20 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali: Pulau Seribu Pura, Seribu Hotel, dan Seribu Meja Ceki

Made Nurbawa by Made Nurbawa
February 2, 2018
in Opini

http://etabloidgalangkangin2.blogspot.co.id/2013/01/main-ceki-tanpa-judi-edisi-12013.html

PULAU Bali memang unik, destinasi pariwisata dunia yang memberi penghidupan bagi banyak orang di tanah negeri, anugerah Tuhan yang patut kita syukuri. Karena keunikan budaya dan tradisinya, orang menyebut Pulau Bali dengan banyak istilah, seperti Pulau Dewata, Pulau Sorga, Pulau Seribu Pura. Dan belakangan, dengan penuh seloroh, ada juga yang menyebut Bali Pulau Seribu Hotel. Dan lebih berseloroh lagi, Bali juga disebut Pulau Seribu Meja Ceki.

Bagaimana Bali bisa disebut Pulau Seribu Meja Ceki?

Permainan kartu yang paling populer di kalangan masyarakat Bali adalah kartu ceki. Sepertinya permainan ini sudah mentradisi, tidak bisa lepas dari kehidupan krama Bali baik di desa maupun di perkotaan. Permainan ceki biasanya dimainkan oleh warga saat ada hajatan, hari raya, dan terutama saat megebagan (begadang di rumah keluarga/tetangga yang sedang berduka karena ada yang meninggal dunia). Tetapi permain ceki juga sering dimainkan oleh warga mengisi waktu luang sebagai hiburan dan dimainkan antar tetangga terdekat.

Kartu ceki yang ada saat ini terbuat dari kertas yang terdiri beberapa corak dengan empat warna dominan yaitu dibagian depan corak/gambar terdiri dari kombinasi warna putih, hitam dan merah disesuaikan dengan penamaan kartunya dan dibagian belakang hanya satu warna yaitu hijau polos tanpa gambar atau corak.

Permainan ceki dimainkan oleh  lima orang dalam satu meja. Satu kali putaran bisa membutuhkan waktu antara 20-30 menit. Banyak warga memilih bermain ceki  karena memiliki aturan yang lebih banyak dan membutuhkan waktu yang lebih panjang. Justru karena itulah permainan ceki mampu menciptakan sensasi dan nilai hiburan yang lebih dibandingkan permainan kartu lain. Sensasi yang dimaksud seperti adanya unsur kompetisi, ketrampilan, kecermatan, intuisi, mental, karakter, seni, ketahanan tubuh, komunikasi, sosial budaya  dan sebagainya.

Antara Judi dan Rekreasi

Dalam bermain ceki sering pemain menggunakan taruhan uang, maka permainan ceki sempat diidentikkan dengan judi. Hingga akhirnya pada tahun 2012 atas inisiatif Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (FORMI) Bali permaian ceki dikaji dengan melibatkan kalangan budayawan, akademisi, ahli sejarah, tokoh agama dan para cendikiawan lainnya untuk merancang metode permainan ceki yang mengedepankan sisi sportifitas, rekreasi, pendidikan dan sosial budaya.

FORMI sendiri adalah Induk Organisasi yang dibentuk atas mandat UU No. 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahrgaan Nasional di bawah koordinasi Kementerian Pemuda dan Olahraga RI. Disimpulkan oleh para cendikiawan saat itu bahwa permainan ceki perlu dilestarikan karena tidak selalu identik dengan judi.

Ada banyak sisi lain dari peramainan ceki yang diyakini dapat memberi dampak positif bagi kehidupan masyarakat di Bali. FORMI kemudian menetapkan permainan ceki sebagai salah satu olahraga rekreasi. Sejak tahun 2012 FORMI Bali terus mensosialisasikan permainan ceki ke berbagai kalangan dan komunitas sebagai salah satu olahraga rekreasi dengan sistem permaianan menggunakan nilai, bukan uang.

Sejarah Permainan Ceki

Sejak kapan permainan ceki dimainkan di Indonesia? Dan sejak kapan kartu ceki diproduksi di Indonesia? Tidak banyak refrensi yang menyebutkan angka tahun tentang kartu dan permainan ceki ini. Mengungkap sejarah ceki di Indonesia bisa mengungkapkan jejak peradaban, teknologi dan budaya di Indonesia terutama akulturasi budaya nusantara dengan dunia barat dan negeri timur khususnya Cina.

Beberapa sumber menyebutkan di beberapa negara di Asia Tenggara ceki atau cekian juga disebut “koa” atau “pei” yaitu sejenis permainan kartu yang merupakan kegiatan berjudi tradisional yang dilakukan turun temurun. Permainan kartu ceki dikatakan bersumber dari permainan kartu purba yang pernah dibuat di negara Cina kuno dan permainan kartu ceki merupakan sumber dari permainan mahjong/mahyong yang sekarang menjadi tren bagi kaum chinese di beberapa negara di dunia.

