jalan ke luar negeri? Gratis? Enak dong!

Di bagian jalan-jalannya memang enak, namun sesungguhnya, yang betul-betul enak adalah perjuangannya. Seperti saya katakan, saya mengalami banyak perombakan pola pikir. Dulu, sekolah dan perguruan tinggi mengajarkan untuk berpikir runut, bertahap dan terstruktur, sehingga melahirkan manusia dengan pola pikir: Kaya dulu, baru bantu orang lain. Lulus dulu, baru kerja. Nabung dulu, baru jalan-jalan. dan seterusnya.

Sedangkan orang-orang di luar lingkungan normal mengajarkan berpikir kritis, praktis dan fleksibel. Sesuaikan gerakmu dengan situasi yang ada. Kamu memiliki kemampuan tak terbatas. Segalanya bisa terwujud. Tidak ada syarat apapun untuk boleh berbuat baik, kerjakan saja apa yang bisa kamu bantu untuk mereka! Jangan tunggu, mintalah sekarang, wujudkan sekarang! dan sejenisnya. Kemudian tumbuhlah saya dengan kehidupan baru lewat pemikiran-pemikiran itu. Lantas lahirlah kesempatan manis itu.

Penari Dadakan

Kesempatan untuk berangkat ke luar negeri datang dari JCI. JCI memiliki agenda rutin untuk melaksanakan pertemuan internasional. Pertama, tingkat antar negara satu rumpun, di mana Indonesia termasuk rumpun Asia-Pasific, dengan nama kegiatan Asia Pasific Conference (ASPAC), setiap Juni. Kedua, pertemuan tingkat dunia, World Congres, setiap November.

menembus nalar2Setelah mendengar informasi dari Local President (sebutan untuk ketua organisasi JCI tingkat daerah), di awal tahun 2016 saya berniat ikut menikmati suasana ASPAC, 2 – 5 Juni 2016 di Kaohsiung – Taiwan. Saya pun menabung. Namun malangnya tabungan saya kemudian bocor, tak ada sisa, karena harus memenuhi keperluan mendadak.

Beruntung saya punya Local President yang memiliki jiwa yang murni tangguh sehingga semesta selalu memberikan jalan baik. Dua minggu sebelum hari keberangkatan, ia memberi saya kabar baik. Ia bercerita bahwa JCI telah membuat kontrak kerjasama dengan Kementerian Pariwisata untuk melaksanakan promosi pariwisata Indonesia di Kaohsiung. Dan saya dipilih dalam tim promosi. Tugas saya, salah satunya menari di Kaohsiung. Tarian Panyembrahma dan Cendrawasih.

Jeng jeng jeng! Waktu terasa berhenti. Masalahnya, terakhir kali saya menari ketika kelas 6 SD. Saya juga tak pernah menari Cendrawasih yang super lincah itu. Gugup memang. Tapi saya tidak takut. Mungkin segala ketakutan telah dikalahkan rasa senang karena akhirnya mendapat kesempatan menghirup hawa luar negeri. Atau mungkin, pikiran ini telah terbiasa dengan tantangan gila yang serba mendadak. Berbagai perasaan dan pertimbangan muncul dan tenggelam bagai sapuan ombak. Yang kemudian paling kuat muncul adalah bisikan dari dalam diri, “Aku akan menjadi wakil Bali, menampilkan budayaku di negeri orang. Membanggakan budayaku didepan negara lain”.

Bisikan itu menguatkanku untuk berkata ‘iya’ dan berkomitmen memenuhi tugas dengan baik.

Besok paginya, saya memulai latihan. Sendiri. Awalnya meniru gerakan kaki sang penari di video, kemudian gerakan tangan, dan setelah sedikit hafal, lantas baru diikuti gerak pinggul dan gerak seluruh badan. Saya berlatih pagi hari, istirahat sebentar untuk makan siang, kemudian menari lagi, istirahat beberapa saat, kemudian lanjut berlatih. Terkadang saat sore hari saya tidak bisa berlatih karena harus mengajar. sehingga saya berlatih sebentar malam hari. Selama tidur pun, saya memutar gong tari hingga bangun esok hari, berharap tiba-tiba secara ajaib saat bangun saya hafal seluruh gerakan tari, atau bila tidak bisa seajaib itu, setidaknya tubuh saya akrab dengan suara gongnya. Ini serius, saya tidak mengada-ada. Saya benar-benar melakukannya.

Badan saya selalu berpeluh sepanjang hari. Kering sesaat ketika istirahat, kemudian berpeluh lagi. Rambut lepek dan bau. Segalanya tidak terasa nyaman, namun inilah perjuangan. Saya sempat berpikir mencari guru tari, namun para guru dari sanggar profesional sedang mempersiapkan pertunjukan Pentas Kesenian Buleleng (PKB). Teman-teman jago tari yang saya kenal sedang sibuk mempersiapkan ulangan umum di sekolah. Momennya sangat tidak tepat.

