22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Megawati, Bandara Internasional, dan Begitu Mudahnya Petani Bali Kehilangan Tanah

I Made Sarjana by I Made Sarjana
January 5, 2024
in Esai
Megawati, Bandara Internasional, dan Begitu Mudahnya Petani Bali Kehilangan Tanah

Foto ilustrasi: Maya Kurnia

KALA Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri menyatakan pihaknya menyetop ide pembangunan Bandara Internasional di Bali Utara, dalam hati kecil saya berguman, “Pas!”

Dan telintas di pikiran saya, “Oh masih ada tokoh nasional yang peduli terhadap masa depan Bali.”

Persetujuan saya ini bukan berarti saya anti pembangunan dan senang kawasan Bali Utara pariwisatanya tidak berkembang. Selaku peneliti di bidang pertanian dan pariwisata, belum lama ini saya sempat menjelajah potensi pariwisata di Bali Utara.

Temuan lapangan saya, sejak beberapa tahun ini, wisatawan yang datang ke Bali mengaku lebih senang menikmati aktivitas pariwisata di Bali Utara karena bebas macet, maka dengan begitu, pusat-pusat pertumbuhan pariwisata pun berkembang seperti di Desa Sudaji, Munduk, atau Lovina.

Batalnya pembangunan bandara dapat mengerem petani menjual tanahnya atau setidaknya tanah yang sudah berpindah tangan, tidak cepat-cepat dibangun fasilitas pariwisata. Lingkungan tetap asri, dan pemanasan global dapat ditunda. Pernyataan itu pun dapat dimaknai sebagai gong yang ditabuh membangkitkan semangat nindihin Bali.

Sejujurnya, sikap Megawati itu mengobati kerinduan saya terhadap figur atau sosok yang menjaga kepentingan masyarakat Bali terutama mereka yang hidup jauh dari ingar bingar pariwisata.  

Sikap membela kepentingan Bali sempat mengemuka di pertengahan tahun 1990, belakangan ini tertutup kabut. Banyak figur punya power atau relasi, hanya manut saja apa kata keluaran investasi dalam mengelola negeri. Terkadang rakyat kecil terpinggirkan, tidak banyak yang menyadari. Jamaknya pembangunan infrastruktur diikuti mudahnya petani kehilangan tanah, sehingga kehidupan petani pun tersandra. Mau terjun ke bisnis pariwisata tidak punya kapasitas, mau meneruskan hidup di sektor primer pasti keteteran karena tanah sudah dilepas.

Kepemilikan tanah pertanian di Bali menjadi fokus tulisan ini, karena aktivitas pertanian menjadi penyangga peradaban masyarakat Bali. Saya pribadi punya cerita bagaimana pahit getirnya petani memperjuangkan haknya selaku pemilik atas tanah di pulau surga ini.

Saya yang lahir dari keluarga petani mengikuti dan bahkan melakoni bagaimana kaum marhaen berjuang mendapatkan hak atas tanah sehingga memiliki sumber daya yang memadai untuk hidup jadi petani layak. Kendati lahir di Bali, saya kebetulah tidak hidup dari warisan nenek moyang secara turun temurun.

Orang tua saya tercatat sebagai “transmigran lokal” dari sekitar Kota Bangli yang terkena dampak kelaparan pasca Gunung Agung meletus tahun 1963, dan saya lahir di perbatasan Kabupaten Bangli dan Kabupaten Badung. Sebuah prestasi besar dari seorang pengelana biasa, berjuang merambah hutan belantara, hingga mendapatkan hak atas tanah untuk dikelola sebagai usaha tani. 

Perjuangan mendapatkan hak atas tanah garapan dilakoni ayah saya sekitar tahun 1980-1990, ayah saya mewakili sekitar 40 kepala keluarga petani, mengajukan surat permohonan ke berbagai lembaga baik kantor pertanahan, pemerintahan kabupaten atau provinsi serta kalangan legislatif dimintai bantuan agar turun kebijakan petani berhak menggarap tanah yang dibukanya dari hutan belantara itu.

Hingga tahun 2001, saat ayah saya berpulang harapan itu tidak terkabul. Setelah tahun 2005 kebijakan pemerintah mengijinkan petani yang membuka lahan mensertifikatkan tanahnya.

Tentu petani di wilayah Bali lainnya punya cerita yang berbeda namun tetap berdarah-darah untuk mendapatkan hak atas tanahnya. Cerita saya tulis untuk menunjukkan bahwa hidup seorang petani sangat butuh dengan tanah agar bisa menjalankan bisnis di bidang pertanian. Mereka harus mengeluarkan modal baik berupa uang, tenaga atau yang lainnya untuk memperoleh hak atas tanah.

