28 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Michel Platini Menuai Karma di Stade de France

Komang Armada by Komang Armada
February 2, 2018
in Ulasan

Sumber foto: Youtube

Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melafalkan Aportuguesa. Yang tidak kita tahu, di balik kostum masing-masing, dada siapa yang berdegup lebih kencang.

Tetapi gelaran Euro 2016 bukan hanya itu. Pada final minggu malam lalu (Senin dini hari waktu Indonesia) para penggila bola di berbagai belahan dunia dibuat terkagum-kagum bukan hanya oleh kemegahan konstruksi Stade de France, stadion terbesar keenam di Eropa berkapasitas 80 ribuan itu, atau oleh kemeriahan pesta penutupan yang diawali pementasan David Guetta membawakan “This One’s for You” ciptaannya sebagai lagu tema. Bukan hanya itu.

Secara umum, kita kagum dan berterima kasih, pertama kepada para taipan media pertelevisian Indonesia atas pembelian hak siar seluruh pertandingan Euro 2016. Itu memungkinkan kita terhubung dengan tribun stadion-stadion di Prancis, dengan emosi segenap penggemar bola di seluruh dunia, memberi pembeda kepada keseharian kita selama sebulan penuh. Di depan televisi, kita leluasa nyinyir, bebas melempar sumpah serapah kepada seorang pemain yang gagal memanfaatkan peluang atau seorang gelandang yang keliru melakukan passing, misalnya. Dan kalau suka, menyepakati taruhan kecil-kecilan dengan sesama penyuka bola selingkar pertemanan.

Kedua dan terutama, kita berterima kasih kepada Prancis sebagai negara penyelenggara. Sepuluh stadion di sembilan kota yang digunakan sebagai venue pesta bola negara-negara Eropa itu sukses menggelar 51 pertandingan dengan tanpa cacat. Tidak gampang menjadi host ajang sebesar Euro di tengah ancaman mogok, boikot dan teror. Trauma teror Paris November lalu belum lenyap dari pintu-pintu masuk, area parkir dan bangku-bangku stadion.

Sepak Bola Sebagai Iman

Sebagai institusi, dan akhirnya industri, orang tak ragu memirip-miripkan sepak bola dengan agama. Di Argentina, para pemuja Maradona menyebut pemilik “tangan Tuhan” itu nabi. Membagi kosmologi penanggalan menjadi dua tarikh waktu : “Before Diego” dan “After Diego”.

Kegandrungan orang-orang terhadap kostum Wayne Rooney, Linel Messi, Eden Hazard atau Toni Kroos, misalnya, tak kalah dibanding antusiasme umat Kristiani mengenakan pernak-pernik Santo pada saat Natal. Andai kemudian banyak yang menyebut agama sebagai brand tersukses dalam konteks industri, barangkali tak lama lagi (atau sudah?) sepak bola layak menjadi kandidat pesaing yang amat serius.

Lapangan sepak bola adalah altar modern yang sanggup mentransformasikan nilai-nilai global yang pelan-pelan disepakati bersama. Mulai sistem manajerial, perekrutan sumber daya, jangkauan wilayah geografi, nilai-nilai persaudaraan, drama, tragedi,  pesan-pesan kemanusiaan semisal ‘Respect’, ‘Kick Out Racism’, ‘Enjoy Your Responsibility’, dst.

Sepak bola menarik justeru karena ia memiliki kredonya sendiri, tidak melulu hitam putih. Di banyak kesempatan, jamak kita saksikan ia kerap berlaku sebagai antitesis ilmu-ilmu eksakta melalui kejutan dan hasil akhir yang menjadikan kepastian matematika mati kutu. Tak jarang pula ‘melanggar’ konsep paling lazim dalam olah raga yakni menang-kalah.

Maka ketika Leicester City, klub asuhan Claudio Ranieri itu menjuarai English Premiere League musim lalu, banyak analisis yang mendadak menjadi tumpul. Orang-orang ramai berseloroh, kemudian dengan setengah putus asa menyimpulkannya sebagai “keberuntungan” atau “campur tangan langit” atau “intervensi takdir”. Memang, secara tradisi, neraca keuangan klub, apalagi materi pemain, klub berlogo kepala rubah yang satu musim sebelumnya berkutat di zona degradasi itu jelas bukan apa-apa dibanding Manchester United, Arsenal, Chelsea, Liverpool atau Manchester City.

Sepakbola adalah Nemesis

Tidak lengkap rasanya menyebut sepak bola tanpa menyertakan sisi-sisinya yang menghukum. Klimaks kegagalan Argentina di final Copa America Centenario Juni lalu menyulut keputusan maha penting seorang Lionel Messi : mundur dari timnas Argentina. “Final ini bukan untuk saya,” katanya di ruang ganti beberapa menit selepas babak tos-tosan dan bola gagal ia lesakkan ke jala Claudio Bravo, kiper timnas Chili, kompatriotnya di Barcelona. Messi merasa sedang diadili oleh sosok Nemesis, dewi penghukum dalam mitologi Yunani itu dalam perjalanan karir yang bisa jadi paling ia kenang, untuk kesalahan yang tidak usah ia tahu.

Ujar-ujar lain mengatakan, sejarah sering tak adil. Kita tahu itu. Ia membuntuti kita ke celah-celah sempit, melalui ingatan yang bandel tanpa ampun, melalui lembaran teks-teks para pencatat. Kegagalan Roberto Baggio menendang penalti pada Piala Dunia 1994 diabadikan oleh setiap kepala yang menyaksikannya. Publik seakan tak percaya algojo berkuncir ikonik yang setahun sebelumnya dianugerahi gelar pemain terbaik dunia itu gagal oleh satu kesalahan ayunan kaki.

