15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nasib Petani di Tengah Ketidakpastian Musim dan Ketidakjelasan Omongan

Son Lomri by Son Lomri
March 2, 2024
in Esai
Nasib Petani di Tengah Ketidakpastian Musim dan Ketidakjelasan Omongan

Petani sedang mengolah tanah sawah dengan traktor | Foto ilustrasi: Jaswanto

INDONESIA adalah tempatnya orang-orang menanam sebatang kayu walau di sembarang tempat dan tanpa disiram, pun bisa tumbuh hingga berdaun lebat. Sebab itu orang-orang menanam jagung, cabe, tomat, dan padi, dan lainnya yang lebih menguntungkan walau tak membuat kaya.

Walaupun sebagai negara agraris yang bisa menghasilkan beras untuk memenuhi kebutuhan penduduknya sendiri, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa harga beras bisa naik sangat tinggi di luar dari perkiraan sebagai negara agraris tersebut.  

Seperti pada seminggu terakhir ini, kenaikan harga pada beras menjadi persoalan yang cukup memusingkan semua kalangan, terutama kelas ekonomi menengah ke bawah.

Menurut data terbaru dari Badan Pangan Nasional (Bapanas), bahwa harga beras premium naik 1,34% menjadi Rp.16.640 per kg (kilo gram) dan beras medium naik 0,56% menjadi Rp14.410 per kg. Kenaikan harga tersebut ditaksir merupakan kenaikan paling tinggi sepanjang sejarah bangsa ini merdeka.

Dinaikannya harga beras atau harga gabah tentunya bukan semata-mata karena pemerintah sayang terhadap petani. Tapi memang kepepet saja! Karena cuaca buruk telah memengaruhi dunia pertanian gagal panin di Indonesia. Sehingga ketersediaan stok beras dalam negri menipis apalagi setelah pemilu ini?!

Jika dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) produksi padi di tahun 2023 diperkirakan hanya sebesar 53,63 juta ton GKG dan menurun sebanyak 1,12 juta ton GKG atau 2,05 persen jika dibandingkan dengan produksi padi di tahun 2022 lebih besar, yaitu di angka 54,75 juta ton GKG.

Sementara pada produksi beras di tahun 2023 dapat diperkirakan hanya mencapai 53,63 juta ton GKG dan mengalami penurunan sebesar 1,12 juta ton GKG atau 2,05 persen dibandingkan dengan produksi padi di tahun 2022 lebih besar yaitu 54,75 juta ton (bps.go.id).

Presiden Jokowi Widodo memberikan penjelasan terkait menurunnya produksi beras, bahwa dikarenakan para petani kita gagal panen. Hal itu, katanya, disebabkan oleh perubahan cuaca yang cukup ekstrim (El-nino).

Bagaimana El Nino berpengaruh besar terhadap dunia pertanian?

Memang pengaruh cuaca atau fenomena iklim terhadap dunia pertanian sangatlah kuat. Karena pertanian sangat bergantung pada cuaca alam dan kelayakan tanahnya. El Nino sendiri merupakan fenomena iklim yang dapat ditandai dengan adanya pemanasan suhu permukaan laut secara berkala di Samudra Pasifik Tropis. Fenomena tersebut sangat dapat mengganggu pola sirkulasi atmosfer yang biasa terjadi, yang menyebabkan dampak iklim di seluruh dunia.

Menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, “.El Nino biasanya membawa curah hujan yang berlebihan ke pantai barat Amerika Selatan, yang sering kali menyebabkan banjir dan tanah longsor. Sebaliknya, wilayah di Pasifik barat mengalami kondisi kekeringan, yang dapat menyebabkan kegagalan panen dan kekurangan air” (bpbd.jatimprov.go.id).

Namun kabar datang lebih mengejutkan ketika justru Indonesia melakukan impor beras cukup besar di tahun 2023 sebanyak 3,06 juta ton dari beberapa negara  yang juga masih dalam kawasan pasifik. Seperti Thailand (1,38 juta ton), Vietnam (1,14 juta ton), Pakistan (309 ribu ton), Myanmar (141 ribu ton), dan negara lainnya 83 ribu ton.

Hal inilah kemudian yang menjadi satu alasan mengapa kita bisa melamun tanpa sebab. Bagaimana tidak, mereka (Thailand, Vietnam, Myanmar…) bisa surplus beras di tengah anomali iklim hari ini. Sedang kita justru sangat kekurangan. Apakah ada kesahalan dari kita, dari petani kita?  Atau?

