24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Mualafnya Tujuh KK di Desa Kutuh Bangli

Abdul Karim Abraham by Abdul Karim Abraham
March 13, 2024
in Tualang
Kisah Mualafnya Tujuh KK di Desa Kutuh Bangli

Penulis berbincang-bincang di Masjid Nurul Iman | Foto: Dok. Penulis

PADA awal bulan Maret kemarin, saya yang kebetulan ada agenda kaderisasi GP Ansor di Bangli, menyempatkan diri berkunjung ke Dusun Angensari, Desa Kutuh, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Tujuan utamanya adalah bersilaturrahim ke komunitas minoritas Muslim sekaligus ingin mendengar langsung cerita “unik” berkembangnya Islam di sana.

Lokasi daerah ini cukup jauh dan bisa dibilang sulit diakses karena berada di lereng pegunungan Batur. Jaraknya sekitar 42 kilometer ke arah barat laut pusat Kota Bangli.

Meski secara administrasi masuk Kabupaten Bangli, warga Desa Kutuh lebih banyak berinteraksi dan sekaligus bertransaksi dengan warga Kabupaten Buleleng. Tepat di sebelah barat Desa Kutuh, yakni Desa Madenan, termasuk wilayah Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, adalah satu-satunya desa terdekat, paling dekat malah—karena Desa Kutuh dikelilingi perbukitan dan kawasan hutan.

Ditemani beberapa sahabat, saya meluncur dari Kota Bangli dengan mengambil rute agak jauh. Ini saya lakukan karena mengikuti saran dari sahabat Banser Bangli yang sudah pernah ke Desa Kutuh. Rute jalan terdekat cukup membahayakan, kata mereka. Banyak kelokan, tanjakan, maupun turunan yang ekstrem, apalagi cuaca yang kini sering hujan dan rawan pohon tumbang.

Rute yang kami ambil menuju Kintamani, kemudian meneruskan ke Madenan, arah tembusan Tejakula. Artinya, untuk mencapai Desa Kutuh, kami harus masuk wilayah Buleleng dulu. Kata seorang teman, ini rute yang paling aman.

Namun, aman yang ia maksud tentu bukan dalam arti yang sesungguhnya. Sebab, setelah kami melewatinya, ini rute tetap ekstrem. Apalagi, di antara kami, belum pernah sama sekali melewati jalanan pegunungan yang membelah hutan ini.

Di Desa Kutuh ini, tepatnya di Dusun Angensari, kini terdapat 27 KK Muslim. Di sini juga sudah berdiri sebuah masjid, yang diberi nama Nurul Iman. Kami disambut 3 orang warga di sana, salah satunya Mustaqim, tokoh pemuda yang sebelumnya sudah berkomunikasi via WA.

Memang, secara geografis, rasanya sulit Islam bisa masuk ke sini, tapi ini yang bikin penasaran. Setelah berbincang-bincang, kira-kira begini awal mulanya:

Kakeknya Mustaqim, kalau tidak salah bernama Irasun, yang saat itu masih beragama Hindu, pada tahun 1982 mengalami luka pada kakinya yang tidak kunjung sembuh. Berbagai usaha penyembuhan sudah dilakukan, tapi tidak membuahkan hasil.

Akhirnya ia menemui salah seorang pendeta Hindu Bali. Dan di luar dugaan, sang pendeta justru mengatakan, kalau mau sembuh, Irasun dan keluarganya harus kembali ke agama leluhurnya. Masih ragu dengan saran tersebut, ia pun mendatangi pendeta lain. Ternyata sarannya sama, harus kembali ke agama leluhur.

Irasun kemudian menelusuri agama leluhurnya. Ternyata ia dan mayoritas penduduk Angensari dulunya meruapakan pasukan kerajaan dari Lombok yang ditugaskan ke Bali untuk menyerang Kerajaan Klungkung. Ekspedisi militer ini terjadi sekitar tahun 1891. Artinya, leluhurnya dulu berasal dari Suku Sasak yang beragama Islam.

Akhirnya, sejak saat mengetahui asal-usul agama leluhurnya, bersama keluarganya, sebanyak 7 KK, Irasun mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah masuk Islam, anehnya, tanpa diobati, kaki Irasun sembuh.

Penulis (paling kanan) foto bersama tokoh Muslim Desa Kutuh | Foto: Dok. Penulis

Berpindahnya agama ini membuat gempar warga Angensari. Awalnya, beberapa sesepuh Hindu di sana mencurigai adanya pihak luar yang sengaja mengislamkan warga setempat. Apalagi saat itu menjelang Pemilu 1982.