Demikian pun final Euro 2016 kali ini. Ia menarik, sekali lagi, justeru karena ketidaktentuannya. Sesuai data statistik, kemenangan Portugal di fase sebelumnya, 62,5 % disumbang oleh sosok vital Christiano Ronaldo. Apesnya, pada partai final di depan 81.000 pasang mata itu sang kapten harus berhadapan dengan sesuatu yang lebih menekan dari marking Matuidi dan Paul Pogba, yakni rasa sakit akibat cedera kaki setelah takel Dmitri Payet memaksanya keluar pada menit 25. Tetapi mereka masih punya Luis Nani, gelandang sayap yang seakan mendapat angin buat membuktikan bahwa malam itu dialah hantu Portugal sesungguhnya.

Dari sisi keikutsertaan, Format 24 tim gagasan Michel Platini, meski banyak ditentang, akhirnya disepakati sebagai format resmi kejuaraan berkat upaya keras sang legenda semasa menjabat Presiden UEFA. Gagasan yang akhirnya memakan anak bangsanya sendiri setelah kita tahu, pada partai final di tanah sendiri keok oleh tim besutan Fernando Santos, tim peringkat tiga di fase grup yang hanya menang sekali dalam waktu normal, tetapi yang nyawanya dipompa oleh luka yang mereka dapat 12 tahun lalu. Michel Platini seakan menuai karma di Stade de France.

Partai final terakhir yang melibatkan tuan rumah terjadi 12 tahun lalu. Portugal yang kala itu bertindak sebagai tuan rumah Piala Eropa 2004, kandas di tangan Yunani di partai puncak. Selecao harus menerima pil pahit usai Angelos Charisteas melesakkan satu-satunya gol di menit 57.

Bisa disebut, gelaran final Euro 2016 adalah mimesis sempurna fragmen Yunani dua belas tahun lalu. Bedanya, di Prancis kali ini sebutan pemenang harus mereka raih dalam jarak sejauh 109 menit, tepatnya sampai momen ketika Eder menghukum Hugo Lloris dengan sepakan keras kaki kanannya di babak kedua perpanjangan waktu. (T)

Tags: olahragapiala eropasepakbola
Share70TweetSendShareSend
Previous Post

Mengupas Mitos “Jangan Duduk di Bantal, Nanti Bisul”

Next Post

Pameran Hamer “Kinship in Art” – Kala Pelukis jadi Pematung

Komang Armada

Komang Armada

Petani, penikmat kopi dan penyuka sepak bola indah. Bisa dihubungi melalui nyomanarmada@yahoo.com

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Pameran Hamer “Kinship in Art” - Kala Pelukis jadi Pematung

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara
Pameran

B-GIDME 2026 Hadirkan 46 Karya dari 52 Desainer Lima Negara

Bali-Global Innovative Design Map Exhibition (B-GIDME) 2026 resmi dibuka pada Senin, 26 Oktober 2026, di Neka Art Museum (NAM), Ubud,...

by Nyoman Budarsana
October 28, 2026
Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya
Panggung

Sutasoma vs Purusada: Satire Kekuasaan di Panggung Swara SeadaNya

GUNAWAN Wicaksono membawakan tokoh Purusada dengan riasan tebal, didominasi garis merah dan hitam yang mempertegas wajahnya. Matanya melotot, suaranya menggelegar...

by tatkala
October 28, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Tembok Besar Indonesia Itu Bernama Etnosentrisme [Catatan Hari Sumpah Pemuda]

BANYAK yang mengira, setelah Sumpah Pemuda tahun 1928 persoalan bangsa yang majemuk ini telah selesai. Banyak pula yang berharap, setelah...

by Chusmeru
October 28, 2026
Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen
Tualang

Taksi Ferrari-Lamborghini ala Kawah Ijen

MENDENGAR kata Ferrari atau Lamborghini, bayangan kita mungkin langsung tertuju pada mobil mewah berharga selangit dengan fitur-fitur canggih. Namun, Ferrari...

by Kadek Sri Widiastuti
October 28, 2026
Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji
Liputan Khusus

Panji Lestari, Wanita Tani, dan Warga Penggerak Desa Wisata Panji

“DI DESA PANJI, kami tidak menjual pemandangan, kami menjual cara hidup.” Kalimat itu ditulis Jro Mangku Made Ariawan, Perbekel Desa...

by Jaswanto
October 28, 2026
Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara
Opini

Tatkala Seniman Tak Lagi Bersuara

SENIN pagi, 26 Oktober 2026, saya mengikuti sebuah diskusi di Markas Besar UNESCO, Paris, yang bertajuk Artists at Risk: Voices...

by I.G.A.K. Satrya Wibawa
October 27, 2026
Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri
Esai

Sudah di Lajur Kiri, Malah Mau Disalip dari Kiri

BERKENDARA di jalanan Denpasar dan Badung, Bali, belakangan ini membuat saya ketar-ketir. Saya beberapa kali mengalami situasi ketika sudah berkendara...

by Angga Wijaya
October 27, 2026
Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung
Esai

Bulan Bahasa: Jangan Hanya Ramai di Atas Panggung

Oktober selalu menjadi bulan istimewa bagi dunia pendidikan. Sekolah-sekolah menyelenggarakan Bulan Bahasa melalui berbagai kegiatan, mulai dari lomba membaca puisi,...

by I Wayan Yudana
October 27, 2026
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”
Ulas Rupa

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

by I Wayan Westa
October 27, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Ditutup, Samarasā Dirayakan lewat Tari, Puisi, dan Musik

HUJAN mengguyur Ubud ketika malam penutupan Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) hendak dimulai. Namun, hujan perlahan mereda seiring berlangsungnya...

by Dede Putra Wiguna
October 27, 2026
Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co