6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Invisible City, Penghuni Kota yang Tidak Terlihat

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
January 20, 2024
in Esai
Invisible City, Penghuni Kota yang Tidak Terlihat

Penghuni kota tak terlihat | Foto: Gede Maha Putra

LAPISAN-LAPISAN kehidupan di kota membuat kelompok-kelompok penghuni yang berbeda-beda bisa saling tidak bertemu. Selain itu, dalam proses formal, bisa jadi ada kelompok yang kebutuhannya tidak terlayani oleh berbagai institusi baik perbankan maupun institusi pemerintah.

Kelompok yang tidak terlayani inilah yang saya maksud sebagai penghuni kota yang tidak terlihat. Mereka ada, bahkan kehidupannya bersinggungan dengan kita, tetapi tidak mendapat perhatian yang semestinya. Ada pula yang menyebutnya sebagai kelompok informal, istilah yang saya kurang sukai karena terdengar diskriminatif.

Beberapa dekade lampau, sastrawan Italia, Italo Calvino, menulis kisah tentang kota-kota tak terlihat atau the invisible city. Kota Tak Terlihat karya Calvino menunjukkan batas tak kasat mata antara yang nyata dan yang fiksi, antara ingatan dan hasrat, serta antara masa lalu dan masa kini.

Ceritanya berputar pada kota imajiner yang diceritakan oleh Marco Polo kepada Kublai Khan, sang penguasa Mongolia. Pengembaraan Calvino adalah pengingat bahwa orang dapat melakukan perjalanan dan mencoba memahami dunia, namun mereka akan selalu sampai pada persimpangan jalan penafsiran.

Invisible city adalah soal yang ‘tak terlihat’ bukan hanya karena ia tidak berwujud tetapi seringkali juga karena kekurangpedulian kita atau karena perbedaan cara kerja antara sekelompok penghuni kota dibandingkan dengan yang biasa kita alami.  Bisa juga menunjuk pada ketidakmampuan kita memberi penafsiran atas apa yang kasat mata. Hal ini terjadi karena setiap orang memiliki tuntutan hidup dan kewajiban yang berbeda-beda dalam kesehariannya.

Kehidupan saat ini yang berlangsung cepat, saling berkejaran, selalu ditunggu deadline, membuat kita harus bergerak lebih laju, focus pada tugas yang harus kita selesaikan. Kelakuan ini kadang mem’buta’kan. Menyebabkan banyak hal luput. Ini jenis keluputan yang tidak disengaja. Ada juga keluputan yang disengaja. Saya menyaksikan banyak keluputan yang menyebabkan ketidakmampuan kita dalam menafsirkan ruang kota. Akibatnya, kota terlihat hanya dari satu sisi. Sisi yang kita peduli atasnya. Sementara sisi lainnya, terlupa.

Pagi jam 06.30 seorang ibu sibuk menyendok soto dari panci besar di hadapannya. Asap rebusan daging berbumbu rempah menguar ke udara seperti kabut. Ia mulai berjualan jam 05.00 pagi saat sebagian dari kita masih terlelap. Jalanan masih belum begitu ramai.

Dari ceritanya, jam 11, saat orang berada di puncak kesibukan di kantor atau tempat kerja lain, sotonya habis. Jam 12.00 tengah hari ia pulang dan beristirahat sampai malam saat waktunya ke pasar dan mulai memasak untuk keesokan harinya. Dalam deratan warungnya ada penjual mie ayam, pedagang nasi bungkus daun, penjual cemilan anak-anak dan seorang penjual berbagai minuman sachet yang bisa dimodifikasi sesuai pesanan: the poci-milo, the poci-dancow, extra joss-susu, dan kombinasi lain sesuai permintaan pembeli.

Penghuni kota yang tidak terlihat | Foto: Gede Maha Putra

Di jalan depan kelompok-kelompok warung yang sederhana tadi, seorang bapak ringkih mendorong gerobak. Aneka mainan di atas gerobak yang ditarik sepeda tuanya dijajakan berkeliling. Ada mainan tradisional hingga ikan-ikan cupang kecil warna-warni yang menarik perhatian anak-anak. Harga dagangannya antara Rp. 1000,- hingga yang termahal Rp. 12.000,-.

Sepanjang pagi, menurut ceritanya, ia akan menunggu di depan sebuah sekolah terkenal di Denpasar. Sabar melayani anak-anak saat waktu istirahat yang terbatas. Setelah jam sekolah, ia berkeliling ke kampung-kampung.

Lain dengan bapak satu lagi yang saya jumpai saban pagi mendorong gerobak sampah. Ia menghampiri setiap tempat pembuangan sampah mencari barang yang sekiranya masih memiliki nilai ekonomi tetapi sudah tidak dibutuhkan pemilik sebelumnya. Sekali waktu saya melihatnya membuka bungkusan jajan yang sudah dibuang dan membauinya. Entah, mungkin dia mencari tahu seandainya ada yang belum basi.

Mereka adalah gambaran orang-orang yang menghuni ruang kota yang sama dengan kebanyakan orang. Tetapi, keberadaannya luput dari perhatian. Setiap pagi sebenarnya saya berkesempatan berjumpa dengan mereka. Tetapi, seperti kebanyakan orang, saya sering luput perhatian. Pagi itu, saat makan soto saya mencoba melihat lebih seksama.

