24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

KB Bali – 1 Anak Berkualitas atawa 4 Anak Tak Karuan

Made Surya Hermawan by Made Surya Hermawan
March 20, 2019
in Opini

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa ini adalah akibat program Keluarga Berencana (KB) nasional dengan slogan “Dua Anak Cukup, Laki Perempuan Sama Saja”.

Di Bali program itu sukses bahkan sejumlah pasangan suami-istri dan sejumlah lembaga kerap dapat penghargaan tingkat nasional karena suksesnya menjalankan KB.  Tapi di balik kesuksesan itu, kini ada anggapan, program itulah yang menyebabkan makin sedikit anak Bali lahir di dunia ini.

Dikaitkan dengan situasi kekinian, beberapa tokoh memang sebelumnya sudah gencar mengkampanyekan untuk kembali beralih ke “KB Bali”. Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut, harus tetap lestari, mungkin begitu sederhananya. Memiliki empat anak untuk melestarikan tetamian nak lingsir. Slogan kampanye yang mungkin sangat menyentuh kalangan masyarakat.

Jelas saja, karena masyarakat Bali cenderung sensitif ketika sudah berbicara tentang tetamian nak lingsir. Ah, tapi mungkin juga tak begitu sensitif ketika mereka gencar menjual tetaminan nak lingsir. Sawah, misalnya.

Masihkah KB Bali relevan untuk kondisi Bali saat ini? Jawabannya masih. Namun tidak untuk semua orang Bali. Ingat, adat dan tradisi Bali bersifat terbuka dan fleksibel yang dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Semasih tidak mengingkari jati diri masyarakat Bali, boleh-boleh saja dilakukan.

Saat ini, memiliki empat anak bukan hanya persoalan melestarikan tradisi leluhur. Namun lebih dari itu, jaminan kualitas pertumbuhan dan perkembangan harus menjadi pertimbangan utama. Lalu melestarikan tradisi leluhur ada pada prioritas kedua. Yang saya maksud sebagai KB Bali tidak relevan bagi semua orang Bali saat ini adalah jumlah anak harus diimbangi dengan kemampuan orang tua untuk menghidupi. Menghidupi dirinya dan anaknya.

Menjadi sebuah ketidakmungkinan kalau semata-mata untuk melestarikan tradisi leluhur lalu mamaksakan diri untuk memiliki empat anak. Itu ngawur namanya.

Dampaknya, ketika dipaksakan memiliki empat anak. Orang tua pasti secara otomatis harus memaksakan diri untuk menghidupi anaknya. Iya, kalau ada pekerjaan yang layak, kalau tidak? Kriminalitas bisa jadi masalah yang muncul.

Ingat, anak tidak cukup hanya dibuat dan dilahirkan. Mereka perlu susu, pendidikan, fasilitas kesehatan, dan biaya hidup lainnya. Semua kebutuhan itu tidak bisa dibayar dengan ucapan “saya melestarikan tradisi leluhur”. Semua butuh uang untuk memenuhinya. Dalam hal ini saya sama sekali tidak bermaksud untuk materialistis. Ini realistis. Jangan sampai ada slogan “KB Bali, 4 Anak Bagus, Makan tak Makan Sama Saja”.

Seharusnya, ada perubahan cara pandang yang terjadi. Termasuk bagi para tokoh yang mengkampanyekan KB Bali ini. Jangan digeneralisir. Masyarakat Bali secara jelas memiliki tingkat kemampuan ekonomi yang berbeda.

Kenapa ekonomi? Karena ekonomi erat kaitanya dengan kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak. Sekolah? Perlu uang, berobat? Itu butuh dana. Meskipun katanya sekarang fasilitas pendidikan dan kesehatan gratis. Tapi, pemerintah belum menjamin semua kebutuhan pokok setiap hari sebagai sebuah kebutuhan yang gratis. Jadi, hati-hati. Jangan melestarikan tradisi leluhur secara gelap mata tanpa menalar dan merasa sebelumnya.

Buatlah anak sebanyak dan semampu Anda menjamin kualitas kehidupan mereka. Itu mungkin dapat menjadi sesuatu yang lebih bijak. Jika merasa diri hanya mampu menghidupi 1 orang anak, ya cukup buat anak satu saja. Jika merasa diri mampu menghidupi 4 orang anak, ya silakan saja buat 4 anak.

Lalu, jika merasa diri mampu menghidupi 8 orang anak, silakan produksi 8. Justru lebih bagus, Anda akan dianggap sebagai pelestari tradisi leluhur yang baik. Bukan hanya satu putaran, tetapi dua putaran Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut, lalu  Wayan balik, Made balik, Nyoman balik, dan Ketut balik. Bukan menjadi sebuah masalah, karena tidak ada sanksi hukum ketika manusia memiliki banyak anak.

Orang Hindu Bali percaya bahwa anak adalah jalan untuk para leluhur turun kembali ke dunia (punarbhawa). Jadi harus ada jaminan bahwa anak akan mendapatkan pendidikan yang layak, kesehatan yang mumpuni, makanan yang sehat, dan lingkungan yang baik. Bukankah itu cara untuk lebih menghargai leluhur? Menyediakan tempat yang baik bagi para leluhur untuk menjelma kembali ke dunia. Bukankah itu jauh lebih baik daripada sekadar memiliki empat anak namun tidak dihidupi dengan baik? Tradisi harus disesuaikan dengan keadaan diri.

Anak bukan hanya soal keturunan, bukan hanya persoalan melestarikan tradisi leluhur. Anak adalan investasi masa depan. Anak yang terkelola dengan baik, akan menjadi pribadi yang baik di masa depan. Sebaliknya pun begitu. Saat ini, kualitas anak jauh lebih penting daripada kuantitas anak. Bali tidak akan hancur karena hanya ada sedikit orang Bali, namun memiliki kualitas yang baik.

Justru, Bali akan hancur ketika ada banyak orang Bali namun tidak memiliki kualitas yang baik. Memang, akan lebih baik jika banyak orang Bali dan semuanya berkualitas baik. Namun, itu sebuah unsur ideal yang setidaknya patut diperjuangkan. Sekarang, langkah awalnya adalah memulai dari yang sedikit namun berkualitas, menuju yang banyak dengan kualitas yang lebih baik pula. Tidak ada sesuatu yang seketika langsung jadi, segala pencapaian besar diawali dengan langkah kecil. Termasuk menalar tradisi dengan lebih bijak.

Jadi, pilih mana, 1 anak berkualitas, yang bisa menjaga Bali dengan baik, atau banyak anak tapi bisa-bisa membuat Bali tak karuan nantinya? (T)

Tags: baliekonomiKeluargaTradisi
Share1108TweetSendShareSend
Previous Post

Kata-kata “Serem” dalam Kesenian Bali: Dari Rekonstruksi hingga Oratorium

Next Post

Menunggu Liga Inggris, Menunggu Perang “Taksu” Para Aktor

Made Surya Hermawan

Made Surya Hermawan

Lahir di Denpasar, 7 Oktober 1993, tinggal di Kuta, Bali. Lulusan Jurusan Pendidikan Biologi Undiksha, Singaraja, 2015. Gemar mendengar cerita politik dan senang berorganisasi. Setleah menamatkan studi pascasarjana di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang, ia mengabdikan ilmunya dengan jadi guru.

Related Posts

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails
Next Post

Menunggu Liga Inggris, Menunggu Perang “Taksu” Para Aktor

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co