Sudah sedari dulu pemerintah diingatkan oleh para aktivis yang bersuara lantang mengenai perubahan iklim akan menyasar ke segala bidang, salah satunya pertanian. Dan efek buruk deforestasi terhadap tanah pula sudah diperingatkan. Tapi pemerintah terkesan abai pada isu ini. Sehingga kita tak pernah mendengar alternatif mereka, pemerintah, dalam mewanti-wanti kondisi akhirnya seperti apa selain hanya bisa menaikan harga setinggi langit.

Kenaikan harga beras atau gabah sangat mungkin menguntungkan bagi petani di samping harga pupuk dan obat-obatan lainnya yang juga sama mahalnya bagi mereka. Sehingga kenaikan beras atau gabah memang sepadan dengan apa yang telah para petani keluarkan sebagai ongkos atau modal.

Tapi ini lain, para petani justru mesti mempertanyakan sesuatu hal tentang kesejahteraan dirinya. Sebab pemerintah tak pernah benar-benar intens peduli alami pada petani menaikan harga beras sangat tinggi ini kalo bukan karena darurat, hari raya, dan alasan lainnya. Sehingga sudah semestinya kita mempertanyakan keberpihakan pemerintah terhadap para petani.

Bukan rahasia umum lagi jika pemerintah hanya menginginkan ketersediaan beras stabil, harga pangan stabil. Tapi ya itulah, kesejahteraan petani kita tak pernah menjadi perhitungan mereka yang utama. Lebih-lebih pemerintah tak pernah mau tahu seberapa susahnya para petani mengeluarkan ongkos untuk mengurus sawahnya walaupun sudah digemborkan subsidi pupuk segala macam tetek bengeknya. Tapi di lapangan justru harga pupuk terkadang lebih mahal dari harga berasnya sendiri (sebelum kenaikan harga beras sekarang).

Coba saja lihat rekam jejak tahun 2022 ketika Mentri Perdagangan Zulkifli Hasan, di tengah sedang mahalnya harga cabai, dll. Malah mengatakan harga naik hanya sebagai bonus untuk petani, “..Ya, sekali-sekali petani dapat bonus lah,” kata Zulkifli saat itu (lihat berita kompas online tahun 2022).

Kalau kita pikir lima kali tujuh keliling kota Singaraja. Pak Zulkifli Hasan sebagai Menteri Perdagangan sendiri seolah tak menunjukan keseriusannya dalam memperhatikan kesejahteraan para petani dimanapun mereka berada. Sebab hanya sesekali niat baiknya dalam memberikan sebuah bonus kenaikan harga untuk petani senang. Sehingga sangat pantas kalo negri ini kekurangan generasi petani muda, sebab negara sendiri tak pernah serius meletakan nasib baik kepada para petaninya.

Ini adalah hari kebingungan kita semua akhirnya, para petani dan kita para pembeli setelah harga beras naik. Jika harga beras mahal tentu harga lainnya mengekor ikut mahal entah sedikit atau lebih. Bukan masalah tak mendukung untuk petani tidak sejahtera, tapi karena tak semua masyarakat memiliki penghasilan sama besarnya seperti, misalnya, Pak Zulkifli itu.

Pendapatan perkapita masyarakat kita memang tergolong rendah dan kecil dibanding dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Jika pendapatan rendah, tentu hasrat untuk membeli pun mesti mikir-mikir dulu. Sehingga sangat logis jika jeritan meledak-ledak di pinggiran kota hingga kampung dan pelosok karena beras mahal mencekik wong cilik, Aw…

Sehingga di tengah masyarakat barangkali masih ada rasa kurang ikhlas menerima kenyataan sepahit ini. Sehingga, boleh jadi, kebanyakan dari masyarakat akan berpikir: Barangkali jika pejabat kepalanya ketiban meteor, maka bisa saja tiba-tiba dengan tidak sadar akan menggelontorkan sembako sangat besar seperti di pemilu kemarin. Ups! [T]

Megawati, Bandara Internasional, dan Begitu Mudahnya Petani Bali Kehilangan Tanah
Aktivis, Petani, dan Pencarian Jati Diri Orang Bali
Melihat Nasib Petani di Bali dalam Gemerlap Pembangunan
Berdamai Dengan Perubahan di Bali (dan dari Bali)
Tags: pertanianpetani
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Eksplorasi Estetika” 23 Seniman di Galeri Taman Budaya NTB

Next Post

Misteri Kepala yang Terpenggal | Cerpen Putu Arya Nugraha

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Misteri Kepala yang Terpenggal | Cerpen Putu Arya Nugraha

Misteri Kepala yang Terpenggal | Cerpen Putu Arya Nugraha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co