Situasi yang semakin panas, menurut cerita Mustaqim, Kapolres dan Bupati Bangli sampai turun ke Angensari untuk menstabilkan keadaan. Situasi kembali tenang setelah mendapat cerita kronologis secara utuh.

Kemudian, dibawah bimbingan MUI Provinsi Bali yang kala itu diketuai oleh KH. Habib Adnan, 7 KK yang baru masuk Islam itu diadakan sunatan bersama, baik yang orang tua maupun anak-anak.

Tentu tidak mudah menjalani ibadah sebagai Muslim di tengah mayoritas Hindu, apalagi tidak ada yang membimbing. Kala itu, komunitas Muslim terdekat dari Desa Kutuh ada di di Dusun Batugambir, Desa Julah, Kabupaten Buleleng, yang jaraknya sekitar 14 Kilometer.

Menurut cerita Mustaqim, orang tuanya, bersama yang lain, saat belum ada masjid di Angensari, kalau salat jumat harus berjalan kaki dari Angensari ke Batugambir dengan medan yang tak mudah. Pagi berangkat, sekitar 4-5 jam sampai. Setelah jumatan, mereka pulang sampai rumah sudah sore hari.

Adalah sosok bernama Ustaz Miyadi, yang ketokohannya sangat dikenang oleh masyarakat Muslim di sana. Menurut Mustaqim, Ust. Miyadi dengan konsisten sejak awal membimbing tata cara salat, mengaji, dan mengajarkan doa-doa.

Ust. Miyadi ini tinggal di Desa Kintamani, yang jaraknya sekitar 16 kilometer ke arah atas (selatan) Desa Kutuh. Setiap minggu, dengan jalan kaki, ia mengajar ngaji 7 KK yang baru masuk Islam itu. Kala itu akses jalan masih setapak. Jarak tempuhnya bisa memakan waktu 5 jam dengan medan yang curam. (Insya Allah, suatu saat saya akan menemuinya. Menurut informasi dari tokoh Muslim di Kutuh, beliau masih sehat.)

Kini, setelah 42 tahun sejak pertama kali Islam dipeluk di sana, jumlah komunitas Muslim sudah mencapai 27 KK, dengan jumlah total kurang lebih 76 jiwa. Jadi, penyebaran Islam di sana murni dari ikatan keturunan keluarga dan pernikahan.

Secara sosial tidak ada masalah, karena ikatan praktik sosial sehari-hari mereka tetap bersatu meski beda agama. Seperti acara pernikahan, kematian, dan lainnya masih saling membantu. Begitu juga dengan praktik beribadah, Muslim di sana bebas melaksanakan ibadah. Sudah berdiri masjid dan termasuk bisa menggunakan pengeras suara. Anak-anak kecil juga bebas belajar mengaji.

Satu kelebihan di minoritas Muslim di sana daripada beberapa tempat minoritas Muslim yang pernah saya kunjungi adalah, di Kutuh sudah ada tanah wakaf untuk kuburan Muslim. Sementara di tempat lain, masih ada “mis” karena tidak diizinkannya ada kuburan Islam, sehingga ketika ada yang meninggal, harus dimakamkan di tempat lain yang cukup jauh.

Menjelang Magrib, kami pamit balik. Kisah masuknya Islam di Kutuh tergolong unik, ini seperti cerita-cerita masa kerajaan ratusan tahun silam. Bukan karena ada pendakwah yang datang ke sana, tapi pintu hidayah justru muncul melalui isyarat dari sesepuh pendeta—dan ini nyata.[T]

Editor: Jaswanto

Usaha Menemukan dan Mengabadikan Desa Muslim Pegayaman Bali | Ulasan Buku Ensiklopedia Desa Muslim Pegayaman Bali
Asal-Usul Muslim Tegallinggah Bali, Benarkah Berasal dari Bugis?
Tags: BangliDesa KutuhIslamKintamanimualafMuslim
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Meamuk-amukan” di Padangbulia: Percik Amarah yang Padam oleh Percik Api

Next Post

Les Fest Ngembak Geni, Harinya Orang-Orang Desa Les

Abdul Karim Abraham

Abdul Karim Abraham

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Buleleng

Related Posts

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails
Next Post
Les Fest Ngembak Geni, Harinya Orang-Orang Desa Les

Les Fest Ngembak Geni, Harinya Orang-Orang Desa Les

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co