6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali: Pulau Seribu Pura, Seribu Hotel, dan Seribu Meja Ceki

Made Nurbawa by Made Nurbawa
February 2, 2018
in Opini

http://etabloidgalangkangin2.blogspot.co.id/2013/01/main-ceki-tanpa-judi-edisi-12013.html

PULAU Bali memang unik, destinasi pariwisata dunia yang memberi penghidupan bagi banyak orang di tanah negeri, anugerah Tuhan yang patut kita syukuri. Karena keunikan budaya dan tradisinya, orang menyebut Pulau Bali dengan banyak istilah, seperti Pulau Dewata, Pulau Sorga, Pulau Seribu Pura. Dan belakangan, dengan penuh seloroh, ada juga yang menyebut Bali Pulau Seribu Hotel. Dan lebih berseloroh lagi, Bali juga disebut Pulau Seribu Meja Ceki.

Bagaimana Bali bisa disebut Pulau Seribu Meja Ceki?

Permainan kartu yang paling populer di kalangan masyarakat Bali adalah kartu ceki. Sepertinya permainan ini sudah mentradisi, tidak bisa lepas dari kehidupan krama Bali baik di desa maupun di perkotaan. Permainan ceki biasanya dimainkan oleh warga saat ada hajatan, hari raya, dan terutama saat megebagan (begadang di rumah keluarga/tetangga yang sedang berduka karena ada yang meninggal dunia). Tetapi permain ceki juga sering dimainkan oleh warga mengisi waktu luang sebagai hiburan dan dimainkan antar tetangga terdekat.

Kartu ceki yang ada saat ini terbuat dari kertas yang terdiri beberapa corak dengan empat warna dominan yaitu dibagian depan corak/gambar terdiri dari kombinasi warna putih, hitam dan merah disesuaikan dengan penamaan kartunya dan dibagian belakang hanya satu warna yaitu hijau polos tanpa gambar atau corak.

Permainan ceki dimainkan oleh  lima orang dalam satu meja. Satu kali putaran bisa membutuhkan waktu antara 20-30 menit. Banyak warga memilih bermain ceki  karena memiliki aturan yang lebih banyak dan membutuhkan waktu yang lebih panjang. Justru karena itulah permainan ceki mampu menciptakan sensasi dan nilai hiburan yang lebih dibandingkan permainan kartu lain. Sensasi yang dimaksud seperti adanya unsur kompetisi, ketrampilan, kecermatan, intuisi, mental, karakter, seni, ketahanan tubuh, komunikasi, sosial budaya  dan sebagainya.

Antara Judi dan Rekreasi

Dalam bermain ceki sering pemain menggunakan taruhan uang, maka permainan ceki sempat diidentikkan dengan judi. Hingga akhirnya pada tahun 2012 atas inisiatif Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) Bali permaian ceki dikaji dengan melibatkan kalangan budayawan, akademisi, ahli sejarah, tokoh agama dan para cendikiawan lainnya untuk merancang metode permainan ceki yang mengedepankan sisi sportifitas, rekreasi, pendidikan dan sosial budaya.

FORMI sendiri adalah Induk Organisasi yang dibentuk atas mandat UU No. 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahrgaan Nasional di bawah koordinasi Kementerian Pemuda dan Olahraga RI. Disimpulkan oleh para cendikiawan saat itu bahwa permainan ceki perlu dilestarikan karena tidak selalu identik dengan judi.

Ada banyak sisi lain dari peramainan ceki yang diyakini dapat memberi dampak positif bagi kehidupan masyarakat di Bali. FORMI kemudian menetapkan permainan ceki sebagai salah satu olahraga rekreasi. Sejak tahun 2012 FORMI Bali terus mensosialisasikan permainan ceki ke berbagai kalangan dan komunitas sebagai salah satu olahraga rekreasi dengan sistem permaianan menggunakan nilai, bukan uang.