Hanya saja, seiring dengan berkembangnya pariwisata yang sangat pesat di Bali, ada anomali yang muncul yakni petani begitu mudah “kehilangan” tanah. Sebagian petani, terpaksa melepas tanahnya karena tekanan dari investor, atau terkena jalur pembangunan infrastruktur fisik seperti jalan, perkantoran, pelabuhan, atau yang lainnya.

Sebagian ada yang sukarela dengan mudah melepas/menjual tanahnya karena alasan ekonomi atau family. Alasan ekonomi, petani jual tanah untuk bayar hutang atau mengumpulkan modal untuk berusaha di bidang lain. Kalau alasan family, ada kalanya petani yang hanya memiliki anak perempuan menjual tanahnya untuk biaya pendidikan putri-putri sampai perguruan tinggi. Alasannya, jika tanahnya dibiarkan tidak dicairkan untuk biaya sekolah, nanti dinikmati keluarga inti lain yang tidak iklas putrinya mencari sentana dan menguasai tanah yang akan diwariskan itu.

Sekilas alasan-alasan itu logis dan dapat dipahami, jika masyarakat Bali ingin mempertahankan keberlajutan pembangunan dan peradabannya, tentu harus berpikir ulang sejuta kali untuk melepas tanah pertanian.

Banyak penelitian dan pendapat ahli menunjukkan bahwa aktivitas bertani menjadi penyangga dan pelestari budaya Bali. Jika petani begitu mudah melepas tanahnya tentu lambat laun masyarakat Bali akan “tercerabut” akar budayanya.

Alasan lain, petani harus mempertahankan tanah sekuat tenaga terkait dengan implementasi pembangunan berkelanjutan. Selain menjaga lahan pertaniannya tidak beralihfungsi, petani juga harus memastikan bahwa sumber daya yang dimiliki sekarang titipan dari generasi pendahulunya kepada generasi penerusnya.

Dalam pengertian pembangunan berkelanjutan ditegaskan bahwa generasi saat ini memiliki kesempatan yang sama dengan anak cucunya memanfaatkan sumberdaya yang dimiliki. Sederhananya, jika sast ini petani memanfaatkan hasil pertanian untuk menopang hidupnya dari tanah yang dikuasai, anak cucunya harus juga punya kesempatan menikmati hasil tanahnya.

Dalam konteks kekinian, dimana sebagian besar dari masyarakat yang “silau” dari gemerlap pariwisata, fenomena petani dengan mudah melepas tanahnya semakin menjadi-jadi. Entah itu menjual, atau mengontrakkan. Jika tanah yang dikontrakkan tetap difungsikan sebagai lahan pertanian, tentu dapat dimaklumi karena generasi berikutnya tetap punya peluang menikmati hasilnya.

Hal itulah yang menjadi inti kekhawatiran Ibu Megawati Soekarnoputri jika mega proyek Bandara Internsional di Bali Utara dilaksanakan. Petani-petani di perdesaan Bali banyak kehilangan tanah sebagai dampak ikutan pembangunan bandara tersebut.

Sejatinya, kekhawatiran akan “tergerusnya” tanah Bali untuk difungsikan bukan hal baru. Saya selaku pegiat pers mahasiswa tahun 1990-an punya pengalaman nyata bagaimana mendengarkan keluhan masyarakat yang dipaksa melepaskan tanahnya untuk pembangunan fasiltas pariwisata di Bali Selatan. 

Hasil observasi lapangan saya di beberapa sudut Bali yang menjadi destinasi wisata yang hype, banyak petani yang menawarkan tanahnya agar dibeli investor baik warga setempat maupun orang luar terutama bule. Karena mereka tidak memiliki pengetahuan berinvestasi dan mengelola bisnis pariwisata, tanahnya dilepas agar kecipratan manisnya kue pariwisata.

Selain itu, alih fungsi lahan pertanian yang masif telah mengubah wajah sudut wilayah Bali. Kawasan yang dulu dengan daya tarik kaldera berupa danau dan gunung yang indah, kini sudah sulit dikenali. Ada sensasi Italia, Amerika, Spanyol atau yang lainnya. Apa ini yang dimaksud destinasi wisata kelas dunia. Entahlah! [T]

Aktivis, Petani, dan Pencarian Jati Diri Orang Bali
Melihat Nasib Petani di Bali dalam Gemerlap Pembangunan
Berdamai Dengan Perubahan di Bali (dan dari Bali)
Tags: balibandara bali utaraMegawati Soekarno Putripertanian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Masa Depan Koster

Next Post

Menggapai Kedamaian dan Kebahagiaan di Tahun 2024

I Made Sarjana

I Made Sarjana

Dr. I Made Sarjana, SP., M.Sc., lahir di Desa Mengani, Bangli. Ketua Lab. Subak dan Agrowisata, Prodi Agribisnis FP Unud

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Menggapai Kedamaian dan Kebahagiaan di Tahun 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co