23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali: Pulau Seribu Pura, Seribu Hotel, dan Seribu Meja Ceki

Made Nurbawa by Made Nurbawa
February 2, 2018
in Opini

http://etabloidgalangkangin2.blogspot.co.id/2013/01/main-ceki-tanpa-judi-edisi-12013.html

PULAU Bali memang unik, destinasi pariwisata dunia yang memberi penghidupan bagi banyak orang di tanah negeri, anugerah Tuhan yang patut kita syukuri. Karena keunikan budaya dan tradisinya, orang menyebut Pulau Bali dengan banyak istilah, seperti Pulau Dewata, Pulau Sorga, Pulau Seribu Pura. Dan belakangan, dengan penuh seloroh, ada juga yang menyebut Bali Pulau Seribu Hotel. Dan lebih berseloroh lagi, Bali juga disebut Pulau Seribu Meja Ceki.

Bagaimana Bali bisa disebut Pulau Seribu Meja Ceki?

Permainan kartu yang paling populer di kalangan masyarakat Bali adalah kartu ceki. Sepertinya permainan ini sudah mentradisi, tidak bisa lepas dari kehidupan krama Bali baik di desa maupun di perkotaan. Permainan ceki biasanya dimainkan oleh warga saat ada hajatan, hari raya, dan terutama saat megebagan (begadang di rumah keluarga/tetangga yang sedang berduka karena ada yang meninggal dunia). Tetapi permain ceki juga sering dimainkan oleh warga mengisi waktu luang sebagai hiburan dan dimainkan antar tetangga terdekat.

Kartu ceki yang ada saat ini terbuat dari kertas yang terdiri beberapa corak dengan empat warna dominan yaitu dibagian depan corak/gambar terdiri dari kombinasi warna putih, hitam dan merah disesuaikan dengan penamaan kartunya dan dibagian belakang hanya satu warna yaitu hijau polos tanpa gambar atau corak.

Permainan ceki dimainkan oleh  lima orang dalam satu meja. Satu kali putaran bisa membutuhkan waktu antara 20-30 menit. Banyak warga memilih bermain ceki  karena memiliki aturan yang lebih banyak dan membutuhkan waktu yang lebih panjang. Justru karena itulah permainan ceki mampu menciptakan sensasi dan nilai hiburan yang lebih dibandingkan permainan kartu lain. Sensasi yang dimaksud seperti adanya unsur kompetisi, ketrampilan, kecermatan, intuisi, mental, karakter, seni, ketahanan tubuh, komunikasi, sosial budaya  dan sebagainya.

Antara Judi dan Rekreasi

Dalam bermain ceki sering pemain menggunakan taruhan uang, maka permainan ceki sempat diidentikkan dengan judi. Hingga akhirnya pada tahun 2012 atas inisiatif Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) Bali permaian ceki dikaji dengan melibatkan kalangan budayawan, akademisi, ahli sejarah, tokoh agama dan para cendikiawan lainnya untuk merancang metode permainan ceki yang mengedepankan sisi sportifitas, rekreasi, pendidikan dan sosial budaya.

FORMI sendiri adalah Induk Organisasi yang dibentuk atas mandat UU No. 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahrgaan Nasional di bawah koordinasi Kementerian Pemuda dan Olahraga RI. Disimpulkan oleh para cendikiawan saat itu bahwa permainan ceki perlu dilestarikan karena tidak selalu identik dengan judi.

Ada banyak sisi lain dari peramainan ceki yang diyakini dapat memberi dampak positif bagi kehidupan masyarakat di Bali. FORMI kemudian menetapkan permainan ceki sebagai salah satu olahraga rekreasi. Sejak tahun 2012 FORMI Bali terus mensosialisasikan permainan ceki ke berbagai kalangan dan komunitas sebagai salah satu olahraga rekreasi dengan sistem permaianan menggunakan nilai, bukan uang.

Sejarah Permainan Ceki

Sejak kapan permainan ceki dimainkan di Indonesia? Dan sejak kapan kartu ceki diproduksi di Indonesia? Tidak banyak refrensi yang menyebutkan angka tahun tentang kartu dan permainan ceki ini. Mengungkap sejarah ceki di Indonesia bisa mengungkapkan jejak peradaban, teknologi dan budaya di Indonesia terutama akulturasi budaya nusantara dengan dunia barat dan negeri timur khususnya Cina.