Sejarah Permainan Ceki

Sejak kapan permainan ceki dimainkan di Indonesia? Dan sejak kapan kartu ceki diproduksi di Indonesia? Tidak banyak refrensi yang menyebutkan angka tahun tentang kartu dan permainan ceki ini. Mengungkap sejarah ceki di Indonesia bisa mengungkapkan jejak peradaban, teknologi dan budaya di Indonesia terutama akulturasi budaya nusantara dengan dunia barat dan negeri timur khususnya Cina.

Beberapa sumber menyebutkan di beberapa negara di Asia Tenggara ceki atau cekian juga disebut “koa” atau “pei” yaitu sejenis permainan kartu yang merupakan kegiatan berjudi tradisional yang dilakukan turun temurun. Permainan kartu ceki dikatakan bersumber dari permainan kartu purba yang pernah dibuat di negara Cina kuno dan permainan kartu ceki merupakan sumber dari permainan mahjong/mahyong yang sekarang menjadi tren bagi kaum chinese di beberapa negara di dunia.

Kini popularitas permaianan ceki di Malaysia dan Singapura mulai menurun, namun masih tetap populer di Indonesia. Melihat ceki bersumber dari permainan kuno maka mengungkap sejarah permaian ceki secara tidak langsung bisa memberi petunjuk tentang perkembangan peradaban dan budaya suatu suku bangsa.

Tekhnologi Cetak

Sangat mungkin permaian dan kartu ceki terus mengalami perkembangan sesuai perkembangan jaman. Hal itu tidak lepas dari perkembangan pengetahuan khususnya teknologi gambar dan tulis diatas suatu benda sebagai cikal bakal dibuatnya kartu Ceki seperti sekarang ini. Bebebarapa literatur menyebutkan, budaya menuliskan atau menggambar di atas benda sudah ditemukan di Cina sekitar 150 SM.

Begitu juga kertas mulai ditemukan di Cina pada abad awal. Sedangkan teknik cetak sudah mulai dilakukan oleh bangsa Cina dan Korea sejak 1000 tahun silam yaitu membuat gambar atau tulisan di atas benda lain seperti lempengan tanah liat, daun lontar atau lempengan kayu seperti teknik stempel yang ada sekarang.

Sedangkan mesin cetak ditemukan pertama kali oleh Johann Gutenberg di Kota Mainz, Jerman pada tahun 1440 masehi. Pada era Revolusi Industri di Eropa tahun 1800 an perkembangan mesin cetak mengalami perkembangan pesat. Era industrialisasi memungkinkan mesin cetak dibuat dengan tenaga uap dan otomatis.

Di Indonesia penggunaan kertas mulai digunakan untuk membuat uang kertas yang diberlakukan oleh VOC antara tahun 1783-1811 masehi. Sedangkan pabrik kertas pertama di Indonesia dibangun Belanda di Padalarang Jawa Barat pada 22 Mei 1922 yaitu PT Kertas Padalarang (Persero). Pada awalnya pabrik ini bernama Naamloze Vennootschaap (NV) Papierfabrieken Padalarang dengan Direktur pertamanya Ir. C. W.J. Hoyer.

Perusahaan ini merupakan cabang dari NV. Papierfabriken Nijmegen yang ada di negeri Belanda. Sejak awal berdiri perusahaan ini mengalami perkembangan pesat, terbukti tahun 1935 dibuka cabang di Leces, Probolinggo Jawa Timur. Setelah Indonesia merdeka tahun 1958 seluruh perusahaan milik Belanda di ambil alaih oleh pemerintah Indonesia salah satunya termasuk (NV) Papierfabrieken Padalarang.

Kembali ke permainan kartu ceki, pengaruh budaya Tionghoa sangat kental. Permainan kartu ceki juga disebut “péh-pai” atau kartu putih, adalah contoh yang menarik. Kartu ini terdiri dari enam puluh kartu yang terdiri dari tiga puluh gambar berbeda. Kartu itu dicetak hitam putih pada karton kecil berukuran 5,7 x 2,8 cm; pada beberapa kartu diberi penekanan dengan warna merah. Karena kartu ini populer di Jawa, maka masyarakat juga menyebutnya dengan nama kartu Jawa.