Luputnya dari perhatian membuat mereka invisible meski kita ada di tempat yang sama. Beberapa diantaranya malah ada di jam yang sama meski sebagian besar kita aktif di waktu yang berlainan.

Keluputan yang membuatnya invisible terlihat dalam beberapa indikator fomal. Pertama, pengaturan ruang dalam Rencana Tata Ruang Kota jarang mengakomodir peran kelompok ini dalam upaya peningkatan ekonomi lokal. Hal ini bukan berarti mereka memiliki kontribusi kecil.

Berbagai laporan menunjukkan betapa signifikan peranan yang mereka mainkan dalam menopang perekonomian keluarganya yang juga berarti berkontribusi bagi perekonomian kota bahkan negara. Jika ada seribu orang saja yang seperti mereka, berarti ada lebih 4000 orang yang bisa dihidupinya.

Tetapi, sekali lagi, keberadaannya dalam ruang-ruang yang ‘diformalkan’ dalam perencanaan keruangan (spatial planning) jarang terlihat, invisible. Akyivitas mereka ‘tidak mampu’ terakomodir dalam rencana zonasi yang kurang fleksibel, memisahkan fungsi-fungsi atas nama ‘keteraturan’. Akibatnya, kelompok ini bukannya diperhatikan tetapi dikejar aparat pemerintah.

Indikator kedua adalah ketidakmampuan kelompok ini mendapatkan berbagai akses yang dibutuhkan. Misalkan akses ke sumber pendanaan. Pekerjaan yang mereka tekuni tidak cukup meyakinkan lembaga keuangan untuk memberi bantuan. Akibatnya, mereka benar-benar harus memulai dari nol. Hal serupa terjadi pada, kemungkinan, akses kesehatan. Mereka harus mengusahakan sendiri biaya saat mengalami sakit karena tidak memiliki jaminan dalam bentuk asuransi.

Saat terjadi terjadi pandemi, kelompok ini dihantam paling keras oleh keadaan kesehatan. Untungnya, sebagian dari anggota kelompok justru memiliki kepedulian sosial tinggi sehingga gotong royong menjadi upaya mereka mengatasi berbagai persoalan.

Indikator berikutnya adalah layanan desain arsitektural. Bisa dipastikan jika warung, gerobak, bahkan juga tempat tinggal mereka bukanlah sesuatu yang menarik bagi arsitek profesional. Tidak ada layanan bagi kelompok ini dalam bidang rancang bangun. Tetapi ini justru bukan hal buruk.

Ketiadaan layanan membuat mereka sangat mandiri, tidak  memiliki ketergantungan. Dari posisi ini, kemampuan mendesain dan mengonstruksi bangunan yang sesuai dengan kebutuhan dan budget yang dimiliki justru sangat baik. Sensitivitas terhadap desain yang fungsional dengan material apa adanya terlatih dengan baik. Inilah vernacular urban yang baru.

Sebagaiman argumen Paul Oliver yang menyatakan kemampuan tanpa bantuan ahli dalam membangun ini harus dipupuk. Kemampuan ini semakin lama menghilang dari diri manusia. Bandingkan dengan makhluk lain, burung misalnya, yang memiliki kemampuan membangun sarang. Pada manusia, pemenuhan kebutuhan dasar terhadap hunian kini kian tergantung pada keahlian khusus yang tidak dimiliki semua orang.

Di lain pihak, arsitek profesional seyogyanya memiliki sensitivitas dalam melihat ruang praktek yang lebih luas lagi. Agar kelompok masyarakat yang selama ini tidak terlayani jasa mereka tetap memiliki ruang yang bisa memenuhi kebutuhan dasar untuk tinggal dan berusaha.

Kisah tentang invisible city yang lain juga bisa kita jumpai dalam salah satu film di Netflix. Di sinema tersebut diceritakan seorang detektif yang mengusut sebuah kasus dan tiba-tiba berhadapan dengan ‘dunia lain’ bawah tanah yang selama ini tidak dia sadari eksis. Ini mirip dengan fenomena kota kita. Jika arsitek dan, tentu saja, kita anggap sebagai si detektif, maka ia perlu kasus tertentu yang membuat kesadaran akan adanya ‘kota tak terlihat’ yang mungkin membutuhkan peran serta semua agar menjadi visible. [T]

Denpasar, 17 December 2023

BACA artikel-artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Sebuah Pelajaran dari Ekowisata di Delta Sungai Mekong, Vietnam
Proyek-proyek Besar (di Bali) Dimana Arsitektur Merupakan Alat untuk Mengakumulasi Kapital
Siasat Singapura Membangun Gedung Megah Tanpa Boros Energi
Eksperimen Arsitektur di Tengah Pasar Wisata Bali yang Makin Besar
Tags: gaya hidupKotatata kota
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Made (2022): Film Konvensional yang Mengabaikan Nalar-Logika

Next Post

Stasiun Kereta Api Bandung dan Kisah Buku “Arus Balik”

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Stasiun Kereta Api Bandung dan Kisah Buku “Arus Balik”

Stasiun Kereta Api Bandung dan Kisah Buku “Arus Balik”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co