Di hari keempat, saya tumbang. Suhu tubuh tinggi, badan terasa ngilu. Juga masuk angin. Seharian tak bisa mengangkat tubuh. Hanya meringkuk dalam selimut. Setelah dirawat intensif-instan oleh bapak, besok siangnya kondisi saya pulih. Saya berlatih lagi. Sehari sebelum keberangkatan, saya hafal Panyembrahma, namun masih meraba-raba gerak Tari Cendrawasih.

Senin sore 31 Mei kami pun berangkat ke Jakarta. Pagi sebelum berangkat, saya masih sempat latihan. Latihan tetap saya lanjutkan di malam hari ketika telah sampai di Jakarta. Saya tidak bisa memaksakan diri saya untuk tampil sempurna dengan keadaan yang genting seperti ini, karena saya bukan ahlinya. Namun setidaknya bila saya terus melakukannya dengan nikmat berulang-ulang, setidaknya tubuh saya akan terlihat meyatu dengan iringan gamelan.

Subuh, kami berangkat ke bandara pukul 03.00, transit selama empat jam di Bandar Udara Internasioal Hongkong, kemudian terbang ke Kaohsiung. Tiba di hotel jam 19.00.

13493242_677787679028545_365327685_oKaohsiung merupakan kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Kota ini memiliki banyak gedung yang menjulang tinggi. Suasana kotanya asri, ada banyak taman rekreasi yang tersebar di sepanjang kota yang dilengkapi fasilitas untuk berolah raga dan arena bermain anak. Di sepanjang jalan raya, pohon tumbuh subur dan sangat hijau, namun angin di sana agak enggan bergerak. Selain taman, terdapat fasilitas penyewaan sepeda yang berada dibeberapa titik yang menjadi fasilitas umum.

Hotel tempat saya menginap juga memberikan fasilitas sepeda gratis untuk berkeliling kota. Hotel itu bernama Hotel Kindness di Jalan Sanduo I. Sesuai namanya, hotel ini sangat baik hati. Di samping memberi fasilitas sepeda gratis, hotel ini juga memberikan es krim gratis selama 24 jam, bakpao gratis setiap sore, serta laundry gratis, namun harus dikerjakan sendiri. Kaohsiung juga sangat peduli kepada masyarakatnya, sehingga mengeluarkan kebijakan tentang aktivitas merokok, yang hanya boleh dilakukan di area tertentu saja. Setelah menempati kamar dan beristirahat sebentar, perjuangan kembali saya lakukan sedikit lagi. Ya, saya berlatih menari lagi malam itu juga. Tanpa lelah.

Akhirnya, 2 Juni 2016 Tari Panyembrahma dipentaskan dalam acara VIP Luncheon di Hotel Grand Hi-Lai. Ini merupakan acara penyambutan tamu VIP dari seluruh negara yang hadir dalam ASPAC yang dikemas dalam acara makan siang. Dinginnya AC dan efek demam panggung seperti bersekutu untuk mengerjai saya sebelum tampil. Entah berapa kali saya yang telah berpakaian tari lengkap dibuatnya harus kembali ke toilet karena ingin buang air kecil terus. Sangat repot, namun lebih baik dari pada ngompol saat pentas. Selain Tari Panyembrahma juga dipentaskan Tari Kagandrung, seni memainkan Angklung dan juga beberapa lagu ringan sebagai teman untuk menikmati santapan.

Tari Panyembrahma tampil pertama. Denyut jantung sudah tidak karuan. Tariannya sudah hafal, tapi tetap saja takut bila tiba-tiba lupa segalanya saat dipanggung. Akhirnya saya panggil panggil kembali nama Tuhan untuk menenangkan diri sambil lompat-lompat kecil untuk mengalihkan pikiran. Saat pertunjukan dimulai, saya bergerak dengan gemetar. Namun sebisa mungkin untuk tetap menahan senyum. Detik demi detik seperti berjalan lambat, namun syukurnya senyum dan penghormatan dari para tamu VIP mampu membuat saya sedikit rileks. Ajaibnya, pentas yang dihujani grogi itu bisa berjalan dengan lancar. Ini pasti kerjaan Tuhan.

Bonus yang asyik, si penari menjadi artis sesaat. Seluruh mata yang melihat menawarkan diri untuk mengajak kami berfoto bersama, maklum mereka berasal dari negara lain. Menemukan orang dengan kostum Tari Bali pasti menjadi kemewahan tersendiri bagi mereka. Jangankan mereka, saya yang memakai pakaian itu saja bangga dan senang sekali. Euforia berfoto makin deras ketika saya menampilkan Tari Cendrawasih keesokan harinya. Kami pentas di International Convention Center Kaosiung (ICCK) di dalam Acara Wonderful Indonesia Night.

