2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

KB Bali – 1 Anak Berkualitas atawa 4 Anak Tak Karuan

Made Surya Hermawan by Made Surya Hermawan
March 20, 2019
in Opini

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa ini adalah akibat program Keluarga Berencana (KB) nasional dengan slogan “Dua Anak Cukup, Laki Perempuan Sama Saja”.

Di Bali program itu sukses bahkan sejumlah pasangan suami-istri dan sejumlah lembaga kerap dapat penghargaan tingkat nasional karena suksesnya menjalankan KB.  Tapi di balik kesuksesan itu, kini ada anggapan, program itulah yang menyebabkan makin sedikit anak Bali lahir di dunia ini.

Dikaitkan dengan situasi kekinian, beberapa tokoh memang sebelumnya sudah gencar mengkampanyekan untuk kembali beralih ke “KB Bali”. Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut, harus tetap lestari, mungkin begitu sederhananya. Memiliki empat anak untuk melestarikan tetamian nak lingsir. Slogan kampanye yang mungkin sangat menyentuh kalangan masyarakat.

Jelas saja, karena masyarakat Bali cenderung sensitif ketika sudah berbicara tentang tetamian nak lingsir. Ah, tapi mungkin juga tak begitu sensitif ketika mereka gencar menjual tetaminan nak lingsir. Sawah, misalnya.

Masihkah KB Bali relevan untuk kondisi Bali saat ini? Jawabannya masih. Namun tidak untuk semua orang Bali. Ingat, adat dan tradisi Bali bersifat terbuka dan fleksibel yang dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Semasih tidak mengingkari jati diri masyarakat Bali, boleh-boleh saja dilakukan.

Saat ini, memiliki empat anak bukan hanya persoalan melestarikan tradisi leluhur. Namun lebih dari itu, jaminan kualitas pertumbuhan dan perkembangan harus menjadi pertimbangan utama. Lalu melestarikan tradisi leluhur ada pada prioritas kedua. Yang saya maksud sebagai KB Bali tidak relevan bagi semua orang Bali saat ini adalah jumlah anak harus diimbangi dengan kemampuan orang tua untuk menghidupi. Menghidupi dirinya dan anaknya.

Menjadi sebuah ketidakmungkinan kalau semata-mata untuk melestarikan tradisi leluhur lalu mamaksakan diri untuk memiliki empat anak. Itu ngawur namanya.

Dampaknya, ketika dipaksakan memiliki empat anak. Orang tua pasti secara otomatis harus memaksakan diri untuk menghidupi anaknya. Iya, kalau ada pekerjaan yang layak, kalau tidak? Kriminalitas bisa jadi masalah yang muncul.

Ingat, anak tidak cukup hanya dibuat dan dilahirkan. Mereka perlu susu, pendidikan, fasilitas kesehatan, dan biaya hidup lainnya. Semua kebutuhan itu tidak bisa dibayar dengan ucapan “saya melestarikan tradisi leluhur”. Semua butuh uang untuk memenuhinya. Dalam hal ini saya sama sekali tidak bermaksud untuk materialistis. Ini realistis. Jangan sampai ada slogan “KB Bali, 4 Anak Bagus, Makan tak Makan Sama Saja”.

Seharusnya, ada perubahan cara pandang yang terjadi. Termasuk bagi para tokoh yang mengkampanyekan KB Bali ini. Jangan digeneralisir. Masyarakat Bali secara jelas memiliki tingkat kemampuan ekonomi yang berbeda.

Kenapa ekonomi? Karena ekonomi erat kaitanya dengan kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak. Sekolah? Perlu uang, berobat? Itu butuh dana. Meskipun katanya sekarang fasilitas pendidikan dan kesehatan gratis. Tapi, pemerintah belum menjamin semua kebutuhan pokok setiap hari sebagai sebuah kebutuhan yang gratis. Jadi, hati-hati. Jangan melestarikan tradisi leluhur secara gelap mata tanpa menalar dan merasa sebelumnya.

Buatlah anak sebanyak dan semampu Anda menjamin kualitas kehidupan mereka. Itu mungkin dapat menjadi sesuatu yang lebih bijak. Jika merasa diri hanya mampu menghidupi 1 orang anak, ya cukup buat anak satu saja. Jika merasa diri mampu menghidupi 4 orang anak, ya silakan saja buat 4 anak.

Lalu, jika merasa diri mampu menghidupi 8 orang anak, silakan produksi 8. Justru lebih bagus, Anda akan dianggap sebagai pelestari tradisi leluhur yang baik. Bukan hanya satu putaran, tetapi dua putaran Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut, lalu  Wayan balik, Made balik, Nyoman balik, dan Ketut balik. Bukan menjadi sebuah masalah, karena tidak ada sanksi hukum ketika manusia memiliki banyak anak.

Orang Hindu Bali percaya bahwa anak adalah jalan untuk para leluhur turun kembali ke dunia (punarbhawa). Jadi harus ada jaminan bahwa anak akan mendapatkan pendidikan yang layak, kesehatan yang mumpuni, makanan yang sehat, dan lingkungan yang baik. Bukankah itu cara untuk lebih menghargai leluhur? Menyediakan tempat yang baik bagi para leluhur untuk menjelma kembali ke dunia. Bukankah itu jauh lebih baik daripada sekadar memiliki empat anak namun tidak dihidupi dengan baik? Tradisi harus disesuaikan dengan keadaan diri.

Anak bukan hanya soal keturunan, bukan hanya persoalan melestarikan tradisi leluhur. Anak adalan investasi masa depan. Anak yang terkelola dengan baik, akan menjadi pribadi yang baik di masa depan. Sebaliknya pun begitu. Saat ini, kualitas anak jauh lebih penting daripada kuantitas anak. Bali tidak akan hancur karena hanya ada sedikit orang Bali, namun memiliki kualitas yang baik.

Justru, Bali akan hancur ketika ada banyak orang Bali namun tidak memiliki kualitas yang baik. Memang, akan lebih baik jika banyak orang Bali dan semuanya berkualitas baik. Namun, itu sebuah unsur ideal yang setidaknya patut diperjuangkan. Sekarang, langkah awalnya adalah memulai dari yang sedikit namun berkualitas, menuju yang banyak dengan kualitas yang lebih baik pula. Tidak ada sesuatu yang seketika langsung jadi, segala pencapaian besar diawali dengan langkah kecil. Termasuk menalar tradisi dengan lebih bijak.

Jadi, pilih mana, 1 anak berkualitas, yang bisa menjaga Bali dengan baik, atau banyak anak tapi bisa-bisa membuat Bali tak karuan nantinya? (T)

Tags: baliekonomiKeluargaTradisi
Share1108TweetSendShareSend
Previous Post

Kata-kata “Serem” dalam Kesenian Bali: Dari Rekonstruksi hingga Oratorium

Next Post

Menunggu Liga Inggris, Menunggu Perang “Taksu” Para Aktor

Made Surya Hermawan

Made Surya Hermawan

Lahir di Denpasar, 7 Oktober 1993, tinggal di Kuta, Bali. Lulusan Jurusan Pendidikan Biologi Undiksha, Singaraja, 2015. Gemar mendengar cerita politik dan senang berorganisasi. Setleah menamatkan studi pascasarjana di Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang, ia mengabdikan ilmunya dengan jadi guru.

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Menunggu Liga Inggris, Menunggu Perang “Taksu” Para Aktor

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co