23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Invisible City, Penghuni Kota yang Tidak Terlihat

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
January 20, 2024
in Esai
Invisible City, Penghuni Kota yang Tidak Terlihat

Penghuni kota tak terlihat | Foto: Gede Maha Putra

LAPISAN-LAPISAN kehidupan di kota membuat kelompok-kelompok penghuni yang berbeda-beda bisa saling tidak bertemu. Selain itu, dalam proses formal, bisa jadi ada kelompok yang kebutuhannya tidak terlayani oleh berbagai institusi baik perbankan maupun institusi pemerintah.

Kelompok yang tidak terlayani inilah yang saya maksud sebagai penghuni kota yang tidak terlihat. Mereka ada, bahkan kehidupannya bersinggungan dengan kita, tetapi tidak mendapat perhatian yang semestinya. Ada pula yang menyebutnya sebagai kelompok informal, istilah yang saya kurang sukai karena terdengar diskriminatif.

Beberapa dekade lampau, sastrawan Italia, Italo Calvino, menulis kisah tentang kota-kota tak terlihat atau the invisible city. Kota Tak Terlihat karya Calvino menunjukkan batas tak kasat mata antara yang nyata dan yang fiksi, antara ingatan dan hasrat, serta antara masa lalu dan masa kini.

Ceritanya berputar pada kota imajiner yang diceritakan oleh Marco Polo kepada Kublai Khan, sang penguasa Mongolia. Pengembaraan Calvino adalah pengingat bahwa orang dapat melakukan perjalanan dan mencoba memahami dunia, namun mereka akan selalu sampai pada persimpangan jalan penafsiran.

Invisible city adalah soal yang ‘tak terlihat’ bukan hanya karena ia tidak berwujud tetapi seringkali juga karena kekurangpedulian kita atau karena perbedaan cara kerja antara sekelompok penghuni kota dibandingkan dengan yang biasa kita alami.  Bisa juga menunjuk pada ketidakmampuan kita memberi penafsiran atas apa yang kasat mata. Hal ini terjadi karena setiap orang memiliki tuntutan hidup dan kewajiban yang berbeda-beda dalam kesehariannya.

Kehidupan saat ini yang berlangsung cepat, saling berkejaran, selalu ditunggu deadline, membuat kita harus bergerak lebih laju, focus pada tugas yang harus kita selesaikan. Kelakuan ini kadang mem’buta’kan. Menyebabkan banyak hal luput. Ini jenis keluputan yang tidak disengaja. Ada juga keluputan yang disengaja. Saya menyaksikan banyak keluputan yang menyebabkan ketidakmampuan kita dalam menafsirkan ruang kota. Akibatnya, kota terlihat hanya dari satu sisi. Sisi yang kita peduli atasnya. Sementara sisi lainnya, terlupa.

Pagi jam 06.30 seorang ibu sibuk menyendok soto dari panci besar di hadapannya. Asap rebusan daging berbumbu rempah menguar ke udara seperti kabut. Ia mulai berjualan jam 05.00 pagi saat sebagian dari kita masih terlelap. Jalanan masih belum begitu ramai.

Dari ceritanya, jam 11, saat orang berada di puncak kesibukan di kantor atau tempat kerja lain, sotonya habis. Jam 12.00 tengah hari ia pulang dan beristirahat sampai malam saat waktunya ke pasar dan mulai memasak untuk keesokan harinya. Dalam deratan warungnya ada penjual mie ayam, pedagang nasi bungkus daun, penjual cemilan anak-anak dan seorang penjual berbagai minuman sachet yang bisa dimodifikasi sesuai pesanan: the poci-milo, the poci-dancow, extra joss-susu, dan kombinasi lain sesuai permintaan pembeli.

Penghuni kota yang tidak terlihat | Foto: Gede Maha Putra

Di jalan depan kelompok-kelompok warung yang sederhana tadi, seorang bapak ringkih mendorong gerobak. Aneka mainan di atas gerobak yang ditarik sepeda tuanya dijajakan berkeliling. Ada mainan tradisional hingga ikan-ikan cupang kecil warna-warni yang menarik perhatian anak-anak. Harga dagangannya antara Rp. 1000,- hingga yang termahal Rp. 12.000,-.

Sepanjang pagi, menurut ceritanya, ia akan menunggu di depan sebuah sekolah terkenal di Denpasar. Sabar melayani anak-anak saat waktu istirahat yang terbatas. Setelah jam sekolah, ia berkeliling ke kampung-kampung.

Lain dengan bapak satu lagi yang saya jumpai saban pagi mendorong gerobak sampah. Ia menghampiri setiap tempat pembuangan sampah mencari barang yang sekiranya masih memiliki nilai ekonomi tetapi sudah tidak dibutuhkan pemilik sebelumnya. Sekali waktu saya melihatnya membuka bungkusan jajan yang sudah dibuang dan membauinya. Entah, mungkin dia mencari tahu seandainya ada yang belum basi.

Mereka adalah gambaran orang-orang yang menghuni ruang kota yang sama dengan kebanyakan orang. Tetapi, keberadaannya luput dari perhatian. Setiap pagi sebenarnya saya berkesempatan berjumpa dengan mereka. Tetapi, seperti kebanyakan orang, saya sering luput perhatian. Pagi itu, saat makan soto saya mencoba melihat lebih seksama.