Sangat mungkin model kartu ceki yang ada sekarang sudah muncul pada tahun 1925 sehubungan sejak tahun 1922 di Indonesia sudah berdiri pabrik kertas di Padalarang Jawa Barat dan kartu ceki terus dimodivikasi baik dari segi bahan maupun coraknya (visual).

Informasi yang kami kumpulkan di lapangan, seorang kakek kelahiran tahun 1920-an mengaku melihat kartu ceki dengan jenis dan corak yang ada seperti sekarang ini “Sampun napet” (maksudnya bentuk dan coraknya sudah sama seperti yang ada sekarang). Jika kartu ceki sudah ada jauh sebelum tahun 1925-an sangat mungkin kartu ceki didatangkan dari luar negeri.

Seribu Meja Ceki

Di tengah kemajuan kepariwisataan Bali terbukti permainan ceki tetap eksis menjadi permainan rakyat dan turun temurun. Maceki atau bermain ceki sepertinya sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat Bali. Dengan demikian tidak berlebihan jika ada yang berseloroh, “Bali itu  Pulau Seribu Pura, Seribu Hotel dan Seribu Meja Ceki”.

Bali disebut seribu meja ceki, hitung-hitungannya, di Bali terdapat 1488 Desa Adat. Sangat mungkin di masing-masing desa adat setiap harinya ada saja orang main ceki dan memiliki meja ceki. Apalagi belakangan banyak digelar Turnamen Ceki dengan sistem yang diperkenalkan oleh FORMI (seperti permainan kartu Remi atau Bridge).

Turnamen Ceki  bisa diikuti oleh 300 – 500 orang atau sekitar 60-100 meja. Belum lagi permainan yang dilakukan ditengah komunitas pakraman, maka sangat mungkin di Bali sudah dibuat ribuan meja ceki dan setiap hari/minggu/bulan/tahun ada hari ribuan orang yang bermain ceki.

Permainan Ceki di Ruang Tradisi

Bagaimana ceki di ruang-ruang tradisi Bali? Permaian ceki di ruang-ruang tradisi banyak dilakukan saat megebagan (bergadang di rumah warga atau tetanga yang sedang kedukaan atau ada orang meninggal). Atau waktu lowong di sela-sela persiapan yadnya besar dengan rentang waktu persiapan yang panjang, ada juga maceki dilakukan saat “mekemit” (saat jaga malam di Pura).

Tidak ada sastra yang menyebutkan permaian ceki adalah bagian dari prosesi upacara yadnya, permaian ceki hanya dilakukan di sela-sela pelaksanaan tugas dan tentunya di tempat yang pantas dengan tujuan untuk menghibur diri sehingga bisa mengembalikan inspirasi serta dapat menghilangkan rasa lelah dalam tubuh (refreshing). Dengan demikian tidak ada yang mempersoalkan. Mengapa?

Pada umumnya dalam sebuah komunitas adat di Bali sudah terbangun etika dan norma-norma tidak tertulis dan sudah disadari oleh krama. Maceki di ruang tradisi dan budaya bukanlah hal sembarangan,  walau menggunakan uang hal itu semata-mata agar ada rasa persaingan bukan mengutamakan mencari uang (judi). Jika ada yang mengarah ke perjudian dalam arti mencari keuntungan uang biasanya secara alami sulit dilakukan, lawan pasti tidak semua sepakat atau memilih untuk berhenti bermain.

Namun harus diakui di tengah masyarakat Bali permainan ceki yang mengandung unsur perjudian atau motif mencari keuntungan pasti ada. Biasanya banyak dilakukan saat hari raya atau menjelang digelarnya sebuah pertunjukan/keramaian. Permainan dengan kartu ceki pun bisa beragam, ada dengan pola biasa atau ada juga permainan Cap Beki dengan peserta yang lebih banyak dan aturan yang lebih rumit.

