2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengupas Mitos “Jangan Duduk di Bantal, Nanti Bisul”

Made Nurbawa by Made Nurbawa
February 2, 2018
in Opini

Ilustrasi: Dek Omo

MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak  duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam bahasa Bali disebut “busul”. Mitos ini pun berhasil membentuk karakter anak-anak agar bersikap sopan dan selalu menjaga etika dalam kehidupan.

Di tempat tidur bantal adalah tempat kepala. Posisi bantal akan menentukan arah posisi kita saat tidur. Kalau bantal ada sisi timur tempat tidur, maka kaki kita akan mengarah ke bagian barat, demikian juga kalau bantal ada di sisi utara maka kaki akan mengarah ke selatan. Dari sini kita selalu diajak mengenal arah mata angin.

Berabad-abad mitos ini diyakini oleh masyarakat Indonesia khususnya di Jawa dan Bali. Belum banyak orang mampu menjelaskan secara ilmiah apa hubungan duduk di bantal dengan bisul. Namun faktanya banyak orang hingga kini masih meyakininya.

Menurut saya “larangan duduk diatas bantal” merupakan bentuk implementasi dari kesadaran, pemahaman dan keyakinan akan sesuatu. Jadi mitos tersebut sesungguhnya adalah pengetahuan lokal yang mengandung unsur kebenaran sehingga terus dimplementasikan secara turun temurun atau berkelanjutan. Istilah “bisul” hanya simbul atau bahasa sederhana agar anak-anak mudah memahami atas “sanksi” atau larangan yang dimaksud.

Bantal adalah tempat kepala kita saat tidur, “kepala” diyakini sebagai “hulu”. Hulu adalah sumber, pedoman, tertinggi, utama, terhormat, agung, mengayomi, pemberi hidup dan sumber kehidupan, dan sebagainya. Jadi orang tua selalu menanamkan pengetahuan itu kepada anak-anak agar selalu menghormati hulu sebagai sumber atau pedoman kehidupan. Jika dilanggar maka kita bisa “tulah” (pamali) atau bertentangan (melanggar) dari pedoman/aturan dasar kehidupan yang paling hakiki. Jika melanggar pedoman/aturan, diyakini hidup tidak akan sejahtera atau selalu mengalami petaka atau kerugian harta benda.

Dalam kesadaran dan  budaya masyarakat Bali, salah satu yang diyakini sebagai “hulu” adalah matahari. Karena ada matahari-lah maka terjadi kehidupan di muka bumi ini.  Dalam banyak tradisi dan pemujaan (khususnya di kalangan masyarakat Bali Hindu), banyak kita kenal bentuk-bentuk penghormatan kepada pemberi atau sumber hidup dalam hal ini yang utama dan pertama adalah matahari.

Matahari terbit dari timur ke barat, menyebabkan terjadinya siang dan malam. Karena ada siang dan malam maka ada hari. Ada hari maka ada tanggal, ada tanggal maka ada kalender. Kalender (Bali) merupakan salah satu pedoman hidup sehari-hari, demikian seterusnya.

Kembali ke soal posisi tidur, di tubuh kita kepala adalah hulu, maka sudah sepantasnya kepala kita letakkan pada bagian yang terhormat.  Sejalan pula dengan bentuk-bentuk penghormatan matahari sebagai hulu, maka diyakini saat tidur letak kepala harus berada di posisi timur, sehingga tubuh kita terlentang dari timur ke barat atau ada juga dari utara ke selatan. Dari posisi ini kita diajarkan tentang filosofi hulu-teben, triangga, tri mandala dan seterusnya.

Lebih jauh, meyakini posisi tidur yang benar akhirnya menentukan perencanaan bentuk rumah yang benar pula (asta kosala kosali), kesadaran asta kosala kosali akhirnya membentuk kesadaran dan pemahaman yang lain seperti asta bumi dan panca raksa sebelum membangun rumah atau bangunan. Dengan sendirinya pengetahuan tersebut akan menentukan batas, jenis bangunan, lokasi, fungsi, bentuk, luasan dan sebagaianya di atas karang/pekarangan (wewidangan/palemahan) kita.

Esensi Tata Ruang

KESADARAN terhadap bentuk karang umah/pekarangan rumah akhirnya membentuk pula kesadaran tegak desa dan wewidangan desa, begitu seterusnya sehingga jika kita urai lebih mendalam maka dari larangan tidak boleh tidur di atas bantal, artinya secara terus menerus kita diingatkan bahwa penting memahami esensi dari  tata ruang.

