24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kata-kata “Serem” dalam Kesenian Bali: Dari Rekonstruksi hingga Oratorium

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Ulasan

Foto: Komang Qipitz

PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terutama seniman dari desa yang tumben-tumben menginjak karpet di panggung Taman Budaya Bali tentu mendapat kesan mendalam karena tumben-tumbennya juga mendapat apresiasi besar dari penonton. Kesan mendalam itu mungkin membekas terus di hati dan dibawa hingga mati.

Sejumlah penonton tentu juga mendapatkan kesan yang membekas di hati. Mungkin kesan mendalam terhadap seorang gadis belia yang begitu lihai main gender. Atau mengingat secara mendalam tentang dalang bocah yang lincah sabetkan wayang namun hanya ditonton segelintir orang di ceruk wantilan. Sejumlah pentonton lain bisa saja terkesan terhadap hal-hal di luar kesenian, misalnya tentang hujan yang beberapa kali merundung pementasan. Atau tentang lampu padam di suatu malam hingga sebagian areal Taman Budaya gelap gulita. Atau mungkin ada yang mengingat  puing kebakaran di deretan stand kerajinan dan tangis pilu para pedagang.

Saya sendiri punya kesan tentang beberapa hal. Antara lain tentang sejumlah istilah serem alias seram alias aeng di PKB. Saat malam pembukaan di panggung terbuka Ardha Candra, saya ngon begitu istilah serem masuk telinga. Dengan gagah disebutkan PKB dibuka dengan “Pagelaran Oratorium ‘Markandya Bumi Sudha’ oleh Institut Seni Indonesia Denpasar”.

Oratorium? Adakah ia sepupuan dengan laboratorium atau krematorium?

Sejumlah istilah serem lain muncul dalam sejumlah pementasan berikutnya. Misalnya istilah seni rekonstruksi dan seni inovatif. Belum lagi istilah transformasi dan kolaborasi yang ditempelkan dengan mudahnya dalam sebuah garapan seni. Yang lebih gawat ada pementasan wayang listrik kontemporer. Istilah wayang listik saja sudah bikin telinga berpikir. Ditambah lagi kata “kontemporer” yang bahkan kaum intelektual pun hingga kini masih keblinger dengan arti istilah itu. Saya tahu dan pernah menonton wayang garapan Dalang Made Sidia itu. Dan saya pikir, tanpa embel-embel kata kontemporer, bahkan tanpa kata listrik pun, garapan itu memang layak disebut sebagai karya baru dalam proses perkembangan seni wayang di Bali. Apalagi garapan itu memang top.

Sejumlah istilah serem memang sudah sejak beberapa tahun lalu masuk dalam hingar-bingar PKB. Namun tahun ini saya tergelitik memikirkan terus-menerus. Terutama saat mendengar sejumlah seniman Bali mengucapkannya dengan lidah yang hampir selalu keseleo. Sampai-sampai saya membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Pertama-tama saya cari kata oratorium. Dalam KBBI versi online saya temukan arti dari oratorium adalah: ora.to.ri.um, Nomina (kata benda), (1) Istilah Agama Katolik tempat sembahyang atau tempat berdoa; kapel;  (2) jenis karya musik yang besar (yang tumbuh dari suatu kebiasaan di tempat peribadatan di kota Roma pada akhir abad ke-16) dengan bersumberkan Alkitab untuk penciptaannya.

Tak puas, saya telusuri Wikipedia. Di situ ada kata Oratorio. Saya kutip beberapa saja (selengkapnya buka sendiri Wikipedia). Disebutkan Oratorio adalah tempat berdoa. Oratorio berasal dari bahasa Latin, ora yang artinya doa, sehingga dalam bahasa latin, oratorium berarti tempat doa. Namun selain dikenal sebagai nama tempat untuk berdoa, biasanya juga dipakai sebagai nama jenis musik yang dimainkan di ruang doa.

