25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rekonsiliasi Pasca Perebutan Kekuasaan: Mengintip Pesan Kakawin Ramayana

Putu Eka Guna Yasa by Putu Eka Guna Yasa
February 20, 2024
in Esai
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Putu Eka Guna Yasa

TAK ada kekuasaan yang gratis, terlebih di tengah-tengah masyarakat bermental komersil seperti saat ini. Setiap orang yang ingin mendapat kekuasaan mesti melakukan berbagai pengorbanan baik material maupun mental sebagai tumbal atas keinginan mengatur masyarakat. Modal wacana pengabdian dengan jargon sutindih, subakti, dan sujati saja sudah pasti tak akan membuat satu banjar menyatakan kebulatan tekad. Uang harus mengalir ke liang-liang kecil di saku calon pemilih.

Meski uang telah melayang, jaminan akan dipilih belum pula bisa dipastikan. Sebab, yang mendekati pemilih bukan hanya pemain tunggal. Di arena itu, banyak calon penguasa yang juga berkompetisi dengan iming-iming salaksa janji. Mental calon penguasa yang kelas teri dan hiu akan terlihat dalam menghadapi tipe masyarakat yang solid atau hanya basa-basi saat calon penguasa berorasi.

Yang memprihatinkan, entah berapa orang di negeri ini terkena serangan jantung kala “serangan fajar” tak membuahkan hasil. Meski tahu berbagai resiko tersebut, para politikus seperti laron yang mudah tertarik dengan cahaya, walaupun tubuhnya akan terbakar oleh nyala api sumber cahaya itu sendiri. Itulah konsekuensi percaturan di bidak perebutan kekuasaan. Tidak akan ada musuh yang abadi, atau sahabat yang langgeng. Semua berputar dinamis seirama dengan kepentingan masing-masing.

Kepentingan membela kebenaran seperti yang dinarasikan Kakawin Ramayana misalnya menjadi muasal yang menyebabkan Wibhisana rela memutus hubungan geneologis dengan saudaranya sendiri yaitu Rawana. Wibhisana lebih memilih Rama karena ia adalah representasi kebenaran di dunia. Sementara itu, dengan kepentingan negara, seorang Kumbakarna tetap membela kakaknya. Meski ia tahu pembelaannya akan berakhir pada kematian. Berbeda pilihan hidup, berbeda pula arah ayunan langkah dengan berbagai resikonya sebagai hadiah.

Pilihan hidup menyebabkan Wibhisana meninggalkan kerajaan Alengka. Di negerinya sendiri, berbagai caci maki, hujatan, dan cap sebagai seorang penghianat sudah pasti mengirisnya lebih perih tinimbang berbagai senjata. Itu baru tantangan pertama. Tantangan berikutnya adalah meyakinkan Rama bahwa ia akan berkoalisi hanya dengan satu tujuan yaitu menegakkan pilar kebenaran di dunia.

Lantas apa yang menyebabkan Rama harus mempercayai Wibhisana? Rekam jejak [track record]! Itupun tidak keluar dari mulut Wibhisana, tetapi testimoni Hanoman yang pernah diselamatkannya ketika hampir dibunuh oleh Rawana. Di titik inilah ungkapan eda ngaden awak bisa, depang anake ngadanin mesti diletakkan. Kekuatan testimoni dari orang lain lebih kuat dibandingkan keterangan sendiri. Sebab, pikiran manusia punya kekuatan meninggikan pemiliknya, sekaligus kelemahan menilai diri sendiri apa adanya.

Berbekal keterangan Hanoman, seorang Wibhisana mendapatkan kepercayaan yang akan ia pertaruhkan sampai hembusan nafas terakhirnya. Hal itu dibuktikan dari berbagai perang yang dilewatinya bersama Rama. Tanpa Wibhisana, Rama bersama seluruh pasukan kera pasti kalah, baik dalam perang melawan amukan Rawana dan terutama ketika Indrajit memasang ajian Adresia Tantra [ilmu tak terlihat] seraya melepaskan panah wimohana [panah pembuat bingung]. Kekalahan Indrajit dan Rawana menjadi penanda tegaknya kebenaran di dunia.