Pemahaman tata ruang secara langsung menyentuh dan berhubungan dengan visi keseimbangan yaitu; aspek Parahyangan (berketuhanan), Palemahan (ruang/wilayah) dan juga Pawongan (manusia/penduduk).  Visi keseimbangan hidup tersebut terus membudaya, di Bali populer disebut Tri Hita Karana.

“Jadi Tri Hita Karana adalah dampak atau keadaan yang terjadi akibat adanya sikap dan kerja-kerja positif  yang berlandaskan pada aturan/pedoman/hukum alam yang benar dan berdampak benar (selaras alam).” Tri Hita Karana adalah konsepsi dan filosofi hidup yang mengadung pengetahuan dan keyakinan universal-walau disebut dengan bahasa lokal.

Tri Hita Karana sangat populer dalam kehidupan masyarakat Bali, tetapi tidak semua yang populer di Bali pasti sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana, contohnya Reklamasi Teluk Benoa, karena sejak awal hingga kini rencana reklamasi Teluk Benoa menimbulkan polemik dan kegaduhan karena rencana proyek reklamasi bisa jadi tidak mengacu pada aturan-aturan alam Bali yang menyentuh aspek Parahyangan (nilai keyakinan/pengetahuan lokal), Palemahan (peruntukan kawasan/tata ruang/sikut jagat) dan pawongan (masyarakat/pakraman).

Ternyata mempelajari “mitos” atau hal-hal lain yang sering disebut gugon tuwon sangatlah menarik, banyak pengetahuan universal yang bisa kita pelajari dari mitos tersebut. Dimanapun terbukti memulai sesuatu (ngawit) sangat berhubungan nyata dengan filosofi dan fungsi tata ruang. Mengenali tata ruang pada dasarnya adalah memahami panduan alam.  Sehingga kita tahu di mana, dari mana, dan mau ke mana seharusnya kita melangkah atau bertindak.

Keyakinan tersebut dengan mudah bisa kita rasakan atau praktekkan dalam budaya pertanian subak di Bali. Dalam budaya pertanian (subak) posisi tidur dengan meletakan kepala di bagian hulu juga diterapkan dalam pola tanam padi yaitu; saat persiapan, penanaman hingga panen padi.

Misalnya saat ngawiwit atau megawali ngurit padi Bali (Padi Taun). Setelah lahan pembibitan dipersiapkan secara skala dan niskala, petani kemudian ngurit, yaitu meletakkan bulir padi di atas lahan pembibitan. Menurut salah seorang petani di Kecamatan Penebel Tabanan Bali, ngurit tidak boleh sembarangan. Cara yang benar adalah ngurit dimulai dari sisi barat ke timur. Malai padi atau ujung padi diletakkan di atas lumpur mengarah ke barat dan tangkai padi mengarah ke timur (mengarah ke matahari). “Tangkai padi adalah hulu dari bulir padi, pada tanaman, hulu adalah dari akar, batang, ranting, baru ke buah. Hulu adalah sumber, jadi dalam kesemestaan posisi hulu bisa di atas dan bisa juga di bawah tergantung dari mana sumber hidup atau alir hidup terjadi, akar/tana/pertiwi adalah hulu pada tanaman padi”.

Jika ngurit dilakukan terbalik, maka berdasarkan pengalaman para krama subak, pertumbuhan bibit padi tidak bagus dan pertumbuhannya tidak merata, bahkan konon jika ngurit-nya terbalik, diyakini kelak saat melakukan pembersihan gulma (mejukut) ujung daun padi sering mengenai mata/menusuk mata.

Demikian juga jika ngurit padi dilakukan dari arah selatan ke utara, jika ujung malai padi mengarah ke selatan dan tangkai padi mengarah ke utara, bibit tetap akan tumbuh tetapi keadaan bibit (bulih) menjadi lemah. Jika bibit padi ditanam konon nantinya padi mudah rebah sehingga pertumbuhannya akan terganggu, hasilnya pun akan berkurang. Pengetahuan lokal ini hingga saat ini masih diyakini dan dijalankan secara turun temurun.

Jika kita hubungkan antara pengetahuan ngawiwit atau ngurit di kalangan masyarakat Subak di Bali, maka  mitos “tidak boleh duduk di bantal nanti bisa bisul” sangat  berhubungan dengan pengetahuan selaras alam.  Bahwa dalam setiap aktivitas atau kehidupan apapun kita tidak boleh menyalahi pedoman/hukum alam,  salah satunya soal pengetahuan tentang tata ruang seperti hulu-teben, asta bumi, tri mandala, kawasan suci/tenget dan sebagainya.