Wawasan saya mungkin tak seluas doktor atau professor di bidang seni. Mungkin memang ada kamus lain atau sumber pengetahuan lain yang menyebut oratorium cocok untuk menamai pementasan kolosal di pembukaan PKB itu. Tapi istilah itu benar-benar membuat kuping tiluan mendengarnya, dan lidah bisa kejengklok saat mengucapkannya. Apalagi kata oratorium dipadu dengan kata-kata Markandya Bumi Sudha — betapa puruh kepala ini jika diminta menjelaskan seluruh rangkaian kalimat itu.

Apakah jero-jero sempat menonton pagelaran yang disebut oratorium itu? Jika tidak, tanyalah pada teman yang sempat menontonnya. Sebagian besar dari mereka mungkin akan menyebut pagelaran yang ditonton itu adalah sendratari. Karena memang istilah itu yang akrab di telinga mereka. Apalagi, pementasan itu memang tak jauh beda dengan sendratari yang dikenal selama ini, yang juga pernah menjadi primadona di PKB sekitar pertengahan tahun 1980-an hingga awal tahun 1990-an.

Eh, soal sendratari, ada teman penari ternyata tak tahu bahwa sendratari itu akronim dari “seni, drama dan tari”. Dia pikir itu nama tersendiri untuk menyebut satu bentuk kesenian semacam gambuh dan arja. Seperti kebanyakan orang Bali, teman itu biasa menyebut “senratari” (tanpa d). Dan dia marah ketika saya beritahu kebenarannya, mungkin marah karena menyadari ia sangat telat tahu, atau mungkin marah karena hal lain.

“Kleeee, jika begitu kenapa arja tak disebut sendratari, kenapa gambuh tak disebut sendratari. Bukankah arja dan gambuh juga termasuk seni drama dan tari?” katanya keras.

Saya hanya manggut.

“Bahkan arja bisa dinamai sendratarinyi,”

Saya mengernyit. “Apa itu sendratarinyi?”

“Seni drama tari dan nyanyi!”

Saya mekebris.

“Dan drama gong bisa disebut sendratatari!”

“Apa lagi itu?”

“Seni drama tanpa tari!”

Saya benar-benar ngakak.

Memang dunia kesenian Bali belakangan ini sangat sibuk dengan kata-kata, istilah-istilah. Dulu, betapa susahnya seni modern semacam teater dan film masuk ke PKB. Orang-orang yang merasa punya kekuasaan untuk menentukan arah dan tujuan pesta itu menganggap teater, sastra modern dan film adalah kesenian asing yang tak sesuai dengan visi dan misi awal PKB. Tapi sejak beberapa tahun lalu istilah-istilah asing dengan mudah masuk PKB bahkan kadang tak dipahami arti sebenarnya. Saya menduga semua itu dilakukan sebagai bentuk “pengalihan isu dan wacana” dari tidak muncul-munculnya bentuk kesenian baru yang bisa jadi primadona, setelah arja pingsan, drama gong mati ngereres dan sendratari kolaps.

Untuk menyebut kesenian langka sejenis tari-tari sanghyang, kini digunakan istilah seni rekontruksi. Menurut KBBI, rekonstruksi memiliki arti (1) pengembalian seperti semula, (2) penyusunan (penggambaran) kembali. Jika begitu, hampir semua tari-tari yang dipentaskan di PKB sesungguhnya hasil rekonstruksi. Bukankah tari-tarian itu digambarkan kembali seperti pada mula diciptakan? Itu mungkin logika bodoh, tapi coba jero-jero pikir berulang-ulang dari sudut pandang yang agak genit.

Seorang pejabat dinas kebudayaan dari satu kabupaten pernah menjelaskan bahwa seni rekonstruksi adalah bentuk kesenian yang sudah mati atau nyaris mati, yang dihidupkan kembali melalui program rekonstruksi yang dilakukan pemerintah. Pemerintah yang dimaksud adalah Dinas Kebudayaan/Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Jika memang begitu, koq nama proyek dijadikan nama baru, seakan-akan menjadi nama resmi sebuah bentuk kesenian.