Kini popularitas permaianan ceki di Malaysia dan Singapura mulai menurun, namun masih tetap populer di Indonesia. Melihat ceki bersumber dari permainan kuno maka mengungkap sejarah permaian ceki secara tidak langsung bisa memberi petunjuk tentang perkembangan peradaban dan budaya suatu suku bangsa.

Tekhnologi Cetak

Sangat mungkin permaian dan kartu ceki terus mengalami perkembangan sesuai perkembangan jaman. Hal itu tidak lepas dari perkembangan pengetahuan khususnya teknologi gambar dan tulis diatas suatu benda sebagai cikal bakal dibuatnya kartu Ceki seperti sekarang ini. Bebebarapa literatur menyebutkan, budaya menuliskan atau menggambar di atas benda sudah ditemukan di Cina sekitar 150 SM.

Begitu juga kertas mulai ditemukan di Cina pada abad awal. Sedangkan teknik cetak sudah mulai dilakukan oleh bangsa Cina dan Korea sejak 1000 tahun silam yaitu membuat gambar atau tulisan di atas benda lain seperti lempengan tanah liat, daun lontar atau lempengan kayu seperti teknik stempel yang ada sekarang.

Sedangkan mesin cetak ditemukan pertama kali oleh Johann Gutenberg di Kota Mainz, Jerman pada tahun 1440 masehi. Pada era Revolusi Industri di Eropa tahun 1800 an perkembangan mesin cetak mengalami perkembangan pesat. Era industrialisasi memungkinkan mesin cetak dibuat dengan tenaga uap dan otomatis.

Di Indonesia penggunaan kertas mulai digunakan untuk membuat uang kertas yang diberlakukan oleh VOC antara tahun 1783-1811 masehi. Sedangkan pabrik kertas pertama di Indonesia dibangun Belanda di Padalarang Jawa Barat pada 22 Mei 1922 yaitu PT Kertas Padalarang (Persero). Pada awalnya pabrik ini bernama Naamloze Vennootschaap (NV) Papierfabrieken Padalarang dengan Direktur pertamanya Ir. C. W.J. Hoyer.

Perusahaan ini merupakan cabang dari NV. Papierfabriken Nijmegen yang ada di negeri Belanda. Sejak awal berdiri perusahaan ini mengalami perkembangan pesat, terbukti tahun 1935 dibuka cabang di Leces, Probolinggo Jawa Timur. Setelah Indonesia merdeka tahun 1958 seluruh perusahaan milik Belanda di ambil alaih oleh pemerintah Indonesia salah satunya termasuk (NV) Papierfabrieken Padalarang.

Kembali ke permainan kartu ceki, pengaruh budaya Tionghoa sangat kental. Permainan kartu ceki juga disebut “péh-pai” atau kartu putih, adalah contoh yang menarik. Kartu ini terdiri dari enam puluh kartu yang terdiri dari tiga puluh gambar berbeda. Kartu itu dicetak hitam putih pada karton kecil berukuran 5,7 x 2,8 cm; pada beberapa kartu diberi penekanan dengan warna merah. Karena kartu ini populer di Jawa, maka masyarakat juga menyebutnya dengan nama kartu Jawa.

Sangat mungkin model kartu ceki yang ada sekarang sudah muncul pada tahun 1925 sehubungan sejak tahun 1922 di Indonesia sudah berdiri pabrik kertas di Padalarang Jawa Barat dan kartu ceki terus dimodivikasi baik dari segi bahan maupun coraknya (visual).

Informasi yang kami kumpulkan di lapangan, seorang kakek kelahiran tahun 1920-an mengaku melihat kartu ceki dengan jenis dan corak yang ada seperti sekarang ini “Sampun napet” (maksudnya bentuk dan coraknya sudah sama seperti yang ada sekarang). Jika kartu ceki sudah ada jauh sebelum tahun 1925-an sangat mungkin kartu ceki didatangkan dari luar negeri.

Seribu Meja Ceki

Di tengah kemajuan kepariwisataan Bali terbukti permainan ceki tetap eksis menjadi permainan rakyat dan turun temurun. Maceki atau bermain ceki sepertinya sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat Bali. Dengan demikian tidak berlebihan jika ada yang berseloroh, “Bali itu  Pulau Seribu Pura, Seribu Hotel dan Seribu Meja Ceki”.

