23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Eksplorasi Estetika” 23 Seniman di Galeri Taman Budaya NTB

Nuraisah Maulida Adnani by Nuraisah Maulida Adnani
March 2, 2024
in Ulas Rupa
“Eksplorasi Estetika” 23 Seniman di Galeri Taman Budaya NTB

MEMASUKI Galeri Taman Budaya NTB terasa seperti memasuki sebuah labirin yang jalan masuknya sama dengan jalan keluar. Hari itu, penikmat pameran dapat melihat beberapa lukisan dalam tiap lorong, melihat satu lukisan seperti melihat satu alam tersendiri. Saya membayangkan diri berubah menjadi astronot, mengunjungi satu planet ke planet lain yang kadang punya warna serupa, kadang juga sensasi yang berbeda.

Pameran seni rupa “Eksplorasi Estetika” yang diadakan oleh Lombok Art Community 25 Februari hingga 2 Maret 2024 menampilkan 50 lukisan dari 23 seniman. Bisa dibilang kadar pameran tidak merata karena ada karya yang banyak, ada juga yang sedikit, seperti adanya 12 lukisan kaligrafi karya Munawir Hadi, dan masing-masing satu lukisan karya  Moh. Nanag Kosim, Hanik, Dhiya’, Aryandana, Fikri Haikal, Sartiadi, dan Alfan.

Pertanyaan-pertanyaan yang timbul menjadi buntu karena tidak ada katalog,  catatan kuratorial, biodata dan narasi yang biasanya ada di depan pameran. Untungnya, ada seorang seniman yang menghampiri, dia meminta tanggapan tentang lukisan dan pameran ini. Dari satu interaksi itulah saya diperkenalkan dengan beberapa seniman lain yang hadir. Saya mengamati pengunjung lain yang juga dihampiri oleh seniman.

Mereka menceritakan proses, arti simbol yang dilukis, bagaimana mereka bisa melukis, dan sebagainya. Mereka benar-benar sadar akan kekurangan pameran ini, mungkin oleh sebab itulah mereka menjadikan pameran ini interaktif antara penikmat lukisan dan para seniman. Obrolan-obrolan kami terasa seperti tegur-sapa khas ketika di pedesaan, mereka sangat ramah dan terbuka pada berbagai komentar.

Ada dua hal yang dominan dalam pameran ini: lukisan tentang Lombok dan lukisan tentang kaligrafi. Tentu tidak ada yang seragam, dibuat dengan teknik-teknik yang berbeda.

Poetra Morison-Amor ti-200×100-akrilik on canvas | Foto: Nuraisah

Lukisan tentang Lombok—adat, baju tradisional, daerah wisata, dan sebagainya—dapat dilihat dari suatu visual mencolok yang tanpa ragu atau pasti membuat penikmat tahu bahwa lukisan tersebut tak jauh mengenai Lombok. Sukti melukis “Ulek Nyongkol” dan “Gendang Beleq” yang menangkap suatu peristiwa adat, orang-orang menggunakan pakaian tradisional. Begitu juga dengan Dhiya’ melukis “Gumi Nina” dengan fokus potret perempuan yang menggunakan baju tradisional  di depan rumah adat, hanya saja membuat penikmat bertanya-tanya apa yang sebenarnya dilakukan oleh perempuan itu.

Sebagaimana Dhiya, Mawardi juga melukis perempuan dalam “Putri Mandalika Berkuda”, di sana terlihat seorang perempuan berkuda di atas awan tepat di depan rumah adat. Ilham Mugni melukis “Tameng Muter”, dua lelaki menggunakan baju tradisional. Tabbari melukis “Ulean Sampi”, menangkap momen seorang lelaki yang membawa sapinya pulang, rumah adat Lombok berbaris di sepanjang jalan.

Selain perempuan dan pakaian tradisional, ada juga yang melukis rumah adat; Muzhar, Zaen Sasak, Alfan, Lalu Dendy Aghestha Randa, dan Sarbini yang semuanya menggambarkan ragam rumah adat sasak dengan berbagai sudut pandang yang jauh.