Etika Kehidupan

MITOS “tidak boleh duduk di bantal nanti bisulan” secara langsung mengingatkan kita tentang etika kehidupan. Etika hidup terjadi akibat dimanapun hukum alam akan tetap berlaku. “Kita tidak bisa lepas dari pengaruh hukum alam, karena kita semua berada ditengah alam semesta raya.”

Dengan demikian, mitos atau legenda rakyat yang diwariskan secara turun temurun pada dasarnya mengajak kita untuk selalu “eling”/ingat dengan pedoman atau hukum alam itu sendiri. Jika kita sudah menyadari, memahami dan meyakini maka akan timbul rasa penghormatan dan niat untuk mewariskan secara turun temurun. Kesadaran itulah menyebabkan mengapa masyarakat Hindu Bali selalu menerapkan dan mempelajarinya secara rutin dan terus menenerus setiap hari, terutama pada hari-hari khusus yang dikenal dengan rerahinan atau rainan gumi.

Seiring dengan putaran waktu (wuku), rerahinan akan terus berulang. Dengan melakukan upacara suci secara berulang-ulang maka kita pun akan terus belajar dan berusaha agar selalu eling dan ngelingan (ingat dan mengingatkan) sesuai dengan tingkatannya.

Makna nasehat “jangan duduk di atas bantal, nanti bisul” bisa juga berarti bahwa sebelum melakukan aktivitas apapun di sebuah tempat atau wilayah (wewidangan/palemahan) kita wajib mengenali, memahami, dan meyakini norma, etika dan nilai-nilai budaya yang ada dan berlaku di atas wilayah tersebut.  Jadi kita tidak boleh sembarangan memanfaatkan wilayah apalagi melakukan alih fungsi hanya karena di wilayah tersebut kita memiliki saudara, kenalan, teman, calo atau mentang-mentang kita sudah mengantongi ijin dari pihak yang berkuasa secara kedinasan (sekala).

Ijin secara niskala pun wajib dilakukan sebelum memanfaatkan atau melakukan aktivitas di sebuah wilayah.  Tentu hal itu tidak mudah, apalagi kita tidak meyakininya. Jika kita tidak meyakini maka boleh dikatakan pembangunan yang dilakukan di atas wilayah tersebut tidak mungkin akan berwawasan budaya. Dari kesadaran itulah maka secara budaya orang Bali Hindu sebelum melakukan pembangunan atau aktivitas apa pun di atas wilayah/palemahan wajib melakukan upacara suci (yadnya).

Jadi upacara suci yang dilakukan di suatu tempat atau rerahinan bukan sekedar “event”, tetapi sebuah wujud bahwa kita selalu ingat (eling) terhadap hukum dan tatanan alam yang ada di tempat atau di wilayah tersebut. Demikianlah orang tua kita selalu mengingatkan dan mengajarkan bahwa dalam hidup ini kita harus selalu berjalan dan bertindak sesuai aturan yang benar, dan dalam waktu yang sama apa yang kita lakukan juga secara langsung bisa memberi dampak atau pengingat (ngelingan) bagi orang lain bahkan bagi seluruh mahluk di muka bumi.

Jadi rerahinan yang dilaksanakan di Bali bisa dikatakan sebuah aturan atau pedoman. Jika kita melupakan aturan maka sangat berpotensi melakukan pelanggaran. Jika melanggar maka  diri kita, keluarga bahkan seluruh umat manusia di muka bumi  ini bisa “bisul” atau “tulah” — kena sanksi atau dihukum oleh alam.

Sekali lagi, “aturanlah yang menjadikan kehidupan di muka bumi menjadi teratur”. Keteraturanlah yang menyebabkan keadaan menjadi “seimbang” seperti yang terkandung dalam filosofi Tri Hita Karana. (T).

Tilem Sadha, Soma Kliwon Landep, Kajeng Kliwon, 4 Juli 2016

Tags: balimitospetanisubaktata ruang
Share37TweetSendShareSend
Previous Post

Melihat Nasib Petani di Bali dalam Gemerlap Pembangunan

Next Post

Michel Platini Menuai Karma di Stade de France

Made Nurbawa

Made Nurbawa

Tinggal di Tabanan dan punya kecintaan yang besar terhadap tetek-bengek budaya pertanian. Tulisan-tulisannya bisa dilihat di madenurbawa.com

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post

Michel Platini Menuai Karma di Stade de France

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co