Pasca kemenangan berhasil diraih, rekonsiliasi untuk memulihkan keadaan di Alengka Pura sangat diperlukan. Bangunan-bangunan fisik yang hancur akibat perang mesti segera diperbaiki. Anak-anak raksasa yang kehilangan orang tuanya karena kalah berperang harus mendapatkan penanganan. Demikian pula tatanan sosial yang terbelah karena masyarakat harus mengikuti pemimpinnya harus segera disatukan. Di pusaran masalah itulah masyarakat Alengka memerlukan figur pemimpin.

Lalu apa kriteria Rama menetapkan raja baru Alengka yang dapat melakukan rekonsiliasi itu dengan cantik? Barangkali ada tiga hal yang bisa dijadikan landasan untuk memilih pemimpin yang tepat yaitu guna, gina, dan yasa. Kata guna berarti kompetensi internal dalam diri. Dari guna atau kompetensi diri itu lahirlah gina yang bermakna keterampilan. Dengan keterampilan itu maka banyak yasa dengan makna jasa yang dapat dipersembahkan kepada masyarakat. Bertitik tolak dari ketiga kriteria itu maka Wibhisana ditetapkan menjadi raja yang baru di Alengka.

Dari aspek guna ‘kompetensi diri’ seorang Wibhisana telah dibuktikan dengan lulus melakukan brata menyerupai patung selama seribu tahun sehingga ia mendapatkan anugerah kebijaksaan dari Brahma. Berbekal guna tersebut, ia dengan gina ‘terampil’ memberikan berbagai kunci rahasia untuk mengalahkan Rawana bersama pasukan elitnya. Berpegang pada gina itulah Wibhisana berjasa pada kemenangan Rama atas Rawana.

Jelaslah Wibhisana menjadi pilihan Rama untuk mengisi kekosongan kerajaan Alengka Pura. Akan tetapi sebelum itu, Rama memberikan dasar-dasar kepemimpinan kepada Wibhisana yang dikenal dengan sebutan Asta Brata. Astra brata adalah proses membadankan laku para dewata dalam sarira seorang pemimpin mulai dari kesejahteraan yang diusahakan Indra, kesabaran Dewa Surya, keadilan Yama, kecepatan Bayu, kesederhanaan Hyang Kuwera, dan kekuatan Baruna dalam mengikat semua penjahat.

Menyimak rekonsiliasi politik di negeri ini yang begitu tertatih-tatih dan sarat perebutan jabatan, penting rasanya membaca ulang Kakawin Ramayana yang mencerminkan alam pikiran Nusantara di masa lampau. Tiga dasar yaitu guna, gina, dan yasa bisa menjadi landasan untuk menentukan figur-figur menteri jajaran kabinet yang akan memutar roda pemerintahan di masa depan. Berpegang pada delapan perilaku yang meneladani sikap dewata itu, pemimpin menempatkan dirinya di tengah sehingga lengkaplah isi sembilan penjuru mata angin. Pemimpin yang berada di tengah-tengah ibarat payung yang dapat meneduhi semua penjuru dengan sama rata dari terik matahari yang membakar maupun hujan badai yang menghanyutkan.

Tanpa menjalankan peran itu, seorang pemimpin tak layak dianggap sebagai catraning rat ‘payungnya dunia’!  [T]


  • Klik untuk BACA artikel lain dari penulis PUTU EKA GUNA YASA
Hoax dalam Momentum Transisi Kekuasaan:  Refleksi Sastra untuk Membaca Realita
Konsekuensi Gratifikasi Jelang Perebutan Kekuasaan: Renungan dari Bharata Yuddha
Kata-Kata untuk Pemegang Tahta
Menebak Karakteristik dari Penampilan Fisik: Catatan dari Lontar Pawetuan Jadma
Hari Lahir dan Pantangan Makanannya dalam Lontar Pawetuan Jadma Ala Ayu

   

Tags: kekuasaanPolitikRamayanasastrasastra bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita Tentang Pak Mad, Nelayan Ikan Hias dari Desa Pemuteran, Buleleng, Bali

Next Post

Kecil, Mungil, dan Betapa Berharga Jembatan Bedeg Itu di Desa Les

Putu Eka Guna Yasa

Putu Eka Guna Yasa

Pembaca lontar, dosen FIB Unud, aktivitis BASAbali Wiki

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kecil, Mungil, dan Betapa Berharga Jembatan Bedeg Itu di Desa Les

Kecil, Mungil, dan Betapa Berharga Jembatan Bedeg Itu di Desa Les

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co