23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Mualafnya Tujuh KK di Desa Kutuh Bangli

Abdul Karim Abraham by Abdul Karim Abraham
March 13, 2024
in Tualang
Kisah Mualafnya Tujuh KK di Desa Kutuh Bangli

Penulis berbincang-bincang di Masjid Nurul Iman | Foto: Dok. Penulis

PADA awal bulan Maret kemarin, saya yang kebetulan ada agenda kaderisasi GP Ansor di Bangli, menyempatkan diri berkunjung ke Dusun Angensari, Desa Kutuh, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Tujuan utamanya adalah bersilaturrahim ke komunitas minoritas Muslim sekaligus ingin mendengar langsung cerita “unik” berkembangnya Islam di sana.

Lokasi daerah ini cukup jauh dan bisa dibilang sulit diakses karena berada di lereng pegunungan Batur. Jaraknya sekitar 42 kilometer ke arah barat laut pusat Kota Bangli.

Meski secara administrasi masuk Kabupaten Bangli, warga Desa Kutuh lebih banyak berinteraksi dan sekaligus bertransaksi dengan warga Kabupaten Buleleng. Tepat di sebelah barat Desa Kutuh, yakni Desa Madenan, termasuk wilayah Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, adalah satu-satunya desa terdekat, paling dekat malah—karena Desa Kutuh dikelilingi perbukitan dan kawasan hutan.

Ditemani beberapa sahabat, saya meluncur dari Kota Bangli dengan mengambil rute agak jauh. Ini saya lakukan karena mengikuti saran dari sahabat Banser Bangli yang sudah pernah ke Desa Kutuh. Rute jalan terdekat cukup membahayakan, kata mereka. Banyak kelokan, tanjakan, maupun turunan yang ekstrem, apalagi cuaca yang kini sering hujan dan rawan pohon tumbang.

Rute yang kami ambil menuju Kintamani, kemudian meneruskan ke Madenan, arah tembusan Tejakula. Artinya, untuk mencapai Desa Kutuh, kami harus masuk wilayah Buleleng dulu. Kata seorang teman, ini rute yang paling aman.

Namun, aman yang ia maksud tentu bukan dalam arti yang sesungguhnya. Sebab, setelah kami melewatinya, ini rute tetap ekstrem. Apalagi, di antara kami, belum pernah sama sekali melewati jalanan pegunungan yang membelah hutan ini.

Di Desa Kutuh ini, tepatnya di Dusun Angensari, kini terdapat 27 KK Muslim. Di sini juga sudah berdiri sebuah masjid, yang diberi nama Nurul Iman. Kami disambut 3 orang warga di sana, salah satunya Mustaqim, tokoh pemuda yang sebelumnya sudah berkomunikasi via WA.

Memang, secara geografis, rasanya sulit Islam bisa masuk ke sini, tapi ini yang bikin penasaran. Setelah berbincang-bincang, kira-kira begini awal mulanya:

Kakeknya Mustaqim, kalau tidak salah bernama Irasun, yang saat itu masih beragama Hindu, pada tahun 1982 mengalami luka pada kakinya yang tidak kunjung sembuh. Berbagai usaha penyembuhan sudah dilakukan, tapi tidak membuahkan hasil.

Akhirnya ia menemui salah seorang pendeta Hindu Bali. Dan di luar dugaan, sang pendeta justru mengatakan, kalau mau sembuh, Irasun dan keluarganya harus kembali ke agama leluhurnya. Masih ragu dengan saran tersebut, ia pun mendatangi pendeta lain. Ternyata sarannya sama, harus kembali ke agama leluhur.

Irasun kemudian menelusuri agama leluhurnya. Ternyata ia dan mayoritas penduduk Angensari dulunya meruapakan pasukan kerajaan dari Lombok yang ditugaskan ke Bali untuk menyerang Kerajaan Klungkung. Ekspedisi militer ini terjadi sekitar tahun 1891. Artinya, leluhurnya dulu berasal dari Suku Sasak yang beragama Islam.

Akhirnya, sejak saat mengetahui asal-usul agama leluhurnya, bersama keluarganya, sebanyak 7 KK, Irasun mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah masuk Islam, anehnya, tanpa diobati, kaki Irasun sembuh.

Penulis (paling kanan) foto bersama tokoh Muslim Desa Kutuh | Foto: Dok. Penulis

Berpindahnya agama ini membuat gempar warga Angensari. Awalnya, beberapa sesepuh Hindu di sana mencurigai adanya pihak luar yang sengaja mengislamkan warga setempat. Apalagi saat itu menjelang Pemilu 1982.

