24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Nasib Petani di Bali dalam Gemerlap Pembangunan

Bram Setiawan by Bram Setiawan
February 2, 2018
in Ulasan

Potongan gambar film dokumenter Petani Terakhir karya Sutradara Dwitra J. Ariana

Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016.

petani-PERMASALAHAN kehidupan petani di Indonesia selalu menjadi isu yang penting untuk terus disoroti. Antropolog kebangsaan Amerika Serikat Clifford Geertz pada 1960-an pernah melakukan penelitian tentang masalah pertanian di Jawa. Hasil penelitian itu dituangkan dalam buku berjudul Agricultural Involution: The Processes  of Ecological Change in Indonesia.

Tidak hanya dari kalangan akademikus, para seniman dari berbagai bidang juga gandrung mengangkat dilema kehidupan petani menjadi materi karya seni untuk terus digaungkan. Vokalis Navicula, Gede Robi Supriyanto lewat lagunya berjudul ‘Balada Pak Tani’ menyuguhkan refleksi penting yang melukiskan sisi senyap kehidupan petani yang selama ini terbungkus rapi oleh manipulasi citra pembangunan di Bali.

Dwitra J. Ariana melalui film dokumenter berjudul ‘Petani Terakhir’ berupaya menyuguhkan kisah kehidupan para petani di Subak Lungatad, Munduk Celuk, Banjar Peninjoan, Desa Penatih, Denpasar. Pria yang akrab disapa Dadap itu mencoba mengartikulasikan suara-suara keluh kesah petani lewat kemampuannya sebagai seorang filmmaker.

Sang sutradara menyajikan cerita tentang generasi petani yang kian menyusut. Generasi muda yang enggan bertani di sawah, hasil yang tidak mencukupi kebutuhan hidup, juga petani yang tergiur alih fungsi lahan menjadi kos-kosan menjadi sorotan menarik dalam film ini.

Acara nonton bareng ‘Petani Terakhir’ digelar pada 27 Juni 2016 malam di Lingkara Photography Community dihadiri cukup banyak penonton. Ada beberapa kekurangan dalam film dokumenter yang berdurasi 47 menit itu. Percakapan para narasumber keseluruhan menggunakan bahasa Bali tanpa ada teks terjemahan bahasa Indonesia. Saat pemutaran film berjalan sepuluh menit, beberapa penonton tampak bingung menunggu teks terjemahan bahasa Indonesia yang ternyata sampai akhir film tidak muncul.

Tentu ini menyulitkan penonton untuk menangkap maksud dari penuturan masing-masing narasumber. Sebab, para penonton yang hadir dalam pemutaran film, bukan hanya orang Bali saja, termasuk saya. “Film ini bagus untuk disebarkan, tapi harus ada teks bahasa Indonesia,” kata seorang penonton asal Bandung.

Dalam sesi diskusi saat itu, Dadap mengakui tidak adanya teks terjemahan bahasa Indonesia memang menjadi kelemahan filmnya. Alasannya, penggarapan terjemahan bahasa Indonesia belum rampung. Penjelasan profil para narasumber juga tidak dicantumkan saat film sedang berjalan. Kekurangan lainnya, yakni tidak adanya riset mendalam mengenai isu yang akan diangkat sebelum penggarapan. Dadap menilai jika ia melakukan riset akan memburamkan semua ide yang ada di kepalanya. “Saya sengaja tidak melakukan riset mendalam karena saya ingin mengerjakan apa yang saya bisa, yang saya tahu, tanpa harus memunculkan sesuatu yang baru lagi.”

Setidaknya upaya Dadap untuk menyampaikan pesannya lewat film yang dibiayai grant Denpasar Film Festival 2015 ini cukup bening untuk diterima penonton. Lewat metode perekaman single shot cinema, cerita dibangun melalui perekaman kegiatan secara terus-menerus dengan kamera yang selalu bergerak. Dari metode itu film ini merujuk kepada Nyoman Sutama sebagai narasumber utama yang mampu memenuhi kebutuhan sutradara untuk memperoleh informasi yang mumpuni.