Beberapa sumber menyebutkan di beberapa negara di Asia Tenggara ceki atau cekian juga disebut “koa” atau “pei” yaitu sejenis permainan kartu yang merupakan kegiatan berjudi tradisional yang dilakukan turun temurun. Permainan kartu ceki dikatakan bersumber dari permainan kartu purba yang pernah dibuat di negara Cina kuno dan permainan kartu ceki merupakan sumber dari permainan mahjong/mahyong yang sekarang menjadi tren bagi kaum chinese di beberapa negara di dunia.

Kini popularitas permaianan ceki di Malaysia dan Singapura mulai menurun, namun masih tetap populer di Indonesia. Melihat ceki bersumber dari permainan kuno maka mengungkap sejarah permaian ceki secara tidak langsung bisa memberi petunjuk tentang perkembangan peradaban dan budaya suatu suku bangsa.

Tekhnologi Cetak

Sangat mungkin permaian dan kartu ceki terus mengalami perkembangan sesuai perkembangan jaman. Hal itu tidak lepas dari perkembangan pengetahuan khususnya teknologi gambar dan tulis diatas suatu benda sebagai cikal bakal dibuatnya kartu Ceki seperti sekarang ini. Bebebarapa literatur menyebutkan, budaya menuliskan atau menggambar di atas benda sudah ditemukan di Cina sekitar 150 SM.

Begitu juga kertas mulai ditemukan di Cina pada abad awal. Sedangkan teknik cetak sudah mulai dilakukan oleh bangsa Cina dan Korea sejak 1000 tahun silam yaitu membuat gambar atau tulisan di atas benda lain seperti lempengan tanah liat, daun lontar atau lempengan kayu seperti teknik stempel yang ada sekarang.

Sedangkan mesin cetak ditemukan pertama kali oleh Johann Gutenberg di Kota Mainz, Jerman pada tahun 1440 masehi. Pada era Revolusi Industri di Eropa tahun 1800 an perkembangan mesin cetak mengalami perkembangan pesat. Era industrialisasi memungkinkan mesin cetak dibuat dengan tenaga uap dan otomatis.

Di Indonesia penggunaan kertas mulai digunakan untuk membuat uang kertas yang diberlakukan oleh VOC antara tahun 1783-1811 masehi. Sedangkan pabrik kertas pertama di Indonesia dibangun Belanda di Padalarang Jawa Barat pada 22 Mei 1922 yaitu PT Kertas Padalarang (Persero). Pada awalnya pabrik ini bernama Naamloze Vennootschaap (NV) Papierfabrieken Padalarang dengan Direktur pertamanya Ir. C. W.J. Hoyer.

Perusahaan ini merupakan cabang dari NV. Papierfabriken Nijmegen yang ada di negeri Belanda. Sejak awal berdiri perusahaan ini mengalami perkembangan pesat, terbukti tahun 1935 dibuka cabang di Leces, Probolinggo Jawa Timur. Setelah Indonesia merdeka tahun 1958 seluruh perusahaan milik Belanda di ambil alaih oleh pemerintah Indonesia salah satunya termasuk (NV) Papierfabrieken Padalarang.

Kembali ke permainan kartu ceki, pengaruh budaya Tionghoa sangat kental. Permainan kartu ceki juga disebut “péh-pai” atau kartu putih, adalah contoh yang menarik. Kartu ini terdiri dari enam puluh kartu yang terdiri dari tiga puluh gambar berbeda. Kartu itu dicetak hitam putih pada karton kecil berukuran 5,7 x 2,8 cm; pada beberapa kartu diberi penekanan dengan warna merah. Karena kartu ini populer di Jawa, maka masyarakat juga menyebutnya dengan nama kartu Jawa.

Sangat mungkin model kartu ceki yang ada sekarang sudah muncul pada tahun 1925 sehubungan sejak tahun 1922 di Indonesia sudah berdiri pabrik kertas di Padalarang Jawa Barat dan kartu ceki terus dimodivikasi baik dari segi bahan maupun coraknya (visual).