Situasi yang semakin panas, menurut cerita Mustaqim, Kapolres dan Bupati Bangli sampai turun ke Angensari untuk menstabilkan keadaan. Situasi kembali tenang setelah mendapat cerita kronologis secara utuh.

Kemudian, dibawah bimbingan MUI Provinsi Bali yang kala itu diketuai oleh KH. Habib Adnan, 7 KK yang baru masuk Islam itu diadakan sunatan bersama, baik yang orang tua maupun anak-anak.

Tentu tidak mudah menjalani ibadah sebagai Muslim di tengah mayoritas Hindu, apalagi tidak ada yang membimbing. Kala itu, komunitas Muslim terdekat dari Desa Kutuh ada di di Dusun Batugambir, Desa Julah, Kabupaten Buleleng, yang jaraknya sekitar 14 Kilometer.

Menurut cerita Mustaqim, orang tuanya, bersama yang lain, saat belum ada masjid di Angensari, kalau salat jumat harus berjalan kaki dari Angensari ke Batugambir dengan medan yang tak mudah. Pagi berangkat, sekitar 4-5 jam sampai. Setelah jumatan, mereka pulang sampai rumah sudah sore hari.

Adalah sosok bernama Ustaz Miyadi, yang ketokohannya sangat dikenang oleh masyarakat Muslim di sana. Menurut Mustaqim, Ust. Miyadi dengan konsisten sejak awal membimbing tata cara salat, mengaji, dan mengajarkan doa-doa.

Ust. Miyadi ini tinggal di Desa Kintamani, yang jaraknya sekitar 16 kilometer ke arah atas (selatan) Desa Kutuh. Setiap minggu, dengan jalan kaki, ia mengajar ngaji 7 KK yang baru masuk Islam itu. Kala itu akses jalan masih setapak. Jarak tempuhnya bisa memakan waktu 5 jam dengan medan yang curam. (Insya Allah, suatu saat saya akan menemuinya. Menurut informasi dari tokoh Muslim di Kutuh, beliau masih sehat.)

Kini, setelah 42 tahun sejak pertama kali Islam dipeluk di sana, jumlah komunitas Muslim sudah mencapai 27 KK, dengan jumlah total kurang lebih 76 jiwa. Jadi, penyebaran Islam di sana murni dari ikatan keturunan keluarga dan pernikahan.

Secara sosial tidak ada masalah, karena ikatan praktik sosial sehari-hari mereka tetap bersatu meski beda agama. Seperti acara pernikahan, kematian, dan lainnya masih saling membantu. Begitu juga dengan praktik beribadah, Muslim di sana bebas melaksanakan ibadah. Sudah berdiri masjid dan termasuk bisa menggunakan pengeras suara. Anak-anak kecil juga bebas belajar mengaji.

Satu kelebihan di minoritas Muslim di sana daripada beberapa tempat minoritas Muslim yang pernah saya kunjungi adalah, di Kutuh sudah ada tanah wakaf untuk kuburan Muslim. Sementara di tempat lain, masih ada “mis” karena tidak diizinkannya ada kuburan Islam, sehingga ketika ada yang meninggal, harus dimakamkan di tempat lain yang cukup jauh.

Menjelang Magrib, kami pamit balik. Kisah masuknya Islam di Kutuh tergolong unik, ini seperti cerita-cerita masa kerajaan ratusan tahun silam. Bukan karena ada pendakwah yang datang ke sana, tapi pintu hidayah justru muncul melalui isyarat dari sesepuh pendeta—dan ini nyata.[T]

Editor: Jaswanto

Usaha Menemukan dan Mengabadikan Desa Muslim Pegayaman Bali | Ulasan Buku Ensiklopedia Desa Muslim Pegayaman Bali
Asal-Usul Muslim Tegallinggah Bali, Benarkah Berasal dari Bugis?
Tags: BangliDesa KutuhIslamKintamanimualafMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Meamuk-amukan” di Padangbulia: Percik Amarah yang Padam oleh Percik Api

Next Post

Les Fest Ngembak Geni, Harinya Orang-Orang Desa Les

Abdul Karim Abraham

Abdul Karim Abraham

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Buleleng

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Les Fest Ngembak Geni, Harinya Orang-Orang Desa Les

Les Fest Ngembak Geni, Harinya Orang-Orang Desa Les

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co