Terakhir, Lombok juga dilukiskan pemandangan daerah wisatanya. Suasana itu dapat kita selami dalam lukisan yang dibuat oleh M.Farisian Arrazi, dan lukisan-lukisan pantai yang dibuat Mawardi dan Sarbini dalam “Perahu dan Pantai”.

Agus Setiadi Taranggono- Give Peace a Chance- 100×150- akrilik on canvas | Foto: Nuraisah

Beberapa pelukis menggunakan tokoh terkenal, seperti Tabbari melukis tokoh islam NTB juga tokoh artis di atas kanvas yang terbuat dari daun, Agus Setiadi Taranggono melukis pembalap motoGP, dan Muzhar yang memadukan pembalap motoGP yang sedang menjadi sopir delman. Julukan Lombok sebagai 1001 masjid jadi makin menggema ketika melihat lukisan lain Muzhar mengenai masjid berjudul “Keutamaan 3 Masjid” yang menghubungkan masjid di Lombok dan masjid yang ada di Palestina, begitu juga Zaen Sasak melukis “Al-Aqsa” dan Meldin melukis “Palestina dan Masjidil Aqsa”.

Lukisan kaligrafi dengan beragam bentuk dan gaya dilukis oleh Tabbari yang memadukan objek dengan ayat dalam Al-Quran, kaligrafi Mansur yang menempel pada benda-benda, Yunani memadukan Al-Haq dengan tarian Turki dan ke’alam’an yang kabur, dan 12 lukisan karya Munawir Hadi yang dapat dilihat jelas kaligrafinya seolah timbul atau muncul dari latar lukisannya. Sedangkan Aryandana melukis “Kiswah Ka’bah” yang tentu dominan dengan kaligrafi.

Ada juga lukisan pemandangan taman berjudul “Sudut Taman” oleh Sartiadi, lukisan abstrak yang dibuat oleh Amrin Fane “Dibalik Nur” dan “Gersang”, lukisan Hanik “Kebebasan Tak Terbatas” berwarna terang dengan bentuk bola-bola mata. Lukisan Fikri Haikal “Bunga Lily” dengan objek bunga lily dan kupu-kupu yang terbang. Lukisan Moh. Nanag Kosim  “Perdamaian” menyimbolkan 3 calon presiden yang saling berpelukan dengan latar teknologi yang di‘hidup’kan.

Sukti-Ulek Nyongkol-100×90-oil on canvas | Foto: Nuraisah

Sebagai penutup sekaligus pembuka pada pameran ini, goresan kekanakan penuh warna oleh Poetra Morison dan lukisan simbolis yang halus dan rapi oleh Agus Setiadi Taranggono.

Menikmati 50 lukisan dalam satu waktu dan satu tempat terasa sangat melelahkan, seperti menikmati berbagai satu tempat indah dalam berbagai sudut dengan waktu satu hari. Begitu keluar dari galeri, saya seperti astronot yang kembali mendarat di planet tempat muasal. Sembari bertanya-tanya, apa yang menjadikan judul eksplorasi estetika dalam pameran ini? Apakah mengejar estetika dengan standart tertentu atau pencarian estetika dalam diri seniman sendiri? [T]

Editor: Adnyana Ole

Meja yang Menyatakan Hasrat
Pameran Seni Instalasi Kuratorial Sedekah Bumi dan Temujalar: Membaca Ulang Tradisi Desa dan Ekspresi Kota yang Semrawut
Homo Ludens di Atas Sarkofagus
Tags: LombokPameran Seni RupaSeni Rupaseni rupa NTB
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berguru pada Ganaraja

Next Post

Nasib Petani di Tengah Ketidakpastian Musim dan Ketidakjelasan Omongan

Nuraisah Maulida Adnani

Nuraisah Maulida Adnani

Lahir di Tulungagung, Jawa Timur, 27 Januari 2001. Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Mataram. Saat ini bergiat di komunitas Akarpohon, juga mengelola perpustakaan Teman Baca, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Nasib Petani di Tengah Ketidakpastian Musim dan Ketidakjelasan Omongan

Nasib Petani di Tengah Ketidakpastian Musim dan Ketidakjelasan Omongan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co