Informasi yang kami kumpulkan di lapangan, seorang kakek kelahiran tahun 1920-an mengaku melihat kartu ceki dengan jenis dan corak yang ada seperti sekarang ini “Sampun napet” (maksudnya bentuk dan coraknya sudah sama seperti yang ada sekarang). Jika kartu ceki sudah ada jauh sebelum tahun 1925-an sangat mungkin kartu ceki didatangkan dari luar negeri.

Seribu Meja Ceki

Di tengah kemajuan kepariwisataan Bali terbukti permainan ceki tetap eksis menjadi permainan rakyat dan turun temurun. Maceki atau bermain ceki sepertinya sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat Bali. Dengan demikian tidak berlebihan jika ada yang berseloroh, “Bali itu  Pulau Seribu Pura, Seribu Hotel dan Seribu Meja Ceki”.

Bali disebut seribu meja ceki, hitung-hitungannya, di Bali terdapat 1488 Desa Adat. Sangat mungkin di masing-masing desa adat setiap harinya ada saja orang main ceki dan memiliki meja ceki. Apalagi belakangan banyak digelar Turnamen Ceki dengan sistem yang diperkenalkan oleh FORMI (seperti permainan kartu Remi atau Bridge).

Turnamen Ceki  bisa diikuti oleh 300 – 500 orang atau sekitar 60-100 meja. Belum lagi permainan yang dilakukan ditengah komunitas pakraman, maka sangat mungkin di Bali sudah dibuat ribuan meja ceki dan setiap hari/minggu/bulan/tahun ada hari ribuan orang yang bermain ceki.

Permainan Ceki di Ruang Tradisi

Bagaimana ceki di ruang-ruang tradisi Bali? Permaian ceki di ruang-ruang tradisi banyak dilakukan saat megebagan (bergadang di rumah warga atau tetanga yang sedang kedukaan atau ada orang meninggal). Atau waktu lowong di sela-sela persiapan yadnya besar dengan rentang waktu persiapan yang panjang, ada juga maceki dilakukan saat “mekemit” (saat jaga malam di Pura).

Tidak ada sastra yang menyebutkan permaian ceki adalah bagian dari prosesi upacara yadnya, permaian ceki hanya dilakukan di sela-sela pelaksanaan tugas dan tentunya di tempat yang pantas dengan tujuan untuk menghibur diri sehingga bisa mengembalikan inspirasi serta dapat menghilangkan rasa lelah dalam tubuh (refreshing). Dengan demikian tidak ada yang mempersoalkan. Mengapa?

Pada umumnya dalam sebuah komunitas adat di Bali sudah terbangun etika dan norma-norma tidak tertulis dan sudah disadari oleh krama. Maceki di ruang tradisi dan budaya bukanlah hal sembarangan,  walau menggunakan uang hal itu semata-mata agar ada rasa persaingan bukan mengutamakan mencari uang (judi). Jika ada yang mengarah ke perjudian dalam arti mencari keuntungan uang biasanya secara alami sulit dilakukan, lawan pasti tidak semua sepakat atau memilih untuk berhenti bermain.

Namun harus diakui di tengah masyarakat Bali permainan ceki yang mengandung unsur perjudian atau motif mencari keuntungan pasti ada. Biasanya banyak dilakukan saat hari raya atau menjelang digelarnya sebuah pertunjukan/keramaian. Permainan dengan kartu ceki pun bisa beragam, ada dengan pola biasa atau ada juga permainan Cap Beki dengan peserta yang lebih banyak dan aturan yang lebih rumit.

Tentu permainan ceki dengan motif judi memiliki latarbelakang, teknis dan peserta yang berbeda dengan permainan ceki yang dilakukan di sela-sela prosesi yadnya. Berdasarkan pemahaman tatanan budaya yang ada akan sangat mudah dibedakan antara permainan ceki yang mermotif  hiburan (rekreatif) dengan permaian ceki yang bermotif judi.

Ada pandangan bahwa permainan ceki di sela-sela persiapan yadnya sangat penting sebagai ajang hiburan dan keakraban antar warga. Pendapat ini tentu tidak salah. Jika kita perhatikan permainan ceki yang dilakoni oleh 5 orang pasti akan menciptakan sebuah kerumunan, belum lagi warga lain yang ikut menonton, maka jumlah orang yang berkumpul di satu meja ceki akan lebih banyak.