Penentuan Sutama yang berusia 40 tahun sebagai narasumber utama dalam film ini sekilas tampak tidak menarik. Dadap, agaknya ingin menyuguhkan sesuatu yang anti mainstream dalam karyanya. Biasanya dalam film, karakter-karakter orang tua yang keriput jauh lebih menarik divisualkan untuk memperkuat kesan eksotis dari latar persawahan.

Imbang

Kehadiran Sutama disajikan berimbang dengan sosok Dadong Mada yang usianya sudah lebih dari 70 tahun. Di salah satu bagian film, Dadap merekam sebuah percakapan antara Dadong Mada dan Sutama di sawah. Di sana tersirat sebuah keresahan tentang kelanjutan masa depan lahan persawahan karena generasi selanjutnya ogah meneruskannya. Maksud percakapan itu tergambar lewat raut wajah Dadong Mada. Di bagian ini pengambilan rekaman visual jari-jari tangan Dadong Mada yang kaku dilakukan terus-menerus dari berbagai sisi. Sang sutradara berusaha menegaskan sebuah pesan, bahwa seorang nenek tetap bertani walaupun usia tua dan sakit yang seharusnya dilanjutkan generasi muda.

Secara utuh rangkaian perekaman dalam film ini berhasil menggambarkan kehidupan petani dalam situasi pembangunan liar di sekitar ruang terbuka hijau. Padahal di sekitar hamparan sawah ada papan pengumuman dari Pemerintah Kota Denpasar, Dinas Tata Ruang dan Perumahan yang bertuliskan “Dilarang Membangun, Ruang Terbuka Hijau Kota”.

Dadap berhasil menyampaikan pesannya melalui pengambilan gambar antara papan pengumuman dengan adanya bangunan-bangunan yang bertolak belakang berdasarkan peraturan yang ada. Di sinilah Dadap berhasil mencuri perhatian penonton melalui visual reflektif tentang benang kusut diskursif antara pengetahuan, kekuasaan, dan uang.

Fenomena ini mengingatkan saya pada pemikiran sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu. Menurut Bourdieu, kekuasaan bekerja bukan hanya lewat kelas dalam arti hubungan yang tidak adil dengan means of production di dunia ekonomi, tetapi lewat produksi dan reproduksi “modal simbolis”.

Kehidupan masyarakat desa yang diwarnai ritme kehidupan petani, sawah, dan sistem subak menjadi gambaran antropologis ‘tradisional’ tentang Bali. Tapi kenyataannya oleh rezim pascakolonial gambaran tersebut justru dijungkirbalikkan untuk meminggirkan penciptaan budaya kaum lemah dan melihat perjuangan sehari-hari mereka sebagai sesuatu yang tidak punya nilai, karena dihadapkan pada cermin peradaban sebuah kemajuan pembangunan. Kalau Bourdieu benar, berarti tidak ada subyek yang bebas dari kekuasaan dan tidak ada ruang sosial yang steril dari power.

Dadap sebagai seorang filmmaker konsisten dengan tema-tema berdasarkan perspektif sosial dan budaya. Walhasil, film yang diproduksi Sanggar Siap Selem ini layak dan penting ditonton oleh berbagai kalangan, terutama akademikus, jurnalis dan pengamat pertanian. (T)

https://m.youtube.com/watch?v=ORg8ldJh3EA

Tags: balifilmfilm dokumenterpetani
Share84TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Pesta Kesenian Bali: Menolak Keseragaman

Next Post

Mengupas Mitos “Jangan Duduk di Bantal, Nanti Bisul”

Bram Setiawan

Bram Setiawan

Koresponden Tempo tinggal di Denpasar, bisa dihubungi lewat e-mail setiawan.bram@gmail.com

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Mengupas Mitos “Jangan Duduk di Bantal, Nanti Bisul”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co