Proyek pemerintah bisa saja bernama “program rekonstruksi untuk kesenian punah”, tapi ketika pentas tak perlulah pakai embel-embel rekonstruksi. Apalagi, ngomong-ngomong soal proyek rekonstruksi, saya curiga, jangan-jangan tujuan final proyek itu hanya untuk pentas di PKB. Setelah PKB jangan-jangan kesenian itu bobok lagi, lalu bangun lagi pada PKB berikutnya. Lalu, mati lagi.

Yang bikin ngon lagi adalah istilah seni inovatif. Buka KBBI lagi, inovatif artinya bersifat memperkenalkan sesuatu yang baru, bersifat pembaruan (kreasi baru). Sekitar tahun 1980-an muncul tari-tari ciptaan baru seperti Manukrawa, Gopala, dan Kidang Kencana. Tari-tarian itu disebut tari kreasi baru. Jika orang menciptakan tarian baru, misalnya dalam lomba gong kebyar, tarian itu langsung disebut tari kreasi baru. Bahkan kini, meski sudah tak baru lagi, tari sejenis Kidang Kencana dan Gopala masih tetap disebut dengan nama tari kreasi baru.

Jika begitu, di PKB, ada bermacam-macam “seni baru”. Ada tari kreasi baru, ada seni inovatif, ada seni kontemporer. Wah, hebat sekali. Jangan-jangan nanti ada seni up to date, seni mutakhir, seni masa kini. Kembali soal seni inovatif yang dipertunjukkan di PKB, saya pikir tidaklah baru-baru amat. Beberapa memang memberi penawaran ide baru yang lumayan mengejutkan, tapi sebagian besar masih meniru-niru gerakan tari kontemporer atau drama kontemporer yang sesungguhnya sudah tidak kontemporer lagi. Nah, bingung kan?

Yang boleh dianggap lucu, suatu kali saya berpapasan dengan seorang penari cantik dengan kostum tak biasa di PKB. Seorang remaja tanggung bertanya kepada penari itu lebih sebagai sebuah godaan. “Wuiih, cantiknya. Mau nari apa, Gek?” Saya dengar gadis itu menjawab tegas, “Tari Inopatip!,” dengan lidah yang sangat tidak inovatif.

Tapi tunggu dulu. Saya harus mengakui juga dengan malu-malu, bahwa saya sendiri sebenarnya baru tahu sejak sekitar sebulan lalu, bahwa Tari Kebyar Duduk pada awal diciptakan oleh Mario alias I Maria di Tabanan sesungguhnya tidak mempunyai nama. Orang-orang kemudian menyebutnya dengan nama Igel Jongkok. Tersebab tari itu dipertunjukkan ke mana-mana, termasuk ke luar negeri, mungkin para “penguasa kesenian” malu sehingga sebutan Igel Jongkok diganti dengan nama yang diambil dari bahasa Sanskerta sehingga jadi serem. Saking serem-nya saya tak bisa mengingatnya meski pernah diberitahu oleh Prof. Made Bandem. Saking serem juga, nama itu tak populer.  Sehingga diganti menjadi Kebyar Duduk.

Saya sendiri lebih suka tarian itu tetap bernama Igel Jongkok. Lebih alami, lebih ndeso seperti saya, daripada nama-nama Sanskerta yang kemudian diisi embel-embel kata Indonesia, Inggris, atau Latin. (T)

Tags: BahasabaliPesta Kesenian BaliSeni
Share121TweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Hamer “Kinship in Art” – Kala Pelukis jadi Pematung

Next Post

KB Bali – 1 Anak Berkualitas atawa 4 Anak Tak Karuan

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

KB Bali - 1 Anak Berkualitas atawa 4 Anak Tak Karuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co