Bila di acara VIP Luncheon hanya mengundang para tamu VIP, di Wonderful Indonesia Night kami mengundang seluruh member JCI yang menghadiri ASPAC. Jumlahnya ribuan orang. Kami sibuk menjadi artis foto dan membantu memasangkan udeng kepada setiap member yang datang sedari belum tampil hingga acara selesai. Selain Tari Cendrawasih, Tari Kagandrung dan pementasan seni angklung juga kembali ditampilkan, ditambah dengan Tari Oleg, Tari Condong, Tari Kecak, Tari Topeng, serta Tari Barong – Rangda. Tidak seperti saat menampilkan Tari Panyembrahma, saya merasa lebih rileks ketika menarikan Tari Cendrawasih, mungkin karena telah berpengalaman sebelumnya.

Tersesat Cari Hotel

Tibalah saat jalan-jalan. Pengalaman pertama jalan-jalan adalah ketika kami menghadiri Taiwan Night, acara serupa dengan Wonderful Indonesia Night, yang diselenggarakan member JCI Taiwan. Kami pergi dengan taksi yang dipesankan pihak hotel. JCI Taiwan menyediakan beragam pemainan, dari modern hingga tradisional. Kami dibolehkan menyicipi makanan dan minuman secara gratis di setiap stand. Segalanya berjalan lancar. Namun karena saking asyiknya menikmati suasana Taiwan Night, kami tidak sadar ternyata teman-teman lain dari Indonesia sudah tidak ada di acara itu. Mereka pulang duluan. Akhirnya kami memutuskan pulang ke hotel berdua saja.

di pagodaMuncul pengalaman baru. Masyarakat Taiwan umumnya hanya menggunakan Bahasa Mandarin untuk berkomunikasi, baik secara verbal maupun tertulis. Mereka sangat sedikit paham Bahasa Inggris, pula sangat jarang mereka bisa membaca tulisan latin. Untungnya saat keluar dari gedung, kami bertemu dengan volunteer yang memang bertugas menerjemahkan bahasa dan membantu kami memesan taksi.

Nama inggrisnya Bapak Emba. Kami bicara dengannya, meminta menunjukkan kepada supir taksi bahwa kami hendak ke Hotel Kindness. Ia pun melakukannya dengan baik.      Kami duduk tenang di jok taksi. Begitu tiba di area Kindness, ternyata bentuk bangunan yang kami temukan berbeda. Kami salah masuk Hotel. Kami mencoba berkomunikasi dengan Bahasa Inggris ditambah dengan kode gerak. Serta mengucapkan alamat Jalan Sanduo Street. Ia tidak mengerti. Untuk membantu, saya menunjukkan beberapa foto yang sempat saya ambil di beberapa titik di hotel. Saya menyodorkan setiap foto yang memuat aksara mandarinnya, berharap di sana terselip alamat hotel. Celaka, dia menunjukkan ekspresi bahwa dia tahu.

13453092_677798939027419_279990826_oKami masuk hotel. Dan meminta bantuan petugas front office untuk menerjemahkan maksud kami kepada supir taksi. Menyebutkan bahwa sekali lagi, kami bermaksud ke Hotel Kindness yang berada di Jalan Sanduo I, tapi petugas itu juga tidak mengerti. Belakangan setelah mereka melakukan cross check dengan hotel pusat, kami menyadari kesalahan kami. Sanduo tidak dibaca dengan lafal sanduo, tapi santho. Untuk menyebut Jalan Sanduo, kami harus mengucapkan Santho Luo. Akhirnya setelah dua kali mendapat alamat palsu, kami tiba juga di hotel. Setelah pengalaman itu, jika keluar kami selalu membawa kartu nama hotel, atau ikut teman yang punya koneksi internet untuk GPS.

Kota Kaohsiung sangat romantis dimalam hari. Seluruh kota dipenuhi lampu warna warni. Bahkan kita bisa menikmati lampu-lampu tersebut sambil naik perahu menyala di Love River. Pengalaman yang indah untuk dinikmati. Bukan hanya karena kesmpatan jalan-jalan ke negeri orang, namun karena saya bisa jalan-jalan sembari menjadi penari mewakili negeri. Segalanya mungkin, bila kita mau bermimpi lebih jauh, menembus batas nalar. (T)

Tags: taiwantari bali
Share107TweetSendShareSend
Previous Post

Bumi yang Tersedak Plastik

Next Post

Pelestarian Bahasa Bali Hanya “Sebates Munyi”

Ni Luh Wanda Putri Pradanti

Ni Luh Wanda Putri Pradanti

Berupaya menjadi penulis

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails
Next Post

Pelestarian Bahasa Bali Hanya “Sebates Munyi”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co