Bali disebut seribu meja ceki, hitung-hitungannya, di Bali terdapat 1488 Desa Adat. Sangat mungkin di masing-masing desa adat setiap harinya ada saja orang main ceki dan memiliki meja ceki. Apalagi belakangan banyak digelar Turnamen Ceki dengan sistem yang diperkenalkan oleh FORMI (seperti permainan kartu Remi atau Bridge).

Turnamen Ceki  bisa diikuti oleh 300 – 500 orang atau sekitar 60-100 meja. Belum lagi permainan yang dilakukan ditengah komunitas pakraman, maka sangat mungkin di Bali sudah dibuat ribuan meja ceki dan setiap hari/minggu/bulan/tahun ada hari ribuan orang yang bermain ceki.

Permainan Ceki di Ruang Tradisi

Bagaimana ceki di ruang-ruang tradisi Bali? Permaian ceki di ruang-ruang tradisi banyak dilakukan saat megebagan (bergadang di rumah warga atau tetanga yang sedang kedukaan atau ada orang meninggal). Atau waktu lowong di sela-sela persiapan yadnya besar dengan rentang waktu persiapan yang panjang, ada juga maceki dilakukan saat “mekemit” (saat jaga malam di Pura).

Tidak ada sastra yang menyebutkan permaian ceki adalah bagian dari prosesi upacara yadnya, permaian ceki hanya dilakukan di sela-sela pelaksanaan tugas dan tentunya di tempat yang pantas dengan tujuan untuk menghibur diri sehingga bisa mengembalikan inspirasi serta dapat menghilangkan rasa lelah dalam tubuh (refreshing). Dengan demikian tidak ada yang mempersoalkan. Mengapa?

Pada umumnya dalam sebuah komunitas adat di Bali sudah terbangun etika dan norma-norma tidak tertulis dan sudah disadari oleh krama. Maceki di ruang tradisi dan budaya bukanlah hal sembarangan,  walau menggunakan uang hal itu semata-mata agar ada rasa persaingan bukan mengutamakan mencari uang (judi). Jika ada yang mengarah ke perjudian dalam arti mencari keuntungan uang biasanya secara alami sulit dilakukan, lawan pasti tidak semua sepakat atau memilih untuk berhenti bermain.

Namun harus diakui di tengah masyarakat Bali permainan ceki yang mengandung unsur perjudian atau motif mencari keuntungan pasti ada. Biasanya banyak dilakukan saat hari raya atau menjelang digelarnya sebuah pertunjukan/keramaian. Permainan dengan kartu ceki pun bisa beragam, ada dengan pola biasa atau ada juga permainan Cap Beki dengan peserta yang lebih banyak dan aturan yang lebih rumit.

Tentu permainan ceki dengan motif judi memiliki latarbelakang, teknis dan peserta yang berbeda dengan permainan ceki yang dilakukan di sela-sela prosesi yadnya. Berdasarkan pemahaman tatanan budaya yang ada akan sangat mudah dibedakan antara permainan ceki yang mermotif  hiburan (rekreatif) dengan permaian ceki yang bermotif judi.

Ada pandangan bahwa permainan ceki di sela-sela persiapan yadnya sangat penting sebagai ajang hiburan dan keakraban antar warga. Pendapat ini tentu tidak salah. Jika kita perhatikan permainan ceki yang dilakoni oleh 5 orang pasti akan menciptakan sebuah kerumunan, belum lagi warga lain yang ikut menonton, maka jumlah orang yang berkumpul di satu meja ceki akan lebih banyak.

Dengan demikian pasti diantara mereka ada saja yang megesah (ngobrol) dengan beragam topik. Biasanya obrolan akan terasa lebih ringan walau sejatinya topik yang dibahas cukup berat. Artinya permainan ceki menciptakan ruang-ruang berkumpul bagi warga untuk mendiskusikan beragam penomena sosial dengan cara yang santai, ringan dan penuh humor.

Dari sini sangat jelas sesungguhnya bukan permaian ceki yang dibutuhkan warga tetapi adanya kebutuhan untuk berkumpul atau berdialog dalam ruang-ruang akrab dengan rasa persaudaraan. Saat menonton orang meceki orang yang belum saling kenal bisa berkenalan.

Kerumunan orang maceki  sering kali menjadi “terminal” awal bagi warga yang baru pertama kali datang ke rumah duka. Saat datang, sebelum bertemu tuan rumah atau orang yang dikenal, seseorang sering menuju kerumunan orang main ceki sambil melihat situasi sekitar, baru pelan-pelan menyesuaikan dengan keadaan.