Tentu permainan ceki dengan motif judi memiliki latarbelakang, teknis dan peserta yang berbeda dengan permainan ceki yang dilakukan di sela-sela prosesi yadnya. Berdasarkan pemahaman tatanan budaya yang ada akan sangat mudah dibedakan antara permainan ceki yang mermotif  hiburan (rekreatif) dengan permaian ceki yang bermotif judi.

Ada pandangan bahwa permainan ceki di sela-sela persiapan yadnya sangat penting sebagai ajang hiburan dan keakraban antar warga. Pendapat ini tentu tidak salah. Jika kita perhatikan permainan ceki yang dilakoni oleh 5 orang pasti akan menciptakan sebuah kerumunan, belum lagi warga lain yang ikut menonton, maka jumlah orang yang berkumpul di satu meja ceki akan lebih banyak.

Dengan demikian pasti diantara mereka ada saja yang megesah (ngobrol) dengan beragam topik. Biasanya obrolan akan terasa lebih ringan walau sejatinya topik yang dibahas cukup berat. Artinya permainan ceki menciptakan ruang-ruang berkumpul bagi warga untuk mendiskusikan beragam penomena sosial dengan cara yang santai, ringan dan penuh humor.

Dari sini sangat jelas sesungguhnya bukan permaian ceki yang dibutuhkan warga tetapi adanya kebutuhan untuk berkumpul atau berdialog dalam ruang-ruang akrab dengan rasa persaudaraan. Saat menonton orang meceki orang yang belum saling kenal bisa berkenalan.

Kerumunan orang maceki  sering kali menjadi “terminal” awal bagi warga yang baru pertama kali datang ke rumah duka. Saat datang, sebelum bertemu tuan rumah atau orang yang dikenal, seseorang sering menuju kerumunan orang main ceki sambil melihat situasi sekitar, baru pelan-pelan menyesuaikan dengan keadaan.

Tentu dalam ruang-ruang tradisi ada sarana lain yang bisa dimanfaatkan agar orang berkumpul dan saling mengenal, misalnya dengan pementasan pertunjukan seni seni tari dan gita/kidung. Belakangan ada juga yang mulai memutar film/vedio wayang kulit atau lawak tradisional. Tentu aspek teknis akan menentukan apakah  media lain akan membuat warga nyaman untuk berkumpul dan berdialog.

Misalnya saat megebagan, jika menonton wayang melalui media elektonik tentu tidak mungkin bisa berdialog dengan nyaman, bisa-bisa konsentrasi warga lainnya bisa terganggu. Begitu juga dengan mekekidung,  tentu tidak bisa dilakukan sambil becakap-cakap, karena melantunkan kidung tidak bisa dengan sembarangan karena mengandung unsur tattwa dan filsafat keagamaan, sehingga permaian ceki tetap menjadi solusi yang murah dan praktis.

Bisa dikatakan eksisnya permainan ceki di Bali karena mampu menjadi media rekreatif (penyegaran dan hiburan). Jangan salah, prosesi upacara yadnya persiapannya bisa berhari-hari bahkan dilakukan hingga tengah malam. Hanya permainan ceki-lah yang bisa menjadi media yang murah meriah untuk “ngibur” agar pikiran dan stamina tetap segar.  Melalui permainan ceki ruang rekreasi dan keakraban tercipta sehingga semuanya dapat berjalan harmonis. Kodisi yang harmonis inilah sesungguhnya sebuah  “energi budaya” ala Bali menciptakan rasa persatuan dan kesatuan, gotong royong dan keakraban. Tanpa adanya keakraban dan saling kenal saat bekerja pasti akan terasa beban fisik maupun pikiran.

Belakangan turnamen ceki banyak digelar sebagai ajang penggalian dana untuk pelaksanaan upacara yadnya besar atau pembangunan balai desa. Jadi permainan ceki, disebut judi atau tidak tergantung motif awal pelaku dan memberi dampak apa? Dalam ruang tradisi ceki dilakukan justru bertujuan untuk melancarkan pelaksanaan upacara yadnya. Belum pernah ada kasus sebuah upacara yadnya batal karena warganya maceki.