Luputnya dari perhatian membuat mereka invisible meski kita ada di tempat yang sama. Beberapa diantaranya malah ada di jam yang sama meski sebagian besar kita aktif di waktu yang berlainan.

Keluputan yang membuatnya invisible terlihat dalam beberapa indikator fomal. Pertama, pengaturan ruang dalam Rencana Tata Ruang Kota jarang mengakomodir peran kelompok ini dalam upaya peningkatan ekonomi lokal. Hal ini bukan berarti mereka memiliki kontribusi kecil.

Berbagai laporan menunjukkan betapa signifikan peranan yang mereka mainkan dalam menopang perekonomian keluarganya yang juga berarti berkontribusi bagi perekonomian kota bahkan negara. Jika ada seribu orang saja yang seperti mereka, berarti ada lebih 4000 orang yang bisa dihidupinya.

Tetapi, sekali lagi, keberadaannya dalam ruang-ruang yang ‘diformalkan’ dalam perencanaan keruangan (spatial planning) jarang terlihat, invisible. Akyivitas mereka ‘tidak mampu’ terakomodir dalam rencana zonasi yang kurang fleksibel, memisahkan fungsi-fungsi atas nama ‘keteraturan’. Akibatnya, kelompok ini bukannya diperhatikan tetapi dikejar aparat pemerintah.

Indikator kedua adalah ketidakmampuan kelompok ini mendapatkan berbagai akses yang dibutuhkan. Misalkan akses ke sumber pendanaan. Pekerjaan yang mereka tekuni tidak cukup meyakinkan lembaga keuangan untuk memberi bantuan. Akibatnya, mereka benar-benar harus memulai dari nol. Hal serupa terjadi pada, kemungkinan, akses kesehatan. Mereka harus mengusahakan sendiri biaya saat mengalami sakit karena tidak memiliki jaminan dalam bentuk asuransi.

Saat terjadi terjadi pandemi, kelompok ini dihantam paling keras oleh keadaan kesehatan. Untungnya, sebagian dari anggota kelompok justru memiliki kepedulian sosial tinggi sehingga gotong royong menjadi upaya mereka mengatasi berbagai persoalan.

Indikator berikutnya adalah layanan desain arsitektural. Bisa dipastikan jika warung, gerobak, bahkan juga tempat tinggal mereka bukanlah sesuatu yang menarik bagi arsitek profesional. Tidak ada layanan bagi kelompok ini dalam bidang rancang bangun. Tetapi ini justru bukan hal buruk.

Ketiadaan layanan membuat mereka sangat mandiri, tidak  memiliki ketergantungan. Dari posisi ini, kemampuan mendesain dan mengonstruksi bangunan yang sesuai dengan kebutuhan dan budget yang dimiliki justru sangat baik. Sensitivitas terhadap desain yang fungsional dengan material apa adanya terlatih dengan baik. Inilah vernacular urban yang baru.

Sebagaiman argumen Paul Oliver yang menyatakan kemampuan tanpa bantuan ahli dalam membangun ini harus dipupuk. Kemampuan ini semakin lama menghilang dari diri manusia. Bandingkan dengan makhluk lain, burung misalnya, yang memiliki kemampuan membangun sarang. Pada manusia, pemenuhan kebutuhan dasar terhadap hunian kini kian tergantung pada keahlian khusus yang tidak dimiliki semua orang.

Di lain pihak, arsitek profesional seyogyanya memiliki sensitivitas dalam melihat ruang praktek yang lebih luas lagi. Agar kelompok masyarakat yang selama ini tidak terlayani jasa mereka tetap memiliki ruang yang bisa memenuhi kebutuhan dasar untuk tinggal dan berusaha.

Kisah tentang invisible city yang lain juga bisa kita jumpai dalam salah satu film di Netflix. Di sinema tersebut diceritakan seorang detektif yang mengusut sebuah kasus dan tiba-tiba berhadapan dengan ‘dunia lain’ bawah tanah yang selama ini tidak dia sadari eksis. Ini mirip dengan fenomena kota kita. Jika arsitek dan, tentu saja, kita anggap sebagai si detektif, maka ia perlu kasus tertentu yang membuat kesadaran akan adanya ‘kota tak terlihat’ yang mungkin membutuhkan peran serta semua agar menjadi visible. [T]

Denpasar, 17 December 2023

BACA artikel-artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Sebuah Pelajaran dari Ekowisata di Delta Sungai Mekong, Vietnam
Proyek-proyek Besar (di Bali) Dimana Arsitektur Merupakan Alat untuk Mengakumulasi Kapital
Siasat Singapura Membangun Gedung Megah Tanpa Boros Energi
Eksperimen Arsitektur di Tengah Pasar Wisata Bali yang Makin Besar
Tags: gaya hidupKotatata kota
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Made (2022): Film Konvensional yang Mengabaikan Nalar-Logika

Next Post

Stasiun Kereta Api Bandung dan Kisah Buku “Arus Balik”

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Stasiun Kereta Api Bandung dan Kisah Buku “Arus Balik”

Stasiun Kereta Api Bandung dan Kisah Buku “Arus Balik”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co