4 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pameran Hamer “Kinship in Art” – Kala Pelukis jadi Pematung

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Ulasan

Seni instalasi Arise 1 karya Apel Hendrawan -- Foto: Eka

WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga.

Itulah gambaran mengenai seni instalasi karya Apel Hendrawan. Karya berjudulArise 1 itu, adalah satu dari dua karya utama yang hadir dalam pameran seni rupa Hamer. Pameran yang melibatkan tiga perupa, yakni Apel Hendrawan, Anyon Muliastra, dan Made Romi Sukadana itu, akan dihelat di Loka Serba Guna Sekar Jambu, Jalan Sedap Malam, Denpasar, untuk dua minggu mendatang.

Pameran yang mengambil tema “Kinship in Art” ini cukup menarik. Pameran seni rupa yang mengedepankan patung, melibatkan tiga perupa yang sebelumnya aktif di dunia lukis. Mereka malah aktif dalam komunitas perupa Ten Fine Art, yang terdiri dari sepuluh orang pelukis kawakan.

Dalam pameran Hamer, mereka bukan menunjukkan identitas sebagai pelukis, namun sebagai pematung. Apel, Anyon, dan Romi, mengeksplorasi kemampuannya menghasilkan karya dalam bentuk patung, terutama yang terbuat dari media tembaga.

Karya Arise 1 milik Apel Hendrawan, menjadi simbol peralihan media ketiga perupa. Karya seni instalasi itu menunjukkan identitas ketiganya kala beralih dari pelukis menjadi pematung. Wanita yang dilukiskan oleh Apel, hanya bisa pasrah ketika tubuhnya mengelupa menjadi serpihan-serpihan tembaga. Belakangan serpihan tembaga itu yang menjadi media eksplorasi rupa ketiga perupa.

“Karya itu bisa dibilang kebangkitan untuk persembahan. Jadi karya itu memunculkan identitas awal kami sebagai pelukis. Kemudian kami mengalami peralihan dari lukisan ke plat tembaga. Makanya di bagian bawah itu seperti mengelupas, menjadi kepingan-kepingan tembaga,” ujar Apel saat menjelaskan makna karyanya.

Apel, Anyon, dan Romi juga menjaga identitas mereka sebagai perupa dari kelompok Ten Fine Art. Ketiganya membuat karya patung keroyokan yang berjudul Pohon Cinta. Karya patung dari tembaga yang berwujud batang kamboja berbentuk hati itu dibuat sekitar tiga bulan lalu, dan menjadi karya utama dalam pameran tersebut. Karya itu juga direspon dengan tari kontemporer yang ditarikan oleh Jasmine Okubo, saat pembukaan pameran, Minggu (10/7) malam lalu.

Sebagai perupa yang biasa bergelut di komunitas Ten Fine Art, mereka juga tak kesulitan melepas ego masing-masing. Ciri personal Apel, Anyon, dan Romi, terlihat pada karya itu. Ciri personal ketiganya kemudian luruh menjadi sebuah identitas baru, tanpa menghilangkan ciri personal ketiganya.

Hamer sendiri adalah akronim dari nama tiga seniman yang berpameran. Namun kata hamer bisa mengacu juga pada palu yang identik dengan patung. Lalu “kinship in art” mengacu pada nilai kebersamaan yang melandasi mereka berkarya.

Kurator pameran, I Made Susanta Dwitanaya dalam catatan kuratorialnya mengatakan, sebuah karya kolaboratif seperti patung Pohon Cinta, selalu menarik untuk diperbincangkan. Sebab tanpa adanya semangat kebersamaan, saling berbagi, serta suasana dialogis yang intim, sebuah karya kolaboratif mustahil terwujud.

“Sebuah karya bersama yang dikerjakan tiga orang, tentu ada upaya meluruhkan ego dan karakteristik personal dalam satu garapan. Ini membutuhkan proses dialog yang intens antar anggotanya masing-masing dalam proses penggarapan,” kata Susanta.

Susanta juga menyatakan, para perupa dewasa ini sudah tidak lagi fanatik pada sebuah media karya. Perupa semakin intens menggeluti medium-medium lain, dalam membuat sebuah karya. “Perupa hari ini telah melakukan penjelajahan medium. Perupa lukis yang biasa menjelajahi karya dua dimensi, kini mengakrabi medium tiga dimensi. Mereka tidak saja akrab dengan kuas, tapi juga akrab denganhamer  sebagai bagian dari aktivitas berkesenian termutakhir mereka saat ini,” imbuhnya.

Dalam bentuk karya rupa patung, masing-masing perupa membawa sedikitnya tiga buah karya. Romi Sukadana, membawa karya berjudul Celebrate, Jago, Silver Three, dan Alone. Apel Hendrawan membawa tiga buah karya patung tembaga yang masing-masing berjudul Gesture 1, Gesture 2, serta Gesture 3. Anyon Muliastra juga memboyong tiga buah karya patung tembaga dengan judul Raut 1, Raut 2, dan Raut 3.

Mengingat pameran Hamer menjadi ajang peralihan karya seni rupa bagi Romi, Apel, dan Anyon, mereka juga sepakat membawa masing-masing sebuah karya lukisan. Lukisan sekaligus menjadi identitas awal bagi ketiganya, saat mulai berkecimpung pada dunia seni rupa.

Anyon Muliastra membawa lukisan berjudul Rona (2016), 100×150 cm, cat akrilik pada kanvas. Apel Hendrawan menghadirkan karya lukis dengan judul Arise 2(2016), 100×150 cm, cat minyak pada kanvas. Sementara Romi Sukadana memboyong lukisan berjudul Rajanya Disambut (2016), 130×150 cm, cat akrilik dan minyak pada kanvas.

Ketua Himpunan Pelukis Sanur, Ida Bagus Sidharta Putra secara terpisah, menjelaskan karya-karya ketiga perupa memberikan warna baru dan spirit baru di bidang seni rupa. “Mereka menunjukkan pelukis tidak harus kaku menghasilkan sebuah karya lukis saja. Mereka bisa menjelajah ke media seni rupa lain, seperti saat ini berupa seni patung. Bagi generasi-generasi perupa yang lebih muda, ini harus menjadi sebuah spirit untuk kemajuan,” ucap Sidharta. (T)

Tags: PameranSeniSeni Rupa
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

Michel Platini Menuai Karma di Stade de France

Next Post

Kata-kata “Serem” dalam Kesenian Bali: Dari Rekonstruksi hingga Oratorium

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Kata-kata “Serem” dalam Kesenian Bali: Dari Rekonstruksi hingga Oratorium

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co