Dengan demikian pasti diantara mereka ada saja yang megesah (ngobrol) dengan beragam topik. Biasanya obrolan akan terasa lebih ringan walau sejatinya topik yang dibahas cukup berat. Artinya permainan ceki menciptakan ruang-ruang berkumpul bagi warga untuk mendiskusikan beragam penomena sosial dengan cara yang santai, ringan dan penuh humor.

Dari sini sangat jelas sesungguhnya bukan permaian ceki yang dibutuhkan warga tetapi adanya kebutuhan untuk berkumpul atau berdialog dalam ruang-ruang akrab dengan rasa persaudaraan. Saat menonton orang meceki orang yang belum saling kenal bisa berkenalan.

Kerumunan orang maceki  sering kali menjadi “terminal” awal bagi warga yang baru pertama kali datang ke rumah duka. Saat datang, sebelum bertemu tuan rumah atau orang yang dikenal, seseorang sering menuju kerumunan orang main ceki sambil melihat situasi sekitar, baru pelan-pelan menyesuaikan dengan keadaan.

Tentu dalam ruang-ruang tradisi ada sarana lain yang bisa dimanfaatkan agar orang berkumpul dan saling mengenal, misalnya dengan pementasan pertunjukan seni seni tari dan gita/kidung. Belakangan ada juga yang mulai memutar film/vedio wayang kulit atau lawak tradisional. Tentu aspek teknis akan menentukan apakah  media lain akan membuat warga nyaman untuk berkumpul dan berdialog.

Misalnya saat megebagan, jika menonton wayang melalui media elektonik tentu tidak mungkin bisa berdialog dengan nyaman, bisa-bisa konsentrasi warga lainnya bisa terganggu. Begitu juga dengan mekekidung,  tentu tidak bisa dilakukan sambil becakap-cakap, karena melantunkan kidung tidak bisa dengan sembarangan karena mengandung unsur tattwa dan filsafat keagamaan, sehingga permaian ceki tetap menjadi solusi yang murah dan praktis.

Bisa dikatakan eksisnya permainan ceki di Bali karena mampu menjadi media rekreatif (penyegaran dan hiburan). Jangan salah, prosesi upacara yadnya persiapannya bisa berhari-hari bahkan dilakukan hingga tengah malam. Hanya permainan ceki-lah yang bisa menjadi media yang murah meriah untuk “ngibur” agar pikiran dan stamina tetap segar.  Melalui permainan ceki ruang rekreasi dan keakraban tercipta sehingga semuanya dapat berjalan harmonis. Kodisi yang harmonis inilah sesungguhnya sebuah  “energi budaya” ala Bali menciptakan rasa persatuan dan kesatuan, gotong royong dan keakraban. Tanpa adanya keakraban dan saling kenal saat bekerja pasti akan terasa beban fisik maupun pikiran.

Belakangan turnamen ceki banyak digelar sebagai ajang penggalian dana untuk pelaksanaan upacara yadnya besar atau pembangunan balai desa. Jadi permainan ceki, disebut judi atau tidak tergantung motif awal pelaku dan memberi dampak apa? Dalam ruang tradisi ceki dilakukan justru bertujuan untuk melancarkan pelaksanaan upacara yadnya. Belum pernah ada kasus sebuah upacara yadnya batal karena warganya maceki.

Memahami permainan ceki di Indonesia dan Bali khususnya, tanpa sadar kita belajar sejarah, tradisi dan sosial budaya masyarakat nusantara. Ada banyak sisi dan dampak positif dari permaian ceki yang perlu kita maknai kembali.  (T)

Tags: balijudiolahragapermainanTradisi
Share32TweetSendShareSend
Previous Post

Camping Asyik di Areal Hutan Segara Rupek, Taman Nasional Bali Barat

Next Post

Okokan dan Rintih Merdu “Lelakut Nyuling” dari Kediri – Catatan Festival Tepi Sawah

Made Nurbawa

Made Nurbawa

Tinggal di Tabanan dan punya kecintaan yang besar terhadap tetek-bengek budaya pertanian. Tulisan-tulisannya bisa dilihat di madenurbawa.com

Related Posts

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails
Next Post

Okokan dan Rintih Merdu “Lelakut Nyuling” dari Kediri – Catatan Festival Tepi Sawah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co