Tentu dalam ruang-ruang tradisi ada sarana lain yang bisa dimanfaatkan agar orang berkumpul dan saling mengenal, misalnya dengan pementasan pertunjukan seni seni tari dan gita/kidung. Belakangan ada juga yang mulai memutar film/vedio wayang kulit atau lawak tradisional. Tentu aspek teknis akan menentukan apakah  media lain akan membuat warga nyaman untuk berkumpul dan berdialog.

Misalnya saat megebagan, jika menonton wayang melalui media elektonik tentu tidak mungkin bisa berdialog dengan nyaman, bisa-bisa konsentrasi warga lainnya bisa terganggu. Begitu juga dengan mekekidung,  tentu tidak bisa dilakukan sambil becakap-cakap, karena melantunkan kidung tidak bisa dengan sembarangan karena mengandung unsur tattwa dan filsafat keagamaan, sehingga permaian ceki tetap menjadi solusi yang murah dan praktis.

Bisa dikatakan eksisnya permainan ceki di Bali karena mampu menjadi media rekreatif (penyegaran dan hiburan). Jangan salah, prosesi upacara yadnya persiapannya bisa berhari-hari bahkan dilakukan hingga tengah malam. Hanya permainan ceki-lah yang bisa menjadi media yang murah meriah untuk “ngibur” agar pikiran dan stamina tetap segar.  Melalui permainan ceki ruang rekreasi dan keakraban tercipta sehingga semuanya dapat berjalan harmonis. Kodisi yang harmonis inilah sesungguhnya sebuah  “energi budaya” ala Bali menciptakan rasa persatuan dan kesatuan, gotong royong dan keakraban. Tanpa adanya keakraban dan saling kenal saat bekerja pasti akan terasa beban fisik maupun pikiran.

Belakangan turnamen ceki banyak digelar sebagai ajang penggalian dana untuk pelaksanaan upacara yadnya besar atau pembangunan balai desa. Jadi permainan ceki, disebut judi atau tidak tergantung motif awal pelaku dan memberi dampak apa? Dalam ruang tradisi ceki dilakukan justru bertujuan untuk melancarkan pelaksanaan upacara yadnya. Belum pernah ada kasus sebuah upacara yadnya batal karena warganya maceki.

Memahami permainan ceki di Indonesia dan Bali khususnya, tanpa sadar kita belajar sejarah, tradisi dan sosial budaya masyarakat nusantara. Ada banyak sisi dan dampak positif dari permaian ceki yang perlu kita maknai kembali.  (T)

Tags: balijudiolahragapermainanTradisi
Share32TweetSendShareSend
Previous Post

Camping Asyik di Areal Hutan Segara Rupek, Taman Nasional Bali Barat

Next Post

Okokan dan Rintih Merdu “Lelakut Nyuling” dari Kediri – Catatan Festival Tepi Sawah

Made Nurbawa

Made Nurbawa

Tinggal di Tabanan dan punya kecintaan yang besar terhadap tetek-bengek budaya pertanian. Tulisan-tulisannya bisa dilihat di madenurbawa.com

Related Posts

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails
Next Post

Okokan dan Rintih Merdu “Lelakut Nyuling” dari Kediri – Catatan Festival Tepi Sawah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana
Ulas Musik

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’
Ulas Buku

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

by Inno Koten
May 20, 2026
BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius
Tualang

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Roses are red Violets are blue 106,20 KM? WTF is wrong with you? SEBUAH papan merah bertuliskan kata-kata di atas...

by Julio Saputra
May 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

by Chusmeru
May 20, 2026
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026
Persona

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi
Esai

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

by Emi Suy
May 19, 2026
Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik
Bahasa

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Pernahkah Anda mendengar seseorang kecewa dan mengeluh bahwa ia sedang patah hati kepada sebuah negara? Saya sendiri kerap mendengar orang...

by I Made Sudiana
May 19, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

by Early NHS
May 19, 2026
Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya
Panggung

Ketika ‘Legong Kembang Ura’ Menyapa Guwang untuk Pertama Kalinya

“Ini tarian paling susah yang pernah dipelajari sejauh ini.” Kalimat itu meluncur pelan dari Ni Mas Ayu Rasitha setelah usai...

by Dede Putra Wiguna
May 19, 2026
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’
Khas

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam...

by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Emansipasi Wanita di Baduy  [Satu Sudut Pandang]

KESETARAAN gender telah lama dikumandangkan, namun secara pasti entah mulai abad keberapa muncul kesadaran kolektif tentang tuntutan kesetaraan gender oleh...

by Asep Kurnia
May 19, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Artikulasi atau Bisik-Bisik, Penting Mana?

SIDANG pembaca yang budiman, Hari Buruh kemarin, yang hampir kita lupakan, sebenarnya menyimpan satu momen kecil yang lebih menarik daripada...

by Petrus Imam Prawoto Jati
May 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co