Memahami permainan ceki di Indonesia dan Bali khususnya, tanpa sadar kita belajar sejarah, tradisi dan sosial budaya masyarakat nusantara. Ada banyak sisi dan dampak positif dari permaian ceki yang perlu kita maknai kembali.  (T)

Tags: balijudiolahragapermainanTradisi
Share32TweetSendShareSend
Previous Post

Camping Asyik di Areal Hutan Segara Rupek, Taman Nasional Bali Barat

Next Post

Okokan dan Rintih Merdu “Lelakut Nyuling” dari Kediri – Catatan Festival Tepi Sawah

Made Nurbawa

Made Nurbawa

Tinggal di Tabanan dan punya kecintaan yang besar terhadap tetek-bengek budaya pertanian. Tulisan-tulisannya bisa dilihat di madenurbawa.com

Related Posts

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

Read moreDetails

Toa Lagi Toa Lagi

by Khairul A. El Maliky
February 23, 2026
0
Perang Yarmuk: Legitimasi dan Produksi Ingatan

PENDAHULUAN Saat bulan Ramadhan tiba setiap tahunnya, suasana keislaman menyelimuti hampir setiap sudut kehidupan di Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke,...

Read moreDetails

Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

by I Gede Joni Suhartawan
February 19, 2026
0
Dialektika Dua Wajah ‘Baper’: Antara Syahwat Kuasa dan Luka Integritas —Dari RDP IDG Palguna (MKMK) dengan Komisi III DPR

SIDANG RDP (Rapat Dengar Pendapat) antara MKMK (Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi) yang digawangi I Dewa Gede Palguna dengan Komisi III...

Read moreDetails

Tanah Terlantar dan Krisis Ekologis: Mencari Arah Kebijakan Pertanahan Berkeadilan dengan Berlakunya PP 48/2025

by I Made Pria Dharsana
February 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tanah bukan sekadar objek hak atau sertifikat, tetapi ruang hidup bersama yang menentukan masa depan keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis...

Read moreDetails

Degradasi Moral Elite Politik dalam Perspektif Etika Demokrasi

by I Made Pria Dharsana
January 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

ETIKA politik di Indonesia dewasa ini menghadapi tantangan serius yang bersifat multidimensional. Krisis kepercayaan publik terhadap institusi politik, menguatnya pragmatisme...

Read moreDetails

Matinya Demokrasi Lokal: Kala Pemilihan Kepala Daerah Ditarik Kembali  ke DPRD

by I Made Pria Dharsana
January 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KETIKA hak memilih pemimpin daerah tidak lagi berada di tangan rakyat, di situlah demokrasi lokal mulai kehilangan maknanya. Wacana pengembalian...

Read moreDetails

Wacana Pilkada Lewat DPRD adalah Demokrasi yang Dipreteli atas Nama Konstitusi?

by Ruben Cornelius Siagian
January 16, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

WACANA pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD kembali mengemuka, dengan dalih klasik, yaitu sah secara konstitusi, lebih efisien, dan...

Read moreDetails

Tanah dan Apartemen untuk Orang Asing di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
January 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

- kajian kritis atas berlakunya Omnibus Law PERKEMBANGAN globalisasi  adalah keniscayaan. Dengan kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi menyebabkan mobilisasi orang...

Read moreDetails

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

by Ikrom F.
January 8, 2026
0
Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Shinta Athaya Gadiza menulis opini berjudul Budaya Viral dan Krisis Kedalaman, Ketika Validasi Publik Menggeser Nalar Kritis yang dimuat di...

Read moreDetails

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNA terhadap Status Hak Milik atas Tanah

by I Made Pria Dharsana
January 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dampak Perkawinan Campur antara WNI dengan WNAterhadap Status Hak Milik atas Tanah setelah berlakunyaKeputusan Mahkamah Konstitusi Nomor No. 69/PUU/XII/2015 dan...

Read moreDetails
Next Post

Okokan dan Rintih Merdu “Lelakut Nyuling” dari Kediri – Catatan Festival Tepi Sawah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co