23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

KB Bali – 1 Anak Berkualitas atawa 4 Anak Tak Karuan

Made Surya Hermawan by Made Surya Hermawan
March 20, 2019
in Opini

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa ini adalah akibat program Keluarga Berencana (KB) nasional dengan slogan “Dua Anak Cukup, Laki Perempuan Sama Saja”.

Di Bali program itu sukses bahkan sejumlah pasangan suami-istri dan sejumlah lembaga kerap dapat penghargaan tingkat nasional karena suksesnya menjalankan KB.  Tapi di balik kesuksesan itu, kini ada anggapan, program itulah yang menyebabkan makin sedikit anak Bali lahir di dunia ini.

Dikaitkan dengan situasi kekinian, beberapa tokoh memang sebelumnya sudah gencar mengkampanyekan untuk kembali beralih ke “KB Bali”. Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut, harus tetap lestari, mungkin begitu sederhananya. Memiliki empat anak untuk melestarikan tetamian nak lingsir. Slogan kampanye yang mungkin sangat menyentuh kalangan masyarakat.

Jelas saja, karena masyarakat Bali cenderung sensitif ketika sudah berbicara tentang tetamian nak lingsir. Ah, tapi mungkin juga tak begitu sensitif ketika mereka gencar menjual tetaminan nak lingsir. Sawah, misalnya.

Masihkah KB Bali relevan untuk kondisi Bali saat ini? Jawabannya masih. Namun tidak untuk semua orang Bali. Ingat, adat dan tradisi Bali bersifat terbuka dan fleksibel yang dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Semasih tidak mengingkari jati diri masyarakat Bali, boleh-boleh saja dilakukan.

Saat ini, memiliki empat anak bukan hanya persoalan melestarikan tradisi leluhur. Namun lebih dari itu, jaminan kualitas pertumbuhan dan perkembangan harus menjadi pertimbangan utama. Lalu melestarikan tradisi leluhur ada pada prioritas kedua. Yang saya maksud sebagai KB Bali tidak relevan bagi semua orang Bali saat ini adalah jumlah anak harus diimbangi dengan kemampuan orang tua untuk menghidupi. Menghidupi dirinya dan anaknya.

Menjadi sebuah ketidakmungkinan kalau semata-mata untuk melestarikan tradisi leluhur lalu mamaksakan diri untuk memiliki empat anak. Itu ngawur namanya.

Dampaknya, ketika dipaksakan memiliki empat anak. Orang tua pasti secara otomatis harus memaksakan diri untuk menghidupi anaknya. Iya, kalau ada pekerjaan yang layak, kalau tidak? Kriminalitas bisa jadi masalah yang muncul.

Ingat, anak tidak cukup hanya dibuat dan dilahirkan. Mereka perlu susu, pendidikan, fasilitas kesehatan, dan biaya hidup lainnya. Semua kebutuhan itu tidak bisa dibayar dengan ucapan “saya melestarikan tradisi leluhur”. Semua butuh uang untuk memenuhinya. Dalam hal ini saya sama sekali tidak bermaksud untuk materialistis. Ini realistis. Jangan sampai ada slogan “KB Bali, 4 Anak Bagus, Makan tak Makan Sama Saja”.

Seharusnya, ada perubahan cara pandang yang terjadi. Termasuk bagi para tokoh yang mengkampanyekan KB Bali ini. Jangan digeneralisir. Masyarakat Bali secara jelas memiliki tingkat kemampuan ekonomi yang berbeda.

Kenapa ekonomi? Karena ekonomi erat kaitanya dengan kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak. Sekolah? Perlu uang, berobat? Itu butuh dana. Meskipun katanya sekarang fasilitas pendidikan dan kesehatan gratis. Tapi, pemerintah belum menjamin semua kebutuhan pokok setiap hari sebagai sebuah kebutuhan yang gratis. Jadi, hati-hati. Jangan melestarikan tradisi leluhur secara gelap mata tanpa menalar dan merasa sebelumnya.

Buatlah anak sebanyak dan semampu Anda menjamin kualitas kehidupan mereka. Itu mungkin dapat menjadi sesuatu yang lebih bijak. Jika merasa diri hanya mampu menghidupi 1 orang anak, ya cukup buat anak satu saja. Jika merasa diri mampu menghidupi 4 orang anak, ya silakan saja buat 4 anak.

Lalu, jika merasa diri mampu menghidupi 8 orang anak, silakan produksi 8. Justru lebih bagus, Anda akan dianggap sebagai pelestari tradisi leluhur yang baik. Bukan hanya satu putaran, tetapi dua putaran Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut, lalu  Wayan balik, Made balik, Nyoman balik, dan Ketut balik. Bukan menjadi sebuah masalah, karena tidak ada sanksi hukum ketika manusia memiliki banyak anak.

Orang Hindu Bali percaya bahwa anak adalah jalan untuk para leluhur turun kembali ke dunia (punarbhawa). Jadi harus ada jaminan bahwa anak akan mendapatkan pendidikan yang layak, kesehatan yang mumpuni, makanan yang sehat, dan lingkungan yang baik. Bukankah itu cara untuk lebih menghargai leluhur? Menyediakan tempat yang baik bagi para leluhur untuk menjelma kembali ke dunia. Bukankah itu jauh lebih baik daripada sekadar memiliki empat anak namun tidak dihidupi dengan baik? Tradisi harus disesuaikan dengan keadaan diri.

Anak bukan hanya soal keturunan, bukan hanya persoalan melestarikan tradisi leluhur. Anak adalan investasi masa depan. Anak yang terkelola dengan baik, akan menjadi pribadi yang baik di masa depan. Sebaliknya pun begitu. Saat ini, kualitas anak jauh lebih penting daripada kuantitas anak. Bali tidak akan hancur karena hanya ada sedikit orang Bali, namun memiliki kualitas yang baik.

Justru, Bali akan hancur ketika ada banyak orang Bali namun tidak memiliki kualitas yang baik. Memang, akan lebih baik jika banyak orang Bali dan semuanya berkualitas baik. Namun, itu sebuah unsur ideal yang setidaknya patut diperjuangkan. Sekarang, langkah awalnya adalah memulai dari yang sedikit namun berkualitas, menuju yang banyak dengan kualitas yang lebih baik pula. Tidak ada sesuatu yang seketika langsung jadi, segala pencapaian besar diawali dengan langkah kecil. Termasuk menalar tradisi dengan lebih bijak.

Jadi, pilih mana, 1 anak berkualitas, yang bisa menjaga Bali dengan baik, atau banyak anak tapi bisa-bisa membuat Bali tak karuan nantinya? (T)

Tags: baliekonomiKeluargaTradisi
Share1108TweetSendShareSend
Previous Post

Kata-kata “Serem” dalam Kesenian Bali: Dari Rekonstruksi hingga Oratorium

Next Post

Menunggu Liga Inggris, Menunggu Perang “Taksu” Para Aktor

Made Surya Hermawan

Made Surya Hermawan

Lahir di Denpasar, 7 Oktober 1993, tinggal di Kuta, Bali. Lulusan Jurusan Pendidikan Biologi Undiksha, Singaraja, 2015. Gemar mendengar cerita politik dan senang berorganisasi. Setleah menamatkan studi pascasarjana di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang, ia mengabdikan ilmunya dengan jadi guru.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Menunggu Liga Inggris, Menunggu Perang “Taksu” Para Aktor

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co